SIARAN PERS: Resmi Dikukuhkan, DPC FPPI Kepahiang Terima Dukungan Penuh Nyimas Aliah dan Usung Filosofi “Memimpin dalam Sunyi”
SIARAN PERS
FORUM PEMBERDAYAAN PEREMPUAN INDONESIA (FPPI) KABUPATEN KEPAHIANG
Untuk Disiarkan Segera
Resmi Dikukuhkan, DPC FPPI Kepahiang Terima Dukungan Penuh Nyimas Aliah dan Usung Filosofi “Memimpin dalam Sunyi”
KEPAHIANG, 15 Maret 2026 – Aula Hotel Umro Kepahiang menjadi saksi bisu pengukuhan Pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Kabupaten Kepahiang Masa Bakti 2025-2029. Acara yang berlangsung khidmat pada Minggu pagi ini menjadi momentum penguatan sinergi tokoh perempuan di Kabupaten Kepahiang.
Angin Segar dari Tokoh Nasional Kehadiran Nyimas Aliah, perwakilan Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Kepahiang, memberikan warna tersendiri. Sebagai sosok perempuan hebat yang pernah menjabat di Kementerian Pemberdayaan Perempuan, pengalaman beliau yang malang melintang di dunia pergerakan perempuan memberikan “angin segar” dan optimisme bagi pengurus baru. Beliau menyatakan kesiapannya untuk mendukung penuh setiap langkah strategis DPC FPPI Kepahiang ke depan.
Visi “Memimpin dalam Sunyi” Di bawah kepemimpinan Ibu Helmiyesi, M.Si., FPPI Kepahiang periode ini membawa filosofi perjuangan yang mendalam. Tema pemberdayaan tahun ini adalah “Perempuan Berjuang dalam Sunyi, Pemimpin Tak Harus Berisik”.
“Kami percaya bahwa kekuatan sejati perempuan terletak pada ketenangan dan ketulusan kerja nyata. Kepemimpinan kami tidak perlu riuh di permukaan, namun harus terasa manfaatnya bagi pemberdayaan perempuan di daerah kita,” tegas Helmiyesi.
Daftar Pengurus yang Dikukuhkan Prosesi pengukuhan dilakukan langsung oleh Ketua DPD FPPI Provinsi Bengkulu, Hj. Elly Dahniarti, S.Sos., disaksikan oleh perwakilan Kesbangpol, Dewan Pakar Ibu Maulida Suryani, S.Pd., M.M., serta ratusan peserta dari komunitas budaya dan BMA/Lembaga Adat.
Berikut adalah daftar pengurus DPC FPPI Kabupaten Kepahiang Masa Bakti 2025-2029 yang resmi dilantik:
- Helmiyesi, M.Si.
- Mulyanti, S.Pd.AUD.
- Sri Wanti, S.Pd.
- Bunga Kartini
- Fromes Media Bagite, S.H.
- Laili Suryani, S.Pd.
- Sischa Peliyanti, S.Pd.I.
- Eni Lastari, S.Pd.
- Widya Hastuti, S.Pd.
- Mardhatillah, S.Pd.
- Elvi Darlena, S.Ag.
- Heriza Tri Satipa
- Nunik Kusdiyantini
- Erna Wati
- Midiarti
- Linda Hartati, S.Pd.I.
- Sulastri
- Wika Hartati, S.Pd.
- Karmila
- Siti Asma, A.Md.Keb.
- Jeniar Ferary
- Eni Nurleti
- Anaya
- Yusnidar
- Ratih Perwita Sari
- Henny Puspita Sari
- Teti Fauzi, Ar
- Fitri Hidayati
Ketua Panitia Pelaksana, Reti Maryani, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang mendukung suksesnya acara ini.
Kontak Media: Sekretariat DPC FPPI Kabupaten Kepahiang Jl. Pengabdian RT 02/RW 01, Kelurahan Padang Lekat, Kec. Kepahiang.

