"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

Yayasan Az Zahra Kepahiang

Tugas Esai Rara dan Rahasia Sambal Ujak Lem Boloah

Umi Yesi, pegiat literasi di Provinsi Bengkulu ikut hadir dan aktif mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Kepahiang.

Materi hari kedua berfokus pada penulisan esai yang disampaikan Elvi Ansori, penulis berbakat di Provinsi Bengkulu. Saat bedah karya, ditemukan banyak naskah yang dikirim berbentuk cerita pendek. Rupanya peserta yang didominasi pelajar ini belum memahami perbedaan esai dengan cerpen.

Nah, kesempatan ini, Umi Yesi ingin ikut berbagi kepada peserta tentang esai dan cerpen. Coba deh baca tulisan ini dulu. Ini cerpen atau esai ya??

Tugas Esai Rara dan Rahasia Sambal Ujak Lem Boloah

Sore itu, Rara duduk termenung di teras rumahnya sambil menatap buku catatan dengan tatapan kosong. Di kepalanya terngiang-ngiang tugas yang baru saja diberikan oleh gurunya di sekolah.

“Carilah dan identifikasi contoh dari 8 Obyek Pemajuan Kebudayaan (OPK) di Kepahiang, kecuali Ritus dan Manuskrip,” gumam Rara membacakan instruksi tugasnya perlahan. “Lalu, buatlah satu kerangka esai dari salah satu contoh OPK tersebut!” keluhnya lagi, merasa kebingungan.

Kakek yang sedang menyesap kopi di kursi goyang sebelahnya terkekeh pelan. “Kenapa wajahmu ditekuk begitu, Ra? Bingung mau menulis topik apa?”

Rara mengangguk lesu. “Iya, Kek. Rara ingin mengambil topik Pengetahuan Tradisional untuk tugas ini, tapi tidak tahu harus menulis apa.”

“Ah, itu mudah,” Kakek meletakkan cangkir kopinya. “Kenapa kamu tidak menulis tentang kekayaan kuliner tradisional suku Rejang kita? Kakek bisa ajarkan kamu membuat Sambal Ujak Lem Boloah. Itu bisa jadi judul esaimu,” usul Kakek dengan mata berbinar.

Rara langsung menegakkan duduknya, mengambil pena dan siap mencatat untuk paragraf pembuka esainya. “Apa itu Sambal Ujak Lem Boloah, Kek?”

“Itu adalah sambal ikan atau udang yang dimasak di dalam bambu, warisan leluhur kita,” jelas Kakek sambil bangkit berdiri, mengajak Rara menuju dapur belakang.

Di dapur, Rara sibuk mencatat dengan teliti untuk paragraf isi esainya. “Pertama-tama, kita siapkan bahan utamanya: ikan sungai kecil, cabai, dan bumbu pelengkap lainnya,” ucap Kakek sambil memperlihatkan mangkuk berisi tangkapan sungai yang segar. Rara mengangguk-angguk sambil menulis pelan.

Kakek kemudian mengambil sepotong bambu hijau. Ia menatap Rara dengan serius. “Ingat ini, Ra. Pentingnya pemilihan jenis bambu yang tepat sangat memengaruhi hasil akhirnya. Tidak boleh sembarang bambu.”

Setelah bumbu dan ikan ditumbuk kasar menjadi satu, Rara mencatat langkah selanjutnya. “Sekarang, catat proses memasukkan bahan ke dalam lubang bambu ini, lalu kita akan membakarnya di atas perapian,” instruksi Kakek. Rara sangat fokus pada catatannya, merangkai kata demi kata untuk esainya nanti.

Sembari menunggu bambu tersebut menghitam dan matang, Rara menyelesaikan paragraf penutupnya. Ia menuliskan betapa pentingnya melestarikan kuliner tradisional ini dan mengajak teman-temannya untuk mempromosikan Sambal Ujak Lem Boloah sebagai warisan budaya takbenda.

Keesokan paginya di sekolah, Rara maju ke depan kelas dengan dada membusung bangga. Ia membacakan esainya dengan suara lantang. Gurunya tersenyum puas, memuji struktur tulisan Rara yang sangat rapi.

