Penerbitan Buku
Suami Yang Telanjang
Suami yang telanjang
“Assallamu alaikum Mii…Umi buka terapi ya? Aku lihat artikel berdamai dengan diri sendiri yang Umi upload kemarin. Perasaan wanita di artikel itu sama seperti yang aku rasakan saat ini. Aku mau juga diterapi Mii” sebuah pesan masuk ke whatsApp pribadiku. Seorang sahabat yang sering mencetak buku karya ilmiah guru-guru Sekolah Dasar melalui Penerbit Yayasan Az Zahra Kepahiang. Sebut saja namanya Melati.
“Wa alaikum salam wr.wb…Iya sudah setahun ini saya membuka layanan konseling, terapi energy” jawabku segera dengan tambahan emoji senyum, sebagai bentuk keramahtamahan.
“Aku mau mii…bisa nggak dibantu?” jawabnya lagi.
“Masih bisa ditahan perasaannya? Karena kita sedang puasa ini. Kalo konseling pasti kita bicara hal-hal yang menyakitkan dan tentang seseorang. Bisa mengurangi pahala puasa. Jika masih bisa dikendalikan perasaannya maka kita jadwalkan setelah lebaran, atau minggu depan. Namun jika perasaan itu sangat menganggu, bisa datang kapanpun Melati mau. Selagi umi tidak ada agenda di luar, insyaallah siap membantumu”
“Ini benar sudah tak tahan lagi Mi,,kalau tidak diselesaikan cepat, akibatnya sangat buruk. Oh ya, aku mau tanya juga Mi, biaya terapi berapa Mi? Aku mau sampai selesai terapinya Mi.”
“Jangan pikirkan biayanya. Sehat yang utama. Bahagia bonusnya” jawabku kembali mengirim emoji penuh cinta dilayar chat itu.
“Aku takut nggak terbayar jasanya Umi yang insyaallah endingnya bahagia itu. Tapi aku pengen banget Mi diterapi”
“Sudahlah,…Umi ini bukan dokter, hanya seorang terapis. Jangan sungkan” jawabku lagi. Nggak enak bicara tarif sama sahabat sendiri.
“Kapan ada waktu Mi?” desak Melati.
“Tengok kondisi besok ya” aku tidak berani membuat jadwal pasti karena masih ada agenda kerja yang mesti segera aku selesaikan sebelum lebaran nanti.
“Ya mi, pokoknya kalau Umi benar-benar bisa menyediakan waktu khusus untuk aku, Umi hubungi aku aja, kapanpun, insyaallah siap”
“Nggak khawatir batal puasanya?”
“Lah mi, kalau nangis batal ya??”
“Bukan karena nangisnya, karena efek terapi biasanya mual dan muntah, Jika tekanan jiwa hebat keluar…” jawabku sedikit menjelaskan efek terapi energy yang akan dilakukan nanti.
“Nggak pa-pa mi, insyaallah demi kebaikan, nanti bisa dibayar puasanya” jawabnya mantap.
Aku mengakhiri sesi tanya jawab ini karena waktu berbuka puasa hampir tiba. Aku juga harus mempersiapkan diri karena dijadwalkan ada klien yang akan datang konsultasi bakda Isya nanti. Aku berharap masalah Melati masih bisa dia tahan, dan tidak mengambil keputusan yang gegabah.
…………………………………….
Keesokkan harinya aku beraktifitas seperti biasa, duduk dikantor menyelesaikan administrasi di yayasan yang belum selesai dikerjakan. Bekerja di rumah ditengah pandemi ini cukup menyita waktu. Apalagi staf dan karyawan sudah mulai libur menjelang hari raya lebaran idul fitri yang sebentar lagi. Otomatis pekerjaan di yayasan aku handle sendirian.
Pukul 10.15 wib aku mulai jenuh dengan pekerjaan yang sedang dikerjakan. Tiba-tiba ingat dengan Melati. Mungkin ada baiknya dia datang sekarang. Untuk jedah waktu ditengah pekerjaan yang tak kunjung selesai.
