Yayasan Az Zahra Kepahiang
Instruktur Ernawati Paparkan Lima Tahap Utama Teknis Produksi Batik Diwo
Instruktur Ernawati Paparkan Lima Tahap Utama Teknis Produksi Batik Diwo
Kepahiang, 18 Mei 2026 – Melanjutkan rangkaian kegiatan penguatan identitas lokal, Yayasan Az-Zahra Kepahiang menggelar sesi teknis mendalam dalam “Lokakarya Ke-2: Melukis Kain Diwo Motif Baru Berbasis Budaya Rejang”. Kegiatan yang merupakan buah kolaborasi strategis bersama Kementerian Kebudayaan RI, Dana Indonesiana, dan LPDP ini menghadirkan Ibu Ernawati, instruktur ahli dari IKM Umeak Kain Diwo, untuk membedah tuntas proses produksi wastra kebanggaan daerah tersebut.
Lima Transformasi Sehelai Kain Putih
Dalam paparan materinya, Ibu Ernawati menjelaskan bahwa proses transformasi kain putih menjadi Batik Diwo yang bernilai tinggi harus melalui lima tahapan utama yang presisi. Tahapan tersebut meliputi pembuatan pola (mempola), pemberian malam atau lilin, pewarnaan, penguncian warna (mewater), hingga tahap akhir yaitu pelorodan atau pelepasan lilin.
“Langkah awal dimulai dengan pemilihan media. Kami menggunakan kain jenis Primisima yang memiliki tekstur halus agar motif dapat terbentuk dengan sempurna. Di atas kain inilah para pengrajin melukis sketsa sesuai pola batik yang diinginkan,” ujar Ibu Ernawati saat memberikan demonstrasi di depan puluhan peserta lokakarya.
Teknik Pewarnaan dan Proses ‘Mewater’
Setelah proses mencanting selesai, tahap krusial berikutnya adalah pewarnaan. Ibu Ernawati memperkenalkan tiga teknik pewarnaan yang dapat digunakan oleh peserta untuk menghidupkan motif baru berbasis budaya Rejang, yakni:
- Teknik Semprot: Untuk menciptakan efek gradasi yang modern.
- Teknik Coletan: Untuk memberikan detail warna pada area-area kecil motif.
- Teknik Usap: Untuk meratakan warna dasar pada permukaan kain yang luas.
Lebih lanjut, beliau menekankan pentingnya tahap Mewater atau penguncian warna menggunakan larutan water glass. Proses ini membutuhkan waktu sekitar delapan jam guna memastikan zat warna menyatu sempurna dengan serat kain dan tidak luntur di kemudian hari.
Penyelesaian Akhir yang Teliti
Tahap akhir dari pembuatan Batik Diwo adalah pelepasan lilin. Sebelum direbus, kain batik harus direndam selama kurang lebih tiga jam. Setelah itu, kain direbus untuk meluruhkan seluruh malam yang menempel, dicuci bersih, dan dijemur hingga kering di tempat yang teduh.
“Setelah kering, kain disetrika dan dikemas dengan rapi. Sehelai kain Batik Diwo bukan sekadar produk tekstil, melainkan manifestasi kesabaran dan ketelitian pengrajin dalam menjaga warisan leluhur,” tambah beliau.
Melalui narasi literasi budaya yang disampaikan secara praktis ini, Yayasan Az-Zahra Kepahiang berharap para peserta tidak hanya mahir secara estetika dalam menciptakan motif, tetapi juga memiliki kemandirian teknis dalam memproduksi Kain Diwo yang berkualitas, sejalan dengan visi besar pembangunan literasi masyarakat di Kabupaten Kepahiang.
