"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

“Awas, jangan nakal, jangan cengeng…nanti ibu tinggal !

Az zahra, 28/7/2018. Beberapa hari yang lalu kita dikejutkan dengan berita Ayah tiri yang tega memperkosa anak belasan tahun hingga mengandung, kisah seperti ini hampir setiap hari kita dengar baik melalui media massa maupun melalui media elektronik lainnya. Hasil perbincangan saya dengan Ketua PPA Polres Kepahiang menyatakan bahwa rata-rata setiap bulannya mereka menangani 5 kasus kekerasan terhadap anak di bawah umur. Belum lagi kasus-kasus anak lainnya yang tidak sempat terlayani karena tidak adanya laporan dan keluhan. Dan yang paling memprihatinkan justru pelaku tindak kekerasan tersebut adalah orang-orang terdekat dengan anak. Banyak tindak kekerasan justru dilakukan oleh ayah tiri, kakek, paman, keponakan atau bahkan ayah kandungnya sendiri. Tragis memang.

Lalu apa yang seharusnya dilakukan seorang ibu terhadap anak-anak perempuannya agar terhindar dari hal-hal disebut diatas?. Yang pertama sebelum menikah seorang perempuan harus benar-benar menyeleksi calon suami yang bakal menjadi ayah dari keturunannya. Sebab dengan mengetahui latar belakang keluarga calon dan pribadinya sebelum menikah kita telah meminimalisir hal-hal buruk di masa depan. Janganlah menjadi sok pahlawan dengan menikahi laki-laki yang buruk tabiatnya dengan dalih akan mampu merubahnya menjadi lebih baik setelah menikah nanti. Kecil sekali kemungkinan kita dapat merubah tabiat  orang lain karena kita juga punya kelemahan dan keterbatasan. Nah…bagi yang belum menikah…pikirkanlah hal ini dan tegaslah pada laki-laki yang akan menjadi pendampingmu. Pilihlah laki-laki yang santun dan berakhlak mulia, calon ayah bagi anakmu.

Yang kedua, saat perempuan telah dipercaya untuk mengandung benih kasih sayang antara suami dan isteri maka tugas sebagai ibu telah di mulai. Di saat awal kehamilan, janin telah mampu merespon kehendak ibunya. Hal ini terbukti dengan, jika sang ibu merasa senang dan rileks dalam masa kehamilan maka dia tidak akan mengalami kesulitan-kesulitan berarti dalam masa kehamilannya. Sebaliknya bila seorang ibu tidak dapat tenang dan sering emosional semasa kehamilannya maka sering kita dengar keluhan-keluhan seputar kehamilannya. Anak harus di didik sedini mungkin, sejak masa kehamilan sampai usia 8 tahun pertumbuhannya. Masa ini di sebut masa golden age yaitu masa keemasan bagi anak. Jika masa-masa ini kita tidak maksimal mendidik anak maka kita akan menghasilkan anak-anak yang lemah dan rentan terhadap masalah. Anak-anak yang tidak terbiasa dekat dengan orang tua terutama ibunya akan menjadi anak-anak yang tidak bersemangat, tidak antusias dan pasif terhadap semua kegiatan. Lain halnya dengan anak-anak yang telah kita didik sejak masa kehamilan hingga usia balitanya dengan baik, maka akan menghasilkan anak-anak yang hangat, ceria, tidak berpura-pura, mudah memaafkan dan dapat mengahadapi kendala dalam masa pertumbuhan dan perkembangannya.

Yang ketiga, jadilah sahabat bagi putra-putri anda. Seorang ibu tidak seharusnya malu untuk ikut bahasa-bahasa gaul muda mudi yang sedang tren sekarang. Usia 10 sampai 18 tahun adalah usia anak yang sedang di masa pubertas, masa pencarian jati diri dan masa perkembangan organ kelaminnya. Seorang ibu selayaknya bersikap sebagai sahabat dalam masa-masa transisi ini agar anak tidak salah memilih orang sebagai sahabat atau tempat curhat. Sikap ibu yang terbuka dan mau mendengarkan keluh kesah anak-anaknya dapat meminimalkan kekerasan terhadap mereka. Sebab anak-anak ini akan bercerita jika ada hal-hal yang janggal terhadap orang-orang yang berada di sekitarnya. Hal ini langkah awal seorang ibu mengetahui dan segera mengatasi etikad tidak baik orang-orang terhadap anaknya. Banyak kasus perkosaan yang menimpa anak-anak tidak diketahui orang tuanya karena anak takut mengadu. Anak takut dengan ancaman pelaku kekerasan sehingga seringkali perkosaan terjadi berkali-kali di saat ibunya bepergian.

