Panduan Lomba Surat Puitis Berbahasa Rejang dan Penulisannya dalam Aksara Ulu
Panduan Lomba Surat Puitis Berbahasa Rejang dan Penulisannya dalam Aksara Ulu
Kegiatan ini merupakan Kerja Sama Yayasan Az zahra Kepahiang dan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dalam rangka Fasilitasi dan Apresiasi bagi Komunitas Sastra tahun 2025 dengan Tema Rampai Sastra Rejang Dengan Aksara Ulu Tahun 2025
Pengertian Umum
Surat puitis adalah karya prosa berstruktur surat bebas, yang disusun menggunakan gaya bahasa puitis, berirama, indah, dan penuh ungkapan perasaan dalam bahasa dan Aksara Ulu Rejang. Isinya memiliki nuansa emosional yang kuat, mengungkapkan rasa rindu pada kampung halaman, cinta terhadap keluarga dan tanah leluhur, persahabatan, penghormatan kepada tetua adat, atau nasihat yang diwariskan secara turun-temurun; juga memuat konteks budaya Rejang, seperti ungkapan adat, peribahasa lokal, atau simbol-simbol alam khas di Tanah Rejang. Melalui susunan kata-kata yang puitis, surat bertujuan menumbuhkan kebanggaan atau kerinduan terhadap budaya dan bahasa Rejang di tengah arus perubahan zaman.
- Bahasa
- Menggunakan bahasa Rejang
- Memperhatikan keaslian kosakata, struktur tata Bahasa dan undak-usuk kata sapaan Bahasa Rejang.
- Nuansa Budaya
- Mengangkat nilai-nilai budaya lokal Rejang seperti adat istiadat, tarian, musik tradisional, pakaian adat, sistem kemasyarakatan, atau kearifan lokal.
- Boleh memuat unsur alam khas Rejang seperti gunung, sungai, hutan, sawah, atau tanaman khas.
- Pesan yang disampaikan mencerminkan kecintaan dan kebanggaan terhadap budaya Rejang.
- Struktur dan Panjang Tulisan
- Karya surat berstruktur paragraf, bukan bait
- Terdiri dari 3 paragraf.
- Setiap paragraf berisi 4 kalimat.
- Struktur surat bebas, dan boleh ditujukan kepada diri sendiri atau orang lain.
- Gaya Bahasa Puitis
- Menggunakan gaya bahasa kiasan (metafora, personifikasi, perumpamaan) yang indah.
- Memperhatikan ritme atau keindahan bunyi (aliterasi, rima, pengulangan).
- Boleh menggunakan ungkapan adat, peribahasa, pepatah atau istilah-istilah khas Rejang.
- Orisinalitas
- Karya harus asli dan belum pernah dipublikasikan atau diikutsertakan dalam lomba lain.
- Tidak menjiplak karya orang lain, dan bukan hasil menerjemahkan dari karya yang sudah ada sebelumnya.
- Penyampaian Pesan
- Mengandung pesan positif, membangun, dan menginspirasi tentang pelestarian budaya Rejang.
- Pendaftaran lomba sampai dengan hari Rabu, 8 Oktober 2025, upload file melalui tautan https://forms.gle/DzEXUwvJ51CgAwY36
Info lebih lanjut hubungi Panitia, Efendi (0822 6923 6690), Kms Fahrudin (0895 0797 3602), Merti (0821 8261 1190), Foni (0853 9195 6955)
Desa Setara Bayung: Ketika Jalan Raya Menjadi Ruang Kelas Online
Ketika Jalan Raya Menjadi Ruang Kelas Online
Seberang Musi, 29/9/2025- Program Desa setara Desa Bayung, pemandangan yang kontras sekaligus menyentuh tersaji ketika tatap muka hari ini.
Peserta didik program kesetaraan Paket B dan C dari program Desa Setara berkumpul, bukan di dalam ruangan yang nyaman, melainkan di tepian jalan raya yang ramai. Di bawah bimbingan tutor yang setia mendampingi, mereka menatap layar gawai masing-masing, berusaha keras menyerap materi pelajaran secara daring.
Inilah potret perjuangan pendidikan di era digital, di mana semangat untuk belajar harus beradu kuat dengan kenyataan pahit keterbatasan infrastruktur. Aplikasi belajar yang seharusnya menjadi jembatan ilmu justru terhalang oleh dinding tebal bernama sinyal yang lemah.
Kondisi ini menciptakan sebuah drama sunyi yang sarat akan ironi. Jalan raya, sebuah simbol konektivitas fisik, secara terpaksa mereka jadikan satu-satunya tempat untuk mendapatkan konektivitas digital.