Momen Haru Rapat HUT ke-23: Umi Titi Sarimanah Berikan Kejutan Voucher Umrah Ceria bagi Kepsek/Guru
Momen Haru Rapat HUT ke-23: Umi Titi Sarimanah Berikan Kejutan Voucher Umrah Ceria bagi Kepsek/Guru
KEPAHIANG – Suasana khidmat di ruang pertemuan Yayasan Az-Zahra Kepahiang pada Rabu (6/5/2026). Agenda yang semula dijadwalkan sebagai rapat koordinasi persiapan hari puncak HUT ke-23 Yayasan Az-Zahra bertransformasi menjadi momen penuh tetesan air mata kebahagiaan dan optimisme spiritual.
Rapat ini digelar guna mematangkan persiapan perhelatan akbar peringatan hari puncak HUT ke-23 yang direncanakan akan berlangsung pada Sabtu, 16 Mei 2026 mendatang. Namun, suasana berubah menjadi emosional ketika Umi Titi Sarimanah hadir di tengah-tengah peserta rapat.
Penguatan Ruhani dan Kejutan Tak Terduga
Dalam kesempatan tersebut, Umi Titi Sarimanah memberikan penguatan spiritual mengenai keutamaan ibadah umrah. Beliau menekankan bahwa panggilan ke Tanah Suci adalah hak setiap mukmin yang memiliki azam (niat) yang kuat. Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap niat mulia para pendidik, secara mengejutkan beliau menyerahkan Voucher Umrah Ceria kepada para pejuang pendidikan di bawah naungan Yayasan Az-Zahra.
Suasana haru pecah saat nama-nama penerima voucher disebutkan. Lima orang kepala sekolah dan guru terpilih menjadi sosok yang beruntung mendapatkan stimulan untuk menjemput impian ke Baitullah.
Para Penerima Cahaya Harapan
Kelima pendidik yang mendapatkan kejutan Voucher Umrah Ceria tersebut adalah:
- Windi Yarsih (Kepala Sekolah PAUD Mutiara Kasih) – Voucher senilai Rp1.000.000
- Susi Yani (Guru PAUD Mutiara Kasih) – Voucher senilai Rp1.000.000
- Yesti Depika (Kepala Sekolah TK At-Thoriq) – Voucher senilai Rp500.000
- Sischa Feliyanti (Kepala Sekolah TPA Almeera Day Care) – Voucher senilai Rp500.000
- Titin Sumarni (Guru TK At-Thoriq) – Voucher senilai Rp500.000
Bulatkan Tekad Menuju Agustus 2026
Meski nilai nominal voucher tersebut beragam, maknanya jauh lebih besar bagi para penerima. Kelima guru tersebut sepakat untuk langsung menggunakan voucher tersebut sebagai uang muka (DP) pendaftaran program Umrah Ceria.
“Ini adalah langkah awal yang nyata bagi kami. Insya Allah, kami membulatkan tekad untuk berangkat ke Tanah Suci pada 6 Agustus 2026 nanti,” ungkap salah satu penerima dengan nada bergetar.
Momentum ini menjadi bukti nyata komitmen Yayasan Az-Zahra Kepahiang dalam menghargai dedikasi para gurunya. Tidak hanya fokus pada kualitas pendidikan nonformal di desa binaan, yayasan juga berusaha mewujudkan kesejahteraan spiritual bagi para pejuangnya.
Harapannya, keberuntungan yang dialami kelima guru ini menjadi pematik semangat bagi warga binaan lainnya di 10 PAUD dan 5 Desa Setara untuk terus berikhtiar dan bersinergi bersama dalam mewujudkan mimpi Umrah yang terjangkau namun berkesan.
Menata Lingkungan Sebagai “Guru Ketiga”: Workshop Pembuatan Display Kelas PHBK
Menata Lingkungan Sebagai “Guru Ketiga”: Workshop Pembuatan Display Kelas PHBK
KEPAHIANG (19/4/2026) – Memiliki ruang kelas yang indah dan penuh warna ternyata belum tentu ideal untuk perkembangan anak usia dini. Paradigma inilah yang dibedah tuntas dalam lanjutan kegiatan “Workshop Memahami Modul Pendidikan Holistik Berbasis Karakter (PHBK) IHF” yang digelar oleh Yayasan Az Zahra Kepahiang bersama tim IGSBB Provinsi Bengkulu.
