"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

PROFIL SANG JUARA: Lomba Menulis Surat Puitis Berbahasa Rejang dengan Aksara Ulu

PROFIL SANG JUARA

Dengan rasa bangga dan sukacita, kami haturkan selamat kepada para pemenang yang telah menuangkan rasa, karsa, dan cinta mereka pada bahasa Rejang

Juara 1: Kurt Rayhans Adriansyah

Kurt Rayhans Adriansyah, mahasiswa Universitas Bengkulu yang lahir di Bengkulu pada 5 Oktober 2003. Di usianya yang muda, Kurt telah menunjukkan bakat dan kepedulian yang mendalam terhadap warisan budaya Rejang. Kemenangan ini menjadi bukti bahwa semangat pelestarian budaya tidak mengenal batas usia. Semoga prestasi ini menjadi pemantik bagi generasi muda lainnya untuk semakin mencintai dan mempelajari Aksara Ulu dan Bahasa Rejang.

Juara 2: Sesna Wati, S.Pd., Gr.

Sesna Wati, S.Pd., Gr., seorang guru SLB yang lahir di Kepahiang pada 9 April 1994. Sebagai seorang pendidik, pencapaiannya tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga inspirasi bagi anak didiknya. Kemenangan ini adalah cerminan dedikasi seorang guru dalam menjaga dan meneruskan nilai-nilai luhur budaya kepada generasi penerus.

Juara 3: Sikulo, M.Pd

Bapak Sikulo, M.Pd., seorang guru yang lahir di Curup pada 8 November 1978. Pengalaman dan kedalaman pemahaman Bapak akan budaya Rejang terpancar indah dalam surat puitis yang dihasilkan. Semoga karya Bapak menjadi teladan dan sumber ilmu bagi kita semua untuk terus menggali dan memahami kekayaan sastra dan aksara warisan leluhur.

Kepada ketiga pemenang, karya kalian bukan sekadar untaian kata, melainkan sebuah jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, memastikan bahwa Aksara Ulu dan Bahasa Rejang akan terus hidup dan bernafas di tengah masyarakat.

Terima kasih telah menjadi bagian penting dari gerakan kebudayaan ini. Teruslah menulis, teruslah menginspirasi, dan teruslah menjadi penjaga warisan budaya Rejang
___
Komsas Yayasan Az Zahra Kepahiang kerja sama dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikdasmen

SELAMAT HARI KEBUDAYAAN NASIONAL – MENJAGA AKAR, MERAWAT JATI DIRI BANGSA

SELAMAT HARI KEBUDAYAAN NASIONAL – MENJAGA AKAR, MERAWAT JATI DIRI BANGSA
Oleh : Imam Wakhyudin

Kemarin, bangsa Indonesia baru saja memperingati Hari Kebudayaan Nasional sebuah momentum reflektif yang setiap tahun dirayakan pada 17 Oktober.
Tanggal ini bukan sekadar pilihan tanpa makna. Pemerintah Republik Indonesia secara resmi menetapkannya karena memiliki relevansi historis yang mendalam dengan perjalanan bangsa.

Pada 17 Oktober 1951, Presiden Soekarno bersama Perdana Menteri Sukiman Wirjosandjojo menetapkan Lambang Negara Garuda Pancasila beserta semboyan yang amat agung: “Bhinneka Tunggal Ika.”
Dari peristiwa bersejarah itulah pemerintah kemudian menyebut tanggal 17 Oktober sebagai “momen identitas kebangsaan” hari di mana bangsa Indonesia meneguhkan jati dirinya sebagai bangsa yang berbudaya, beradab, dan berakar pada nilai luhur.

Lebih dari sekadar perayaan simbolik, Hari Kebudayaan Nasional adalah ajakan untuk menengok kembali akar budaya, menggali sejarah, serta menghidupkan kembali nilai-nilai yang mempersatukan Indonesia sejak lahirnya semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.
Kebudayaan bukan hanya tarian, musik, atau pakaian adat. Ia adalah fondasi moral dan spiritual bangsa ruh yang menjaga arah perjalanan negeri ini agar tetap berimbang antara kemajuan dan kemanusiaan.

