Suami Yang Telanjang
Suami yang telanjang
“Assallamu alaikum Mii…Umi buka terapi ya? Aku lihat artikel berdamai dengan diri sendiri yang Umi upload kemarin. Perasaan wanita di artikel itu sama seperti yang aku rasakan saat ini. Aku mau juga diterapi Mii” sebuah pesan masuk ke whatsApp pribadiku. Seorang sahabat yang sering mencetak buku karya ilmiah guru-guru Sekolah Dasar melalui Penerbit Yayasan Az Zahra Kepahiang. Sebut saja namanya Melati.
“Wa alaikum salam wr.wb…Iya sudah setahun ini saya membuka layanan konseling, terapi energy” jawabku segera dengan tambahan emoji senyum, sebagai bentuk keramahtamahan.
“Aku mau mii…bisa nggak dibantu?” jawabnya lagi.
“Masih bisa ditahan perasaannya? Karena kita sedang puasa ini. Kalo konseling pasti kita bicara hal-hal yang menyakitkan dan tentang seseorang. Bisa mengurangi pahala puasa. Jika masih bisa dikendalikan perasaannya maka kita jadwalkan setelah lebaran, atau minggu depan. Namun jika perasaan itu sangat menganggu, bisa datang kapanpun Melati mau. Selagi umi tidak ada agenda di luar, insyaallah siap membantumu”
“Ini benar sudah tak tahan lagi Mi,,kalau tidak diselesaikan cepat, akibatnya sangat buruk. Oh ya, aku mau tanya juga Mi, biaya terapi berapa Mi? Aku mau sampai selesai terapinya Mi.”
“Jangan pikirkan biayanya. Sehat yang utama. Bahagia bonusnya” jawabku kembali mengirim emoji penuh cinta dilayar chat itu.
“Aku takut nggak terbayar jasanya Umi yang insyaallah endingnya bahagia itu. Tapi aku pengen banget Mi diterapi”
“Sudahlah,…Umi ini bukan dokter, hanya seorang terapis. Jangan sungkan” jawabku lagi. Nggak enak bicara tarif sama sahabat sendiri.
“Kapan ada waktu Mi?” desak Melati.
“Tengok kondisi besok ya” aku tidak berani membuat jadwal pasti karena masih ada agenda kerja yang mesti segera aku selesaikan sebelum lebaran nanti.
“Ya mi, pokoknya kalau Umi benar-benar bisa menyediakan waktu khusus untuk aku, Umi hubungi aku aja, kapanpun, insyaallah siap”
“Nggak khawatir batal puasanya?”
“Lah mi, kalau nangis batal ya??”
“Bukan karena nangisnya, karena efek terapi biasanya mual dan muntah, Jika tekanan jiwa hebat keluar…” jawabku sedikit menjelaskan efek terapi energy yang akan dilakukan nanti.
“Nggak pa-pa mi, insyaallah demi kebaikan, nanti bisa dibayar puasanya” jawabnya mantap.
Aku mengakhiri sesi tanya jawab ini karena waktu berbuka puasa hampir tiba. Aku juga harus mempersiapkan diri karena dijadwalkan ada klien yang akan datang konsultasi bakda Isya nanti. Aku berharap masalah Melati masih bisa dia tahan, dan tidak mengambil keputusan yang gegabah.
…………………………………….
Keesokkan harinya aku beraktifitas seperti biasa, duduk dikantor menyelesaikan administrasi di yayasan yang belum selesai dikerjakan. Bekerja di rumah ditengah pandemi ini cukup menyita waktu. Apalagi staf dan karyawan sudah mulai libur menjelang hari raya lebaran idul fitri yang sebentar lagi. Otomatis pekerjaan di yayasan aku handle sendirian.
Pukul 10.15 wib aku mulai jenuh dengan pekerjaan yang sedang dikerjakan. Tiba-tiba ingat dengan Melati. Mungkin ada baiknya dia datang sekarang. Untuk jedah waktu ditengah pekerjaan yang tak kunjung selesai.
“Assallamu alaikum Melati, Umi ada waktu hari ini…bisa datang?” chatku di WA pribadi.
“Waalaikumsalam, iya Mi,….aku ke PA sebentar ya. Ini sudah di Kepahiang. Bisa tunggu sebentar Mi?” jawabnya segera, jarak rumah Melati memang jauh dari kediamanku.
Tak berselang lama, datang sebuah motor memasuki halaman Yayasan, Melati turun dan langsung menghampiriku.
“Oh…sudah datang, darimana tadi?” tanyaku basa-basi sambil menutup semua file yang tadi terbuka dan segera mematikan layar computer agar bisa mendengarkan curhat Melati dengan maksimal. Tak lupa aku senyapkan nada dering hp agar tak menganggu saat konseling berjalan.
