"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

Mimpi Harus Ditulis, Menjadi Doa dan Penuntun Kehidupan

Mimpi Harus Ditulis, Menjadi Doa dan Penuntun Kehidupan 

Kabawetan, 30/10/2025- Kelas Menulis ini menghadirkan narasumber inspiratif, Umi Yesi. Dengan penuh semangat, Umi Yesi menyampaikan pesan kunci yang sangat berharga bagi para peserta didik:

💬 “Semua orang berhak punya mimpi. Tapi, mimpi itu wajib di tulis agar menjadi doa dan menjadi penuntun kehidupan.”

Pesan ini menjadi pengingat yang kuat, bahwa mimpi tidak boleh hanya berhenti di angan-angan. Ia harus diabadikan, ditransformasikan menjadi kata-kata, yang lantas berfungsi ganda: sebagai doa yang dipanjatkan dan sebagai penuntun yang jelas untuk langkah hidup sehari-hari.

Para siswa-siswi Paket B dan C Program Desa Setara pun diajak untuk merenungkan, memvisualisasikan, dan kemudian menuangkan semua cita-cita terbesar mereka ke dalam tulisan. Setiap coretan pena di atas kertas bukan sekadar rangkaian kata, melainkan janji diri dan peta jalan menuju masa depan yang mereka impikan.

Kegiatan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan literasi dan menulis para peserta, tetapi yang lebih penting, menanamkan keyakinan bahwa dengan menuliskan mimpi, mereka telah mengambil langkah pertama dan terpenting untuk bergerak maju.

Mereka diajarkan bahwa untuk meraih cita-cita, bermimpi saja tidaklah cukup, melainkan harus diikuti dengan aksi nyata, yang dimulai dari komitmen untuk menuliskannya.

Kelas Menulis hari ini di Desa Sidorejo menjadi bukti nyata bahwa Program Desa Setara benar-benar menciptakan kesempatan yang setara bagi setiap individu untuk membangun kembali impian mereka melalui pendidikan dan literasi, dengan harapan agar kelak, mimpi yang tertulis itu benar-benar menjadi kenyataan.

Kita nantikan kisah dan mimpi anak desa ini di buku yang akan kami cetak dan terbitkan oleh TBM Cahaya Kepahiang dan Penerbit Yayasan Az Zahra Kepahiang

LITERASI ITU CAHAYA, AL-QUR’AN ITU SUMBERNYA

LITERASI ITU CAHAYA, AL-QUR’AN ITU SUMBERNYA
Refleksi atas Pelantikan Bunda Literasi Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Provinsi Bengkulu
Oleh : Slamet Imam Wakhyudin

Berdasarkan data UNESCO, Indonesia masih berada di peringkat kedua dari bawah dalam hal literasi dunia.
Sebuah kenyataan yang mengajak kita merenung, bahwa kemajuan suatu bangsa tidak hanya diukur dari gedung dan jalan raya, tetapi dari sejauh mana rakyatnya mencintai ilmu dan membaca.
Dari keprihatinan inilah lahir Program Bunda Literasi, sebuah kebijakan luhur yang menyalakan kembali cahaya pengetahuan melalui peran perempuan para ibu, para pendidik, dan penjaga nilai peradaban.
Namun, literasi bukan hanya urusan kata dan buku.
Ia adalah ikhtiar mencerdaskan hati, menumbuhkan akal, dan memuliakan manusia.
Sebab, literasi sejati bersumber dari wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad ﷺ:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)

LITERASI AL-QUR’AN: MEMBACA DENGAN HATI DAN CAHAYA
Perintah Iqra’ adalah perintah untuk membuka mata dan menyadari makna.
Bukan hanya membaca huruf, tetapi membaca kehidupan, membaca makhluk, dan membaca hikmah.
Inilah yang disebut literasi Al-Qur’an literasi yang tidak hanya melahirkan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan keimanan.
Ketika seseorang membaca Al-Qur’an, ia sedang membaca dirinya, sejarahnya, dan arah hidupnya.
Dan ketika seseorang menulis dengan niat yang baik, ia sedang menebarkan cahaya dari kalam yang suci.

LITERASI, CINTA, DAN TANGGUNG JAWAB PRIBADI
Saya pribadi suka menulis dan membaca, bukan sekadar karena hobi, tetapi dalam rangka mengembangkan literasi agar Indonesia mampu bangkit dan meningkatkan peringkat literasinya di dunia.
Sebab, menulis dan membaca bukan hanya kegiatan, tetapi ibadah ilmu jalan menuju bangsa yang tercerahkan.
Dengan pena, manusia menuliskan pikirannya. Dengan membaca, manusia menumbuhkan jiwanya. Dan dengan dua hal itu, peradaban akan kembali bercahaya.

BUNDA LITERASI: PENJAGA ILMU, PENYUBUR ADAB
Dalam konteks inilah, peran Bunda Literasi menjadi cahaya yang menuntun zaman.
Ia bukan hanya simbol program, tetapi wakil kasih sayang ilmu dan penjaga nilai-nilai bangsa.

Ketika seorang ibu membaca, ia sedang menanamkan cinta ilmu di hati anak-anaknya.
Ketika seorang guru mengajak murid menulis, ia sedang menanam benih keberadaban di masa depan bangsanya.

Maka, pelantikan Bunda Literasi Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Provinsi Bengkulu adalah momentum suci untuk kembali kepada makna Iqra’.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang membaca dengan iman, menulis dengan kejujuran, dan berpikir dengan hati nurani.

“ SELAMAT & SUKSES ATAS DILANTIKNYA BUNDA LITERASI PROVINSI DAN KABUPATEN/KOTA SE PROVINSI BENGKULU “
Semoga dari tangan-tangan mulia para bunda, lahir generasi yang mencintai ilmu,
menghidupkan budaya membaca, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi literasi bangsa.

