TBM Cahaya Kepahiang
Lewat Rumus 5 Jari, Sukses Taklukkan Kelas Menulis Cerpen “Polisi Sahabatku”
Lewat Rumus 5 Jari, Sukses Taklukkan Kelas Menulis Cerpen “Polisi Sahabatku”
KEPAHIANG, 18 Juli 2026 – Suasana ceria dan penuh tawa mewarnai Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Cahaya Kepahiang siang ini. Puluhan anak usia 7 hingga 12 tahun (kelas 2-6 SD) berkumpul dengan antusias untuk mengikuti Kelas Menulis Cerpen Mini. Mengangkat tema hangat “Polisi Sahabatku”, kegiatan ini berhasil memantik imajinasi liar anak-anak untuk melahirkan karya kreatif mereka sendiri.
Pemanasan Literasi: Membaca Koleksi TBM
Sebelum kegiatan inti dimulai, ruangan TBM tampak hidup dengan pemandangan anak-anak yang asyik berselancar di dunia imajinasi. Mereka terlebih dahulu diajak untuk membaca buku cerita anak koleksi TBM Cahaya Kepahiang. Aktivitas membaca bersama ini sengaja dilakukan sebagai langkah pemanasan (brainstorming) yang apik untuk merangsang kreativitas, memperkaya kosakata, dan memancing ide anak-anak sebelum mereka mulai menumpahkannya ke dalam bentuk tulisan.
Setelah asyik membaca, acara kemudian dipandu dengan sangat interaktif oleh Umi Eni Lastari. Ia mengajak seluruh peserta mencairkan suasana melalui games unik “Lempar Bola Kertas” yang diiringi lagu anak-anak yang ceria. Melalui permainan ini, rasa canggung anak-anak seketika runtuh. Satu per satu peserta memperkenalkan diri di depan kelas dengan penuh rasa percaya diri dan senyum sumringah.
Mengubah Mindset: Menulis itu Mudah!
Tantangan terbesar anak-anak dalam menulis biasanya adalah rasa takut salah dan bingung mencari ide. Menjawab hambatan tersebut, Umi Yesi, narasumber sekaligus Relima Kabupaten Kepahiang, langsung menggebrak lewat sebuah semboyan pemantik:
“Menulis itu mudah, karena menulis adalah bercerita!”
Semboyan sederhana ini sukses mengubah pola pikir (mindset) para peserta. Menulis tidak lagi dipandang sebagai tugas sekolah yang kaku, melainkan sebuah petualangan seru untuk menceritakan apa yang ada di dalam kepala mereka sendiri.
Sakti dengan “Rumus Cerita 5 Jari”
Untuk memudahkan anak-anak merangkai alur cerita, Umi Yesi mengupas tuntas metode “Rumus Cerita 5 Jari”. Melalui alat bantu visual telapak tangan yang mudah dipahami, anak-anak diajak memetakan tokoh, latar, masalah, solusi, hingga pesan manis untuk kepolisian Indonesia.
Metode pendampingan yang taktis ini terbukti sangat ampuh. Hanya dalam waktu singkat, kebingungan anak-anak mencair menjadi coretan pena yang mengalir lancar di atas lembar kerja mereka.
Panen Karya untuk HUT Bhayangkara ke-80
Hasil akhir dari kelas menulis ini sangat membanggakan. 100% peserta yang hadir berhasil merampungkan draf cerita mini mereka sendiri. Cerita-cerita yang lahir pun sangat beragam dan menyentuh hati—mulai dari kisah Pak Polisi yang membantu menyeberang jalan saat hujan deras, hingga aksi humanis polisi menyelamatkan hewan peliharaan warga.
Karya-karya berharga dari Penulis Cilik Kepahiang ini nantinya akan diikutsertakan dalam ajang lomba menulis tingkat nasional dalam rangka menyambut HUT Bhayangkara ke-80.
