"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

KETIKA ASA TAK BERBUAH

KETIKA ASA TAK BERBUAH

Oleh:Helmiyesi, M.Si

Suatu hari saya mendapat sms dari seorang sahabat (pengelola PAUD) yang isinya adalah keluhan tentang kinerja tutor yang tidak sesuai harapan. Padahal telah diberikan uang transport dan netbook sebagai fasilitas untuk mempermudah pekerjaannya. Kenyataannya, kinerja tutor tersebut bahkan lebih rendah dibandingkan sebelumnya, saat belum ada apa-apanya.

Saat itu saya berkaca pada diri sendiri bahwa hari yang sama saya juga mendapati surat pengunduran diri dari salah satu tutor yang merasa tidak dapat menjalankan tugasnya lagi karena kesibukan di luar dan persiapan menyambut kelahiran anaknya yang pertama. Sama halnya dengan masalah teman diatas, tutor yang mengundurkan diri ini adalah orang yang paling banyak diberi kemudahan dalam menjalankan tugasnya. Dia dipinjami motor supaya perjalanannya tidak terhambat, dia sering diutus mewakili hadir di event-event tertentu yang saya tidak bisa hadir karena jadwal lain menunggu. Dia saya percaya menjadi tangan kanan dalam mengelola lembaga yang sedang berkembang ini. Artinya, andai saya tiada mungkin dia akan ikut mewarisi apa yang ada saat ini. Ini gambaran kedekatan dan besarnya harapan yang saya pupuk terhadapnya.

Duhai sahabat, hari itu saya tidak marah. Saya tersenyum dan hanya membaca inti suratnya saja. Kata MENGUNDURKAN DIRI yang di ketik dengan huruf kapital lebar. Sekali lagi saya tersenyum.

Lalu aku menulis ini padamu, ”kita adalah pimpinan, tidak boleh khawatir jika bawahan tidak siap dan tidak bekerja sesuai harapan. Pimpinan ibarat pohon. Manakala akar dan batangnya tumbuh kuat dan sehat maka akan menumbuhkan dahan dan ranting yang lebat. Pada akhirnya akan menghasilkan buah yang manis, bermanfat dan berkhasiat. mari berjuang jadi yang terdepan, kawan”. 

Tentu kau sangat berterima kasih dengan nasehatku tersebut bukan?. Nada smsmu mengatakan bahwa engkau merasa lebih nyaman dan mulai intropeksi diri. Berpedoman pada keyakinan, bahwa setiap kejadian ada hikmah yang terpendam dan berharap mendapat penganti yang lebih baik.

Tahukah engkau kawan, kadangkala kata-kata yang keluar dari diri kita itu adalah suara jiwa, cerminan diri sendiri. Aku menulis hal itu padamu adalah nasehat bagi diriku sendiri. Nasehat untuk membuatku nyaman, kuat dan ikhlas menerima kenyataan bahwa asa yang kutanam tak berbuah impian.

Sebagai pimpinan di lembaga pendidikan yang bersifat sosial. Saya banyak mempelajari karakter manusia. Dan dengan ilmu kehidupan yang didapat secara otodidak dari alam, Allah memberikan anugerah berupa kelembutan bicara dan kesabaran bersikap. Saya ingat firman Allah dalam surat Ibrahim ayat 24-25 yang berbunyi” tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat. 

Perkataan inilah yang menjadi penyemangat manakala hati saya gundah. Saya mengartikan kalimat yang baik  adalah sebuah kesuksesan. Pohon yang baik adalah perumpamaan bagi kita yang ingin sukses. Indikator pohon yang baik memiliki ciri-ciri sebagaimana berikut;

  1. Akarnya kuat

Akar umat islam adalah syahadatain. Keyakinan kepada Allah yang Tunggal. Tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Keyakinan akan keesaan Allah ini menghasilkan energi luar biasa di saat harapan-harapan yang kita pupuk hancur berantakan karena kurang pelihara atau faktor alam. Keresahan hati tatkala orang yang dipercayai tidak bisa amanah, berkurang manakala saya ingat bahwa segala sesuatunya berjalan sesuai kehendak-Nya. Artinya, untuk menjadi pimpinan yang baik diperlukan hati yang luas, kuat dan tidak gampang menyerah. Inilah sifat akar pohon yang mengikuti gerak gravitasi bumi, menghujam ke dasar tanah dengan kuatnya.

