"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

Ganjelan Tisue

Jum’at, 26 Januari 2018

Hari Minggu lalu, saya di ajak salah satu tutor az Zahra  untuk mengikuti training Pola pertolongan Allah (PPA), tepatnya di hotel splash Bengkulu. Acara tersebut sangat menarik dan meninggalkan kesan yang mendalam, terutama materi tentang “ganjelan tisue”. Ganjelan tissue adalah perumpamaan untuk menjelaskan beberapa sifat buruk manusia yang menutup/mengganjal fitrah kebaikan dalam dirinya.

Semua orang adalah baik, tidak ada manusia lahir langsung membawa sifat keburukan dalam dirinya. Perbuatan buruk atau jahat timbul karena pengaruh lingkungan, pengaruh teman/pergaulan, pengaruh orang tua/keluarga dan pengaruh media terutama dunia maya seperti facebook, Whatshap dll.

Jika di ibaratkan kebaikan adalah air yang jernih di dalam gelas, maka air tersebut akan sangat bermanfaat bagi tubuh kita. Bahkan manusia bisa bertahan tanpa makan nasi asalkan ada air. Cukup dengan air, kehidupan tetap bisa berlangsung. Begitu pentingnya air seperti pentingnya kebaikan diri.

Perbuatan buruk akan menjadi ganjelan dalam kehidupan kita jika tidak segera di selesaikan. Perbuatan buruk ibarat minyak. Jika minyak kita tuangkan ke dalam gelas yang berisi air tadi maka minyak akan menutupi sifat air, karena minyak dan air tidak bisa bersatu. Begitupun dengan kebaikan, akan tertutup dengan keburukan. Semakin banyak keburukan maka semakin tebal ganjalan tissue yang menutupi kebaikan. Akibatnya hidup terasa gersang, serba salah, serba susah. Dampaknya pikiran tidak konsentrasi, mudah emosi dan marah, suka menggeluh dan menyalahkan takdir atas kemalangan yang di hadapi.

Lalu, bagaimana membuang ganjelan tissue yang terlanjur menebal dalam diri kita tersebut ?. jawabnya HILANGKAN GANJELAN TISUE nya. Hal ini erat kaitannya dengan perbuatan dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil. Dosa kepada Allah SWT dan dosa kepada Manusia. Jika kita melakukan perbuatan maksiat dan melanggar ketentuan Allah SWT, maka cara menghilangkan ganjelan tissue dengan bertaubat, mohon ampunan dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama di masa yang akan datang.

Dosa kepada manusia menjadi ganjalan yang tidak mudah untuk di hilangkan. Sebab satu satunya cara untuk menarik ganjelan tissue nya adalah dengan kata “Maaf”. Meminta maaf dan memaafkan adalah hal yang mudah namun sulit di lakukan. Terkadang merasa takut, malu dan gengsi. Takut dan malu minta maaf Jika telah melakukan kesalahan dengan menyakiti orang lain harus di lawan. Tugas kita adalah meminta maaf dengan cara yang baik dan waktu yang tepat. Jika orang yang di sakiti belum mau menerima maaf, maka cukuplah Allah yang berkehendak. Tugas kita hanya meminta maaf atas kesalahan atau kekhilafan yang pernah di lakukan. Itu saja …!

Gengsi minta maaf kepada orang yang menyakiti hati kita, merasa tidak salah karena di fitnah atau di jelekkan tanpa dasar. Permusuhan panjang yang terjadi karena hasutan orang lain, kadang berdampak buruk pada kehidupan kita. Akibatnya timbul dendam panjang tak berkesudahan. Orang yang menyakiti harus di datangi dan minta maaflah. Kok kita yang minta maaf ??? yang salah kan dia ??. Ini bukan masalah salah dan benar, meminta maaf bukan berarti kita salah kok. Maaf itu cermin kerendahan hati, semakin sering kita meminta maaf maka semakin jernih dan bersih hati kita. Bukankah itu yang kita cari ?, ketenangan hati. Ayo…datang dan sambung tali silahturahmi dengan orang orang yang pernah kita sakiti dan orang orang yang berusaha menyakiti kita.

Jum’at yang berkah ini, saya mendatangi salah satu tutor yang pernah mengabdi di az Zahra, dengan niat menyambung tali silahturahmi dan menghilangkan ganjalan tissue yang pernah terjadi. Ganjelan tissue tersebut adalah ketika saya memarahi beliau karena sering menggambil keputusan sendiri tanpa berkoordinasi dan seizin kepala sekolah PAUD. Beliau salah satu pendidik PAUD yang berada di bawah naungan Yayasan Az Zahra Kepahiang. Puncaknya adalah saya memberinya cuti satu semester untuk memperbaiki diri dan merenunggi kesalahannya, apalagi dia sedang dalam kondisi hamil tua. Jadi istirahat saja mengajar dahulu, nanti masuk lagi setelah melahirkan.

Jika di lihat dari alasan “perumahan sementara” tersebut, langkah yang di ambil sebagai pengelola terhadap tutornya sudah tepat. Namun, apa yang menurut kita baik belum tentu baik juga buat orang lain. Sang tutor justru memutuskan bekerja di PAUD lain, tanpa pemberitahuan sebelumnya. Mungkin dia merasa sakit hati, merasa kecewa dan tidak terima mendapat teguran seperti itu. Hal yang wajar dan normal.

Enam bulan masa cuti yang diberikan sudah usai, kami menunggu kehadiran nya kembali. Melanjutkan tugas, mendidik anak usia dini dan juga membantu tugas tugas sosial di az Zahra lainnya. Namun dia tidak muncul.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mengerti bawahannya. Tidak egois dan mau menang sendiri. Dan tidak harus selamanya benar.

Saya datang ke sekolah baru, tempat dia mengajar. Membawa kado untuk si kecil yang baru lahir. Dan dengan niat menyambung tali silahturahmi kembali. Saat tahu kedatanganku, awalnya dia enggan dan takut untuk bertemu. Aku menunggu dengan senyum dan penuh harap.

Akhirnya dia datang, sedikit tersenyum dan tertunduk diam. Ku pegang tangan dan bahunya, bertanya tentang anak nya yang baru lahir dan kondisi kesehatannya. Saatnya aku meminta maaf!. Memohon pengertian atas langkah yang di ambil sebagai pimpinan. Membuatnya nyaman, bahwa kami merindukan dan merasa kehilangan. Mengucapkan terima kasih atas pengabdian selama beberapa tahun di az Zahra. Tentu banyak kesalahan yang di temui, namun kebaikan tak kalah banyak pula di berikan. Dia menanggis…memelukku dengan erat. Aku tau dia menyayangiku seperti halnya aku menyayanginya. Kata maaf dan trima kasih telah melembutkan hati kami. Tidak ada lagi rasa resah dan merasa benar sendiri. Semua memahami kondisi dan keadaan masing masing.

Terakhir, saya menitipkan mantan tutor tersebut kepada kepala sekolah tempatnya mengabdi yang baru. Semoga dia semakin baik di lingkungan yang baik. Menjadi pendidik yang cerdas hati dan pikiran sehingga menghasilkan  peserta didik yang berhasil di kelak kemudian hari.

Saya pulang dengan meneteskan air mata, merasa lega dan bahagia. Sebab satu ganjelan tissue sudah tercabut dan berganti dengan air putih jernih. Siap di nikmati dengan penuh kesyukuran.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

nineteen + five =