Melalui kelas ini, TBM Cahaya Kepahiang bersama Relima Kabupaten Kepahiang tidak hanya berhasil menumbuhkan budaya literasi sejak dini, tetapi juga sukses mendekatkan sosok polisi sebagai sahabat terbaik anak-anak. Dari Kepahiang, lahir bibit-bibit penulis masa depan bangsa! (TBM/Red)
Pemenang Lomba Telah Ditetapkan, Waktunya Tingkatkan IPLM Kepahiang Lewat Perpustakaan Desa!
Pemenang Lomba Telah Ditetapkan, Waktunya Tingkatkan IPLM Kepahiang Lewat Perpustakaan Desa!
KEPAHIANG – Upaya berkelanjutan untuk meningkatkan mutu layanan dan motivasi pengelolaan literasi masyarakat kembali diapresiasi. Melalui Surat Keputusan Dewan Juri yang ditetapkan pada tanggal 18 Juni 2026, hasil Lomba Perpustakaan Desa dan Kelurahan Terbaik Tingkat Kabupaten Kepahiang Tahun 2026 resmi diumumkan.
Lomba ini diselenggarakan dengan tujuan utama untuk memotivasi perpustakaan desa dan kelurahan agar terus memberikan pelayanan prima bagi seluruh lapisan masyarakat Kabupaten Kepahiang. Berdasarkan hasil penilaian yang bersifat final dari tim dewan juri yang terdiri dari Tony Hartanto, S.Sos. (Juri I), Sandra Hidayat, M.Pd. (Juri II), dan Deva Yurita Ambarini, SP., MP. (Juri III), berikut adalah daftar perpustakaan yang sukses menorehkan prestasi:
- Juara 1: Perpustakaan Aneka Ilmu, Desa Bogor Baru, Kecamatan Kepahiang, dengan jumlah nilai 871.
- Juara 2: Perpustakaan Rumah Ilmu, Desa Batu Ampar, Kecamatan Merigi, dengan jumlah nilai 722.
- Juara 3: Perpustakaan Sepiang Terang, Desa Air Sempiang, Kecamatan Kabawetan, dengan jumlah nilai 591.
- Juara Harapan 1: Perpustakaan Ceria Membaca, Desa Taba Saling, Kecamatan Tebat Karai, dengan jumlah nilai 398.
- Juara Harapan 2: Perpustakaan Desa Permu, Desa Permu, Kecamatan Kepahiang, dengan jumlah nilai 248.
- Juara Harapan 3: Perpustakaan Kel. Pasar Sejantung, Kelurahan Pasar Sejantung, Kecamatan Kepahiang, dengan jumlah nilai 228.
Apresiasi dan Panggilan Aksi dari Relima Kepahiang
Menyambut pencapaian yang membanggakan ini, Relima Kepahiang, Helmiyesi, M.Si., turut memberikan ucapan selamat sekaligus pesan penyemangat bagi seluruh pegiat literasi di desa:
“Selamat dan sukses yang sebesar-besarnya kepada seluruh pemenang Lomba Perpustakaan Desa dan Kelurahan Terbaik Tingkat Kabupaten Kepahiang Tahun 2026! Pencapaian ini adalah bukti nyata dari dedikasi dan kerja keras kawan-kawan pengelola dalam membuka jendela pengetahuan bagi masyarakat.”
Helmiyesi juga menegaskan bahwa penghargaan ini harus menjadi titik tolak untuk aksi yang lebih masif. Seluruh pengelola perpustakaan desa, masyarakat, dan perangkat desa diajak untuk merapatkan barisan.
“Mari kita jadikan momentum kemenangan ini sebagai pemantik untuk semakin menghidupkan perpustakaan desa. Jangan biarkan buku-buku hanya terpajang rapi di rak! Aktifkan berbagai kegiatan literasi, jadikan perpustakaan sebagai ruang inklusif untuk berdiskusi, belajar keterampilan, dan berkreasi. Dengan kolaborasi nyata, kita optimis Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) di Kabupaten Kepahiang akan terus meningkat!”