“Dari PA mii…urus perceraian” jawaban yang cukup membuatku terkejut.
“PA maksudnya Pengadilan Agama?” tanyaku untuk memastikan persangkaanku.
“Iya…aku ngadu kesana tadi”
“Ya allah sudah sampai segawat itu masalahnya?” Dia tidak menjawab tanyaku, diam sembari berusaha memberikan senyuman, senyum yang dipaksakan.
Aku mengajaknya ke ruang konseling, duduk di karpet supaya lebih nyaman, tak lupa membawa tissue. Karena pasti akan digunakan pada saatnya nanti.
Seperti biasa aku akan bertanya tentang perasaanya, “Gimana…apa yang terjadi?”
“Darimana harus cerita Mii?”
“Ceritakan saja bagaimana perasaanmu saat ini”
“Saakit” jawabnya bergetar, mengambil tissue dan mengusap air mata yang siap bercucuran.
“Apa yang membuatmu sakit?”
“Dia berhubungan dengan wanita lain. Saya nggak ikhlas Mii. Saya nggak sanggup membayangkannya Mii. Dia berbuat hal itu di rumah kami, kamar kami” tanggisnya pecah. Akupun tertegun mendengar cerita ini. Astaqfirullah al adzim ucapku dalam hati.
“Dia beli?” tanyaku hati-hati. Dia mengangguk.
“Kok tahu?” tanyaku lagi…penasaran.
“Saat itu kami sedang ribut besar, aku pulang ke rumah orangtuaku. Sebulan aku tidak menghubungi dia dan dia tidak menjemputku. Lalu kami dimediasi keluarga agar rujuk kembali. Akhirnya melalui musyawarah dengan keluarga dan perangkat desa kami bersatu lagi. Nah…saat aku kembali itulah aku lihat chat wa di hpnya. Perempuan itu mengaku baru sekali melakukan dengan suami, tapi teman-temannya ada juga yang sudah pernah tidur dengan suami. Aku hancur Mii…aku benci sekali…kami ribut lagi. Dan giliran suami yang pergi meninggalkanku. Makanya aku ngadu dan lapor sama pengadilan agama. Aku mau pisah aja Mii” dia meremas tissue sisa mengelap air mata tadi.
“Emang sudah siap benar ingin pisah?” tanyaku menguji kedalaman tekatnya.
“Enggak Mii….aku masih sayang, tapiiii…..” tanggisnya semakin menjadi. Aku pegang tangannya terasa dingin. Ini pertanda dia sedang tune ini, merasakan sakit yang luar biasa di hatinya.
Aku manfaatkan kondisi ini untuk memulai terapi. Mengetuk ngetuk titik meridian tubuh dengan dua jariku. Sembilan titik meredian selesai di tapping. Aku ulangi lagi…dia masih menangis sambil meratap, mengungkapkan kekesalan dan kekecewaannya terhadap suami. Aku tidak bicara, sibuk melapalkan doa untuk ketenangan sahabat yang sedang menderita ini. Mengalirkan energy positif melalui doa dan pengharapan hanya kepada Allah swt.
Berlahan tanggisnya reda, diapun sibuk mengatur napas dan mengelap hidung untuk melonggarkan aliran udara masuk ke paru-paru. Prosedur gamut pun aku lakukan, memintanya memejamkan mata lebih dalam, melotot dan mengerakkan otot mata. Aku minta dia bergumam tapi dia mengeleng, tidak mampu bergumam. Aku minta dia berhitung skala 1 sampai 5. Aku minta dia bergumam lagi, dia masih mengeleng pertanda tidak mampu. Ya sudah tidak apa. Aku menjeda sejenak…memberi waktu udara masuk lebih banyak untuk mengurai rasa sesak di dada. Lalu menuntunnya menarik napas dan mengeluarkan udara lewat mulut secara berlahan. Dia menurut dan tetap memejamkan mata. Kesedihan itu masih enggan pergi darinya.
Tiba-tiba dia menekan dada sebelah kiri, sedikit meringis.
“Ada apa, apa yang kau rasakan? Sakit?”
“Nyeri Mii”
“Apa lagi yang kau rasakan?”
“Kepala pusing dan bahu sakit juga, sebelah kanan”
“Bagus…itu pertanda terapinya berjalan dan bereaksi di tubuhmu. Nanti akan hilang sendiri, jangan khawatir”
“Aku ingin balas dendam Mii…supaya dia menyesal” dia membuka mata dan terlihat kesal dengan sorot marah.
“Dengan cara apa? Melakukan hal yang sama?” aku membalas tatapan tajam matanya. Dia melengos menghindari tatapanku yang menyelidik. Menunduk dan terus memainkan tissue bekas air mata tadi.
