"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

MENGEMBALIKAN RUH PENDIDIKAN: BELAJAR DARI PESANTREN

MENGEMBALIKAN RUH PENDIDIKAN: BELAJAR DARI PESANTREN
Oleh : Imam Wakhyudin

Negara kita telah menegaskan arah pendidikan melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Dalam undang-undang itu disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah :

“Berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.”

Cita-cita tersebut sesungguhnya amat mulia namun realitas di lapangan sering kali berbeda.
Kita masih mendengar berita yang mengusik nurani: ada kepala sekolah menegur muridnya yang merokok, bahkan menampar karena ingin mendidik, tetapi justru sang guru yang dipermasalahkan.
Fenomena seperti ini seolah menunjukkan bahwa sistem pendidikan kita kini hanya berjalan di atas aturan, bukan lagi di atas ruh dan nilai-nilai kemanusiaan.

Pendidikan Yang Kehilangan Jiwa

Pendidikan modern sering kali diukur dari keberhasilan akademik, kelulusan cepat, atau prestasi intelektual.
Namun, di balik kecanggihan teknologi dan sistem kurikulum yang terus diperbarui, kita perlahan kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting — yaitu adab dan keikhlasan.
Banyak peserta didik yang cerdas, tetapi tidak menghargai guru.
Banyak yang berpengetahuan luas, tetapi miskin empati dan tanggung jawab sosial.
Inilah tanda bahwa pendidikan kita kehilangan jiwanya — kehilangan orientasi spiritual dan moral yang dulu menjadi napas utama pendidikan bangsa.

Pesantren dan Pendidikan Sejati

Jika kita ingin menemukan bentuk pendidikan yang utuh yang menyentuh akal sekaligus hati maka pondok pesantren adalah jawabannya.
Di pesantren, pendidikan tidak berhenti pada ruang kelas. Ia hidup dalam keseharian, dalam keteladanan guru, dalam kesabaran santri membersihkan kamar, menimba air, atau menghafal kitab di bawah sinar redup lampu malam.
Salah satu dasar kurikulum pesantren yang tak pernah lekang oleh zaman adalah kitab klasik karya Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji, yang ditulis pada tahun 1190 M, berjudul Ta’lim al-Muta’allim Thariq at-Ta’allum Pendidikan bagi Penuntut Ilmu.
Kitab ini menjadi pedoman awal setiap santri baru. Di dalamnya terdapat bait yang sangat terkenal:

ألا تنال العلم إلا بستةٍ
سأنبيك عن مجموعها ببيانِ
“Takkan tercapai ilmu dengan sempurna kecuali dengan enam perkara.
Akan kujelaskan satu per satu dengan terang.”
Kemudian beliau menjelaskan enam syarat itu dalam bait berikutnya:
ذكاءٌ وحرصٌ واجتهادٌ وبلغةٌ
وصحبةُ أستاذٍ وطولُ زمانِ
“Kecerdasan, semangat, kesungguhan, kecukupan bekal, bimbingan guru, dan lamanya waktu belajar.”
Enam hal inilah fondasi sejati pendidikan.
Bukan sekadar nilai ujian, melainkan perjalanan panjang membentuk kepribadian yang kokoh.
1. Kecerdasan : bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas hati dan nurani.
2. Semangat : tekad kuat untuk terus belajar meski dihadang rintangan.
3. Kesungguhan : kerja keras yang lahir dari niat tulus mencari ridha Ilahi.
4. Bekal atau biaya : bukan sekadar materi, tapi kesiapan lahir batin.
5. Bimbingan Guru : sebab ilmu tanpa guru ibarat pohon tanpa akar.
6. Lamanya Waktu : karena ilmu sejati tidak bisa dipetik dengan instan, melainkan dengan kesabaran dan ketekunan panjang.

Nilai-nilai inilah yang menjadikan pesantren tetap kokoh di tengah arus modernisasi.
Di pesantren, belajar bukan sekadar mencari pekerjaan, tetapi mencari keberkahan hidup.
Guru tidak dipanggil “instruktur”, tapi ustadz, kiai, atau mursyid penuntun jiwa dan pembentuk karakter.

Menemukan Kembali Ruh Pendidikan

Kini, ketika dunia pendidikan kita semakin sibuk dengan administrasi, sertifikasi, dan akreditasi, barangkali sudah saatnya kita menengok kembali sumber-sumber kearifan lama yang telah teruji oleh waktu.
Pesantren bukan hanya lembaga keagamaan, tetapi juga model pendidikan karakter bangsa yang menanamkan nilai iman, takwa, disiplin, kesederhanaan, dan tanggung jawab.

Jika ruh pendidikan pesantren dihidupkan dalam sistem pendidikan nasional, maka Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 itu akan menemukan bentuk nyatanya.
Kita tidak lagi sekadar mencetak manusia pintar, tetapi manusia beradab.
Kita tidak hanya menghasilkan lulusan berijazah, tetapi juga generasi berjiwa bersih dan berakhlak mulia.

Penutup: Dari Ilmu Menuju Amal

Pendidikan sejati bukan hanya soal transfer ilmu, tetapi tentang bagaimana ilmu itu mengubah perilaku, memperindah akhlak, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial.
Di pesantren, ilmu tidak berhenti di kepala, tetapi turun ke hati dan diwujudkan dalam amal.

Di sinilah makna sejati pendidikan mengubah manusia menjadi lebih manusiawi.
Dan selama pesantren masih menjaga warisan ini, maka harapan untuk mengembalikan ruh pendidikan bangsa akan selalu hidup.

Penulis adalah : Wakil Ketua MUI bidang Da’wah, Pendidikan, dan Pembinaan Seni Budaya Islam/ Staf Pengajar Sejarah Kebudayaan Islam pada Pondok Pesantren Tahfidz Nurul Qur’an

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

13 − four =

Kegiatan PKW Batik Diwo Kepahiang