Fokus pelatihan kali ini mengerucut pada satu aspek teknis yang sangat krusial dalam metode PHBK, yaitu Tata Cara Pembuatan Display Ruang Kelas. Sesi yang penuh dengan wawasan baru ini dibawakan langsung oleh Ibu Mildawati, seorang praktisi pendidik inspiratif dari PAUD Ar Rahman yang juga dipercaya sebagai tim konsultan dari Indonesia Heritage Foundation (IHF).
Ruang Kelas Sebagai “Guru Ketiga”
Di hadapan puluhan guru dari tujuh PAUD binaan Yayasan Az Zahra Kepahiang, Ibu Mildawati membuka wawasan peserta bahwa dalam metode PHBK, lingkungan fisik di dalam kelas berperan sebagai “guru ketiga”, mendampingi peran orang tua dan guru itu sendiri.
“Pembuatan display ruang kelas bukanlah sekadar lomba menghias atau mempercantik ruangan dengan pernak-pernik agar terlihat meriah. Dalam PHBK, apa yang kita tempel dan tampilkan di dinding harus memiliki tujuan edukasi dan dampak psikologis bagi anak,” papar Ibu Mildawati.
Beliau memberikan panduan praktis dan fundamental mengenai prinsip display kelas yang ramah anak dan berbasis neurosains, di antaranya:
- Mengutamakan Karya Anak, Bukan Karya Guru: Ruang kelas yang ideal harus didominasi oleh hasil karya anak-anak, betapapun sederhananya coretan tersebut. Memajang karya anak akan menumbuhkan rasa kebanggaan, rasa dihargai, dan kepercayaan diri yang tinggi (feeling the good).
- Penempatan Sejajar Mata Anak (Eye-Level): Segala bentuk display, mulai dari aturan kelas hingga gambar 9 Pilar Karakter, wajib ditempel sejajar dengan tinggi mata anak. Tujuannya agar anak bisa melihat dan berinteraksi dengan visual tersebut secara mandiri, bukan di luar jangkauan pandangan mereka.
- Membangun Rutinitas Harian: Display harus fungsional. Ibu Mildawati mencontohkan pembuatan Papan Kehadiran di mana anak menempel namanya sendiri saat datang untuk melatih tanggung jawab, serta jadwal kegiatan visual agar anak merasa aman karena tahu rutinitas mereka hari itu.
- Tidak Memicu Over-Stimulation: Penataan kelas tidak boleh terlalu penuh atau terlalu ramai oleh hiasan yang mencolok. Kelas yang terlalu padat secara visual justru akan membuat anak kelebihan stimulasi, mudah terdistraksi, dan sulit berkonsentrasi.
Transformasi Menuju Kelas Berkarakter
Materi yang disampaikan oleh Ibu Mildawati disambut dengan antusiasme tinggi. Para guru menyadari bahwa banyak kebiasaan lama dalam mendekorasi kelas yang harus mulai diubah untuk menciptakan lingkungan belajar yang berpusat pada anak.
Melalui pendampingan langsung dari praktisi yang berpengalaman seperti Ibu Mildawati, Yayasan Az Zahra Kepahiang optimis bahwa ketujuh PAUD binaan (PAUD Al Fattah, TPA Almeera Day Care, TK Cahaya Mentari, PAUD Mutiara Kasih, TK IT Bougenville Indah, PAUD Pandan Wangi, dan TK At Thoriq) dapat segera mentransformasi ruang kelas mereka. Harapannya, setiap sudut kelas di lingkungan Yayasan Az Zahra tidak hanya nyaman, tetapi juga secara konsisten menanamkan nilai-nilai karakter luhur kepada anak-anak setiap harinya.