“Seharusnya dia datang dan menjemputku Mii…bukan main sama perempuan nakal. Aku juga banyak godaan selama sebulan itu. Ada beberapa laki-laki yang mendekat dan merayu. Tapi aku tahan karena aku sadar aku masih isteri orang. Nah dia….? Aku benar-benar benci Mii” ujar Melati sambil merobek tissue bekas air mata tadi.
Aku diam sejenak, menarik tapas, mengatur intonsi suaraku agar terdengar jelas dan merasuk di kalbunya. Hal penting yang perlu dia ketahui tentang hakikat kehidupan dan ketentuan Tuhan.
“Melati tahu nggak…meskipun dia melakukan perbuatan maksiat…perbuatannya itu atas izin Allah. Allah izinkan dia memilih di jalan yang salah. Dia yang memilih jalan maksiat. Bukan hanya hal baik yang terjadi dengan izin allah, namun juga hal buruk dan dosa. Dan Allah punya maksud dibalik semua itu” Melati memandangku tak berkedip, tak menyangka kalimat ini akan dia dengar. Bagaimana mungkin Allah yang izinkan? Begitu kira-kira arti tatapan matanya. Aku tersenyum dan melanjutkan kalimat tadi agar dia tidak salah pengertian.
“Apa yang terjadi dengan kita karena kesalahan kita sendiri. Allah sedang memberi kita pelajaran atas apa yang pernah kita perbuat di masa lalu. Coba diingat-ingat pernahkah Melati berpikiran buruk, menuduh, menghina atau mengolok-olok orang lain yang posisinya sama seperti yang kau rasakan saat ini. Entah itu orangtua, mertua, keluarga, sahabat atau masyarakat yang kita, mungkin tanpa disadari menyakiti hati mereka”
Melati menunduk seolah mengingat sesuatu. Dan dia menangis lagi. Dia menutup mulutnya dan mengangguk-angguk membenarkan perkiraanku.
“Ketemu jawabannya?” tanyaku pelan.
Dia terus menunduk dan menangis lagi, lebih keras dari sebelumnya. Aku diam….memberi kesempatan dia menumpahkan perasaannya lewat tangisan. Setelah reda, aku pegang tangannya…masih dingin.
“Jika jawabannya sudah ketemu, perasaanmu akan lebih baik. Umi bantu terapinya. Mau duduk seperti ini atau dikursi?” tawarku.
“Di kursi aja Mii…kakiku kesemutan”
“Baiklah…”
Aku menyiapkan dua buah kursi untuknya dan untukku sendiri. Terapi dimulai dengan kalimat set up, Ya allah…walaupun saat ini aku sedang membenci suamiku, karena dia telah berbuat maksiat. Aku merasa marah dan jijik dengan kelakuannya itu. Tapi aku terima ya allah…aku terima perasaan marah, benci dan jijik ini. Dan aku pasrahkan normalnya rasa itu padaMu. Aku ikhlas …aku pasrah. Kalimat set up ini diulangi tiga kali. Lalu dilanjutkan dengan Tune In.
Aku memintanya untuk berani membayangkan suasana suami dan perempuan itu saat berada di kamarnya. Tune in adalah merasakan emosi terdalam yang sedang terjadi pada dirinya. Tangisnya kembali pecah pertanda klimak emosinya. Aku segera melanjutkan tapping proses mengetuk titik meridian tubuh seperti gerakan totok dengan dua jari telunjuk dan jari tengah. Aku menuntunnya untuk curhat dan menerima kondisinya, namun suaranya tertahan. Dia tak sanggup berkata-kata. Akupun tak memaksa, tetap menuntunnya di sela isak tanggis yang kian menjadi. Berlahan dia terlihat rileks dan nyaman. Segera aku akhiri sesi tapping dengan tarikan napas syukur kepada Allah SWT. Adzan dhuhurpun berkumandang mengiringi sesi terapi ini.
“Umi…aku ingin pulang dan bertemu dengannya. Aku ingin memeluknya Mii” lirih dia berucap diantara tarikan napasku yang belum tuntas.
“Masyaallah….ya allah….terimakasih ya allah” ucapku penuh syukur. Agak terkejut dengan sikap yang berubah drastis ini. Ya allah….duhai engkau yang maha membolak balikkan hati.
“Sudah bisa berdamai dengan hatimu? Bisa menerima dia kembali?” tanyaku untuk menegaskan isi hatinya. Dia mengangguk dan menghapus sisa airmata dengan tissue kembali.
