"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

Yayasan Az Zahra Kepahiang

Mengenal Lebih Dekat Umi Yesi: Srikandi Literasi, Pelestari Bahasa, dan Relima 2026 dari Kepahiang

Mengenal Lebih Dekat Umi Yesi: Srikandi Literasi, Pelestari Bahasa, dan Relima 2026 dari Kepahiang

Di tengah sejuknya udara Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu, lahir berbagai inisiatif luar biasa dari seorang pegiat literasi perempuan yang akrab disapa Umi Yesi. Memiliki nama lengkap Helmiyesi, M.Si., tokoh inspiratif yang berdomisili di Kelurahan Padang Lekat ini mendedikasikan hidup, waktu, dan kariernya untuk dunia pendidikan, sosial, serta memajukan budaya membaca di daerahnya.

Mengemban Amanah Baru sebagai Relima 2026 Lokus Kepahiang

Kiprah panjangnya di dunia literasi kini memasuki babak baru yang semakin strategis. Berdasarkan Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia Nomor 98 Tahun 2026, Umi Yesi secara resmi terpilih dan ditetapkan sebagai Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Tahun 2026.

Dalam program nasional ini, beliau dipercaya memegang amanah penting untuk lokus Kabupaten Kepahiang selama masa kontrak pengabdian dari Juni hingga Oktober 2026 ke depannya. Sebagai Relima, Umi Yesi siap mengemban tugas mulia mulai dari menginventarisasi data perpustakaan, mengadvokasi pemanfaatan anggaran seperti Dana Desa, hingga mengajak seluruh ekosistem literasi lokal—baik TBM, Kampung Dongeng, maupun perpustakaan desa—untuk berkolaborasi membangun literasi masyarakat yang kuat dan membumi.

Penggerak Pendidikan dan Tokoh Literasi Masyarakat

Sebelum terpilih sebagai Relima, nama Umi Yesi memang sudah lekat dengan dunia pengabdian masyarakat. Saat ini, beliau dipercaya mengemban jabatan penting sebagai Sekretaris Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (BAN PDM) Provinsi Bengkulu untuk masa bakti 2025–2028. Selain itu, jiwa kepemimpinan dan sosialnya juga tersalurkan lewat perannya sebagai Ketua Yayasan Az Zahra Kepahiang yang dipimpinnya sejak tahun 2010.

Hobinya yang kuat dalam dunia tulis-menulis tidak hanya ia simpan sendiri. Umi Yesi memiliki visi mulia untuk melahirkan penulis-penulis baru dari berbagai kalangan. Hal ini ia wujudkan dengan mendirikan Sabusabu (Satu Bulan Satu Buku) pada tahun 2018, sebuah kelas menulis inspiratif yang hingga hari ini masih aktif mencetak karya. Beliau juga kerap membagikan ilmunya dengan menjadi narasumber kelas menulis serta pemateri seminar di berbagai daerah.

Jejak Karya dan Dedikasi Melestarikan Budaya Lokal

Kecintaannya pada literasi dibuktikan lewat karya-karya yang sangat produktif. Pada tahun 2025, Umi Yesi menorehkan pencapaian membanggakan dengan fokus pada pelestarian kearifan lokal. Ia menerbitkan sejumlah antologi cerpen yang mengangkat bahasa daerah Rejang, di antaranya Temujeu Dalen Belek (Menuju Jalan Pulang), Temulis Kisah: Antaro Cinto Ngen Cito-cito, dan Coa Cukup Ngen Mipie, Suhet Utuk Harapan.

Tidak berhenti di sana, beliau juga merilis buku Cerita Anak Dwibahasa bertajuk Kelengitan Curuq Embun (Curuq Embun yang Hilang) serta sukses berkolaborasi bersama tokoh literasi nasional, Gola Gong, dalam antologi fiksi mini yang memecahkan Rekor MURI di tahun 2025.

Rentetan Apresiasi dan Penghargaan Bergengsi

Dedikasi nyata Umi Yesi telah diakui secara luas, mulai dari tingkat regional hingga nasional. Kiprahnya diapresiasi langsung oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) RI yang menganugerahinya Plakat Pegiat Perempuan serta Piagam Penghargaan dalam momentum Hari Aksara Internasional Tingkat Nasional pada tahun 2021.

Di tingkat provinsi, tulisan dan kecintaannya pada bahasa diapresiasi lewat Penghargaan Penulis dan Penerjemah Buku Cerita Anak Dwi Bahasa dari Kantor Bahasa Provinsi Bengkulu. Kemampuannya di bidang literasi juga diakui oleh Perpusnas Press dengan menyabet Juara 2 pada ajang Inkubator Literasi Pustaka Nasional (ILPN) Provinsi Bengkulu di tahun 2024.