“Bukan cuma esainya, Bu Guru! Saya juga bawa hasil masakan Sambal Ujak Lem Boloah yang saya buat bareng Kakek kemarin!” seru Rara antusias. Ia mengeluarkan sebuah kotak makan dari tasnya. Aromanya memang harum dan menggoda.

Teman-teman sekelasnya, termasuk Dito yang paling rakus, langsung mengerubungi meja Rara. “Wah, baunya enak banget, Ra! Aku coba duluan ya!” seru Dito sambil menyendok sedikit sambal dan ikan tersebut ke mulutnya.

Rara tersenyum penuh kemenangan, menunggu pujian. Namun, sedetik kemudian, dahi Dito berkerut tajam. Ia mengunyah dengan lambat, matanya berkedip-kedip menatap kotak makan itu, lalu menatap Rara dengan ekspresi yang sangat aneh.

Beberapa teman lain yang ikut mencicipi juga menunjukkan wajah serupa. Ada yang nyengir kaku, ada yang menelan ludah dengan susah payah.

“Gimana? Enak, kan? Cita rasa asam-pedas segar hasil fermentasi bambu!” ucap Rara bangga, mengutip kalimat di esainya.

Dito menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Pedas sih pedas, Ra. Asamnya juga kerasa. Tapi… kok rasanya kayak jilat batu kali ya? Kamu masukin garam nggak sih kemarin?”

Rara terbelalak. Ia buru-buru menyendok sambal itu dan memasukkannya ke mulut. Seketika, senyum bangganya runtuh. Sambal kebanggaan suku Rejang itu rasanya luar biasa hambar!

Rara menepuk jidatnya keras-keras. Kemarin sore di dapur, ia terlalu sibuk memikirkan struktur kalimat pendahuluan, isi, dan penutup untuk esainya, sampai-sampai ia sama sekali lupa memasukkan garam saat menumbuk bumbu bersama Kakek.

Seisi kelas tertawa terbahak-bahak melihat wajah Rara yang memerah menahan malu. Hari itu, Rara mendapatkan nilai A untuk esai budayanya, dan nilai E mutlak untuk kemampuan memasaknya.

Catatan Pembeda:

Seperti yang bisa dilihat dari teks di atas, tulisan ini adalah Cerpen, bukan Esai. Teks ini memiliki tokoh fiktif (Rara, Kakek, Dito, dan teman-teman kelas), latar waktu dan tempat (sore hari di teras dan dapur rumah, serta pagi hari di ruang kelas), dialog antar tokoh, dan alur cerita fiktif (mulai dari kebingungan mengerjakan tugas, proses memasak sambil menyusun kerangka esai, presentasi di sekolah, hingga plot twist masakan hambar karena lupa memberi garam).

Jika ini adalah Esai, tulisan tidak akan menggunakan alur cerita fiktif atau tokoh karangan seperti Rara. Esai akan langsung membahas secara faktual dan sistematis mengenai sejarah, bahan baku, proses pembuatan, serta argumen/opini pribadi si penulis tentang pentingnya melestarikan kuliner Sambal Ujak Lem Boloah sebagai warisan budaya takbenda Kepahiang.

 

Kolaborasi Lintas Generasi dalam Praktik Menulis Konten Budaya Kepahiang

Kolaborasi Lintas Generasi dalam Praktik Menulis Konten Budaya Kepahiang

KEPAHIANG – Hari pertama pelaksanaan Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepenulisan Konten Budaya Lokal di Kabupaten Kepahiang langsung dipenuhi dengan antusiasme tinggi. Setelah dibuka secara resmi, para peserta yang terdiri dari penulis dan pegiat literasi langsung disuguhkan materi berbobot yang dikemas secara interaktif oleh narasumber Yugo Rahmadhani, S.Pd., M.Pd. Sesi ini tidak hanya membuka wawasan tentang kekayaan budaya Kepahiang, tetapi juga menghadirkan pengalaman praktik menulis yang sangat menyenangkan.

Menyelami Obyek Pemajuan Kebudayaan bersama Pak Yugo

Tampil sebagai pemateri, Pak Yugo berhasil menghidupkan suasana kelas dengan gaya penyampaiannya yang lugas dan dekat dengan keseharian masyarakat. Beliau memaparkan bahwa Kabupaten Kepahiang sangat kental dengan kesatuan kebudayaan Rejang, di mana nilai-nilai kearifan seperti gotong royong—atau yang dikenal dengan sebutan umbung—selalu menjadi unsur perekat utama dalam kehidupan bermasyarakat.