Ryo Coret2: Bekali Peserta Teknik Desain dan Ragam Hias Motif Batik Diwo
Rio Ariyanto Bekali Peserta Teknik Desain dan Ragam Hias Motif Batik Diwo
KEPAHIANG, 15 Maret 2026 – Setelah dibekali dengan kekayaan Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) oleh Bapak Emong Soewandi, para peserta “Lokakarya Inovasi Motif Batik Diwo Berbasis Budaya Rejang” di hari kedua ini diajak melangkah ke tahap selanjutnya yang tak kalah krusial: eksekusi visual. Sesi praktik dan perancangan desain ini dipandu langsung oleh Rio Ariyanto, S.Pd., atau yang lebih akrab disapa Ryo Coret2.
Ryo bukanlah nama asing di dunia seni rupa Bengkulu. Berprofesi sebagai Guru Seni Budaya sekaligus ilustrator kawakan, ia telah menelurkan berbagai karya membanggakan, seperti Komik Fatmawati dan Komik Perjuangan Samsidar Yahya yang diterbitkan oleh BPNB. Dengan rekam jejaknya yang kuat di bidang ilustrasi, Ryo hadir membawakan materi bertajuk “Desain & Ragam Hias: Pengembangan ke Seni Batik”.
Dalam paparannya, Ryo menekankan bahwa penciptaan motif batik pada dasarnya adalah bagian dari ilmu Komunikasi Visual. “Desain grafis atau desain motif adalah bentuk komunikasi visual yang menggunakan gambar untuk menyampaikan informasi atau pesan seefektif mungkin,” jelasnya di hadapan para peserta. Artinya, motif Batik Diwo tidak hanya harus terlihat indah, tetapi juga harus mampu “berbicara” dan menyampaikan pesan kebudayaan Rejang secara tepat.
Untuk menjembatani ide-ide kebudayaan (seperti flora, fauna, tarian, dan ritus) menjadi sebuah pola batik yang estetis, Ryo membekali peserta dengan Empat Prinsip Dasar Desain Grafis, yaitu:
- Seimbang (Balance): Bagaimana menyusun letak ragam hias pada bidang kain agar tidak terasa berat sebelah, melainkan proporsional dan sedap dipandang.
- Fokus (Focus/Emphasis): Menentukan titik pusat perhatian (center of interest) pada kain batik, sehingga ada motif utama yang langsung menangkap mata audiens.
- Kontras (Contrast): Permainan perbedaan ukuran, bentuk, maupun ketebalan garis (canting) untuk membedakan mana motif utama, motif pengisi (isian), dan motif pelengkap.
- Kesatuan (Unity): Bagaimana merangkai berbagai elemen ragam hias yang berbeda (misalnya flora dan elemen geometris) menjadi satu kesatuan yang harmonis dan tidak saling bertabrakan.
Selain keempat prinsip tersebut, Ryo juga memandu peserta dalam memahami unsur-unsur tata letak (layout) dan ilustrasi, agar sketsa ragam hias yang dibuat di atas kertas nantinya benar-benar aplikatif saat dipindahkan ke atas kain dan dicanting dengan malam panas.
Jembatan Menuju Karya Nyata:
Kehadiran Rio Ariyanto melengkapi kepingan teka-teki ( puzzle ) dalam lokakarya ini. Jika pemateri sebelumnya bertugas mengisi “ruh” dan filosofi budaya ke dalam pikiran peserta, maka Ryo bertugas membimbing tangan para peserta untuk menuangkan ruh tersebut menjadi sketsa nyata.
Melalui sesi pendampingan desain ini, Yayasan Az Zahra Kepahiang berharap akan lahir purwarupa (prototype) motif-motif Batik Diwo baru yang tidak hanya kental akan budaya Rejang, tetapi juga matang secara estetika visual, sehingga kelak siap diproduksi dan diterima oleh pasar industri kreatif nusantara.
Emong Soewandi: Ajak Peserta Gali 10 Objek Pemajuan Kebudayaan sebagai Ruh Baru Motif Batik Diwo
Emong Soewandi: Ajak Peserta Gali 10 Objek Pemajuan Kebudayaan sebagai Ruh Baru Motif Batik Diwo
KEPAHIANG, 15 Maret 2026 – Semangat pelestarian dan kreativitas semakin menyala pada hari kedua pelaksanaan “Lokakarya Inovasi Motif Batik Diwo Berbasis Budaya Rejang” yang digelar pada Minggu (15/3/2026). Setelah dibekali dengan wawasan filosofi, sejarah, dan regulasi pada hari pertama, hari ini para peserta diajak untuk langsung menggali inspirasi.