“Assallamu alaikum Melati, Umi ada waktu hari ini…bisa datang?” chatku di WA pribadi.
“Waalaikumsalam, iya Mi,….aku ke PA sebentar ya. Ini sudah di Kepahiang. Bisa tunggu sebentar Mi?” jawabnya segera, jarak rumah Melati memang jauh dari kediamanku.
Tak berselang lama, datang sebuah motor memasuki halaman Yayasan, Melati turun dan langsung menghampiriku.
“Oh…sudah datang, darimana tadi?” tanyaku basa-basi sambil menutup semua file yang tadi terbuka dan segera mematikan layar computer agar bisa mendengarkan curhat Melati dengan maksimal. Tak lupa aku senyapkan nada dering hp agar tak menganggu saat konseling berjalan.
“Dari PA mii…urus perceraian” jawaban yang cukup membuatku terkejut.
“PA maksudnya Pengadilan Agama?” tanyaku untuk memastikan persangkaanku.
“Iya…aku ngadu kesana tadi”
“Ya allah sudah sampai segawat itu masalahnya?” Dia tidak menjawab tanyaku, diam sembari berusaha memberikan senyuman, senyum yang dipaksakan.
Aku mengajaknya ke ruang konseling, duduk di karpet supaya lebih nyaman, tak lupa membawa tissue. Karena pasti akan digunakan pada saatnya nanti.
Seperti biasa aku akan bertanya tentang perasaanya, “Gimana…apa yang terjadi?”
“Darimana harus cerita Mii?”
“Ceritakan saja bagaimana perasaanmu saat ini”
“Saakit” jawabnya bergetar, mengambil tissue dan mengusap air mata yang siap bercucuran.
“Apa yang membuatmu sakit?”
“Dia berhubungan dengan wanita lain. Saya nggak ikhlas Mii. Saya nggak sanggup membayangkannya Mii. Dia berbuat hal itu di rumah kami, kamar kami” tanggisnya pecah. Akupun tertegun mendengar cerita ini. Astaqfirullah al adzim ucapku dalam hati.
“Dia beli?” tanyaku hati-hati. Dia mengangguk.
“Kok tahu?” tanyaku lagi…penasaran.
“Saat itu kami sedang ribut besar, aku pulang ke rumah orangtuaku. Sebulan aku tidak menghubungi dia dan dia tidak menjemputku. Lalu kami dimediasi keluarga agar rujuk kembali. Akhirnya melalui musyawarah dengan keluarga dan perangkat desa kami bersatu lagi. Nah…saat aku kembali itulah aku lihat chat wa di hpnya. Perempuan itu mengaku baru sekali melakukan dengan suami, tapi teman-temannya ada juga yang sudah pernah tidur dengan suami. Aku hancur Mii…aku benci sekali…kami ribut lagi. Dan giliran suami yang pergi meninggalkanku. Makanya aku ngadu dan lapor sama pengadilan agama. Aku mau pisah aja Mii” dia meremas tissue sisa mengelap air mata tadi.
“Emang sudah siap benar ingin pisah?” tanyaku menguji kedalaman tekatnya.
“Enggak Mii….aku masih sayang, tapiiii…..” tanggisnya semakin menjadi. Aku pegang tangannya terasa dingin. Ini pertanda dia sedang tune ini, merasakan sakit yang luar biasa di hatinya.
Aku manfaatkan kondisi ini untuk memulai terapi. Mengetuk ngetuk titik meridian tubuh dengan dua jariku. Sembilan titik meredian selesai di tapping. Aku ulangi lagi…dia masih menangis sambil meratap, mengungkapkan kekesalan dan kekecewaannya terhadap suami. Aku tidak bicara, sibuk melapalkan doa untuk ketenangan sahabat yang sedang menderita ini. Mengalirkan energy positif melalui doa dan pengharapan hanya kepada Allah swt.