Helmiyesi (Umi Yesi) adalah bukti nyata bagaimana hobi yang dikelola dengan cinta, ilmu, dan semangat berbagi mampu melahirkan gerakan yang berdampak luas. Melalui peran barunya sebagai Relima Perpusnas RI di Kabupaten Kepahiang, langkah nyata beliau ke depannya dipastikan akan semakin menginspirasi, membawa solusi bagi tantangan literasi pelosok, dan merawat budaya luhur bangsa agar semakin kokoh di hati masyarakat.

 

Kekasih di Antara Pasir dan Langit: Cinta Sunyi Siti Hajar

Kekasih di Antara Pasir dan Langit: Cinta Sunyi Siti Hajar

Siang itu, matahari membakar tanpa ampun, dan sejauh mata memandang hanya ada keheningan yang mencekam. Di lembah gersang tanpa tanda-tanda kehidupan, seorang perempuan berdiri mematung. Di pelukannya, ada seorang bayi kecil yang terlelap. Di hadapannya, punggung lelaki yang paling dicintainya—Ibrahim—mulai menjauh, melangkah pergi meninggalkannya dalam kesendirian yang teramat sunyi.

Secara manusiawi, logika mana yang bisa menerima perpisahan ini? Namun, romantisnya kisah Siti Hajar bukanlah tentang belaian lembut atau kata-kata manis di senja hari. Romantisme Hajar adalah tentang cinta tingkat tertinggi. sebuah penyerahan jiwa yang utuh kepada Sang Pemilik Cinta.

Ketika ia mengejar langkah Ibrahim dan bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?” dan Ibrahim menjawab dengan anggukan, “Ya,” maka runtuhlah segala keraguan. Di sinilah kalimat paling puitis dalam sejarah keteguhan perempuan terucap:

>”Jika demikian, Dia tidak akan pernah menelantarkan kita.”

Sunyi yang Menjelma Ikhtiar

Ibrahim pergi membawa cintanya yang tunduk pada titah Tuhan, sementara Hajar tinggal bersama kesunyian yang megah. Ketika sang bayi mulai menangis kehausan, cinta Hajar tidak menjelma menjadi ratapan. Cinta itu berubah menjadi energi yang luar biasa.

Ia berlari. Dari bukit Shafa ke bukit Marwah. Bukan sekali, tapi tujuh kali. Kakinya yang lelah meniti tajamnya batu batuan, matanya menyapu fatamorgana, mencari setitik harapan demi menyambung nyawa belahan hatinya, Ismail.

Secara lahiriah, ia tampak seperti perempuan kesepian yang sedang panik. Namun secara batiniah, ia sedang menari dalam simfoni kepasrahan. Ia membuktikan kepada semesta bahwa mencintai Allah berarti bergerak, berikhtiar tanpa batas, meski hasil belum tampak di pelupuk mata.

Hadiah Cinta yang Abadi

Dan langit pun tak mampu membendung haru. Ketika ikhtiar sang hamba telah mencapai puncaknya, pertolongan tidak datang dari arah yang ia duga. Bukan dari puncak bukit tempat ia lelah berlari, melainkan dari hentikan kaki kecil putranya di atas tanah.

Muncratan air itu pecah.Bersamaan dengan kepakan sayap Jibril, mata air itu memancar.

“Zam-zam! Zam-zam!” (Berkumpullah!), seru Hajar dengan penuh syukur, membendung air yang meluap-luap itu dengan jemarinya.

Air zam-zam itu bukan sekadar pelepas dahaga. Itu adalah surat cinta dari Langit yang ditulis dengan air paling murni. Sebuah balasan tunai untuk perempuan yang menolak menyerah pada sepi. Allah seolah berkata kepada dunia: *Lihatlah perempuan ini, karena imannya, Aku suburkan tanah yang mati ini.

Cinta yang Mengalir Hingga Kini

Hari ini, ribuan tahun sejak langkah kaki Hajar terhenti di Marwah, jutaan manusia dari seluruh penjuru bumi datang untuk meniru langkahnya. Berlari kecil di antara Shafa dan Marwah (Sai), mengenang ritme cinta dan kepasrahan seorang ibu.

Dan air zam-zam itu? Ia terus mengalir. Menembus abad, melintasi zaman, tak pernah kering sedikit pun. Air itu adalah bukti abadi bahwa kesepian yang diserahkan kepada Allah akan selalu berbuah kemuliaan yang mengalir tiada henti.

Siti Hajar mengajarkan kita sisi paling romantis dari sebuah ujian: bahwa di padang pasir kehidupan yang paling gersang sekalipun, jika kita berjalan bersama Allah, mata air kebahagiaan selalu siap memancar di bawah kaki kita.

Selamat meneladani keteguhan hati, selamat merayakan cinta yang ikhlas d

i hari yang suci ini.