Untuk memandu proses kreatif tersebut, Yayasan Az Zahra Kepahiang menghadirkan budayawan, guru, sekaligus penulis produktif kebanggaan daerah, Bapak Emong Soewandi, sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, beliau membawakan materi yang sangat esensial dan menggugah bertajuk “Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) untuk Memperkaya Motif Batik Diwo Kepahiang”.
Sebagai seorang praktisi pendidikan dan anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB), Pak Emong menyadarkan para peserta lokakarya bahwa sumber inspirasi untuk mendesain motif batik sejatinya tidak jauh, melainkan berserakan di sekitar kita. Merujuk pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, beliau memaparkan bahwa ada 10 Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) yang dapat ditransformasikan menjadi “manuskrip visual” bernilai tinggi pada selembar kain batik.
Kesepuluh OPK tersebut mencakup Manuskrip, Tradisi Lisan, Ritus, Adat Istiadat, Teknologi Tradisional, Pengetahuan Tradisional, Bahasa, Seni, Permainan Tradisional, hingga Olahraga Tradisional. Bagi Pak Emong, kesepuluh elemen ini bukanlah sekadar catatan masa lalu, melainkan bahan baku utama untuk melahirkan karya seni yang sangat otentik.
Dalam paparannya, Pak Emong memberikan berbagai contoh konkret dan visualisasi bagaimana mengonversi elemen kebudayaan tersebut menjadi desain atau alternatif motif Batik Diwo, di antaranya:
- Inspirasi Tradisi Lisan: Cerita dongeng Rejang “Putri Sedaro Putih” yang mengisahkan asal-usul pohon enau, dapat distilasi (digayakan) menjadi motif pohon aren dan buahnya yang menawan.
- Inspirasi Ritus dan Kepercayaan: Elemen ritual seperti “Sumpah Rajo Sulaiman” atau tanda “Aca’-aca'” (tanda kayu bersilang delapan sebagai pembuka lahan ladang) memiliki bentuk geometris yang sarat akan makna jika diaplikasikan sebagai motif.
- Inspirasi Seni: Kesakralan Tarian “Kejei” dapat diwujudkan melalui motif dua penari yang sedang bergerak lincah berdampingan dengan mekarnya Bunga Rafflesia.
- Inspirasi Pengetahuan Tradisional: Kedekatan masyarakat Rejang dengan alam dapat diekspresikan melalui berbagai motif flora dan fauna, seperti Motif Cebung Ginggong (stilasi bentuk rebung), Motif Matai Ponoi (stilasi mata burung punai), hingga Motif Seluang Medek (ikan seluang berenang).
- Inspirasi Teknologi Tradisional: Alat-alat upacara dan keseharian seperti “Pendei”—yakni karangan besar berisi rangkaian hasil bumi, daun beringin, hingga peralatan rumah tangga—bisa menjadi representasi visual kesatuan harmoni manusia Rejang dengan alam semesta.
Sebuah Pesan Pelestarian Melalui Karya:
Melalui paparannya di hari kedua ini, Pak Emong Soewandi tidak sekadar mengajarkan teknik mencari ide gambar, melainkan sedang mewariskan sebuah peradaban. Dengan menjadikan 10 Objek Pemajuan Kebudayaan sebagai basis inovasi Motif Batik Diwo, kita sedang memastikan bahwa generasi mendatang dapat “membaca” identitas, sejarah, dan nilai luhur masyarakat Rejang hanya dengan menatap selembar kain yang mereka kenakan.
Langkah konkret di hari kedua ini semakin mengukuhkan visi besar Yayasan Az Zahra Kepahiang yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan RI dan LPDP (Dana Indonesiana): bahwa kebudayaan tidak cukup hanya disimpan dalam ingatan, tetapi harus dihidupkan secara dinamis dalam bentuk karya kreatif yang memiliki nilai guna dan ekonomi di tengah masyarakat modern.