Berlahan tanggisnya reda, diapun sibuk mengatur napas dan mengelap hidung untuk melonggarkan aliran udara masuk ke paru-paru. Prosedur gamut pun aku lakukan, memintanya memejamkan mata lebih dalam, melotot dan mengerakkan otot mata. Aku minta dia bergumam tapi dia mengeleng, tidak mampu bergumam. Aku minta dia berhitung skala 1 sampai 5. Aku minta dia bergumam lagi, dia masih mengeleng pertanda tidak mampu. Ya sudah tidak apa. Aku menjeda sejenak…memberi waktu udara masuk lebih banyak untuk mengurai rasa sesak di dada. Lalu menuntunnya menarik napas dan mengeluarkan udara lewat mulut secara berlahan. Dia menurut dan tetap memejamkan mata. Kesedihan itu masih enggan pergi darinya.
Tiba-tiba dia menekan dada sebelah kiri, sedikit meringis.
“Ada apa, apa yang kau rasakan? Sakit?”
“Nyeri Mii”
“Apa lagi yang kau rasakan?”
“Kepala pusing dan bahu sakit juga, sebelah kanan”
“Bagus…itu pertanda terapinya berjalan dan bereaksi di tubuhmu. Nanti akan hilang sendiri, jangan khawatir”
“Aku ingin balas dendam Mii…supaya dia menyesal” dia membuka mata dan terlihat kesal dengan sorot marah.
“Dengan cara apa? Melakukan hal yang sama?” aku membalas tatapan tajam matanya. Dia melengos menghindari tatapanku yang menyelidik. Menunduk dan terus memainkan tissue bekas air mata tadi.
“Seharusnya dia datang dan menjemputku Mii…bukan main sama perempuan nakal. Aku juga banyak godaan selama sebulan itu. Ada beberapa laki-laki yang mendekat dan merayu. Tapi aku tahan karena aku sadar aku masih isteri orang. Nah dia….? Aku benar-benar benci Mii” ujar Melati sambil merobek tissue bekas air mata tadi.
Aku diam sejenak, menarik tapas, mengatur intonsi suaraku agar terdengar jelas dan merasuk di kalbunya. Hal penting yang perlu dia ketahui tentang hakikat kehidupan dan ketentuan Tuhan.
“Melati tahu nggak…meskipun dia melakukan perbuatan maksiat…perbuatannya itu atas izin Allah. Allah izinkan dia memilih di jalan yang salah. Dia yang memilih jalan maksiat. Bukan hanya hal baik yang terjadi dengan izin allah, namun juga hal buruk dan dosa. Dan Allah punya maksud dibalik semua itu” Melati memandangku tak berkedip, tak menyangka kalimat ini akan dia dengar. Bagaimana mungkin Allah yang izinkan? Begitu kira-kira arti tatapan matanya. Aku tersenyum dan melanjutkan kalimat tadi agar dia tidak salah pengertian.
“Apa yang terjadi dengan kita karena kesalahan kita sendiri. Allah sedang memberi kita pelajaran atas apa yang pernah kita perbuat di masa lalu. Coba diingat-ingat pernahkah Melati berpikiran buruk, menuduh, menghina atau mengolok-olok orang lain yang posisinya sama seperti yang kau rasakan saat ini. Entah itu orangtua, mertua, keluarga, sahabat atau masyarakat yang kita, mungkin tanpa disadari menyakiti hati mereka”
Melati menunduk seolah mengingat sesuatu. Dan dia menangis lagi. Dia menutup mulutnya dan mengangguk-angguk membenarkan perkiraanku.
“Ketemu jawabannya?” tanyaku pelan.
Dia terus menunduk dan menangis lagi, lebih keras dari sebelumnya. Aku diam….memberi kesempatan dia menumpahkan perasaannya lewat tangisan. Setelah reda, aku pegang tangannya…masih dingin.
