SELAMAT HARI KEBUDAYAAN NASIONAL – MENJAGA AKAR, MERAWAT JATI DIRI BANGSA
SELAMAT HARI KEBUDAYAAN NASIONAL – MENJAGA AKAR, MERAWAT JATI DIRI BANGSA
Oleh : Imam Wakhyudin
Kemarin, bangsa Indonesia baru saja memperingati Hari Kebudayaan Nasional sebuah momentum reflektif yang setiap tahun dirayakan pada 17 Oktober.
Tanggal ini bukan sekadar pilihan tanpa makna. Pemerintah Republik Indonesia secara resmi menetapkannya karena memiliki relevansi historis yang mendalam dengan perjalanan bangsa.
Pada 17 Oktober 1951, Presiden Soekarno bersama Perdana Menteri Sukiman Wirjosandjojo menetapkan Lambang Negara Garuda Pancasila beserta semboyan yang amat agung: “Bhinneka Tunggal Ika.”
Dari peristiwa bersejarah itulah pemerintah kemudian menyebut tanggal 17 Oktober sebagai “momen identitas kebangsaan” hari di mana bangsa Indonesia meneguhkan jati dirinya sebagai bangsa yang berbudaya, beradab, dan berakar pada nilai luhur.
Lebih dari sekadar perayaan simbolik, Hari Kebudayaan Nasional adalah ajakan untuk menengok kembali akar budaya, menggali sejarah, serta menghidupkan kembali nilai-nilai yang mempersatukan Indonesia sejak lahirnya semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.
Kebudayaan bukan hanya tarian, musik, atau pakaian adat. Ia adalah fondasi moral dan spiritual bangsa ruh yang menjaga arah perjalanan negeri ini agar tetap berimbang antara kemajuan dan kemanusiaan.
Budaya adalah warisan yang bernyawa.
Ia bisa berwujud benda seperti bangunan tua, candi, batik, dan rumah adat, namun juga hadir dalam bentuk tak kasat mata: tata krama, nilai, dan kearifan lokal.
Semua itu merupakan jati diri masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi sebuah amanah yang harus dijaga, dilestarikan, dan diteruskan kepada anak cucu kita.
Sejarah pun telah memberi pelajaran berharga: siapa pun yang berusaha menghancurkan budaya, pada akhirnya akan dihancurkan oleh kesombongannya sendiri.
Sebagaimana kisah Jenderal Abrahah yang dengan congkak hendak merobohkan Ka’bah,
namun justru binasa oleh kekuasaan Allah.
Itulah isyarat bahwa kesombongan manusia tak akan pernah mampu menandingi kekuatan nilai yang suci.
Dalam konteks Indonesia, kebudayaan juga menjadi jalan dakwah dan peradaban.
Kita mungkin tidak akan mengenal Islam dengan damai dan indah
jika bukan karena Walisongo yang bijak memperkenalkan ajaran Islam melalui pendekatan budaya dan akulturasi.
Mereka tidak menghancurkan budaya lama, tetapi memeluknya dengan nilai-nilai baru yang penuh kasih dan kebijaksanaan.
Dari sinilah lahir wajah Islam Nusantara lembut, berakhlak, dan berbudaya.
Kini, tugas kita adalah melanjutkan warisan itu. Melestarikan budaya bukan hanya menjaga kain batik, lagu daerah, atau tarian tradisional, tetapi menjaga jiwa bangsa agar tidak tercerabut dari akarnya.
Sebab, bangsa yang kehilangan budaya adalah bangsa yang kehilangan arah.
Mari jadikan Hari Kebudayaan Nasional bukan sekadar seremonial tahunan, tetapi momentum untuk memperkokoh kesadaran bahwa budaya adalah cahaya peradaban dan menjaga budaya berarti menjaga Indonesia itu sendiri.
Penulis adalah : Pengajar Sejarah Kebudayaan Islam MTs/MA di Pondok Pesantren Tahfidz Nurul Qur’an Bengkulu

Tinggalkan Balasan