  1. Cabangnya (menjulang) kelangit

Pohon yang indah dipandang adalah pohon yang rimbun dengan cabang dan dahan. Artinya ada proses pertumbuhan, dari kecil menjadi besar. Dari rendah menjadi tinggi, dari sedikit menjadi rimbun. Begitupun siklus kehidupan yang kita alami. Kita tidak bisa sendirian, perlu orang lain yang mendampingi dan membantu meringankan kinerja yang kita punya. Maka sebagai pimpinan, kita harus mengelola staf-staf menjadi cabang-cabang yang diakui kualitasnya. Lalu jika staf tidak tumbuh sebagaimana harapan, bercerminlah pada pohon yang tidak gegabah menanggalkan cabangnya tetapi tetap bersabar hingga ketentuan Allah berjalan. Bisa jadi cabang itu hilang karena dipangkas oleh manusia karena terlihat tidak sehat, atau mati layu dengan sendirinya karena digerogoti penyakit. Akan tetapi pohon yang baik akan segera pulih dari sakit dan kembali menumbuhkan cabang yang baru. Siklus inipun berlaku bagi kita. Orang yang hebat dan sukses tidak tercipta dengan tiba-tiba. Perlu proses yang panjang dan berliku dalam mencapai kehebatan itu. Kadang dihina, dicaci maki, direndahkan, diremehkan bahkan divonis dengan hal-hal yang tidak kita jalankan. Hal-hal buruk tersebut adalah bahan bakar yang seharusnya menjadi penyemangat dalam hidup kita. Maka asa yang belum berbuah kini akan kita coba lagi di masa yang akan datang.

  1. (Pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya

Pohon apa yang paling banyak khasiatnya? Pertanyaan ini sering saya tanyakan kepada jamaah yang saya bina. Dan biasanya mereka akan menjawab pohon kelapa atau pohon kurma. Pohon tersebut memang paling banyak manfaatnya, dari mulai akar, batang, daun dan buahnya. Hadist rasulullah yang mengatakan ”sebaik-baiknya mukmin adalah yang paling banyak memberi manfaat pada sesamanya”. Maka manfaat apa yang kita terima jika serta merta kita memarahi bawahan yang kita anggap tidak tau balas budi?. Tentulah sikap menentang dan permusuhan yang akan kita dapatkan. Pemimpin yang baik akan memperlakukan bawahannya dengan bijak hingga bawahan tersebut suatu saat sadar dan menyesal telah keluar dan tidak bekerja padanya lagi. Pohon rambutan yang dipukul dan dilempari batu dengan anak-anak di bawahnya akan membalas dengan buah rambutan yang jatuh karena sudah masak sehingga terasa manis di lidah. Dia tidak membalas memukul dan melempar batu kembali. Begitulah pelajaran yang diberikan pohon yang baik kepada kita.

Duhai kawanku, telah panjang lebar saya uraikan nasehat ini padamu. Nasehat yang berasal dari hatiku yang paling dalam. Entah benar atau salah perumpamaan yang saya jadikan contoh diatas. Semua saya kembalikan kepadamu, untuk mencernanya lebih jauh. Ketika asa tak berbuah, jadilah pohon yang baik.

 

CALON ORANG BESAR MEMULAI PERUBAHAN

CALON ORANG BESAR MEMULAI PERUBAHAN

Sebulan yang lalu, kami diundang untuk mengikuti kegiatan pelatihan pengembangan tutor PAUD yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kepahiang berkerjasama dengan PKK Kabupaten Kepahiang, dengan Tema “Kita Tingkatkan Pembinaan Bagi Pendidik PAUD Untuk Terciptanya Anak-anak Yang Berkarakter dan Berpotensi.

Inti dari pelatihan tersebut adalah diharapkan kesadaran Pendidik PAUD dalam melaksanakan aktifitasnya sebagai pendidik anak usia dini. Bahwa menjadi seorang pendidik tidaklah gampang, apalagi dengan tujuan untuk menghasilkan anak-anak yang berkarakter. Sebab kebanyakan pendidik PAUD adalah guru yang bertipe nyasar alias hanya bekerja sambilan dengan niat mengisi waktu luang saja. Ada juga pendidik PAUD yang bertipe guru bayaran yaitu rajin mengajar jika ada insentif atau uang transport saja.

Apa penyebab guru PAUD bertipe nyasar dan bayar? Salah satunya karena tidak memahami potensi dalam dirinya, yaitu potensi lahiriah seorang perempuan (kebanyakan pendidik PAUD adalah perempuan). Jika potensi ini bisa tersalurkan melalui upaya pendampingan tumbuh kembang anak usia dini maka fitrah sebagai perempuan alias ibu akan maksimal. Sayangnya, beban ekonomi dan pandangan sosial masyarakat kadang menjadi pemicu tidak maksimalnya pendidik dalam melaksanakan aktifitasnya. Belum lagi, ketidak mampuan dalam berkonsentrasi terhadap kebutuhan anak didik. Banyak pendidik yang membawa permasalahan pribadinya di sekolah sehingga perhatian terhadap anak didikpun terabaikan.

