"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

LITERASI ITU CAHAYA, AL-QUR’AN ITU SUMBERNYA

LITERASI ITU CAHAYA, AL-QUR’AN ITU SUMBERNYA
Refleksi atas Pelantikan Bunda Literasi Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Provinsi Bengkulu
Oleh : Slamet Imam Wakhyudin

Berdasarkan data UNESCO, Indonesia masih berada di peringkat kedua dari bawah dalam hal literasi dunia.
Sebuah kenyataan yang mengajak kita merenung, bahwa kemajuan suatu bangsa tidak hanya diukur dari gedung dan jalan raya, tetapi dari sejauh mana rakyatnya mencintai ilmu dan membaca.
Dari keprihatinan inilah lahir Program Bunda Literasi, sebuah kebijakan luhur yang menyalakan kembali cahaya pengetahuan melalui peran perempuan para ibu, para pendidik, dan penjaga nilai peradaban.
Namun, literasi bukan hanya urusan kata dan buku.
Ia adalah ikhtiar mencerdaskan hati, menumbuhkan akal, dan memuliakan manusia.
Sebab, literasi sejati bersumber dari wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad ﷺ:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)

LITERASI AL-QUR’AN: MEMBACA DENGAN HATI DAN CAHAYA
Perintah Iqra’ adalah perintah untuk membuka mata dan menyadari makna.
Bukan hanya membaca huruf, tetapi membaca kehidupan, membaca makhluk, dan membaca hikmah.
Inilah yang disebut literasi Al-Qur’an literasi yang tidak hanya melahirkan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan keimanan.
Ketika seseorang membaca Al-Qur’an, ia sedang membaca dirinya, sejarahnya, dan arah hidupnya.
Dan ketika seseorang menulis dengan niat yang baik, ia sedang menebarkan cahaya dari kalam yang suci.

LITERASI, CINTA, DAN TANGGUNG JAWAB PRIBADI
Saya pribadi suka menulis dan membaca, bukan sekadar karena hobi, tetapi dalam rangka mengembangkan literasi agar Indonesia mampu bangkit dan meningkatkan peringkat literasinya di dunia.
Sebab, menulis dan membaca bukan hanya kegiatan, tetapi ibadah ilmu jalan menuju bangsa yang tercerahkan.
Dengan pena, manusia menuliskan pikirannya. Dengan membaca, manusia menumbuhkan jiwanya. Dan dengan dua hal itu, peradaban akan kembali bercahaya.

BUNDA LITERASI: PENJAGA ILMU, PENYUBUR ADAB
Dalam konteks inilah, peran Bunda Literasi menjadi cahaya yang menuntun zaman.
Ia bukan hanya simbol program, tetapi wakil kasih sayang ilmu dan penjaga nilai-nilai bangsa.

Ketika seorang ibu membaca, ia sedang menanamkan cinta ilmu di hati anak-anaknya.
Ketika seorang guru mengajak murid menulis, ia sedang menanam benih keberadaban di masa depan bangsanya.

Maka, pelantikan Bunda Literasi Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Provinsi Bengkulu adalah momentum suci untuk kembali kepada makna Iqra’.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang membaca dengan iman, menulis dengan kejujuran, dan berpikir dengan hati nurani.

“ SELAMAT & SUKSES ATAS DILANTIKNYA BUNDA LITERASI PROVINSI DAN KABUPATEN/KOTA SE PROVINSI BENGKULU “
Semoga dari tangan-tangan mulia para bunda, lahir generasi yang mencintai ilmu,
menghidupkan budaya membaca, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi literasi bangsa.

Salam Literasi
Penulis adalah Ketua MUI bidang Da’wah Pendidikan dan Seni Budaya Islam/Staf Pengajar Pondok Pesantren Tahfidz Nurul Qur’an Bengkulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 × four =

Kegiatan PKW Batik Diwo Kepahiang