“Jika jawabannya sudah ketemu, perasaanmu akan lebih baik. Umi bantu terapinya. Mau duduk seperti ini atau dikursi?” tawarku.
“Di kursi aja Mii…kakiku kesemutan”
“Baiklah…”
Aku menyiapkan dua buah kursi untuknya dan untukku sendiri. Terapi dimulai dengan kalimat set up, Ya allah…walaupun saat ini aku sedang membenci suamiku, karena dia telah berbuat maksiat. Aku merasa marah dan jijik dengan kelakuannya itu. Tapi aku terima ya allah…aku terima perasaan marah, benci dan jijik ini. Dan aku pasrahkan normalnya rasa itu padaMu. Aku ikhlas …aku pasrah. Kalimat set up ini diulangi tiga kali. Lalu dilanjutkan dengan Tune In.
Aku memintanya untuk berani membayangkan suasana suami dan perempuan itu saat berada di kamarnya. Tune in adalah merasakan emosi terdalam yang sedang terjadi pada dirinya. Tangisnya kembali pecah pertanda klimak emosinya. Aku segera melanjutkan tapping proses mengetuk titik meridian tubuh seperti gerakan totok dengan dua jari telunjuk dan jari tengah. Aku menuntunnya untuk curhat dan menerima kondisinya, namun suaranya tertahan. Dia tak sanggup berkata-kata. Akupun tak memaksa, tetap menuntunnya di sela isak tanggis yang kian menjadi. Berlahan dia terlihat rileks dan nyaman. Segera aku akhiri sesi tapping dengan tarikan napas syukur kepada Allah SWT. Adzan dhuhurpun berkumandang mengiringi sesi terapi ini.
“Umi…aku ingin pulang dan bertemu dengannya. Aku ingin memeluknya Mii” lirih dia berucap diantara tarikan napasku yang belum tuntas.
“Masyaallah….ya allah….terimakasih ya allah” ucapku penuh syukur. Agak terkejut dengan sikap yang berubah drastis ini. Ya allah….duhai engkau yang maha membolak balikkan hati.
“Sudah bisa berdamai dengan hatimu? Bisa menerima dia kembali?” tanyaku untuk menegaskan isi hatinya. Dia mengangguk dan menghapus sisa airmata dengan tissue kembali.
Seperti klien lainnya aku memeluk Melati dengan mentransfer energy positif yang kupunya. “Itulah isteri…itulah isteri…sangat mudah memaafkan suami yang terlanjur berbuat salah. Isteri adalah pakaian bagi suami. Jika pakaiannya lepas…isteri pergi, maka suamipun telanjang. Karena ketelanjangan itulah maka dia berbuat maksiat. Maka tutupilah tubuh suamimu dengan menjadi pakaian terbaik baginya. Pakaian yang pas dan nyaman untuk dipakai. Jangan lagi lari darinya” pesanku berbisik di telingga kanannya.
“Iya Umi…iya Mii…terimakasih ya Mii. Berapa aku harus membayar terapi ini Mii?”
Aku lepaskan pelukanku dan tersenyum manis padanya, “Ini hari baik, bulan baik dan tujuan yang baik. Umi tidak mau dibayar sekarang, sedekah energy. Bayarlah dengan kabar gembira darimu nanti. Bahwa kau bahagia. Itu saja”
Diapun pulang meninggalkanku dengan senyum dan pengharapan. Gengaman tangannya sudah terasa hangat.
Ajakan Kebaikan, Menerbitkan dan Membeli Buku
Kabar gembira ni guys,!
Buat kamu yang hobi nulis, hobi corat coret kertas or buku diari, hobi ketik karya puisi, cerita pendek, novel atau artikel ilmiah. Nah…ayo kirim ke kami naskah anda supaya diterbitkan. Daripada hilang….daripada terbuang…daripada hanya tersimpan. Sayang kan? sudah capek nulis, capek ngetik, capek berkarya tapi tidak ada wujudnya. Yuk…buruan dah…..kirim naskahnya…terbitkan bersama kami. Ini alurnya…..baca baik-baik ya..