 

Ilustrasi berikut ini mengambarkan betapa pentingnya seorang ibu memilih suami yang baik, mendidik anaknya sejak usia dini dan menjadi sahabat saat anak membutuhkan.

Kisahnya dimulai saat seorang perempuan terpaksa menikah di usia muda dengan pacarnya karena telah mengandung duluan. Perempuan ini terpaksa putus sekolah di tingkat SLTA dan berganti status dari “pelajar” menjadi seorang “isteri”. Beberapa bulan kemudian dia melahirkan seorang anak perempuan, dan statusnyapun berganti sebagai “ibu”. Dengan suami yang masih muda dan tanpa pekerjaan jelas, maka pekerjaan mendidik dan mengasuh anakpun hanya terfokus kepadanya seorang.  Saat anak masih balita, sang ibu belum begitu kerepotan mengurusnya. Namun seiring waktu anak tumbuh dan semakin banyak hal-hal yang tak pernah diperhatikan serius olehnya.

Setiap kali anak rewel dan menangis, sang ibu punya jurus jitu untuk menenangkannya. Jurus jitu tersebut adalah kata-kata ancaman “Awas, jangan nakal, jangan cengeng…nanti ibu tinggal !”. kalimat ini diucapkan dengan mimik muka serius dan tanpa belas kasih. Dan kalimat ini ternyata ampuh untuk meredam gejolak sang anak. Seiring dengan waktu, anak perempuan itupun bertambah dewasa, dia berteman dengan seorang laki-laki teman sekelasnya. Dan ternyata kalimat ampuh ibunya dahulu juga digunakan oleh sang teman laki-lakinya tersebut setiap kali ada permintaannya yang tak dituruti olehnya. Awalnya hanya hal-hal sepele seputar pekerjaan sekolah. Sang lelaki mengancam tidak mau berteman lagi jika PR nya tidak dikerjakan. Dia juga mengunakan bahasa yang sama jika minta ditraktir makanan atau sekedar minta kirim pulsa. Walhasil, sang anak perempuan selalu menuruti permintaan teman laki-lakinya karena takut ditinggal dan tidak di anggab temannya. Hal ini persis dengan ancaman yang selalu di ucapkan oleh ibunya dahulu ketika dia rewel minta sesuatu. Ibunya selalu bilang “Awas, jangan nakal, jangan cengeng…nanti ibu tinggal !”.

Bisa ditebak, ketika sang teman laki-laki minta dia nginab di kostnya, diapun menuruti. Dan sudah pasti kejadian yang tidak diharapkanpun terjadi yakni perbuatan zina antara dua pelajar tersebut. Hal ini banyak terjadi di kalangan pelajar kita. Bahkan sebuah study mencengangkan yang pernah dilakukan pelajar SMA beberapa tahun lalu menyatakan bahwa hampir 40% pelajar SMA di Kepahiang sudah pernah berhubungan intim alias tidak perawan lagi. Nauzubillah min dzalik….

Nah…ibu..selamatkan anakmu. Mulailah dengan hal-hal kecil bersama anak-anak kita. Bagi yang belum menikah, waktu masih panjang untuk mencegah kekerasan terhadap anak-anak kita. Bagi yang telah mempunyai anak usia dini, jadilah ibu yang hangat dan pendidik utama di keluarga. Ibu juga dapat menitipkan anak ke lembaga PAUD yang ada di sekitar rumah. Namun, perlu diperhatikan jika ingin menitipkan anak di PAUD, pilihlah lembaga anak usia dini yang benar-benar menekankan pembelajaran karakter di sekolahnya. Jangan tergiur dengan lembaga-lembaga PAUD yang menawarkan kegiatan ektrakurikuler yang berjibun sementara kegiatan kesehariannya biasa-biasa saja. Dalam hal ini tentu saya merekomendasikan lembaga PAUD yang kami bina antara lain:

