"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

Kekasih di Antara Pasir dan Langit: Cinta Sunyi Siti Hajar

Kekasih di Antara Pasir dan Langit: Cinta Sunyi Siti Hajar

Siang itu, matahari membakar tanpa ampun, dan sejauh mata memandang hanya ada keheningan yang mencekam. Di lembah gersang tanpa tanda-tanda kehidupan, seorang perempuan berdiri mematung. Di pelukannya, ada seorang bayi kecil yang terlelap. Di hadapannya, punggung lelaki yang paling dicintainya—Ibrahim—mulai menjauh, melangkah pergi meninggalkannya dalam kesendirian yang teramat sunyi.

Secara manusiawi, logika mana yang bisa menerima perpisahan ini? Namun, romantisnya kisah Siti Hajar bukanlah tentang belaian lembut atau kata-kata manis di senja hari. Romantisme Hajar adalah tentang cinta tingkat tertinggi. sebuah penyerahan jiwa yang utuh kepada Sang Pemilik Cinta.

Ketika ia mengejar langkah Ibrahim dan bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?” dan Ibrahim menjawab dengan anggukan, “Ya,” maka runtuhlah segala keraguan. Di sinilah kalimat paling puitis dalam sejarah keteguhan perempuan terucap:

>”Jika demikian, Dia tidak akan pernah menelantarkan kita.”

Sunyi yang Menjelma Ikhtiar

Ibrahim pergi membawa cintanya yang tunduk pada titah Tuhan, sementara Hajar tinggal bersama kesunyian yang megah. Ketika sang bayi mulai menangis kehausan, cinta Hajar tidak menjelma menjadi ratapan. Cinta itu berubah menjadi energi yang luar biasa.

Ia berlari. Dari bukit Shafa ke bukit Marwah. Bukan sekali, tapi tujuh kali. Kakinya yang lelah meniti tajamnya batu batuan, matanya menyapu fatamorgana, mencari setitik harapan demi menyambung nyawa belahan hatinya, Ismail.

Secara lahiriah, ia tampak seperti perempuan kesepian yang sedang panik. Namun secara batiniah, ia sedang menari dalam simfoni kepasrahan. Ia membuktikan kepada semesta bahwa mencintai Allah berarti bergerak, berikhtiar tanpa batas, meski hasil belum tampak di pelupuk mata.

Hadiah Cinta yang Abadi

Dan langit pun tak mampu membendung haru. Ketika ikhtiar sang hamba telah mencapai puncaknya, pertolongan tidak datang dari arah yang ia duga. Bukan dari puncak bukit tempat ia lelah berlari, melainkan dari hentikan kaki kecil putranya di atas tanah.

Muncratan air itu pecah.Bersamaan dengan kepakan sayap Jibril, mata air itu memancar.

“Zam-zam! Zam-zam!” (Berkumpullah!), seru Hajar dengan penuh syukur, membendung air yang meluap-luap itu dengan jemarinya.

Air zam-zam itu bukan sekadar pelepas dahaga. Itu adalah surat cinta dari Langit yang ditulis dengan air paling murni. Sebuah balasan tunai untuk perempuan yang menolak menyerah pada sepi. Allah seolah berkata kepada dunia: *Lihatlah perempuan ini, karena imannya, Aku suburkan tanah yang mati ini.

Cinta yang Mengalir Hingga Kini

Hari ini, ribuan tahun sejak langkah kaki Hajar terhenti di Marwah, jutaan manusia dari seluruh penjuru bumi datang untuk meniru langkahnya. Berlari kecil di antara Shafa dan Marwah (Sai), mengenang ritme cinta dan kepasrahan seorang ibu.

Dan air zam-zam itu? Ia terus mengalir. Menembus abad, melintasi zaman, tak pernah kering sedikit pun. Air itu adalah bukti abadi bahwa kesepian yang diserahkan kepada Allah akan selalu berbuah kemuliaan yang mengalir tiada henti.

Siti Hajar mengajarkan kita sisi paling romantis dari sebuah ujian: bahwa di padang pasir kehidupan yang paling gersang sekalipun, jika kita berjalan bersama Allah, mata air kebahagiaan selalu siap memancar di bawah kaki kita.

Selamat meneladani keteguhan hati, selamat merayakan cinta yang ikhlas d

i hari yang suci ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eighteen + twelve =

Kegiatan PKW Batik Diwo Kepahiang