"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

BERITA PKBM

Perpustakaan Nasional Resmi Luncurkan Relima 2026, Helmiyesi “Umi Yesi” Wakili Kabupaten Kepahiang

Perpustakaan Nasional Resmi Luncurkan Relima 2026, Helmiyesi “Umi Yesi” Wakili Kabupaten Kepahiang

JAKARTA – Dalam upaya memperkuat budaya baca dan mendongkrak kecakapan literasi di tanah air, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) secara resmi menggelar acara Peluncuran Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Tahun 2026. Acara nasional ini diselenggarakan secara daring melalui platform Zoom pada Senin, 18 Mei 2026.

Peluncuran Relima 2026 ini berjalan sangat megah karena dirangkaikan langsung dengan dua agenda besar lainnya, yaitu Pengukuhan Duta Baca Indonesia Tahun 2026 serta Peluncuran Aplikasi Inlislite versi 3.3. Rangkaian kegiatan dimulai sejak pukul 08.30 WIB, diawali dengan registrasi, pidato kunci dari Kepala Perpusnas RI, hingga puncak acara berupa Gelar Wicara Literasi bertema “Relima 2026: Kolaborasi untuk Gerakan Literasi Berdampak”.

Amanah Baru untuk Gerakan Literasi Nyata

Melalui surat undangan resmi bernomor B.2073/4.4/PPM.06/V.2026 yang ditandatangani secara elektronik oleh Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca, Nurhadisaputra, Perpusnas menyampaikan ucapan selamat kepada para relawan yang terpilih dari berbagai penjuru daerah di Indonesia.

“Amanah ini bukan sekadar pengakuan, tetapi juga awal dari perjalanan untuk menghadirkan perubahan nyata di tengah masyarakat,” ungkap Nurhadisaputra dalam surat tersebut.

Selamat untuk Umi Yesi dari Kabupaten Kepahiang

Kabar membanggakan datang dari Provinsi Bengkulu. Salah satu pegiat literasi yang akrab disapa Umi Yesi (Helmiyesi) resmi terpilih dan dikukuhkan sebagai bagian dari Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Tahun 2026 untuk wilayah Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu.

Terpilihnya Umi Yesi menjadi angin segar bagi pergerakan literasi di Kabupaten Kepahiang. Dedikasi dan kedekatan beliau dengan masyarakat diharapkan mampu membawa transformasi positif, menghidupkan ruang-ruang baca, serta melahirkan generasi yang lebih literat di daerahnya.

Keluarga besar, kolega, dan seluruh masyarakat Kabupaten Kepahiang turut bangga dan mengucapkan:

“Selamat dan Sukses atas Terpilihnya Helmiyesi (Umi Yesi) sebagai Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Tahun 2026! Semoga amanah dalam mengemban tugas mulia ini dan terus menginspirasi dalam menghadirkan perubahan nyata demi kemajuan literasi bangsa.”

Dengan sinergi antara Relima 2026, Duta Baca Indonesia, dan dukungan teknologi aplikasi Inlislite versi 3.3 dari Perpusnas, gerakan literasi di tingkat akar rumput diharapkan bisa bergerak lebih masif, inklusif, dan berdampak luas.

 

Instruktur Ernawati Paparkan Lima Tahap Utama Teknis Produksi Batik Diwo

Instruktur Ernawati Paparkan Lima Tahap Utama Teknis Produksi Batik Diwo

Kepahiang, 18 Mei 2026 – Melanjutkan rangkaian kegiatan penguatan identitas lokal, Yayasan Az-Zahra Kepahiang menggelar sesi teknis mendalam dalam “Lokakarya Ke-2: Melukis Kain Diwo Motif Baru Berbasis Budaya Rejang”. Kegiatan yang merupakan buah kolaborasi strategis bersama Kementerian Kebudayaan RI, Dana Indonesiana, dan LPDP ini menghadirkan Ibu Ernawati, instruktur ahli dari IKM Umeak Kain Diwo, untuk membedah tuntas proses produksi wastra kebanggaan daerah tersebut.