Jika berminat langsung aja ikuti tahapannya.
Ini ada beberapa contoh karya yang sudah kami terbitkan. Bisa di order juga ya guys. Pemesanan/pembelian via online di wa 0852-6788-7453.

Judul: Memori Onde-onde (Antologi Cerpen)
Penulis: Egi Seliyanti, dkk. (Pelajar di SMP N 1 Kota Tegal, Jateng)
ISBN: dalam proses
Jumlah halaman: 268 Hal, ukuran buku 13 x 19 cm
Cetakan Pertama: Oktober 2019
Sinopsis:
Angin pagi berhembus mencium pipiku. Kicauan burung menjadi lagu pertama yang ku dengar. Aku adalah Zeno Pratama. Seorang pengusaha muda kuliner khas Indonesia yang baru menamatkan kuliah S1 bidang akutansi
Hidupku berubah drastis setelah bertemu kembali dengan dia. Aku jadi ingat kenangan itu saat masih SMA. Ku hirup udara taman dekat gedung perusahaan dalam-dalam dan mulai bernostalgia dengan kenangan lama.

Judul: Fenomena Dua JEJAK (Antologi Puisi)
Penulis: Budi Susanto Diporedjo (Guru SMPN 2 Girisubo, Gunungkidul, Yogyakarta)
ISBN: 978-623-90806-2-4
Jumlah Halaman: 125 Halaman, ukuran buku 13 x 19 cm
Cetakan pertama: September 2019
Harga jual Rp.47.000,- Via Wa 0852-6788-7453 (Hasil penjualan disumbangkan untuk biaya operasional pendidikan Pekerja Anak yang sekolah Paket A/B/C di PKBM Az zahra Kepahiang)
Kata Penulis: Menulis puisi bagi saya adalah kebiasaan. Spontanitas. Bentuk respons ketika jiwa bersentuhan dengan aura tertentu dalam keseharian. Tanpa basa-basi terkemas dalam kata indah. Apa adanya. Vulgar.
Sebagaimana lainnya. Ada kalanya merasa heran, kaget, takut, marah, benci, rindu, bimbang, bahkan hampir putus asa menjalani kehidupan yang kian kompleks ini. Tapi karena saya terlahir sebagai orang yang tidak tertarik pada kekerasan verbal, aksi massa, maupun ingar bingar lainnya, semua tertumpah dalam kata yang lazim disebut antologi ini.

Judul: Epilog Dua Hati (Antologi Cerpen)
Penulis: Dwi D Pratiwi, dkk. (Alumni kelas menulis Sabusabu Az zahra angkatan ke-3)
ISBN: 978-623-90806-1-7
Jumlah halaman: 202 Hal, ukuran buku 13 x 19 cm
Cetakan Pertama: Juli 2019
Harga jual Rp.55.000,- Via Wa 0852-6788-7453 (Hasil penjualan disumbangkan untuk biaya operasional pendidikan Pekerja Anak yang sekolah Paket A/B/C di PKBM Az zahra Kepahiang)
Sinopsis:
Semua persiapan pernikahan berjalan sempurna, tinggal menunggu hari. Aku nelangsa. Pagi tadi aku mendapat kabar yang membuatku shock, dia kembali. Edwar, yang semula mengirim permintaan pertemanan di facebook dengan nama samaran “angin laut”, mengirimkan pesan.
“Assalamualaikum Via. Aku Edwar. Apa kabar?” mesengger darinya yang mampu mengobrak-abrik perasaanku.
