"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

Praktek Manasik Haji 1.200 Anak Usia Dini, Kita tanamkan Nilai Agama dan Moral Sejak Dini

Kepahiang, 20/8/2018 – Ribuan siswa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kabupaten Kepahiang mengikuti kegiatan peragaan Manasik Haji di lapangan depan kantor Kejaksaan Tinggi Negeri Kepahiang pada hari senin, 20 Agustus 2018. Kegiatan ini dihadiri Bupati Kepahiang sekaligus membuka secara resmi kegiatan peragaan Manasik Haji PAUD Se Kabupaten Kepahiang. Hadir pula Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepahiang, Kepala Kemenag Kepahiang, OPD dan pembacaan khutbah wukuf oleh H. Rabiul Jayan, S.Ag.

 

Dalam sambutannya, Hidayatullah Sjahid menyampaikan di hadapan seluruh dewan guru dan orang tua siswa bahwa sejak dini anak harus sudah mulai mendapatkan pengalaman cara beribadah agar tertanan kesan mendalam dan akan selalu diingat oleh semua anak. “Anak-anak mendapatkan pengalaman agama sejak dini. Pelaksanaan manasik haji pada anak TK, PAUD, atau RA adalah salah satu cara memberikan pengalaman melaksanakan ibadah lengkap yang bentuknya sangat berkesan mendalam pada jiwanya yang masih polos,” ucap Bupati Kepahiang tersebut. Kegiatan rutin tahunan yang diselenggarakan Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI) Kepahiang ini bertujuan mengenalkan rukun-rukun haji kepada anak sejak dini, termasuk bagi orangtua anak.

  

“Pendidikan yang tidak hanya dalam bentuk ajaran atau teori tapi juga harus dipraktekkan. Manasik haji anak adalah praktek sekolah agama yang mendukung ajaran agama di sekolah. Dengan peragaan Manasik Haji kita tanamkan nilai Agama dan moral sejak dini,” imbuhnya. Dampak positif dari manasik haji yang diikuti oleh anak-anak diantaranya  anak bisa mengetahui makna dari setiap rukun haji yang diharapkan akan dapat mewarnai dalam kesehariannya. Tata cara beribadah harus mulai diajarkan sejak usia dini dalam kehidupan sehari-hari, agar sewaktu-waktu tidak kaget karena sedikitnya sudah punya gambaran.

 

Kegiatan manasik ini di ikuti oleh 1.200 anak usia dini yang berasal dari 71 lembaga PAUD se Kabupaten Kepahiang. Ketua Panitia Elis Hamidah, S.Pd; sekretaris Raden Ayu Ernawati, S.Pd.AUD dan bendahara Erni Erawati, S.Pd mengucapkan syukur yang mendalam dan berterima kasih kepada seluruh panitia dan pihak pihak yang telah membantu menyukseskan kegiatan manasik haji ini. “Alhamdulillah…manasik haji PAUD se Kabupaten Kepahiang berjalan dengan lancar, tanpa kendala yang berarti”..ujar bu elis dengan bangga.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menemui Azzahra: “Mencari Golok Kepahiang”

Kepahiang, 18/8/2018. Tepat pukul 08.00 wib kami di kejutkan dengan kedatangan Bapak Lismanto Kasubag Program dan Anggaran (mantan Kasi Kelembagaan Subdit Kelembagaan dan Kemitraan) Ditjen PAUD dan Dikmas Kemdikbud dan ibu Sa’adah Kepala BP PAUD dan Dikmas Bengkulu. Kedatangan yang tiba tiba dan tak di sangka ini di sambut oleh siswa siswi paket A yang memang ada jadwal tatap muka pada hari ini. Saya memperkenalkan salah satu siswa yang bernama Linda. Umurnya 10 tahun dan belum pernah merasakan sekolah di sekolah formal.

 

“Mengapa linda senang sekolah di az Zahra?” tanya pak Lis dengan rasa ingin tahu. Linda hanya diam dan enggan di ajak bicara. Dia sudah 2 tahun sekolah di az Zahra, penyebab utama tak sekolah karena dia adalah “anak ibu”  (anak yang lahir tanpa perkawinan secara sah menurut undang undang pernikahan). Linda tidak punya akte kelahiran sehingga tidak di daftarkan ke sekolah formal. Pelajaran yang paling di sukainya adalah berhitung (matematika). Beberapa saat kemudian ananda rina, rini dan marvel hadir ke sekolah. Pak Lismanto menyempatkan diri berbincang bincang dengan ketiga anak yang berusia belia ini. Ketiganya pun belum pernah sekolah di sekolah formal dengan alasan ekonomi dan permasalahan sosial yang sama dengan linda.

