TBM Cahaya Kepahiang
Pemenang Lomba Telah Ditetapkan, Waktunya Tingkatkan IPLM Kepahiang Lewat Perpustakaan Desa!
Pemenang Lomba Telah Ditetapkan, Waktunya Tingkatkan IPLM Kepahiang Lewat Perpustakaan Desa!
KEPAHIANG – Upaya berkelanjutan untuk meningkatkan mutu layanan dan motivasi pengelolaan literasi masyarakat kembali diapresiasi. Melalui Surat Keputusan Dewan Juri yang ditetapkan pada tanggal 18 Juni 2026, hasil Lomba Perpustakaan Desa dan Kelurahan Terbaik Tingkat Kabupaten Kepahiang Tahun 2026 resmi diumumkan.
Lomba ini diselenggarakan dengan tujuan utama untuk memotivasi perpustakaan desa dan kelurahan agar terus memberikan pelayanan prima bagi seluruh lapisan masyarakat Kabupaten Kepahiang. Berdasarkan hasil penilaian yang bersifat final dari tim dewan juri yang terdiri dari Tony Hartanto, S.Sos. (Juri I), Sandra Hidayat, M.Pd. (Juri II), dan Deva Yurita Ambarini, SP., MP. (Juri III), berikut adalah daftar perpustakaan yang sukses menorehkan prestasi:
- Juara 1: Perpustakaan Aneka Ilmu, Desa Bogor Baru, Kecamatan Kepahiang, dengan jumlah nilai 871.
- Juara 2: Perpustakaan Rumah Ilmu, Desa Batu Ampar, Kecamatan Merigi, dengan jumlah nilai 722.
- Juara 3: Perpustakaan Sepiang Terang, Desa Air Sempiang, Kecamatan Kabawetan, dengan jumlah nilai 591.
- Juara Harapan 1: Perpustakaan Ceria Membaca, Desa Taba Saling, Kecamatan Tebat Karai, dengan jumlah nilai 398.
- Juara Harapan 2: Perpustakaan Desa Permu, Desa Permu, Kecamatan Kepahiang, dengan jumlah nilai 248.
- Juara Harapan 3: Perpustakaan Kel. Pasar Sejantung, Kelurahan Pasar Sejantung, Kecamatan Kepahiang, dengan jumlah nilai 228.
Apresiasi dan Panggilan Aksi dari Relima Kepahiang
Menyambut pencapaian yang membanggakan ini, Relima Kepahiang, Helmiyesi, M.Si., turut memberikan ucapan selamat sekaligus pesan penyemangat bagi seluruh pegiat literasi di desa:
“Selamat dan sukses yang sebesar-besarnya kepada seluruh pemenang Lomba Perpustakaan Desa dan Kelurahan Terbaik Tingkat Kabupaten Kepahiang Tahun 2026! Pencapaian ini adalah bukti nyata dari dedikasi dan kerja keras kawan-kawan pengelola dalam membuka jendela pengetahuan bagi masyarakat.”
Helmiyesi juga menegaskan bahwa penghargaan ini harus menjadi titik tolak untuk aksi yang lebih masif. Seluruh pengelola perpustakaan desa, masyarakat, dan perangkat desa diajak untuk merapatkan barisan.
“Mari kita jadikan momentum kemenangan ini sebagai pemantik untuk semakin menghidupkan perpustakaan desa. Jangan biarkan buku-buku hanya terpajang rapi di rak! Aktifkan berbagai kegiatan literasi, jadikan perpustakaan sebagai ruang inklusif untuk berdiskusi, belajar keterampilan, dan berkreasi. Dengan kolaborasi nyata, kita optimis Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) di Kabupaten Kepahiang akan terus meningkat!”
Pengisian IPLM dapat melalui link https://docs.google.com/spreadsheets/d/1I2RT4B2U4iivyuL8sXjz81fC-hkXc6jX/edit?gid=1774683617#gid=1774683617
Literasi Kopi Semang Desa Batu Ampar
LITERASI KOPI SEMANG DESA BATU AMPAR
KEPAHIANG (18/6/2016) – Kopi bukan sekadar tentang rasa yang tercecap di lidah, melainkan tentang kisah di balik setiap bijinya. Di Desa Batu Ampar, sebuah desa penyangga Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kaba, Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, lahir sebuah produk kopi premium yang sarat akan nilai kearifan lokal dan spiritualitas: Kopi Semang
Dikembangkan oleh kelompok Perempuan Alam Lestari (PAL), Kopi Semang bukan komoditas bisnis biasa. Ia adalah simbol gerakan lingkungan sekaligus perayaan martabat para perempuan lansia di usia senja melalui tradisi luhur yang disebut Nyemang.