Mengenal Pilar Pelindungan Karya: Memahami Kekayaan Intelektual Bersama Kanwil Kemenkum Bengkulu

Mengenal Pilar Pelindungan Karya: Memahami Kekayaan Intelektual Bersama Kanwil Kemenkum Bengkulu

KEPAHIANG – Dalam upaya memperkuat ekosistem ekonomi kreatif dan literasi budaya di Kabupaten Kepahiang, Yayasan Az-Zahra Kepahiang menghadirkan narasumber ahli, Ibu Nova Harneli, S.H., selaku Kepala Bidang Pelayanan Kekayaan Intelektual Kanwil Kemenkum Bengkulu. Dalam paparannya, beliau mengupas tuntas urgensi pelindungan Kekayaan Intelektual (KI) sebagai aset berharga bagi para kreator dan pegiat budaya.

Transformasi Kementerian Hukum

Mengawali materinya, Ibu Nova menjelaskan sejarah panjang instansi yang membidangi hukum di Indonesia. Sejak Oktober 2024, nomenklatur instansi ini telah bertransformasi menjadi Kementerian Hukum (berdasarkan Perpres Nomor 155 Tahun 2024), yang fokus pada pelayanan publik, termasuk di dalamnya Bidang Pelayanan Kekayaan Intelektual di tingkat wilayah.

Apa Itu Kekayaan Intelektual?

Kekayaan Intelektual adalah hasil olah pikir manusia yang menghasilkan suatu produk atau proses yang berguna bagi masyarakat. Inti dari pelindungan KI adalah memberikan hak eksklusif kepada pencipta atau penemu atas hasil kreativitasnya.

Ibu Nova membagi Kekayaan Intelektual ke dalam dua kelompok besar:

  1. Kepemilikan Personal (Individu/Badan Hukum):
    • Hak Cipta: Melindungi karya di bidang seni, sastra, dan ilmu pengetahuan (seperti motif batik, lagu, dan buku). Hak ini timbul secara otomatis (deklaratif) dengan masa perlindungan hingga 70 tahun setelah pencipta meninggal dunia.
    • Merek: Tanda pembeda produk berupa logo, kata, atau suara (perlindungan 10 tahun dan dapat diperpanjang).
    • Paten: Perlindungan atas invensi teknologi.
    • Desain Industri: Fokus pada estetika bentuk atau komposisi warna dan garis pada produk.
  2. Kepemilikan Komunal (Milik Masyarakat Adat/Komunitas):
    • Meliputi Ekspresi Budaya Tradisional (EBT), Pengetahuan Tradisional (PT), dan Sumber Daya Genetik (SDG).
    • Indikasi Geografis (IG): Tanda yang menunjukkan daerah asal suatu produk karena faktor alam atau manusia yang memberikan ciri khas tertentu.

Urgensi Hak Moral dan Hak Ekonomi

Bagi para pegiat budaya di Yayasan Az-Zahra, Ibu Nova menekankan pentingnya memahami Hak Moral (hak agar nama pencipta tetap dicantumkan dan karya tidak diubah tanpa izin) serta Hak Ekonomi (manfaat finansial atau royalti dari penggunaan karya).

“Pendaftaran atau pencatatan karya bukan sekadar urusan administratif, melainkan benteng hukum agar karya asli daerah, seperti motif-motif baru Batik Diwo, memiliki nilai tambah ekonomi dan terlindungi dari klaim pihak yang tidak bertanggung jawab,” tegasnya.

Capaian Provinsi Bengkulu: 8 Indikasi Geografis Terdaftar

Hingga saat ini, Provinsi Bengkulu telah berhasil mendaftarkan 8 Indikasi Geografis yang menjadi kebanggaan daerah, di antaranya:

  • Kopi Robusta Kepahiang (Terdaftar sejak 2018)
  • Kopi Robusta Rejang Lebong
  • Batik Besurek Bengkulu
  • Jeruk Kalamansi Bengkulu Tengah
  • Tenun Bumpak Seluma
  • Batik Sekundang Bengkulu Selatan
  • Batik Sungai Lemau Bengkulu Tengah
  • Batik Tando Pusako Mukomuko

Melalui edukasi ini, Yayasan Az-Zahra Kepahiang di bawah kepemimpinan Ibu Helmiyesi, M.Si, berkomitmen untuk terus mendampingi para pegiat budaya dan pengrajin lokal dalam mengamankan hak kekayaan intelektual mereka, demi membangun peradaban masyarakat Kepahiang yang lebih bermartabat dan mandiri secara ekonomi.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai pendaftaran HKI, masyarakat dapat mengakses laman resmi dgip.go.id atau berkonsultasi langsung melalui jalur pendaftaran yang disediakan oleh Yayasan Az-Zahra Kepahiang.

 

Kegiatan PKW Batik Diwo Kepahiang