Salam Literasi
Penulis adalah Ketua MUI bidang Da’wah Pendidikan dan Seni Budaya Islam/Staf Pengajar Pondok Pesantren Tahfidz Nurul Qur’an Bengkulu

MENEMUKAN KEMBALI RUH PENDIDIKAN NUSANTARA

MENEMUKAN KEMBALI RUH PENDIDIKAN NUSANTARA

(Refleksi Hari Santri Nasional 22 Oktober 2025)

Oleh : Slamet Imam Wakhyudin

Segala puji bagi Allah yang meninggikan derajat manusia dengan ilmu, dan menjadikan pendidikan sebagai jalan menuju kemuliaan.

Pendidikan yang Kehilangan Arah.

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, yang dahulu lahir dengan semangat besar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, kini menunjukkan tanda-tanda kehilangan arah.

Tujuannya luhur, bahasanya indah, namun hakikatnya masih jauh dari cita yang diamanahkan oleh Pembukaan UUD 1945.

Sistem yang seharusnya menumbuhkan manusia beriman, berilmu, dan berakhlak justru sering terjebak dalam rutinitas administratif. Ilmu diajarkan tanpa ruh, nilai ditanam tanpa teladan.

Pendidikan menjadi gedung megah tanpa jiwa, dan siswa menjadi angka dalam daftar, bukan insan dalam proses.

Dalam balâghah, ada kaidah yang mengatakan:

“Al-kalâm idzâ kharaja min al-qalb, waq’a fil-qalb”

“Ucapan yang keluar dari hati akan sampai ke hati.”

Demikian pula pendidikan: bila ia keluar dari hati, ia akan menumbuhkan jiwa; tetapi bila hanya lahir dari sistem tanpa nurani, ia hanya mencetak hafalan, bukan kesadaran.

Pesantren: Cermin Pendidikan Sejati

Maka tibalah saatnya kita menggali kembali akar pendidikan Nusantara, yaitu pondok pesantren lembaga yang telah ratusan tahun menanam nilai dan membentuk manusia seutuhnya.

Pesantren bukan sekadar tempat belajar kitab, tetapi tempat belajar hidup. Di dalamnya, ilmu bersanding dengan adab, akal bertemu dengan hati, dan pengetahuan berpadu dengan pengabdian.

Negara pun menyadari hal ini, dan lahirlah Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, sebuah bentuk penghormatan dan pengakuan terhadap peran pesantren sebagai pilar pendidikan bangsa. Namun, pengakuan hukum hanyalah awal. Tugas besar berikutnya adalah merumuskan sistem pendidikan pesantren yang sejati yang tidak hanya legal di mata negara, tetapi juga hidup di hati masyarakat.

Apakah sistem itu akan meniru bentuk modern dengan jubah tradisi, atau justru memperkuat jati diri: menegakkan keikhlasan, ketawadu’an, keteladanan, dan keberkahan ilmu?

Inilah persoalan besar yang menanti kebijaksanaan kita bersama.

Momentum Hari Santri 2025: Mengawal Indonesia Merdeka

Tahun ini, Hari Santri Nasional 2025 mengusung tema: “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia.”

Tema ini bukan sekadar semboyan, melainkan panggilan sejarah.

Santri adalah penjaga ruh bangsa, benteng moral di tengah derasnya arus modernisasi.

Dari pesantren, lahir semangat kebangsaan; dari santri, lahir tekad untuk menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian, bukan kebanggaan.

Momentum Hari Santri harus menjadi ajang refleksi dan rekonstruksi, bahwa kemerdekaan sejati bukan hanya terbebas dari penjajahan fisik, tetapi juga dari penjajahan pemikiran.

Dan pesantren, dengan segala kesederhanaannya, telah membuktikan diri sebagai ruang merdeka yang membebaskan manusia dari kebodohan, kemunafikan, dan ketergantungan spiritual.

Menulis Kembali Arah Pendidikan Bangsa

Kini, di tengah guncangan nilai dan krisis moral, kita membutuhkan pendidikan yang menanamkan makna, bukan sekadar materi; yang melahirkan kesadaran, bukan sekadar kelulusan.

Mari kita kembali menulis arah pendidikan bangsa dengan tinta keimanan, menyusun kurikulum dengan pena kebijaksanaan, dan menegakkan pembelajaran di atas fondasi budaya yang berjiwa tauhid.

Karena sejatinya, pendidikan bukan hanya soal “apa yang diajarkan”, tetapi “apa yang ditumbuhkan dalam jiwa manusia.”

Ilmu tanpa adab ibarat cahaya tanpa arah; pengetahuan tanpa keikhlasan hanyalah kebanggaan tanpa makna.

Penutup: Ucapan Hari Santri Nasional 2025

Selamat Hari Santri Nasional 22 Oktober 2025 !

Semoga para santri di seluruh penjuru Nusantara terus menjadi pelita ilmu dan akhlak, mengawal Indonesia merdeka dengan iman dan ilmu, serta membawa cahaya pesantren ke pentas peradaban dunia.

“Barang siapa bekerja karena Allah, maka amalnya akan kekal dan bersambung; dan barang siapa bekerja bukan karena-Nya, maka amalnya akan terputus dan lenyap.”

Semoga Allah meneguhkan langkah kita dalam menanamkan pendidikan yang beradab, dan semoga ruh pesantren terus hidup di setiap denyut nadi bangsa ini.

 

Penulis adalah : Ketua MUI Bidang Pendidikan, Da’wah dan Seni Budaya /Staf Pengajar Pondok Pesantren Tahfidz Nurul Qur’an Bengkulu

Kegiatan PKW Batik Diwo Kepahiang