 

“saya tidak percaya ada anak yang sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan formal, jika tidak melihat sendiri di sini. Az Zahra memang luar biasa..” ujar bu sa’adah merasa kagum sambil tersenyum. Dan kekaguman beliaupun semakin bertambah ketika seorang nenek masuk dan mengutarakan keinginannya untuk sekolah lagi di az Zahra. Nenek ini adalah lansia yang telah lulus sekolah paket A dan ingin lanjut sekolah di paket B. Sang nenek sangat berkesan setelah tamat paket A, karena dia mahir berhitung sehingga dapat berjualan ikan keliling dan tak salah hitung uang hasil jualannya.

Selesai berbincang bincang dengan siswa paket A, kami berdikusi sejenak mengenai ide ide membangun pendidikan yang bermartabat terutama melalui pendidikan kesetaraan. Mulai dari akreditasi PKBM, dapodikmas, e-proposal hingga rencana membuat buku.

 

“Mba Yesi ini ….sudah memulai menerbitkan buku bersama tim 7kata publishing. Mereka mampu merangkum pembicaraan sederhana di group whatshaps hingga terbitlah buku berjudul Membangun Indonesia Lewat Keberagaman. Nah…Balai bisa memanfaatkan keterampilan mba Yesi dkk untuk membuat modul atau model layanan pendidikan nonformal yang di kemas sehingga menjadi buku yang bisa di baca dan di nikmati oleh semua kalangan”, pesan pak Lismanto kepada kepala BP PAUD dan dikmas Bengkulu.

Hal ini di lontarkan karena BP PAUD dan Dikmas masih kekurangan sumber daya manusia yang kompeten dan belum mampu menulis modul/model dengan bahasan dan kreatifitas sebagai penulis. Sehingga modul/model yang dihasilkan masih kaku dan terkesan copy paste modul/model sebelumnya. “Ide menulis buku, membuat modul atau model layanan pendidikan nonformal ini menjadi tantangan, dan kami siap membantu BP PAUD dan Dikmas dalam hal tersebut”, sambutku dengan antusias.

Di akhir diskusi, pak Lismanto menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya ke az Zahra, “Tujuan utama saya ke sini sebenarnya mau cari golok…apa di Kepahiang ada yang jual?” tanyanya.

“wah…kebetulan…di sini banyak sentra pengrajin alat alat pertanian tersebut. Tempatnya di kawasan mandi Angin Kelurahan Pasar kepahiang. Di sana tempat pembuatan parang, golok, pisau, dan arit. Perkakas tersebut bukan hanya untuk alat pertanian saja, tapi juga di jadikan oleh oleh atau cendramata yang laris manis”, jawabku menjelaskan sambil promosi.

 

Kamipun melanjutkan diskusi di tengah perjalanan, mampir sejenak ke SPNF Kepahiang dan langsung menuju kawasan pengrajin alat pertanian untuk mencari golok yang beliau inginkan. Rupanya pak Lismanto ini pecinta dan kolektor senjata tajam. Beliau memiliki banyak koleksi mulai dari keris, pedang, pisau, golok dll yang berasal dari berbagai daerah.

Sambil menemani pak lis memilih golok, saya berbincang dengan salah satu pandai besi di sana yang menjual alat alat pertanian dengan harga Rp.15.000,- sd Rp.150.000,- dengan omset mencapai Rp 6 juta perbulan. Seperti diungkapkan pemilik usaha pandai besi, Arlian, penghasilannya mencapai sebesar Rp 5 juta hingga Rp 6 juta perbulan. Usaha tersebut telah digelutinya selama 22 tahun. “Allhamdulillah …. untuk penghasilan bisa menghidupi keluarga,” ujarnya. Arlian mengakui, sudah menjalani profesi pandai besi secara turun menurun dari orang tuanya. Sebab bisnis tersebut memberikan keuntungan bagi keluarga. “Biasanya saat musim panen kopi, ramai orang beli parang,” katanya.

 

Apapun pekerjaan bila dicintai dan dijalani sepenuh hati akan memberikan hasil yang memuaskan. Seperti profesi pandai besi yang beroperasi di sepanjang jalan Mandi angin menuju Desa Tebat Monok ini.

“Ternyata masing masing daerah mempunyai ciri golok berbeda beda, sehingga filosofinyapun berbeda pula. Begitupun dengan PKBM yang memiliki keunikan sendiri sendiri. Untuk itu teruslah berkarya dan memberi manfaat untuk anak anak di negeri ini. Membangun Indonesia Lewat Keberagaman jilid 2….saya tunggu bukunya terbit ya mba yesi..”, pesan terakhir pak Lismanto sebelum pamit pulang ke Jakarta sore ini.

“Insyaallah….pak”, jawabku sambil menyalami bu Sa’adah yang mulai cemas karena khawatir  pak lis ketinggalan pesawat.