  1. PAUD At Thoriq di Padang Lekat, Kecamatan Kepahiang
  2. PAUD Al Fattah di Desa Karang Endah, Kecamatan Kepahiang
  3. PAUD Asyifa di Desa Bayung, Kecamatan Seberang Musi
  4. PAUD Pandan Wangi di Desa Taba Padang, Kecamatan Seberang Musi
  5. PAUD Ar Rosyad Desa Talang Gelompok, Kecamatan Seberang Musi
  6. PAUD Pelita Hati Desa Tebat Laut, Kecamatan Seberang Musi
  7. PAUD Bougenville Indah Desa Sidorejo, Kecamatan Kabawetan
  8. PAUD Miftahunnajah Desa Taba Baru, Kecamatan Bermani Ilir
  9. PAUD Oryza Sativa Desa Limbur Lama, Kecamatan Bermani Ilir
  10. PAUD Tunas Bangsa Desa Cinta Mandi Baru, Kecamatan Bermani Ilir

PAUD-PAUD tersebut siap menerima siswa baru dan bersedia mendidik anak-anak usia dini di Kepahiang yang berakhlak mulia dan menjadi generasi penerus bangsa nantinya.

Oke..ibu selamatkan anakmu. Jadilah sahabat dikala anak gundah. Jadilah penyelamat masa depannya. Selamat menjadi ibu…

 

 

 

Nek Ros, Alumni Paket A Beruntung Bisa Berhitung

Azzahra, 27/7/2018. Dalam perjalanan menuju az Zahra, saya berpapasan dengan nenek Ros yang berjalan membawa ember hitam dan alat timbangan kecil.

“Apa yang dibawa nek?” sapaku sambil menurunkan kaca spion dan menghentikan mobil sejenak.

“oh ..umi, ini lagi jualan ikan mii. Tadi aku sudah ke az Zahra nyari umi, siapa tau mau beli. Jawabnya gembira sambil memperlihatkan beberapa ekor ikan nila dan ikan lele di dalam ember hitamnya. Nenek Ros (55 tahun) adalah alumni Program Pendidikan Kesetaraan Paket A setara SD tahun 2014 di PKBM Az Zahra Kepahiang. Hari ini datang menawarkan ikan nila dan ikan lele yang hanya beberapa ekor. Setelah ikan di timbang beratnya tidak sampai 1 kg.

 

Awal mula mendaftar paket A karena nenek Ros menjadi tukang sapu jalan dari Dinas Kebersihan Kabupaten Kepahiang. Saat itu dia hanya di bayar sebesar lima ratus ribu sebulan, karena tidak punya ijazah maka dia mendaftar paket A agar mempunyai ijazah untuk melanjutkan kontrak kerjanya. Alhamdulillah dengan adanya ijazah saya bisa kontrak dan gaji naik terus setiap tahunnya hingga mencapai Rp.1.200.000,-. Sebenarnya nenek Ros sudah tamat sekolah dasar (SD) namun ijazahnya tidak di ambil karena orang tuanya meninggal dan dia merantau ikut keluarga di Kepahiang.

Saat mengikuti tatap muka nenek Ros juga sangat bersemangat. Dia siswa yang cukup cerdas. Dan mampu mengimbangi peserta didik yang usianya relatif muda. Nenek Ros tidak canggung dan sangat menikmati pembelajaran tatap mukanya.

Hari ini, nenek Ros datang menjual ikan ke az Zahra karena kontrak sebagai penyapu jalan tidak di perpanjang lagi. Dia tidak tahu apa penyebab dia dan puluhan temannya di putus kontrak kerja tersebut. Padahal nenek sudah mengabdi sejak 1 Januari 2008 (10 tahun). Tuntutan ekonomi dan sulitnya mencari kerja membuatnya terpaksa berjualan seadanya. Sang suamipun yang dahulunya menjadi sopir pembuang sampah kini terpaksa turun jabatan menjadi tukang sapu jalanan juga. Hal ini dikarenakan suaminya menderita diabetes alias kencing manis. Merekapun hidup menumpang di mess dinas kebersihan. Jika sewaktu waktu mereka harus meninggalkan mess maka entah harus tinggal di mana. Nenek Ros juga tidak mempunyai anak dari hasil pernikahannya. Mereka hanya tinggal berdua di rumah kecil ukuran 3 x 4 yang di kelilingi oleh mobil pengangkut sampah dari Dinas Kebersihan Kabupaten Kepahiang.

Dari segi umur nenek Ros masih di kategorikan pralansia, masih produktif dan masa pengabdian nenek Ros sebagai petugas sapu jalanan yang sudah puluhan tahun hendaknya menjadi pertimbangan dalam pemutusan masa kerja.