Sebagian besar pendidik kita terlalu banyak menggunakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk sesuatu di luar dirinya. Juga terlalu banyak energi dan potensi untuk memikirkan selain diri, baik itu merupakan kesalahan, keburukan mau pun kelalaian orang lain.

Ketika peserta didik tidak mengalami kemajuan berarti, biasanya antar pendidik saling menyalahkan satu sama lain, sehingga suasana mengajarpun tambah runyam.
Banyak pendidik yang menginginkan orang lain berubah, tapi ternyata yang diinginkannya itu tak kunjung terwujud.

Siapa pun yang bercita-cita besar, rahasianya adalah perubahan pada diri sendiri. Ingin mengubah anak didik menjadi berkarakter dan berakhlak mulia?, caranya ubah saja diri sendiri. Betapapun kuatnya keinginan kita untuk mengubah anak didik, tapi kalau tidak dimulai dari diri sendiri, semua itu menjadi hampa. Setiap keinginan mengubah hanya akan menjadi bahan tertawaan kalau tidak dimulai dari diri sendiri. Orang di sekitar kita akan menyaksikan kesesuaian ucapan dengan tindakan kita.

Boleh jadi orang yang banyak memikirkan diri sendiri itu dinilai egois. Pandangan itu ada benarnya jika kita memikirkan diri sendiri lalu hasilnya juga hanya untuk diri sendiri. Tapi yang dimaksud di sini adalah memikirkan diri sendiri, justru sebagai upaya sadar dan sungguh-sungguh untuk memperbaiki kualitas diri yang lebih luas.

Perumpamaan yang lebih jelas untuk pandangan ini adalah seperti kita membangun pondasi untuk membuat rumah. Apalah artinya kita memikirkan dinding, memikir kan genteng, memikirkan tiang sehebat apa pun, kalau pondasinya tidak pernah kita bangun. Jadi yang merupa kan titik kelemahan manusia adalah lemahnya kesungguhan untuk mengubah dirinya, yang diawali dengan keberanian melihat kekurangan diri. Nah…bagaimana pendidik akan menciptakan anak-anak PAUD yang berkarakter dan berpotensi  jika dirinya belum mau berubah?.

Pemimpin mana pun bakal jatuh terhina manakala tidak punya keberanian mengubah dirinya. Orang sukses mana pun bakal roboh kalau dia tidak punya keberanian untuk mengubah dirinya. Kata kuncinya adalah keberanian.

Berani mengejek itu gampang, berani menghujat itu gampang, tapi, tidak sembarang orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri. Ini hanya milik orang- orang yang sukses sejati.

Orang yang berani membuka kekurangan orang lain, itu biasa. Orang yang berani membincangkan orang lain, itu tidak istimewa. Sebab itu bisa dilakukan semua orang yang tidak punya apa-apa sekali pun. Tapi, kalau ada orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri, bertanya tentang kekurangan itu secara sistematis, lalu dia buat sistem untuk melihat kekurangan dirinya,inilah calon orang besar.

Mengubah diri dengan sadar, itu juga mengubah orang lain. Walaupun dia tidak mengucap sepatah kata pun untuk perubahan itu, perbuatannya sudah menjadi ucapan yang sangat berarti bagi orang lain. Percayalah, kegigihan kita memperbaiki diri, akan membuat orang lain melihat dan merasakannya.

Memang pengaruh dari kegigihan mengubah diri sendiri tidak akan spontan dirasakan. Tapi percayalah, itu akan membekas dalam benak orang. Makin lama, bekas itu akan membuat orang simpati dan terdorong untuk juga melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Ini akan terus berimbas, dan akhirnya seperti bola salju. Perubahan bergulir semakin besar.

Jadi kalau ada orang yang bertanya tentang sulitnya mengubah anak, jawabannya dalam diri orang itu sendiri. Jangan dulu menyalahkan orang lain, ketika mereka tidak mau berubah.

Jangan terlalu banyak bicara. Lebih baik bersungguh-sungguh memperbaiki diri sendiri. Jadikan perkataan makin halus, sikap makin mulia, etos kerja makin sungguh-sungguh, ibadah kian tangguh. Mudah-mudahan, kita bisa menjadi pendidik yang sadar bahwa kesuksesan peserta didik diawali dari keberanian melihat kekurangan diri sendiri, dan berusaha memulai perubahan ke arah lebih baik.