Fokus utama pemaparan Pak Yugo adalah pengenalan Obyek Pemajuan Kebudayaan (OPK) berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017. Beliau mengajak peserta untuk membedah lebih dalam kekayaan OPK yang dapat ditemukan di Kepahiang. Peserta diajak bernostalgia mengenali kembali warisan leluhurnya, mulai dari Tradisi Lisan seperti legenda Putri Sedaro Putih dan Buteu Tekuyung, Adat Istiadat seperti tradisi Penoi dan Tepung Setawar, hingga Teknologi Tradisional alat tenun Kain Diwo dan Teleng. Beliau juga mencontohkan berbagai OPK lainnya yang tak kalah menarik, seperti Seni (Tari Kejei), Permainan Tradisional (Suruk-surukan dan Cabur), Olahraga Tradisional (Sterlak Rejang), serta kekayaan Bahasa dan Pengetahuan Tradisional masyarakat setempat.

Praktik Menulis Esai yang Menggugah Selera

Keseruan Bimtek mencapai puncaknya ketika Pak Yugo mengubah sesi teori menjadi praktik langsung. Beliau menantang para peserta untuk mencari dan mengidentifikasi sendiri contoh dari 8 OPK di Kepahiang (mengecualikan Ritus dan Manuskrip) yang lekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Suasana kelas seketika berubah riuh dan dinamis. Para peserta saling berdiskusi, bertukar pikiran, dan menggali ingatan mereka tentang budaya lokal yang potensial diangkat menjadi karya tulis.

Untuk memantik ide peserta, Pak Yugo mendemonstrasikan cara menyusun kerangka esai budaya yang terstruktur. Beliau mengambil topik Pengetahuan Tradisional dengan mengangkat kuliner khas, yaitu “Sambal Ujak Lem Boloah”. Pak Yugo memandu peserta membuat kerangka tulisan yang runtut:

  • Paragraf Pembuka: Dimulai dengan mengenalkan kekayaan kuliner tradisional suku Rejang serta penjelasan tentang Sambal Ujak Lem Boloah—yakni sambal ikan/udang yang proses memasaknya dilakukan di dalam bambu.
  • Paragraf Isi: Mengupas tuntas bahan utama berupa ikan sungai kecil/udang dan cabai, pentingnya teknik pemilihan bambu yang tepat, proses memasukkan bahan ke dalam lubang bambu lalu membakarnya, hingga munculnya sensasi rasa fermentasi yang menciptakan cita rasa asam-pedas yang segar.
  • Paragraf Penutup: Ditutup dengan pesan edukasi mengenai pentingnya melestarikan kuliner tradisional tersebut dan ajakan untuk mempromosikan Sambal Ujak Lem Boloah sebagai warisan takbenda yang berharga.

Kehadiran Umi Yesi: Bukti Semangat Literasi Lintas Generasi

Di tengah keseruan praktik interaktif ini, terdapat satu pemandangan yang sangat inspiratif. Umi Yesi, seorang pegiat literasi senior di Kepahiang, tampak ikut berperan sangat aktif dalam kegiatan tersebut. Alih-alih hanya duduk sebagai pengamat, beliau sama sekali tidak sungkan untuk turun langsung, melebur, dan bergabung satu meja bersama barisan penulis muda yang hadir.

Kehadiran Umi Yesi memberikan suntikan energi positif bagi seisi ruangan. Beliau berbaur, ikut berdiskusi menyusun kerangka esai, dan mendengarkan setiap arahan materi dari Pak Yugo dengan penuh antusias. Kolaborasi lintas generasi ini menjadi bukti nyata bahwa upaya merawat ingatan dan mendokumentasikan budaya lokal tidak pernah mengenal batasan usia. Para penulis muda yang awalnya malu-malu justru merasa sangat termotivasi melihat seorang tokoh literasi sekelas Umi Yesi masih memiliki semangat belajar dan berkarya yang menyala-nyala.