Pengisian IPLM dapat melalui link https://docs.google.com/spreadsheets/d/1I2RT4B2U4iivyuL8sXjz81fC-hkXc6jX/edit?gid=1774683617#gid=1774683617
Literasi Kopi Semang Desa Batu Ampar
LITERASI KOPI SEMANG DESA BATU AMPAR
KEPAHIANG (18/6/2016) – Kopi bukan sekadar tentang rasa yang tercecap di lidah, melainkan tentang kisah di balik setiap bijinya. Di Desa Batu Ampar, sebuah desa penyangga Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kaba, Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, lahir sebuah produk kopi premium yang sarat akan nilai kearifan lokal dan spiritualitas: Kopi Semang
Dikembangkan oleh kelompok Perempuan Alam Lestari (PAL), Kopi Semang bukan komoditas bisnis biasa. Ia adalah simbol gerakan lingkungan sekaligus perayaan martabat para perempuan lansia di usia senja melalui tradisi luhur yang disebut Nyemang.
Filosofi *Nyemang*: Kemandirian dan Martabat di Usia Senja
Secara harfiah, *Nyemang* adalah aktivitas memungut biji kopi yang berjatuhan di lantai kebun. Biji-biji ini jatuh setelah kulit luarnya yang manis habis dimakan oleh satwa liar penghuni hutan, seperti tupai, monyet, atau kelelawar.
Bagi perempuan lansia di Desa Batu Ampar, tradisi ini adalah ruang pembuktian bahwa usia senja bukanlah alasan untuk berhenti berdaya. Melalui filosofi selama kaki masih bisa melangkah dan tangan masih bisa memungut, hidup harus terus berdaulat, mereka mempertahankan harga diri dengan menghasilkan pendapatan mandiri.
Hasil dari memungut biji demi biji kopi ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan dapur hingga membelikan jajanan bagi cucu tercinta, tanpa harus menjadi beban bagi anak-anak mereka.
Hebatnya, tradisi ini dirajut oleh hukum adat yang sangat indah. Pemilik kebun di Desa Batu Ampar tidak boleh melarang atau memarahi siapa pun, terutama para lansia, yang masuk ke lahan mereka untuk *Nyemang*.
Ini adalah potret nyata solidaritas sosial—sebuah filosofi berbagi tanpa merasa kehilangan, di mana modal sosial berupa rasa saling percaya tumbuh subur di atas segalanya.
Pilihan Satwa, Diproses dengan Kasih Sayang
Sekilas, konsep Kopi Semang mirip dengan kopi luwak. Namun, keunikannya terletak pada kebebasan satwa liar yang hanya memakan kulit ceri kopi yang benar-benar matang di pohon, lalu menyisakan bijinya begitu saja.
Biji pilihan alam inilah yang kemudian dikumpulkan secara telaten oleh tangan-tangan sabar para lansia. Proses yang lambat, kontemplatif, dan penuh rasa syukur ini dilanjutkan dengan penyortiran manual menggunakan tampah, dibersihkan, hingga diproses secara higienis. Ketelatenan ini menghasilkan cita rasa kopi premium yang khas, yang konon memberikan sensasi ketenangan dan “bahagia” bagi siapa saja yang meminumnya.
Misi Gerakan Tangguh Iklim dan Harmoni Alam
Di balik nikmatnya secangkir Kopi Semang, ada pesan kuat tentang konservasi dan adaptasi perubahan iklim. Perempuan petani di Desa Batu Ampar menanam kopi dengan sistem agroforestri—tumpang sari bersama pohon buah seperti durian, alpukat, dan jengkol.
Pohon-pohon pelindung inilah yang menjadi benteng hijau pelestarian lingkungan sekaligus habitat alami bagi satwa liar. Melalui Kopi Semang, para lansia dan perempuan petani setempat mengajarkan filosofi koeksistensi (hidup berdampingan secara damai). Manusia tidak perlu memusuhi atau memburu satwa yang memakan buah kopi mereka. Satwa mengambil haknya berupa kulit buah, dan manusia memungut berkah dari biji yang ditinggalkan.
Kopi Semang adalah bukti nyata bagaimana sebuah produk lokal dari sudut Kepahiang mampu menyatukan untaian doa, pelestarian bumi, dan penegakan martabat perempuan dalam satu cangkir yang menghangatkan jiwa.