Filosofi *Nyemang*: Kemandirian dan Martabat di Usia Senja
Secara harfiah, *Nyemang* adalah aktivitas memungut biji kopi yang berjatuhan di lantai kebun. Biji-biji ini jatuh setelah kulit luarnya yang manis habis dimakan oleh satwa liar penghuni hutan, seperti tupai, monyet, atau kelelawar.
Bagi perempuan lansia di Desa Batu Ampar, tradisi ini adalah ruang pembuktian bahwa usia senja bukanlah alasan untuk berhenti berdaya. Melalui filosofi selama kaki masih bisa melangkah dan tangan masih bisa memungut, hidup harus terus berdaulat, mereka mempertahankan harga diri dengan menghasilkan pendapatan mandiri.
Hasil dari memungut biji demi biji kopi ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan dapur hingga membelikan jajanan bagi cucu tercinta, tanpa harus menjadi beban bagi anak-anak mereka.
Hebatnya, tradisi ini dirajut oleh hukum adat yang sangat indah. Pemilik kebun di Desa Batu Ampar tidak boleh melarang atau memarahi siapa pun, terutama para lansia, yang masuk ke lahan mereka untuk *Nyemang*.
Ini adalah potret nyata solidaritas sosial—sebuah filosofi berbagi tanpa merasa kehilangan, di mana modal sosial berupa rasa saling percaya tumbuh subur di atas segalanya.
Pilihan Satwa, Diproses dengan Kasih Sayang
Sekilas, konsep Kopi Semang mirip dengan kopi luwak. Namun, keunikannya terletak pada kebebasan satwa liar yang hanya memakan kulit ceri kopi yang benar-benar matang di pohon, lalu menyisakan bijinya begitu saja.
Biji pilihan alam inilah yang kemudian dikumpulkan secara telaten oleh tangan-tangan sabar para lansia. Proses yang lambat, kontemplatif, dan penuh rasa syukur ini dilanjutkan dengan penyortiran manual menggunakan tampah, dibersihkan, hingga diproses secara higienis. Ketelatenan ini menghasilkan cita rasa kopi premium yang khas, yang konon memberikan sensasi ketenangan dan “bahagia” bagi siapa saja yang meminumnya.
Misi Gerakan Tangguh Iklim dan Harmoni Alam
Di balik nikmatnya secangkir Kopi Semang, ada pesan kuat tentang konservasi dan adaptasi perubahan iklim. Perempuan petani di Desa Batu Ampar menanam kopi dengan sistem agroforestri—tumpang sari bersama pohon buah seperti durian, alpukat, dan jengkol.
Pohon-pohon pelindung inilah yang menjadi benteng hijau pelestarian lingkungan sekaligus habitat alami bagi satwa liar. Melalui Kopi Semang, para lansia dan perempuan petani setempat mengajarkan filosofi koeksistensi (hidup berdampingan secara damai). Manusia tidak perlu memusuhi atau memburu satwa yang memakan buah kopi mereka. Satwa mengambil haknya berupa kulit buah, dan manusia memungut berkah dari biji yang ditinggalkan.
Kopi Semang adalah bukti nyata bagaimana sebuah produk lokal dari sudut Kepahiang mampu menyatukan untaian doa, pelestarian bumi, dan penegakan martabat perempuan dalam satu cangkir yang menghangatkan jiwa.
Mengenal Lebih Dekat Umi Yesi: Srikandi Literasi, Pelestari Bahasa, dan Relima 2026 dari Kepahiang
Mengenal Lebih Dekat Umi Yesi: Srikandi Literasi, Pelestari Bahasa, dan Relima 2026 dari Kepahiang
Di tengah sejuknya udara Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu, lahir berbagai inisiatif luar biasa dari seorang pegiat literasi perempuan yang akrab disapa Umi Yesi. Memiliki nama lengkap Helmiyesi, M.Si., tokoh inspiratif yang berdomisili di Kelurahan Padang Lekat ini mendedikasikan hidup, waktu, dan kariernya untuk dunia pendidikan, sosial, serta memajukan budaya membaca di daerahnya.