Kubuka profilnya di facebook. Tidak banyak informasi yang bisa kudapat tentangnya. Foto profilnya pun hanya berupa petikan foto pemandangan lautan yang luas. Mengapa harus memakai nama lain saat dia mengirimkan permintaan pertemanan itu? Seandainya aku tahu dari awal bahwa angin laut itu adalah dia, mungkin aku tidak perlu tersiksa lama dalam kerinduanku. Gerakan jari-jariku menari dan berlomba mengetik huruf perhuruf di layar handphone tak mampu kukendalikan. Aku seakan lupa semuanya, bahkan tentang Ilham.
“Alhamdulillah baik. Bagaimana kabarmu?” inginku bertanya lebih. Banyak hal yang ingin kuketahui tentangnya sekarang. Sosok Edwar kembali memenuhi benakku. Sosoknya yang tinggi jangkung, matanya yang sipit dan senyumannya yang menawan kembali berkelebat. Aku merindukannya.

Judul: MELAWAN RASA (Antologi Cerpen)
Penulis: Fromes Media Bagite, dkk. (Karya alumni kelas menulis Sabusabu Az zahra angkatan ke-2)
ISBN: 978-602-53476-8-9
Jumlah 233 halaman, ukuran 13 x 19 cm
Cetakan pertama: April 2019
Harga jual Rp.62.000,- Via Wa 0852-6788-7453 (Hasil penjualan disumbangkan untuk biaya operasional pendidikan Pekerja Anak yang sekolah Paket A/B/C di PKBM Az zahra Kepahiang)
Sinopsis:
Semuanya berubah ketika suamiku pulang larut malam bahkan subuh menjelang, aroma alkohol tercium dari mulutnya. Ia menjadi pecandu Narkoba, memakai shabu-shabu yang menyebabkan ia bertahan tidak tidur selama dua hari dua malam dan tidak ada nafsu makan.
Rasa menghargai itu tak ada lagi, rasa cinta pun beralih entah kemana. Mata dengan tatapan kasih itu tak pernah kutemui lagi. Aku berjuang untuk pernikahan ini, untuk tetap dirumah ini demi buah hatiku. Aku berjuang secara ekonomi dan finansial.
Gruubakkk….! terdengar suara pintu rumah terbuka, disusul deru motor. Jam dinding menunjukkan pukul 2 pagi, aku tergopoh gopoh keluar dari balik kelambu tempat tidur. Menuju ruang tengah dan menghidupkan lampu ruang tamu. Rambutku acak-acakan, dasterku berbau ompol dan air susu.
“Uaakkk…uakkk…. ” terdengar rintihan suara, muntah berserakan di lantai, suamiku berbaring diambal depan televisi.

Judul: Dandelion (Antologi Cerpen)
Penulis: Leci Zohar, dkk. (Alumni kelas menulis Sabusabu Az zahra angkatan ke-1)
ISBN: 978-602-53476-6-5
Jumlah 274 halaman, ukuran 13 x 19 cm
Cetakan Pertama: Maret 2019
Harga Jual: Rp.69.000,- Via Wa 0852-6788-7453 (Hasil penjualan disumbangkan untuk biaya operasional pendidikan Pekerja Anak yang sekolah Paket A/B/C di PKBM Az zahra Kepahiang)
Sinopsis:
“Dasar Pelakor! Plak! Plak!” tak terkendali tanganku sudah mendarat tanpa hambatan di pipi mulus Dina.
Sebuah tangan besar berusaha mencegahku, “Jangan kurang ajar Irwan!! Dia ibu mu sekarang!” Nanar kutatap wajah ayahku. Aku tersakiti kembali, aku mau mati, duniaku terbalik duniaku hancur. Terbayang wajah ibuku, wajah sendu ibuku, wajah tanpa dosa dan tak berdaya, wajah ibu yang menantikan kehadiran ayah di saat- saat terakhir hembusan nafasnya.
Kucengram kerah baju ayah, tubuh ayahku yang gempal terasa mengambang di udara. Kuhempaskan tubuh gempal itu ke arah sofa, tak kuasa kutahan tangis amarahku, aku berlutut di kaki ayah, aku bersimpuh dan aku meratap.
