Astina Bengkulu
DPP Astina Pasang Badan Kawal Gugatan ke MK: Menyelamatkan Jaring Pengaman Terakhir Pendidikan Nasional
DPP Astina Pasang Badan Kawal Gugatan ke MK: Menyelamatkan Jaring Pengaman Terakhir Pendidikan Nasional
JAKARTA – Perjuangan Jangkung Sido Santosa di Mahkamah Konstitusi (MK) untuk menuntut keadilan bagi para pendidik non-formal dipastikan tidak akan berjalan sendirian. Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Astina, selaku organisasi profesi yang menaungi para pendidik kesetaraan, menyatakan sikap resmi untuk “turun gunung” memberikan dukungan penuh kepada Mas Jangkung.
DPP Astina berkomitmen untuk menemani, mengawal, dan merapatkan barisan dalam proses sidang lanjutan (penyerahan perbaikan permohonan) yang dijadwalkan akan digelar pada Rabu, 15 Juli 2026.
Langkah Astina memasang badan ini bukan tanpa alasan. Gugatan yang dilayangkan oleh Mas Jangkung—yang juga merupakan Kepala Satuan Pendidikan sekaligus Tutor di PKBM Aji Sakti Migunani, Blora—adalah representasi dari jeritan ribuan tutor kesetaraan di seluruh Indonesia yang selama ini suaranya nyaris tak terdengar.
Lantas, mengapa gugatan ini sangat krusial untuk didukung secara masif?
Tuntutan Setara, Namun Hak “Dikebiri”
Alasan utama di balik dukungan ini adalah adanya ketidakadilan struktural yang sangat nyata. Saat ini, negara menuntut Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) untuk menyelenggarakan pendidikan dan menghasilkan lulusan dengan standar nasional yang sama persis dengan sekolah formal. Ironisnya, di saat yang bersamaan, hak-hak profesional para pendidiknya (tutor) tidak diakui setara dengan guru formal dalam payung perundang-undangan.
Menuntut kewajiban yang maksimal sambil “mengebiri” hak-hak pendidik adalah sebuah kebijakan yang timpang. Para tutor dituntut bekerja layaknya guru profesional, namun kesejahteraan dan kejelasan status hukum mereka dibiarkan menggantung.
Ancaman “Mematikan Inklusivitas Pendidikan”
Dalam persidangan sebelumnya, pihak pemohon melontarkan sebuah peringatan yang tajam: regulasi yang ada saat ini secara perlahan justru “mematikan inklusivitas pendidikan”. Poin ini sangat valid dan menjadi dasar kuat mengapa ekosistem PKBM kini berada di jurang kehancuran.
PKBM dan pendidikan non-formal (melalui Kejar Paket A, B, dan C) bukanlah sekadar lembaga pelengkap. Mereka adalah jaring pengaman terakhir bagi warga negara yang tidak terakomodasi oleh sekolah reguler—mulai dari anak-anak putus sekolah, kaum pekerja rentan, hingga masyarakat di pelosok.
Dampak Fatal bagi Ekosistem PKBM
Jika sistem diskriminatif ini terus dibiarkan, dampaknya bagi dunia pendidikan di Indonesia akan sangat fatal:
- Posisi PKBM yang Rentan: Lembaga ini dijadikan instrumen utama oleh negara untuk mendongkrak angka partisipasi sekolah nasional dengan melayani kaum marjinal. Namun, para pejuang di garis depannya (tutor) dibiarkan tanpa jaminan kesejahteraan yang setara.
- Ancaman Gulung Tikar: Beban kewajiban mutu yang sangat tinggi, yang tidak sebanding dengan hak yang diberikan, ibarat bom waktu. PKBM akan terus-menerus kehilangan tenaga pengajar terbaiknya (brain drain) karena ketiadaan jenjang karier dan tunjangan profesi. Lambat laun, lembaga-lembaga non-formal ini bisa terpaksa gulung tikar.
Sidang lanjutan pada 15 Juli 2026 mendatang bukan sekadar agenda ketatanegaraan biasa. Momentum tersebut, dengan dukungan penuh dari DPP Astina, akan menjadi penentu: apakah jaring pengaman terakhir pendidikan di Indonesia ini akan diberi tameng keadilan untuk terus bertahan, atau justru dibiarkan berjuang sendirian hingga akhirnya tenggelam.
ASTINA HADIR, PELEPASAN 62 SISWA PKBM WOYYO PELITA KARYA
SELUMA – 7/8/2025. – Pelepasan Peserta Didik PKBM Woyyo Pelita Karya di Seluma Dihadiri Umi Yesi
Ketua DPW Astina Provinsi Bengkulu, Umi Yesi, menghadiri acara pelepasan peserta didik Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Woyyo Pelita Karya di Kabupaten Seluma.
Kehadiran Umi Yesi dalam acara ini menunjukkan dukungannya terhadap pendidikan kesetaraan. Dalam sambutannya, beliau mengungkapkan kekagumannya pada para peserta didik yang tampil percaya diri, sebuah hal yang menurutnya sangat penting dalam menempuh pendidikan.