Kitalah yang akan menghargai diri sendiri dan kemudian orang lain juga akan menghargai kita. Tak ada pribadi yang BIASA-BIASA saja dalam jagad raya ini. Yang ada adalah pribadi yang GAGAL menjadikan dirinya LUAR BIASA. Kesuksesan itu adalah  kepercayaan dalam  mengaktualisasikan diri dalam bentuk pengabdian dan kasih sayang. Maka banggalah dengan dirimu sendiri, jangan pernah bermimpi untuk menjadi orang lain. Mari mulai perubahan…..(salam Az-zahra)

Az Zahra, 20 Oktober 2014.

Rina dan Rini

RINA DAN RINI

Pagi ini, pukul 08.12 wib, ananda Rina datang ke rumah dengan malu malu.

“Mii…punya nasi ?? Rini mau nasi.”

“lhoo,….. kenapa perlu nasi ? Rini belum makan ? kemana wawak nak ?” tanyaku penasaran.

“wawak ke Ujan mas karena nenek meninggal tiga hari yang lalu, kami mau masak tapi tidak ada beras”, ucapnya pelan sambil menunduk.

Rina dan Rini adalah kakak beradik yang tinggal menumpang dengan saudara tua Ibunya, biasa di panggil wawak (bude). Profesi wawak mereka adalah pemulung sampah daur ulang seperti botol plastik, kertas dan Koran bekas. Di rumah sempit yang tak layak huni tersebut tinggal juga seorang kakek lanjut usia yang sehari hari pergi ke rumah rumah untuk meminta “sumbangan”. Ada 8 orang tinggal dalam rumah petak dengan satu buah kamar dan tanpa perabotan rumah tangga yang layak. Terkadang beberapa anak keluarga juga menumpang tinggal di sana, berdesakan hingga ada yang tidur di luar rumah beralaskan kardus dan Koran bekas.

Wawak mempunyai 3 orang anak, anak pertama perempuan berusia 15 tahun, anak kedua laki laki berusia 10 tahun dan anak ketiga laki laki berusia 6 tahun. Sedangkan Rina dan Rini berusia 12 dan 11 tahun. Kelima anak usia sekolah tersebut tidak ada satupun yang pernah mengenyam pendidikan formal. Karena faktor ekonomi dan beratnya beban hidup yang mesti mereka tanggung. Untuk mengurangi beban ekonomi, anak pertama wawak telah di nikahkan dengan seorang petani dewasa sehingga anak tersebut dapat ikut suaminya ke kebun. Pernyataan miris sang wawak kepadaku saat menikahkan anak tersebut adalah, “hilang satu beban aku miii, …..dio la nikah bisa ikut lakinyo!”. Aahhhh…..aku hanya bisa istiqfar dalam hati. Semoga engkau bahagia nak…doaku lirih.

Dalam kondisi sulit dan serba kekurangan tersebut, apakah tidak ada perhatian dari pemerintah ?. jawabnya ADA. Keluarga wawak adalah peserta Program Keluarga Harapan (PKH). Kakek tua yang ada di rumah juga di bantu melalui program UEP Lansia dan program Homecare Lansia. Dan sesekali ada bantuan sembako dari organisasi wanita dan para dermawan di Kepahiang. Namun….kemiskinan belum mau sirna dari kehidupan mereka.

Rina, Rini dan kedua anak wawak kami bujuk untuk mau sekolah di PKBM az Zahra Kepahiang. Alhamdullillah saat ini mereka sudah duduk di Paket A (setara SD) tingkat 1. Mereka masih perlu layanan khusus karena masih buta huruf. Dan, ternyata anak anak di Kabupaten Kepahiang yang masih buta huruf dan belum mengenyam pendidikan ini masih cukup banyak. Tahun pelajaran 2016/2017 ada 13 anak yang masuk kategori Paket A tingkat 1. Jumlah ini tentu cukup mengherankan bagi dunia pendidikan di Kabupaten, sebab anak anak ini tinggal di Kecamatan induk yaitu Kecamatan Kepahiang, yang fasilitas pendidikan formalnya sangat cukup dan memadai. Mengapa mereka tidak sekolah ? Mengapa mereka mau dan tertarik ikut paket A ? Mengapa anda tidak tanya langsung dan bertemu dengan mereka???.

Yukk ketemu Rina dan Rini di az Zahra !!!

 

Kegiatan PKW Batik Diwo Kepahiang