Budaya adalah warisan yang bernyawa.
Ia bisa berwujud benda seperti bangunan tua, candi, batik, dan rumah adat, namun juga hadir dalam bentuk tak kasat mata: tata krama, nilai, dan kearifan lokal.
Semua itu merupakan jati diri masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi sebuah amanah yang harus dijaga, dilestarikan, dan diteruskan kepada anak cucu kita.
Sejarah pun telah memberi pelajaran berharga: siapa pun yang berusaha menghancurkan budaya, pada akhirnya akan dihancurkan oleh kesombongannya sendiri.
Sebagaimana kisah Jenderal Abrahah yang dengan congkak hendak merobohkan Ka’bah,
namun justru binasa oleh kekuasaan Allah.
Itulah isyarat bahwa kesombongan manusia tak akan pernah mampu menandingi kekuatan nilai yang suci.
Dalam konteks Indonesia, kebudayaan juga menjadi jalan dakwah dan peradaban.
Kita mungkin tidak akan mengenal Islam dengan damai dan indah
jika bukan karena Walisongo yang bijak memperkenalkan ajaran Islam melalui pendekatan budaya dan akulturasi.
Mereka tidak menghancurkan budaya lama, tetapi memeluknya dengan nilai-nilai baru yang penuh kasih dan kebijaksanaan.
Dari sinilah lahir wajah Islam Nusantara lembut, berakhlak, dan berbudaya.

Kini, tugas kita adalah melanjutkan warisan itu. Melestarikan budaya bukan hanya menjaga kain batik, lagu daerah, atau tarian tradisional, tetapi menjaga jiwa bangsa agar tidak tercerabut dari akarnya.
Sebab, bangsa yang kehilangan budaya adalah bangsa yang kehilangan arah.

Mari jadikan Hari Kebudayaan Nasional bukan sekadar seremonial tahunan, tetapi momentum untuk memperkokoh kesadaran bahwa budaya adalah cahaya peradaban dan menjaga budaya berarti menjaga Indonesia itu sendiri.

Penulis adalah : Pengajar Sejarah Kebudayaan Islam MTs/MA di Pondok Pesantren Tahfidz Nurul Qur’an Bengkulu

MENGEMBALIKAN RUH PENDIDIKAN: BELAJAR DARI PESANTREN

MENGEMBALIKAN RUH PENDIDIKAN: BELAJAR DARI PESANTREN
Oleh : Imam Wakhyudin

Negara kita telah menegaskan arah pendidikan melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Dalam undang-undang itu disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah :

“Berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.”

Cita-cita tersebut sesungguhnya amat mulia namun realitas di lapangan sering kali berbeda.
Kita masih mendengar berita yang mengusik nurani: ada kepala sekolah menegur muridnya yang merokok, bahkan menampar karena ingin mendidik, tetapi justru sang guru yang dipermasalahkan.
Fenomena seperti ini seolah menunjukkan bahwa sistem pendidikan kita kini hanya berjalan di atas aturan, bukan lagi di atas ruh dan nilai-nilai kemanusiaan.

Pendidikan Yang Kehilangan Jiwa

Pendidikan modern sering kali diukur dari keberhasilan akademik, kelulusan cepat, atau prestasi intelektual.
Namun, di balik kecanggihan teknologi dan sistem kurikulum yang terus diperbarui, kita perlahan kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting — yaitu adab dan keikhlasan.
Banyak peserta didik yang cerdas, tetapi tidak menghargai guru.
Banyak yang berpengetahuan luas, tetapi miskin empati dan tanggung jawab sosial.
Inilah tanda bahwa pendidikan kita kehilangan jiwanya — kehilangan orientasi spiritual dan moral yang dulu menjadi napas utama pendidikan bangsa.