Sebelum pergi meninggalkan az Zahra, umi bertanya “nek…apa beda sebelum dan sesudah ikut paket A?”

“ado bedanya mii…aku kini la pintar berhitung. Sehingga berani untuk jualan. Meski untungnya hanya sepuluh ribu sehari. Saya sudah sangat bersyukur mii. Ikan ini punya orang…saya cuma menjual…nanti setoran. Karena sudah pintar menghitung maka saya tidak salah kalo setoran.” Ujarnya sumringah menampakkan gigi yang sudah mulai ompong termakan usia. Nek Ros merasa beruntung bisa berhitung setelah menjadi alumni paket A.

 

3 BERSAUDARA PENGUMPUL KORAL (kembali) SEKOLAH

Ada yang menarik saat hari pertama orang tua mengantar anak sekolah di PKBM az Zahra Kepahiang beberapa hari yang lalu. Yaitu seorang ibu yang datang mengantar 3 orang anaknya untuk mengikuti Program Kesetaraan di az Zahra. Ananda Maikel terdaftar di Program Paket A dan kedua kakaknya, Riki Bae dan Kemuning Andika Pratama mendaftar di program paket B. Setelah menemui petugas daftar ulang untuk mengecek kelengkapan administrasi sebagai peserta didik di az Zahra, sang ibu di antar pendamping anak, Tri Astuti menemui Umi yesi, Pimpinan PKBM.

 

“umi, saya titip 3 anak saya untuk sekolah di sini ya mi….”. Dia mengulurkan tangan dengan senyum dan binar mata semangat.

“ohhh…ini anak anak hebat yang di ceritakan pendamping ya?. Respon umi yesi dengan senyum khasnya. Siswa siswi reguler yang sekolah di az Zahra mempunyai pendamping. Setiap pendamping biasanya membina 5 sampai dengan 10 anak. Tugas Pendamping antara lain mendata anak tidak sekolah (ATS) di wilayahnya, mengidentifikasi kebutuhan pendidikan anak dan ikut serta menggali bakat dan minat anak, memfasilitasi anak tidak sekolah tersebut agar kembali melanjutkan pendidikannya, menjadi penghubung antara anak dengan PKBM, dan berperan aktif dalam kegiatan kegiatan yang diselenggarakan PKBM.

“Iya umi…ini Maikel, Riki dan Kemuning ”. Satu per satu anak anak tersebut di kenalkan dan menjabat tangan umi dengan hormat. Ada rasa haru, sedih, bahagia bercampur aduk dalam hati. Anak anak ini masih muda sekali. Maikel berusia 14 tahun, Riki berumur 15 tahun dan Kemuning 17 tahun.

“ Baiklah bu…anak anak ini kami terima sekolah di sini. Semoga mereka betah dan rajin datang untuk belajar. Karena usia mereka masih usia sekolah maka kami memberikan beasiswa berupa pembebasan segala biaya dengan syarat rajin menghadiri tatap muka ya”.

“Alhamdulillah….terima kasih banyak umi. Dan pakaian yang mereka pakai hari ini juga pemberian umi dan tutor tutor az Zahra”. Laporan Ibu paruh baya ini sambil menghapus ujung mata yang mulai basah. Saya ingat sebelumnya pendamping menyampaikan bahwa ada keluarga yang membutuhkan pakaian untuk di pakai di hari lebaran Idul Fitri lalu. Dan para tutor az Zahra memberikan sumbangan pakaian pantas pakai untuk di bagi bagikan. Rupanya pakaian tersebut telah di terima oleh ketiga bersaudara ini. Dan mereka bahagia sekali.

3 bersaudara yang putus sekolah ini menarik perhatian kami. Sehingga setelah beberapa kali tatap muka, saya memanggil salah satu anak untuk mengetahui latar belakang mereka. Ketika jam istirahat sekolah, Kemuning datang menemui.

“ Kemuning senang sekolah di az Zahra? Pertanyaan pembuka ini di sampaikan untuk memulai pembicaraan.

“Umi ingin menulis tentang kalian bertiga yang sekolah paket di sini, sebab kalian menarik perhatian kami. Supaya beritanya tidak salah, maka umi mau bertanya beberapa hal. Boleh ya?’”

“Iya mii. Alhamdullillah kami bisa sekolah lagi di tempat umi” jawabnya tersenyum.