 

MERIAH…..LOMBA MELUKIS DAN MEWARNAI PAUD SE KAB KEPAHIANG

Kepahiang, 13/8/2018. Dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke 73 maka Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kepahiang bekerjasama dengan IGTKI Kabupaten Kepahiang mengadakan lomba mewarnai dan melukis tingkat PAUD se Kabupaten Kepahiang. Kegiatan lomba di laksanakan di Guest House Kepahiang dan diikuti 800 anak usia dini se Kabupaten Kepahiang. Acara di buka oleh Ibu Wakil Bupati Kepahiang Neti Herawati, S.Sos. dan di hadiri oleh Ketua Tim Pengerak PKK kabupaten Kepahiang Efi Hidayattullah, Kepala Dinas Dukcapil, Kabid Pembinaan PAUD dan PNF, Pengawas TK, Ketua Himpaudi, Bhayangkari dan beberapa OPD lainnya.

 

Ibu Mulyanti, Spd.Aud Ketua IGTKI Kabupaten Kepahiang menyampaikan bahwa hari kemerdekaan merupakan tonggak sejarah perjuangan bangsa yang harus kita pertahankan. Maka sudah sepatutnya kita sebagai bangsa Indonesia mengenang jasa jasa pahlawan kita yang sudah membela bangsa Indonesia di dalam memperjuangkan kemerdekaan republik Indonesia. Selain mempertahan kemerdekaan, kita sebagai generasi penerus tentunya harus mengisi kemerdekaan ini dengan melakukan hal hal yang positif yang dapat menumbuhkan wawasan kebangsaan, salah satunya adalah melalui lomba mewarnai dan melukis bagi anak usia dini ini.

 

Ibu Wakil Bupati Kepahiang berpesan bahwa rasa bangga dan cinta terhadap tanah air harus di tanamkan sejak usia dini. “Acara yang sangat bagus, bukan saja melatih silahturahmi pada anak usia dini tapi lebih ke arah mendidik anak anak PAUD akan HUT Kemerdekaan RI sehingga lebih menanamkan rasa cinta tanah air dan juga dengan lomba ini akan muncul anak anak yang berprestasi bisa menyalurkan bakatnya di bidang seni mewarnai. Anak anak ini juga harus kita perkenalkan dengan pahlawan pahlawan bangsa yang telah gugur dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Mereka harus tau mengapa setiap tanggal 17 agustus diadakan ulang tahun kemerdekaan. Lomba mewarnai dan melukis ini adalah salah satu upaya agar anak anak memahami jasa para pahlawan dan juga mengetahui tentang hari kemerdekaan bangsa Indonesia. Mereka akan menjadi generasi penerus yang mengisi kemerdekaan ini dengan ilmu dan kreativitas yang membanggakan”, ujarnya.

 

Pemenang lomba melukis dan mewarnai tingkat PAUD ini di ambil dari juara 1 sampai dengan juara harapan 3 yang mendapatkan Hadiah/bingkisan dan di sediakan juga hadiah hiburan bagi 20 anak lainnya. Dewa Juri yang di pimpin Pak Asrul, S.Pd; Rahma Novita Sari, S.Pd dkk mengumumkan pemenang lomba hari ini adalah sebagai berikut:

Juara 1: TK Negeri Pembina Kabawetan

Juara 2: TK Asyiah 01 Kepahiang

Juara 3: TK Negeri Pembina Kabawetan

Juara Harapan 1: TKIT Nurwahda Cendikia

Juara Harapan 2:  TK Negeri Pembina Kabawetan

Juara Harapan 3:  TKIT Nurwahda Cendikia

Anak anak PAUD se Kabupaten Kepahiang terlihat antusias dan bahagia dapat mengikuti kegiatan ini. “Menang atau kalah tak menjadi persoalan…anak anak kami mendapat juara harapan dari 800 peserta. Artinya tetap juara ya mii..” pesan RA Ernawati salah satu pendidik PAUD Tadika Puri.

Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan PNF Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepahiang mengapresiasi kegiatan lomba bagi anak usia dini ini. “Saya bangga dan berterima kasih kepada panitia yang telah bersusah payah mensukseskan lomba melukis dan mewarnai tingkat PAUD ini. Harapan saya anak anak usia dini termotivasi untuk terus mengasah kemampuannya dalam memahami warna dan mencocokan dengan gambar yang ada. Jangan lupa kisahkan juga perjuangan pahlawan dalam merebut kemerdekaan Indonesia, agar anak anak kita menghargai jasa pahlawan dan mengisi pembangunan dengan prestasi sejak usia dini”.

Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kepahiang juga mengucapkan terima kasih, acara ini dapat terlaksana dengan baik berkat dukungan dan usaha dari berbagai pihak, terutama OPD dan instansi yang tergabung dalam panitia lomba melukis dan mewarnai, serta adanya kerjasama dengan IGTKI Kabupaten Kepahiang yang telah bekerja keras dalam mensukseskan acara ini.

 

Dirgahayu Bangsaku

Aku Anak Hebat…Aku Anak Indonesia.

Kegiatan PKW Batik Diwo Kepahiang