Umi Yesi menekankan bahwa rasa percaya diri adalah kunci utama bagi keberhasilan pendidikan kesetaraan. “Anak-anak putus sekolah tidak akan berani datang ke acara ini jika mereka belum merdeka dan percaya diri,” ujarnya. “Jika mereka datang dan bisa hadir di sini, itu luar biasa sekali.” Perkataan ini memberikan semangat dan apresiasi yang mendalam bagi seluruh peserta didik yang telah berjuang menyelesaikan pendidikannya.
Menurut Kepala Sekolah PKBM Woyyo Pelita Karya, Herlina Syafetri, ada 62 peserta didik yang diwisuda pada tahun ini. Rinciannya adalah 2 peserta didik untuk Paket A, 15 peserta didik untuk Paket B, dan 45 peserta didik untuk Paket C. Jumlah ini menunjukkan besarnya minat masyarakat Kabupaten Seluma terhadap program pendidikan non-formal ini sebagai solusi untuk melanjutkan pendidikan yang sempat tertunda.
Acara pelepasan ini juga dihadiri oleh sejumlah tokoh penting lainnya, seperti Plt Kabid PAUD dan PNF Dinas Dikbud Kabupaten Seluma, perwakilan kecamatan, dan kepala desa setempat.
Kehadiran para pejabat ini menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung program pendidikan kesetaraan, serta memberikan pengakuan resmi atas pencapaian para peserta didik PKBM Woyyo Pelita Karya.
Astina Bengkulu: TIPS MENGHADAPI PESERTA DIDIK BARU BAGI TUTOR KESETARAAN
TIPS MENGHADAPI PESERTA DIDIK BARU BAGI TUTOR KESETARAAN
Hai Tutor Kesetaraan!
Sebagai Tutor yang professional, anda harus bersiap diri menghadapi peserta didik yang beragam. Besok, saat pertemuan pertama, pastikan anda sudah siap sedia. Bagaimana tips menghadapi peserta didik baru bagi Tutor Kesetaraan?
- Ciptakan Suasana Hangat dan Ramah
- Sambut dengan Senyum: Senyum tulus akan membuat peserta didik merasa diterima dan mengurangi kecanggungan mereka.
- Perkenalkan Diri dengan Santai: Sampaikan nama Anda, bagaimana Anda ingin dipanggil, dan mungkin sedikit tentang hobi atau minat Anda agar lebih akrab.
- Kenali Nama Mereka: Usahakan untuk menghafal nama peserta didik secepat mungkin. Menggunakan nama mereka saat berbicara akan membuat mereka merasa dihargai
- Mulai dengan Permainan Singkat: Permainan perkenalan atau pemecah kebekuan (ice breaker) yang menyenangkan akan membantu peserta didik merasa nyaman satu sama lain dan dengan Anda.
- Pahami Latar Belakang dan Kebutuhan Peserta didik
- Tanyakan Harapan Mereka: Ajak peserta didik untuk berbagi apa yang ingin mereka pelajari atau capai di kelas Anda. Ini juga bisa menjadi cara untuk mengetahui tingkat pemahaman awal mereka.
- Observasi dan Dengarkan: Perhatikan bagaimana mereka berinteraksi, apa yang mereka minati, dan kesulitan apa yang mungkin mereka hadapi.
- Fleksibel: Tutor Kesetaraan seringkali berhadapan dengan peserta didik dari berbagai usia dan latar belakang. Siapkan diri untuk menyesuaikan metode pengajaran Anda.
- Jelaskan Aturan dan Ekspektasi dengan Jelas
- Sampaikan Aturan Kelas yang Sederhana: Jelaskan ekspektasi Anda terhadap perilaku peserta didik, misalnya, bagaimana cara bertanya, kapan boleh berbicara, atau pentingnya saling menghormati. Pastikan aturan tersebut mudah dipahami dan positif.
- Jelaskan Tujuan Pembelajaran: Beri tahu peserta didik apa yang akan mereka pelajari dan mengapa materi tersebut penting. Ini akan membantu mereka melihat nilai dari pembelajaran.
- Rencanakan Aktivitas yang Menarik
- Materi Pembukaan yang Ringan: Hindari langsung masuk ke materi yang berat. Mulai dengan topik yang ringan, interaktif, dan relevan dengan minat mereka.
- Libatkan Peserta didik Secara Aktif: Gunakan metode pembelajaran yang melibatkan peserta didik secara langsung, seperti diskusi kelompok kecil, proyek sederhana, atau studi kasus.
- Berikan Kesempatan untuk Berkontribusi: Dorong peserta didik untuk bertanya, berbagi ide, dan berpartisipasi aktif dalam setiap sesi.
- Bersikap Sabar dan Empati
- Pahami Kecemasan Peserta didik: Beberapa peserta didik mungkin merasa cemas atau gugup di lingkungan baru. Berikan mereka waktu untuk beradaptasi.
- Berikan Dukungan: Pastikan mereka tahu bahwa Anda siap membantu jika mereka mengalami kesulitan.
Nah, sudah siap bertemu peserta didik baru besok, 14 Juli 2025?
Ok! Semoga sukses menghadapi peserta didik baru besok pagi! Mereka pasti akan antusias dengan guru yang ramah dan suportif seperti Anda.