Mengemban Amanah Baru sebagai Relima 2026 Lokus Kepahiang
Kiprah panjangnya di dunia literasi kini memasuki babak baru yang semakin strategis. Berdasarkan Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia Nomor 98 Tahun 2026, Umi Yesi secara resmi terpilih dan ditetapkan sebagai Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Tahun 2026.
Dalam program nasional ini, beliau dipercaya memegang amanah penting untuk lokus Kabupaten Kepahiang selama masa kontrak pengabdian dari Juni hingga Oktober 2026 ke depannya. Sebagai Relima, Umi Yesi siap mengemban tugas mulia mulai dari menginventarisasi data perpustakaan, mengadvokasi pemanfaatan anggaran seperti Dana Desa, hingga mengajak seluruh ekosistem literasi lokal—baik TBM, Kampung Dongeng, maupun perpustakaan desa—untuk berkolaborasi membangun literasi masyarakat yang kuat dan membumi.
Penggerak Pendidikan dan Tokoh Literasi Masyarakat
Sebelum terpilih sebagai Relima, nama Umi Yesi memang sudah lekat dengan dunia pengabdian masyarakat. Saat ini, beliau dipercaya mengemban jabatan penting sebagai Sekretaris Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (BAN PDM) Provinsi Bengkulu untuk masa bakti 2025–2028. Selain itu, jiwa kepemimpinan dan sosialnya juga tersalurkan lewat perannya sebagai Ketua Yayasan Az Zahra Kepahiang yang dipimpinnya sejak tahun 2010.
Hobinya yang kuat dalam dunia tulis-menulis tidak hanya ia simpan sendiri. Umi Yesi memiliki visi mulia untuk melahirkan penulis-penulis baru dari berbagai kalangan. Hal ini ia wujudkan dengan mendirikan Sabusabu (Satu Bulan Satu Buku) pada tahun 2018, sebuah kelas menulis inspiratif yang hingga hari ini masih aktif mencetak karya. Beliau juga kerap membagikan ilmunya dengan menjadi narasumber kelas menulis serta pemateri seminar di berbagai daerah.
Jejak Karya dan Dedikasi Melestarikan Budaya Lokal
Kecintaannya pada literasi dibuktikan lewat karya-karya yang sangat produktif. Pada tahun 2025, Umi Yesi menorehkan pencapaian membanggakan dengan fokus pada pelestarian kearifan lokal. Ia menerbitkan sejumlah antologi cerpen yang mengangkat bahasa daerah Rejang, di antaranya Temujeu Dalen Belek (Menuju Jalan Pulang), Temulis Kisah: Antaro Cinto Ngen Cito-cito, dan Coa Cukup Ngen Mipie, Suhet Utuk Harapan.
Tidak berhenti di sana, beliau juga merilis buku Cerita Anak Dwibahasa bertajuk Kelengitan Curuq Embun (Curuq Embun yang Hilang) serta sukses berkolaborasi bersama tokoh literasi nasional, Gola Gong, dalam antologi fiksi mini yang memecahkan Rekor MURI di tahun 2025.
Rentetan Apresiasi dan Penghargaan Bergengsi
Dedikasi nyata Umi Yesi telah diakui secara luas, mulai dari tingkat regional hingga nasional. Kiprahnya diapresiasi langsung oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) RI yang menganugerahinya Plakat Pegiat Perempuan serta Piagam Penghargaan dalam momentum Hari Aksara Internasional Tingkat Nasional pada tahun 2021.
Di tingkat provinsi, tulisan dan kecintaannya pada bahasa diapresiasi lewat Penghargaan Penulis dan Penerjemah Buku Cerita Anak Dwi Bahasa dari Kantor Bahasa Provinsi Bengkulu. Kemampuannya di bidang literasi juga diakui oleh Perpusnas Press dengan menyabet Juara 2 pada ajang Inkubator Literasi Pustaka Nasional (ILPN) Provinsi Bengkulu di tahun 2024.
Helmiyesi (Umi Yesi) adalah bukti nyata bagaimana hobi yang dikelola dengan cinta, ilmu, dan semangat berbagi mampu melahirkan gerakan yang berdampak luas. Melalui peran barunya sebagai Relima Perpusnas RI di Kabupaten Kepahiang, langkah nyata beliau ke depannya dipastikan akan semakin menginspirasi, membawa solusi bagi tantangan literasi pelosok, dan merawat budaya luhur bangsa agar semakin kokoh di hati masyarakat.