“Baik…yang pertama umi mau tau apa penyebab Kemuning tidak sekolah?.

“Saya tamat SD dan sudah terdaftar di SMP. Hari ke tiga sekolah, adik saya Ella Fitrianingsih mendadak sakit. Dia pingsan dan harus di rawat di Rumah Sakit Umum Daerah Bengkulu. Kata Dokter sakit syaraf sehingga adik saya lumpuh dan tidak dapat bergerak. Saya sangat dekat dengan Ella sehingga tidak tega meninggalkannya untuk ke sekolah. Padahal ayah dan ibu telah menasehati dan membujuk saya agar tetap sekolah. Namun saya tidak mau mii…”. Jawaban Kemuning ini di luar ekspectasi alasan umum anak putus sekolah. Umi terdiam sejenak. Menanti kemuning menenangkan dirinya. Kenangan sang adik masih melekat di hatinya. Kemuning menunduk.

 

“Oh..umi minta maaf telah mengingatkanmu dengan almarhum Ella. Lalu bagaimana dengan Riki dan Maikel ?. Mengapa mereka tidak sekolah ?” melanjutkan informasi tentang adik adiknya.

“Kalo Riki dan Maekal di keluarkan dari sekolah mii. Mereka sering di ganggu kawan sekolah dan sering berantem di sekolah. Riki sudah pernah sekolah di SMP dan Maikel di keluarkan saat kelas 5 SD. Mereka sering di ejek dan di bully teman. Mereka tidak menganggu orang, tapi kalo ada yang ganggu mereka ajak berantem. Jadi karena ribut terus akhirnya di keluarkan”.

Alasan tidak sekolah atau di keluarkan karena sering di bully ini cukup meresahkan. Dan biasanya anak korban bullying ini adalah berasal dari ekonomi rendah. Keluarga tiga bersaudara yang tidak sekolah ini memang miskin dari segi ekonomi. Ayah mereka bekerja sebagai pengumpul batu koral dari sungai di belakang rumah mereka. Ketiga anak ini ikut membantu sang ayah turun ke sungai mengambil batu koral. Sang ibu tidak mempunyai pekerjaan selain mengurus keluarga sebab mereka masih memiliki 3 adik yang balita. Jadi dalam satu rumah petak yang mereka miliki ada 6 anak dan kedua orang tuanya. Jika pekerjaan mengumpulkan koral sedang sepi, kemuning ikut wawak mengambil dan mengantar ayam dari Lubuk Linggau. Sementara Riki dan Maikel berdiam di rumah.

“Pertanyaan terakhir, apa cita cita Kemuning?”

“ Saya mau jadi POLISI mii…bisa kan ?, senyumnya berkembang penuh harapan.

“Bisa dong…asal rajin sekolah. Sekarang kembalilah ke kelas ya.” Jawab umi dengan senyum pula. Dan Kemuning pun keluar ruangan dengan harapan besar di dadanya.

Diskusi ketika istirahat tersebut sudah cukup untuk mengetahui latar belakang ketiga bersaudara ini. Riki bae sang adik ketika di tanya cita citanya ingin menjadi guru olahraga. Sementara maikel belum tau apa cita citanya di masa depan. Dia hanya tersenyum.

 

Tiga bersaudara pengumpul koral telah kembali bersekolah. Mereka masih muda dan punya impian besar di masa mendatang. Ketiganya di temukan oleh pendamping, Tri Astuti ketika menelusur anak putus sekolah sasaran program PPA PKH. Program lintas sektor ini bertujuan mengurangi pekerja anak terutama anak anak penerima manfaat PKH di Kabupaten Kepahiang. Pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata dan Tenaga Kerja Kabupaten Kepahiang telah memfasilitasi 120 anak putus sekolah agar kembali melanjutkan pendidikannya. Dan tindak lanjut pendidikan anak anak ini masih menjadi pe er bersama. Jika ada yang ingin membantu Kemuning dan adik adiknya bisa menemui mereka di Kelurahan Pensiunan, depan SD 15 Kepahiang. Dan jika ingin membantu anak anak putus sekolah yang lainnya bisa langsung ke PKBM Az Zahra Kepahiang, Jl. Pengabdian Kelurahan Padang Lekat Kecamatan Kepahiang Kabupaten kepahiang. Provinsi Bengkulu.

Kegiatan PKW Batik Diwo Kepahiang