Lima Transformasi Sehelai Kain Putih

Dalam paparan materinya, Ibu Ernawati menjelaskan bahwa proses transformasi kain putih menjadi Batik Diwo yang bernilai tinggi harus melalui lima tahapan utama yang presisi. Tahapan tersebut meliputi pembuatan pola (mempola), pemberian malam atau lilin, pewarnaan, penguncian warna (mewater), hingga tahap akhir yaitu pelorodan atau pelepasan lilin.

“Langkah awal dimulai dengan pemilihan media. Kami menggunakan kain jenis Primisima yang memiliki tekstur halus agar motif dapat terbentuk dengan sempurna. Di atas kain inilah para pengrajin melukis sketsa sesuai pola batik yang diinginkan,” ujar Ibu Ernawati saat memberikan demonstrasi di depan puluhan peserta lokakarya.

Teknik Pewarnaan dan Proses ‘Mewater’

Setelah proses mencanting selesai, tahap krusial berikutnya adalah pewarnaan. Ibu Ernawati memperkenalkan tiga teknik pewarnaan yang dapat digunakan oleh peserta untuk menghidupkan motif baru berbasis budaya Rejang, yakni:

  1. Teknik Semprot: Untuk menciptakan efek gradasi yang modern.
  2. Teknik Coletan: Untuk memberikan detail warna pada area-area kecil motif.
  3. Teknik Usap: Untuk meratakan warna dasar pada permukaan kain yang luas.

Lebih lanjut, beliau menekankan pentingnya tahap Mewater atau penguncian warna menggunakan larutan water glass. Proses ini membutuhkan waktu sekitar delapan jam guna memastikan zat warna menyatu sempurna dengan serat kain dan tidak luntur di kemudian hari.

Penyelesaian Akhir yang Teliti

Tahap akhir dari pembuatan Batik Diwo adalah pelepasan lilin. Sebelum direbus, kain batik harus direndam selama kurang lebih tiga jam. Setelah itu, kain direbus untuk meluruhkan seluruh malam yang menempel, dicuci bersih, dan dijemur hingga kering di tempat yang teduh.

“Setelah kering, kain disetrika dan dikemas dengan rapi. Sehelai kain Batik Diwo bukan sekadar produk tekstil, melainkan manifestasi kesabaran dan ketelitian pengrajin dalam menjaga warisan leluhur,” tambah beliau.

Melalui narasi literasi budaya yang disampaikan secara praktis ini, Yayasan Az-Zahra Kepahiang berharap para peserta tidak hanya mahir secara estetika dalam menciptakan motif, tetapi juga memiliki kemandirian teknis dalam memproduksi Kain Diwo yang berkualitas, sejalan dengan visi besar pembangunan literasi masyarakat di Kabupaten Kepahiang.

 

Narasumber Ibu Reka Meliana Bagikan Filosofi dan Sejarah Batik Diwo dalam Lokakarya Ke-2 di Kepahiang

Narasumber Ibu Reka Meliana Bagikan Filosofi dan Sejarah Batik Diwo dalam Lokakarya Ke-2 di Kepahiang

Kepahiang, 18 Mei 2026 – Yayasan Az-Zahra Kepahiang menggelar “Lokakarya Ke-2: Melukis Kain Diwo Motif Baru Berbasis Budaya Rejang”. Kegiatan ini dalam rangka pelestarian budaya lokal dapat terlaksana berkat kerja sama antara Yayasan Az-Zahra Kepahiang dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiana, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Dalam lokakarya tersebut, hadir sebagai narasumber utama Ibu Reka Meliana, seorang instruktur berpengalaman dari IKM Umeak Kain Diwo. Di hadapan para peserta, Ibu Reka mengupas tuntas materi inti yang memadukan kedalaman filosofi, nilai sejarah lokal, hingga aspek teknis pembuatan wastra kebanggaan Kabupaten Kepahiang ini.