Pesantren dan Pendidikan Sejati

Jika kita ingin menemukan bentuk pendidikan yang utuh yang menyentuh akal sekaligus hati maka pondok pesantren adalah jawabannya.
Di pesantren, pendidikan tidak berhenti pada ruang kelas. Ia hidup dalam keseharian, dalam keteladanan guru, dalam kesabaran santri membersihkan kamar, menimba air, atau menghafal kitab di bawah sinar redup lampu malam.
Salah satu dasar kurikulum pesantren yang tak pernah lekang oleh zaman adalah kitab klasik karya Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji, yang ditulis pada tahun 1190 M, berjudul Ta’lim al-Muta’allim Thariq at-Ta’allum Pendidikan bagi Penuntut Ilmu.
Kitab ini menjadi pedoman awal setiap santri baru. Di dalamnya terdapat bait yang sangat terkenal:

ألا تنال العلم إلا بستةٍ
سأنبيك عن مجموعها ببيانِ
“Takkan tercapai ilmu dengan sempurna kecuali dengan enam perkara.
Akan kujelaskan satu per satu dengan terang.”
Kemudian beliau menjelaskan enam syarat itu dalam bait berikutnya:
ذكاءٌ وحرصٌ واجتهادٌ وبلغةٌ
وصحبةُ أستاذٍ وطولُ زمانِ
“Kecerdasan, semangat, kesungguhan, kecukupan bekal, bimbingan guru, dan lamanya waktu belajar.”
Enam hal inilah fondasi sejati pendidikan.
Bukan sekadar nilai ujian, melainkan perjalanan panjang membentuk kepribadian yang kokoh.
1. Kecerdasan : bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas hati dan nurani.
2. Semangat : tekad kuat untuk terus belajar meski dihadang rintangan.
3. Kesungguhan : kerja keras yang lahir dari niat tulus mencari ridha Ilahi.
4. Bekal atau biaya : bukan sekadar materi, tapi kesiapan lahir batin.
5. Bimbingan Guru : sebab ilmu tanpa guru ibarat pohon tanpa akar.
6. Lamanya Waktu : karena ilmu sejati tidak bisa dipetik dengan instan, melainkan dengan kesabaran dan ketekunan panjang.

Nilai-nilai inilah yang menjadikan pesantren tetap kokoh di tengah arus modernisasi.
Di pesantren, belajar bukan sekadar mencari pekerjaan, tetapi mencari keberkahan hidup.
Guru tidak dipanggil “instruktur”, tapi ustadz, kiai, atau mursyid penuntun jiwa dan pembentuk karakter.

Menemukan Kembali Ruh Pendidikan

Kini, ketika dunia pendidikan kita semakin sibuk dengan administrasi, sertifikasi, dan akreditasi, barangkali sudah saatnya kita menengok kembali sumber-sumber kearifan lama yang telah teruji oleh waktu.
Pesantren bukan hanya lembaga keagamaan, tetapi juga model pendidikan karakter bangsa yang menanamkan nilai iman, takwa, disiplin, kesederhanaan, dan tanggung jawab.

Jika ruh pendidikan pesantren dihidupkan dalam sistem pendidikan nasional, maka Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 itu akan menemukan bentuk nyatanya.
Kita tidak lagi sekadar mencetak manusia pintar, tetapi manusia beradab.
Kita tidak hanya menghasilkan lulusan berijazah, tetapi juga generasi berjiwa bersih dan berakhlak mulia.

Penutup: Dari Ilmu Menuju Amal

Pendidikan sejati bukan hanya soal transfer ilmu, tetapi tentang bagaimana ilmu itu mengubah perilaku, memperindah akhlak, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial.
Di pesantren, ilmu tidak berhenti di kepala, tetapi turun ke hati dan diwujudkan dalam amal.

Di sinilah makna sejati pendidikan mengubah manusia menjadi lebih manusiawi.
Dan selama pesantren masih menjaga warisan ini, maka harapan untuk mengembalikan ruh pendidikan bangsa akan selalu hidup.

Penulis adalah : Wakil Ketua MUI bidang Da’wah, Pendidikan, dan Pembinaan Seni Budaya Islam/ Staf Pengajar Sejarah Kebudayaan Islam pada Pondok Pesantren Tahfidz Nurul Qur’an

Kegiatan PKW Batik Diwo Kepahiang