“Apa kesalahan ibu ayah? Dosa apa yang telah ibu perbuat pada ayah? Adakah kata-kata ibu menyakiti perasaan ayah? Adakah pelayanan ibu tak baik pada ayah sehingga ayah tega berlaku seperti ini pada ibu?” Kupeluk erat kaki ayahku, seperti anak kecil memohon ampun. Hatiku hancur berkeping-keping, mengingat sosok ibu yang begitu mengabdi pada ayah, memenuhi semua kebutuhan hidup ayah.
Namun tangisku tak juga mampu membuka jendela hati ayah. Rayuan dan ratapanku yang mengharu biru tak jua meluluhkan perasaannya. Dia tak bergeming, dan pergi meninggalkan rumah dengan Dina. Pacar yang kini menjadi ibu tiriku.
Aku meratapi dukaku dan duka ibuku. Duka ini tak jua kunjung berakhir. Duhai Ibu, dukamu telah kau bawa hingga liang lahat, sedangkan dukaku baru di mulai hari ini.

Judul: Perjalanan Pembuktian Cinta (Novel)
Penulis: Susilaeviyanti (Alumni Kelas menulis Sabusabu Az zahra)
ISBN : 978-623-90806-0-0
Harga Jual Rp.63.000,-
Sinopsis:
“Begini, Silla sebenarnya aku menyukai kamu” ucapnya sambil menunduk.
“Apa….!? Fian kamu becanda kan?, Hahahaha…kamu lucu juga ya becanda nya” nampak Silla tertawa lepas mendengar ucapan tersebut.
“Tidak Silla, tidak bercanda, aku serius sejak pertama kita bertemu aku jatuh cinta sama kamu”, kembali Fian menyampaikan perasaannya terhadap Silla. Namun semua ucapan Fian membuat Silla tertawa semakin lucu.
“Fian umur kamu berapa sekarang?”,Silla mencoba bertanya kepada Fian.
“Umurku sekarang baru 16 tahun. Kenapa kamu mempertanyakan tentang umur? ” Fian balik bertanya.
“Hahaha…aduh…Fian kamu ini lucu banget ya” kembali Silla tertawa dengan sikap Fian. Fian pun menunduk mendengar kata-kata Silla barusan.
“Fian, kamu itu lebih pantas jadi adik ku!” masih dengan menahan tawanya Silla memandang ke arah Fian.
“Dan kamu harus tahu kalau aku ini punya anak atau singel parent” Silla mencoba menyatakan statusnya.
“Maksud kamu?” tanya Fian dengan wajah tercengang.

Judul: Mikrofthalmia, Dua Mata Tapi Tak Sama
Penulis: Siti Asma (Alumni Kelas Menulis Sabusabu Az zahra)
ISBN: 978-602-53476-9-6
Cetakan pertama : Mei 2019, Cetakan kedua: Agustus 2019
Harga Jual: Rp.55.000,-
Sinopsis:
“Dokter, kenapa mata anak saya satunya belum buka dok?”
Dokter memeriksa mata bayiku dan ia juga terkejut. Saat ia menyambut bayiku ia tidak melihat ada tanda-tanda yang kurang pada pasiennya. Namun ia berusaha tenang, agar aku tidak panik.
Nanti saya akan meminta dokter spesialis anak untuk memeriksanya. Keesokan harinya dokter spesialis anak pun datang dan langsung melihatnya.
Ia berkata “Sus, tolong hubungi spesialis mata ya, segera!” perintahnya.
Suster berlari keruang tunggu dan menghubungi dokter spesialis anak.
Aku dan suamiku semakin khawatir terhadap anak kami. Dokter belum mau memberitahu diagnosanya. Tak lama kemudian dokter spesialis mata tiba. Ia mendiagnosa Mikrofthalmia yang berarti mata anak kami tidak berkembang sempurna sejak dalam kandungan. Faktor penyebabnya adalah genetik dan keturunan. Tindakan yang harus kita lakukan adalah Operasi.

