"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

Dari Pendidikan Kesetaraan ke Panggung Internasional: Kisah Supriyanti, Sosok Penggerak di Balik Konferensi Perempuan Adat Dunia

Dari Pendidikan Kesetaraan ke Panggung Internasional: Kisah Supriyanti, Sosok Penggerak di Balik Konferensi Perempuan Adat Dunia

KEPAHIANG – Di balik perhelatan International Indigenous Women’s Conference yang berlangsung di Desa Bandung Jaya, Kecamatan Kabawetan, ada satu sosok perempuan desa yang menjadi pusat perhatian.

Ia adalah Supriyanti, Ketua Kelompok Tani setempat yang dipercaya menjadi motor penggerak sekaligus panitia pelaksana kegiatan berskala global tersebut.

Bagi masyarakat lokal, Supriyanti bukan sekadar panitia. Ia adalah simbol perjuangan hak perempuan di akar rumput. Dedikasinya merentang luas, mulai dari mengadvokasi pendidikan anak usia dini hingga memimpin Kelompok Wanita Tani (KWT) untuk berdaya secara ekonomi dan politik di atas tanah mereka sendiri.

Kebanggaan bagi Pendidikan Kesetaraan
Keberhasilan Supriyanti mengelola acara yang dihadiri delegasi dari Papua hingga Denmark ini memicu rasa haru dan bangga bagi Umi Yesi, Ketua Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Kabupaten Kepahiang. Bagi Umi Yesi, Supriyanti adalah bukti nyata bahwa keterbatasan akses pendidikan formal di masa lalu bukanlah penghalang untuk menjadi pemimpin hebat.

Supriyanti merupakan alumni program pendidikan kesetaraan di Yayasan Az Zahra Kepahiang. Transformasi Supriyanti dari seorang pembelajar di pendidikan kesetaraan hingga kini mampu memfasilitasi dialog internasional tentang hak adat, menjadi pencapaian yang sangat emosional.

“Saya sangat bangga dengan pencapaian beliau. Supriyanti membuktikan bahwa perempuan desa, dengan kemauan belajar yang kuat, mampu berdiri sejajar dengan tokoh-tokoh dunia,” ujar Umi Yesi di sela-sela kegiatan.

Membumikan Konferensi di Rumah Warga
Sebagai panitia, Supriyanti mengambil langkah berani dengan menempatkan para tamu internasional dan nasional di rumah-rumah penduduk. Langkah ini ia ambil untuk memastikan bahwa pesan konferensi tentang “Rebuilding The Commons” atau membangun kembali ruang hidup bersama, dirasakan langsung melalui interaksi nyata antara peserta dan masyarakat desa.

Melalui kepemimpinannya, Desa Bandung Jaya tidak hanya menjadi lokasi acara, tetapi menjadi sekolah kehidupan bagi para tamu yang hadir.

Perempuan Adat Dunia Berkumpul di Kabawetan, Perjuangkan Hak Atas Hutan

Perempuan Adat Dunia Berkumpul di Kabawetan, Perjuangkan Hak Atas Hutan

KEPAHIANG, 1 Februari 2026 – Desa Bandung Jaya, Kecamatan Kabawetan, menjadi saksi sejarah digelarnya International Indigenous Women’s Conference yang kedua.

Mengangkat tema strategis “Rebuilding The Commons, Defending Life Itself”, konferensi ini menjadi ruang konsolidasi bagi perempuan adat dari berbagai belahan dunia untuk melawan keterasingan masyarakat dari ruang hidup mereka, seperti hutan dan laut.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Erwin Basrin, Ketua LSM AKAR Provinsi Bengkulu ini dibuka secara resmi oleh Asisten II Setda Kepahiang yang mewakili Bupati Kepahiang.

Dalam sambutannya, beliau memberikan pernyataan ikonik bahwa peran perempuan bersifat fundamental dalam kehidupan. “Perempuan tidak bisa dilawan karena semua berasal dari perempuan,” tegasnya, sembari berharap agenda ini menjadi pemantik keberlanjutan gerakan perempuan di masa depan.

Solidaritas Tanpa Batas
Konferensi ini dihadiri oleh peserta dari seluruh penjuru Indonesia, mulai dari Aceh, Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Tak hanya itu, perwakilan internasional dari Filipina (Bu Jil), Denmark (Sen), Inggris (Noumi), dan Malaysia (Josephine) turut hadir untuk berbagi perspektif global mengenai perlindungan hak adat.

Kepala BKKBN Provinsi Bengkulu, yang juga merupakan Ketua Dewan Pembina AKAR, menegaskan bahwa momentum ini adalah titik balik bagi aktivis perempuan untuk memperjuangkan hak masyarakat adat, khususnya Suku Rejang, agar kembali dekat dan berdaya atas alamnya.