Hari pertama Bimtek Kepenulisan Konten Budaya Lokal ini pun ditutup dengan senyum kepuasan dari para peserta. Melalui metode penyampaian Pak Yugo yang membumi dan semangat kebersamaan yang ditularkan oleh Umi Yesi, kegiatan ini sukses membuktikan bahwa melestarikan budaya dan tradisi lokal Kepahiang lewat tulisan adalah sebuah proses kreatif yang teramat menyenangkan.

 

Ryo Coret2: Bekali Peserta Teknik Desain dan Ragam Hias Motif Batik Diwo

Rio Ariyanto Bekali Peserta Teknik Desain dan Ragam Hias Motif Batik Diwo

KEPAHIANG, 15 Maret 2026 – Setelah dibekali dengan kekayaan Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) oleh Bapak Emong Soewandi, para peserta “Lokakarya Inovasi Motif Batik Diwo Berbasis Budaya Rejang” di hari kedua ini diajak melangkah ke tahap selanjutnya yang tak kalah krusial: eksekusi visual. Sesi praktik dan perancangan desain ini dipandu langsung oleh Rio Ariyanto, S.Pd., atau yang lebih akrab disapa Ryo Coret2.

Ryo bukanlah nama asing di dunia seni rupa Bengkulu. Berprofesi sebagai Guru Seni Budaya sekaligus ilustrator kawakan, ia telah menelurkan berbagai karya membanggakan, seperti Komik Fatmawati dan Komik Perjuangan Samsidar Yahya yang diterbitkan oleh BPNB. Dengan rekam jejaknya yang kuat di bidang ilustrasi, Ryo hadir membawakan materi bertajuk “Desain & Ragam Hias: Pengembangan ke Seni Batik”.

Dalam paparannya, Ryo menekankan bahwa penciptaan motif batik pada dasarnya adalah bagian dari ilmu Komunikasi Visual. “Desain grafis atau desain motif adalah bentuk komunikasi visual yang menggunakan gambar untuk menyampaikan informasi atau pesan seefektif mungkin,” jelasnya di hadapan para peserta. Artinya, motif Batik Diwo tidak hanya harus terlihat indah, tetapi juga harus mampu “berbicara” dan menyampaikan pesan kebudayaan Rejang secara tepat.

Untuk menjembatani ide-ide kebudayaan (seperti flora, fauna, tarian, dan ritus) menjadi sebuah pola batik yang estetis, Ryo membekali peserta dengan Empat Prinsip Dasar Desain Grafis, yaitu:

  1. Seimbang (Balance): Bagaimana menyusun letak ragam hias pada bidang kain agar tidak terasa berat sebelah, melainkan proporsional dan sedap dipandang.
  2. Fokus (Focus/Emphasis): Menentukan titik pusat perhatian (center of interest) pada kain batik, sehingga ada motif utama yang langsung menangkap mata audiens.
  3. Kontras (Contrast): Permainan perbedaan ukuran, bentuk, maupun ketebalan garis (canting) untuk membedakan mana motif utama, motif pengisi (isian), dan motif pelengkap.
  4. Kesatuan (Unity): Bagaimana merangkai berbagai elemen ragam hias yang berbeda (misalnya flora dan elemen geometris) menjadi satu kesatuan yang harmonis dan tidak saling bertabrakan.

Selain keempat prinsip tersebut, Ryo juga memandu peserta dalam memahami unsur-unsur tata letak (layout) dan ilustrasi, agar sketsa ragam hias yang dibuat di atas kertas nantinya benar-benar aplikatif saat dipindahkan ke atas kain dan dicanting dengan malam panas.

Jembatan Menuju Karya Nyata:

Kehadiran Rio Ariyanto melengkapi kepingan teka-teki ( puzzle ) dalam lokakarya ini. Jika pemateri sebelumnya bertugas mengisi “ruh” dan filosofi budaya ke dalam pikiran peserta, maka Ryo bertugas membimbing tangan para peserta untuk menuangkan ruh tersebut menjadi sketsa nyata.

Melalui sesi pendampingan desain ini, Yayasan Az Zahra Kepahiang berharap akan lahir purwarupa (prototype) motif-motif Batik Diwo baru yang tidak hanya kental akan budaya Rejang, tetapi juga matang secara estetika visual, sehingga kelak siap diproduksi dan diterima oleh pasar industri kreatif nusantara.

Kegiatan PKW Batik Diwo Kepahiang