Dari Pendidikan Kesetaraan ke Panggung Internasional: Kisah Supriyanti, Sosok Penggerak di Balik Konferensi Perempuan Adat Dunia
Dari Pendidikan Kesetaraan ke Panggung Internasional: Kisah Supriyanti, Sosok Penggerak di Balik Konferensi Perempuan Adat Dunia
KEPAHIANG – Di balik perhelatan International Indigenous Women’s Conference yang berlangsung di Desa Bandung Jaya, Kecamatan Kabawetan, ada satu sosok perempuan desa yang menjadi pusat perhatian.
Ia adalah Supriyanti, Ketua Kelompok Tani setempat yang dipercaya menjadi motor penggerak sekaligus panitia pelaksana kegiatan berskala global tersebut.
Bagi masyarakat lokal, Supriyanti bukan sekadar panitia. Ia adalah simbol perjuangan hak perempuan di akar rumput. Dedikasinya merentang luas, mulai dari mengadvokasi pendidikan anak usia dini hingga memimpin Kelompok Wanita Tani (KWT) untuk berdaya secara ekonomi dan politik di atas tanah mereka sendiri.
Kebanggaan bagi Pendidikan Kesetaraan
Keberhasilan Supriyanti mengelola acara yang dihadiri delegasi dari Papua hingga Denmark ini memicu rasa haru dan bangga bagi Umi Yesi, Ketua Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Kabupaten Kepahiang. Bagi Umi Yesi, Supriyanti adalah bukti nyata bahwa keterbatasan akses pendidikan formal di masa lalu bukanlah penghalang untuk menjadi pemimpin hebat.
Supriyanti merupakan alumni program pendidikan kesetaraan di Yayasan Az Zahra Kepahiang. Transformasi Supriyanti dari seorang pembelajar di pendidikan kesetaraan hingga kini mampu memfasilitasi dialog internasional tentang hak adat, menjadi pencapaian yang sangat emosional.
“Saya sangat bangga dengan pencapaian beliau. Supriyanti membuktikan bahwa perempuan desa, dengan kemauan belajar yang kuat, mampu berdiri sejajar dengan tokoh-tokoh dunia,” ujar Umi Yesi di sela-sela kegiatan.
Membumikan Konferensi di Rumah Warga
Sebagai panitia, Supriyanti mengambil langkah berani dengan menempatkan para tamu internasional dan nasional di rumah-rumah penduduk. Langkah ini ia ambil untuk memastikan bahwa pesan konferensi tentang “Rebuilding The Commons” atau membangun kembali ruang hidup bersama, dirasakan langsung melalui interaksi nyata antara peserta dan masyarakat desa.
Melalui kepemimpinannya, Desa Bandung Jaya tidak hanya menjadi lokasi acara, tetapi menjadi sekolah kehidupan bagi para tamu yang hadir.

Tinggalkan Balasan