Keramahtamahan Berbasis Komunitas
Keunikan konferensi kali ini terletak pada keterlibatan penuh warga desa. Dibawah komando Ibu Supriyanti (Ketua Kelompok Tani Desa Bandung Jaya), para peserta dari luar daerah hingga luar negeri menginap di rumah-rumah warga.

Kepala Desa Bandung Jaya, Suwandi, menjamin kondisi kondusif dan mengajak warganya untuk berbaur langsung dengan para tamu dunia.

Turut hadir memberikan dukungan penuh, Umi Yesi, Ketua Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Kabupaten Kepahiang, yang mengapresiasi tinggi langkah Komunitas AKAR dalam mendekatkan perempuan dengan pengelolaan lingkungan.

Kehadiran FPPI mempertegas komitmen lokal dalam mengawal isu pemberdayaan perempuan di tingkat akar rumput.

Menuju Jakarta
Diskusi intensif yang berlangsung di tengah sejuknya kebun teh Kabawetan ini direncanakan akan menghasilkan rekomendasi kuat. Puncaknya, pada 1-4 Februari 2026, perwakilan perempuan pilihan akan bertolak ke Jakarta untuk menyampaikan hasil konferensi ini kepada pengambil kebijakan di tingkat nasional.

Menembus Medan Terjal Demi Bintang Desa Taba Baru: Catatan Perjalanan ke TK Miftahunnajjah

Menembus Medan Terjal Demi Bintang Desa Taba Baru: Catatan Perjalanan ke TK Miftahunnajjah

BERMANI ILIR (30/1/2026) – Semangat Milad ke-23 Yayasan Az Zahra Kepahiang kembali membara. Kali ini, tim Roadshow Jemput Bintang menempuh perjalanan yang menguji adrenalin menuju Desa Taba Baru, Kecamatan Bermani Ilir, untuk mengunjungi salah satu permata pendidikan di sana: TK Miftahunnajjah.

Satu Jam Perjalanan yang Menguji Adrenalin
Lokasi TK Miftahunnajjah bukanlah medan yang mudah untuk ditaklukkan. Dibutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan dari pusat Kota Kepahiang dengan kondisi jalan yang berbelok-belok tajam serta tanjakan dan turunan yang terjal.

Namun, segala lelah dan ketegangan di perjalanan seketika sirna saat tim tiba di lokasi. Senyum tulus anak-anak yang antusias menyambut kedatangan rombongan menjadi penawar lelah yang paling ampuh. Sebagai bentuk penghormatan, kalung bunga dikalungkan kepada tim—sebuah simbol kasih sayang yang mendalam dari pelosok desa.

15 Tahun Bertahan dalam Keterbatasan, Berprestasi dengan Akreditasi B
TK Miftahunnajjah kini telah menginjak usia 15 tahun. Di bawah kepemimpinan sosok perempuan tangguh, Ibu Laili Suryani, S.Pd.Gr, lembaga ini membuktikan bahwa keterbatasan sarana prasarana bukanlah penghalang untuk memberikan kualitas terbaik. Meski fasilitas masih minim, dedikasi para pengajar telah membuahkan hasil nyata dengan diraihnya Akreditasi B.

Semangat Ibu Laili dalam merintis dan mempertahankan lembaga ini di tengah desa mendapat apresiasi tinggi dari Ketua Yayasan Az Zahra Kepahiang, Umi Yesi. Perjuangan ini adalah cermin dari ketulusan hati seorang pendidik sejati.

Dukungan Masyarakat yang “Membludak”
Satu hal yang paling mengesankan dalam kunjungan ini adalah dukungan luar biasa dari masyarakat sekitar. Kehadiran orang tua wali murid begitu melimpah hingga ruangan kelas tidak lagi mampu menampung antusiasme mereka. Banyak dari orang tua yang rela berdiri dan memadati halaman PAUD demi mengikuti rangkaian acara.

> “Kami sangat berterima kasih atas dukungan orang tua wali. Kehadiran Bapak dan Ibu yang sampai membludak ke halaman ini adalah energi dan kekuatan bagi PAUD Miftahunnajjah untuk terus eksis dan melayani, meski dalam kesederhanaan,” ungkap Umi Yesi dalam sambutannya.
>
Yayasan Az Zahra Kepahiang berkomitmen bahwa jarak dan medan jalan tidak akan pernah menjadi penghalang untuk terus mendampingi lembaga-lembaga hebat seperti TK Miftahunnajjah demi menjemput bintang-bintang masa depan bangsa.

Kegiatan PKW Batik Diwo Kepahiang