Dengan duduk di atas rumput dan bebatuan, mereka fokus mencari satu atau dua bar sinyal yang muncul di layar gawai mereka. Suara deru motor dan mobil yang sesekali melintas menjadi musik latar yang mengiringi perjuangan mereka.
Para tutor pun dengan sabar memastikan setiap anak didiknya tidak menyerah meski tantangan begitu nyata di depan mata.
Pemandangan ini menyajikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Di satu sisi, ada rasa prihatin yang mendalam melihat bagaimana anak-anak bangsa harus mempertaruhkan kenyamanan dan bahkan keselamatan mereka demi mendapatkan hak dasar atas pendidikan.
Ini adalah sebuah tamparan keras, pengingat nyata akan kesenjangan digital yang masih menganga lebar antara perkotaan dan pedesaan. Namun di sisi lain, pemandangan ini adalah monumen hidup tentang kekuatan semangat.
Kegigihan mereka adalah bukti paling sahih bahwa keinginan untuk meraih masa depan yang lebih baik tidak bisa dipadamkan oleh rintangan apa pun.
Pada akhirnya, kisah para pelajar di Desa Bayung ini lebih dari sekadar cerita tentang sinyal yang sulit. Ini adalah narasi tentang ketangguhan, dedikasi, dan harapan. Semangat mereka yang menyala di tepi jalan raya menjadi pesan kuat bagi semua pihak, bahwa api ilmu akan selalu dicari walau harus menembus kegelapan keterbatasan.
Perjuangan mereka layak mendapatkan apresiasi, tetapi yang lebih penting, layak mendapatkan solusi nyata agar kelak jalan raya dapat kembali ke fungsi sejatinya, dan ruang kelas mereka tak lagi beratapkan langit dan bising kendaraan, melainkan penuh dengan fasilitas yang memadai untuk menyongsong asa.
Program Desa setara adalah inisiatif Yayasan Az Zahra Kepahiang untuk menjembatani peserta didik di pelosok desa agar tetap melanjutkan pendidikannya dengan program pendidikan kesetaraan di PKBM Az Zahra Kepahiang
Slamet Imam: Peran Komunitas dalam Sastra Rejang
Slamet Imam: Peran Komunitas dalam Sastra Rejang
Kepahiang, 26/9/2025 – Slamet Imam Wakhyudin, seorang narasumber dalam Lokakarya (Workshop) Rampai Sastra Rejang dengan Aksara Ulu, mengetengahkan sebuah materi krusial mengenai “Peluang Komunitas dalam Melestarikan Sastra Daerah”.
Beliau menyoroti bahwa sastra daerah adalah sebuah warisan budaya yang tak ternilai, mengandung jejak sejarah dan kearifan lokal yang terancam oleh perkembangan zaman dan derasnya arus globalisasi. Tanpa adanya upaya pelestarian yang terstruktur, kekayaan sastra ini berisiko terpinggirkan dan akhirnya terlupakan oleh generasi penerus.
Dalam paparannya, Slamet Imam Wakhyudin menekankan bahwa komunitas memegang peranan strategis sebagai motor penggerak utama dalam upaya pelestarian ini. Komunitas sastra, menurutnya, dapat menjadi wadah bagi para pegiat budaya, sastrawan, dan generasi muda untuk berkumpul, belajar, dan berkarya. Melalui kegiatan-kegiatan kreatif seperti workshop penulisan, festival sastra, dan digitalisasi naskah kuno, komunitas mampu menumbuhkan kembali rasa cinta dan kepemilikan terhadap sastra daerah.
Salah satu potensi besar yang dapat digali dan dikembangkan oleh komunitas adalah khazanah sejarah lokal, seperti sejarah Rejang Empat Petulai. Beliau secara spesifik menunjuk pada periode antara tahun 1331 hingga 1364 sebagai masa yang kaya akan nilai-nilai historis dan budaya yang dapat diangkat kembali.
Dengan meneliti dan menarasikan ulang kisah-kisah dari masa tersebut, komunitas tidak hanya melestarikan cerita, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
Melalui pendekatan ini, pelestarian sastra daerah tidak lagi menjadi sekadar upaya akademis yang kaku, melainkan sebuah gerakan budaya yang hidup dan berakar di tengah masyarakat. Dengan memberdayakan komunitas dan mengangkat kembali kekayaan sejarah seperti Rejang Empat Petulai, Slamet Imam Wakhyudin optimis bahwa sastra daerah dapat terus bertahan dan bahkan berkembang di tengah tantangan zaman, menjadi sumber inspirasi dan identitas bagi masyarakat Rejang di masa kini dan mendatang.
Lokakarya ini dilaksanakan oleh Komsas Yayasan Az Zahra Kepahiang kerja sama dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikdasmen dalam rangka Fasilitasi dan Apresiasi Komunitas Sastra tahun 2025.