Filosofi dan Etimologi Batik

Mengawali materinya, Ibu Reka menjelaskan esensi membatik dari sudut pandang kebahasaan. Secara etimologi, kata batik berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa Jawa, yaitu “Mbat” yang berarti melempar secara berkali-kali, dan “Tik” yang berarti titik.

Filosofi ini mencerminkan sebuah proses kerja yang menuntut ketekunan, konsistensi, dan kesabaran tinggi. Secara teknis, membatik didefinisikan sebagai seni menggambar di atas kain putih polos (bisa berupa kain katun maupun sutra) dengan memanfaatkan lilin atau malam panas sebagai perintang warna, di mana canting bertindak sebagai pena utamanya.

Sejarah Lahirnya Kain Diwo Kepahiang

Salah satu poin penting yang disoroti oleh Ibu Reka adalah sejarah historis di balik keberadaan Kain Diwo. Kehadiran wastra khas ini tidak lepas dari gagasan visioner Bupati Kepahiang terdahulu, Bapak Bando Amin C. Kader, pada tahun 2015. Ide besar untuk memunculkan identitas visual daerah tersebut kemudian diwujudkan melalui sentuhan kreativitas Ibu Marianty Wijaya, yang saat itu aktif sebagai Pengurus Dekranasda Kabupaten Kepahiang. Ibu Marianty menjadi sosok penting yang mengembangkan desain pertama sekaligus menjadi cikal bakal lahirnya Kain Diwo Kepahiang yang kita kenal hari ini.

Teknik, Bahan, dan Peralatan Membatik

Lebih lanjut, Ibu Reka memaparkan klasifikasi teknik pembuatan batik yang umum digunakan, yaitu:

  1. Batik Tulis: Teknik manual menggunakan canting, yang memiliki nilai seni dan eksklusivitas paling tinggi.
  2. Batik Cap: Teknik menggunakan stempel tembaga untuk efisiensi waktu dan presisi pola.
  3. Batik Kombinasi: Perpaduan antara teknik tulis dan cap demi menyeimbangkan detail visual dan kuantitas produksi.

Beliau juga mengategorikan batik berdasarkan perkembangannya dari masa ke masa, yang terbagi menjadi tiga kelompok besar: Batik Klasik (motif pakem sarat makna), Batik Tradisional (warisan turun-temurun komunitas lokal), dan Batik Kontemporer (eksplorasi motif bebas yang adaptif terhadap tren zaman).

Untuk aspek produksi, para peserta dibekali pengenalan bahan baku utama seperti media kain, lilin malam (campuran gondorukem, lemak minyak kelapa, dan paraffin), serta pewarna tekstil. Tak kalah penting, Ibu Reka merinci fungsi peralatan inti mulai dari canting untuk menorehkan cairan malam, wajan dan kompor/anglo untuk menjaga stabilitas suhu pencairan lilin, hingga penggunaan larutan water glass (Natrium Silikat) yang berfungsi krusial sebagai pengunci warna agar kain tidak luntur.

Apresiasi Proses Kreatif

Menutup sesi materinya, Ibu Reka Meliana menekankan bahwa mencanting atau melukis Kain Diwo pada dasarnya adalah memindahkan getaran rasa dan ketenangan jiwa ke atas hamparan kain. Beliau memberikan motivasi besar kepada seluruh peserta untuk tidak takut mengeksplorasi sketsa-sketsa baru berbasis budaya Rejang.

Melalui ruang literasi budaya yang difasilitasi oleh Yayasan Az-Zahra Kepahiang ini, diharapkan lahir para pembatik baru yang mampu membawa Kain Diwo bertransformasi menjadi produk budaya unggulan yang bernilai filosofis sekaligus berdaya saing ekonomi tinggi di masa depan.

 

Kegiatan PKW Batik Diwo Kepahiang