Judul: Edelweis, Catatan Seorang Bidan
Penulis: Leci Meipronika (Alumni Kelas Menulis Sabusabu Az zahra)
ISBN : 9-786025-347672
Cetakan Pertama: April 2019
Harga Jual: Rp. 68.000,-
Sinopsis:
“Bu, jangan seperti ini! Ayo…, bagus-bagus seperti yang saya ajarkan tadi” kuraih kembali tangannya ke arah lipat paha.
“Ah…Ah…Naaah…naaaan” dia kembali melepaskan tanganku.
Aku beberapa kali memberikan intruksi tak pernah di perhatikan dan terus saja di abaikan, membuatku merasa di tolak. Apakah ibu ini tidak berkenan di tolong olehku? Segera ku mundur dalam kebingungan dan tersinggung.
“Ayuk aku koh tuli dan bisu Buk” terang Eni tanggab karena melihat kebingungan ku.
“Astagfirullah, aku telah berpikiran buruk” bisikku dalam hati. Dan aku bertambah bingung dengan keterangan yang baru saja aku dapatkan. Pasien ini bisu dan tuli? Pantas saja dia tidak menuruti perintahku. Ini pertama kalinya aku menangani pasien disabilitas. Bagaimana ini? Ketakutanku berkali lipat dari sebelumnya.

Judul: Hamari Adhuri Kahani Kisah Kita Yang Belum Tuntas
Penulis: Umi Yesi
Harga jual Rp.66.000,- Via Wa 0852-6788-7453 (Hasil penjualan disumbangkan untuk biaya operasional pendidikan Pekerja Anak yang sekolah Paket A/B/C di PKBM Az zahra Kepahiang)
Sinopsis
Aku terpana, terkejut luar biasa. Mas Andre!!, lelaki itu hadir tepat didepanku. Hatiku berdegub kencang, keseimbanganku goyah. Namun kaki tak mampu bergerak melangkah. Diam seribu bahasa di depan pintu kantor kakakku.
Lelaki berbaju batik biru tersebut berdiri dan mendekat kearah pintu. Matanya tajam seolah membiusku. Sekilas tampak siluet tajam golok perantara berkelebat dianganku. Mengores luka persis menuju jantungku. Aku hendak lari, namun mata kakakku memandang ekspresiku penuh tanda tanya. Mengurungkan langkah kaki yang hendak menghindar pergi.
Langkahnya semakin dekat, hingga persis berdiri sejajar didepanku. Buru-buru aku tundukkan pandangan. Tak mampu menatap matanya yang tajam dan garang. Dia menutup kedua tangannya di dada dan sedikit membungkukkan badan. Sayup-sayup aku mendengar dia berkata, “Kisah kita belum tuntas Hanum!” Hamari Adhuri Kahani.

Judul: Tak Cukup dengan Mimpi
Penulis: Umi Yesi
ISBN : 978-602-53476-0-3
Harga jual Rp.60.000,- Via Wa 0852-6788-7453 (Hasil penjualan disumbangkan untuk biaya operasional pendidikan Pekerja Anak yang sekolah Paket A/B/C di PKBM Az zahra Kepahiang)
Sinopsis:
Tak Cukup dengan Mimpi adalah kumpulan kisah inspiratif peserta didik yang mengikuti Program Pendidikan Kesetaraan (Paket A, Paket B, Paket C) dan perjuangan para tutor dalam pengabdiannya di PKBM Az Zahra Kepahiang, Bengkulu.
Buku ini akan menjadi kenangan dan karya nyata pelaksanaan program peningkatan minat baca, seni dan budaya. Upaya kami dalam menyampaikan pesan lewat buku dan tulisan serta mendukung gerakan literasi di Indonesia.