Seperti klien lainnya aku memeluk Melati dengan mentransfer energy positif yang kupunya. “Itulah isteri…itulah isteri…sangat mudah memaafkan suami yang terlanjur berbuat salah. Isteri adalah pakaian bagi suami. Jika pakaiannya lepas…isteri pergi, maka suamipun telanjang. Karena ketelanjangan itulah maka dia berbuat maksiat. Maka tutupilah tubuh suamimu dengan menjadi pakaian terbaik baginya. Pakaian yang pas dan nyaman untuk dipakai. Jangan lagi lari darinya” pesanku berbisik di telingga kanannya.
“Iya Umi…iya Mii…terimakasih ya Mii. Berapa aku harus membayar terapi ini Mii?”
Aku lepaskan pelukanku dan tersenyum manis padanya, “Ini hari baik, bulan baik dan tujuan yang baik. Umi tidak mau dibayar sekarang, sedekah energy. Bayarlah dengan kabar gembira darimu nanti. Bahwa kau bahagia. Itu saja”
Diapun pulang meninggalkanku dengan senyum dan pengharapan. Gengaman tangannya sudah terasa hangat.
Berdamai Dengan Diri Sendiri
Berdamai Dengan Diri Sendiri
Seorang ibu muda menghubungiku melalui whatsApp, ingin bertemu bakda Isya. Awalnya aku menolak karena hari sudah malam dan khawatir dia pulang kemalaman. Jarak rumahnya lumayan jauh dengan kediamanku. Namun dia memaksa, dia berani dan tidak akan apa-apa, katanya. Dia ingin sekali bertemu karena masalah yang dia rasakan semakin menyiksa. Dia sudah lelah katanya.
Aku mengiyakan permintaannya dengan syarat bawa kawan, jangan sendirian. Untuk konsultasi permasalahan psikis biasanya butuh waktu berjam-jam untuk curhat dan terapi. Dia bilang tidak ada kawan yang bisa nemani. Dan dia meyakinkanku bahwa dia benar berani sendiri dan butuh bertemu segera. Dia minta alamat, aku kirim google map supaya dia tidak tersesat karena banyak gang yang dilewati menuju rumahku.
Tak lama kemudian pintu pagar rumahku di ketok dan suara perempuan mengucapkan salam dan memanggil namaku. Aku membukakan pintu, wajah perempuan ini tak asing bagiku. “Apakah kita pernah bertemu?” tanyaku ragu.
“Umi lupa ya sama aku? Umi nasabah ditempatku bekerja dulu” dia menyebut nama salah satu bank swasta.
“Oh ya..ya.ya…kamu yang resign itu? Pantasan dicari nggak ketemu”
“Iya Umi…saya resign sejak Januari lalu”
“Lho …kenapa?”
“Mau fokus ke anak-anak aja Mii”
“Oh oke” jawabku menganguk-angkuk. Aku menyiapkan air minum hangat yang dicampur tiga helai bunga saffron. Minuman ini bisa membuat rileks. Lalu mengajaknya ke ruang khusus tempat biasa aku menerima klien yang hendak konsultasi pribadi.
————————————————————
“Silahkan duduk. Apa yang bisa Umi bantu?”
“Langsung aja ya Mii…banyak yang mau saya ceritakan. Tapi mulainya darimana ya Mii?”
“Mulai dari yang kau rasakan saat ini”
“Saya capek Mii…saya lelah selelahnya dengan kondisi ini. Dia tidak berubah. Meski mungkin salah saya juga ada. Tapi ini terulang dan berulang terus. Saya sudah nggak kuat Mii” nada suaranya tidak senormal tadi. Aku mengambil tissue di meja dan memberikan padanya. Dia mengelap air mata yang mulai membasahi pipi.
“Ini tentang suami?” tanyaku hati-hati. Dia mengangguk.
“Jujur ya Mii…kami menikah dulu karena kecelakaan. Dia saat itu punya pacar selain saya. Tapi sebelum menikah, dia sudah minta izin pacarnya. Mereka putus dengan baik-baik. Rumah tangga kami berjalan seperti rumah tangga lainnya. Saya melahirkan dan mengulangi pernikahan supaya rumah tangga kami berkah dan terlepas dari zina. Suami masih bekerja serabutan. Akupun mulai bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. Hingga tahun 2014 suami kedapatan mentransfer sejumlah uang ke rekening mantan pacarnya dahulu. Sejak saat itu pertengkaran demi pertengkaran menghiasi rumah tangga kami. Tidak ada ketenangan, tidak ada kenyamanan. Meski begitu karier suami meningkat, dia dipercaya sebagai manajer setahun ini. Dan aku disarankan untuk resign supaya focus mengurus anak-anak, kebetulan aku kembali melahirkan anak kedua.”
Dia diam sejenak…masih terisak. Sesekali menyeka air matanya lalu memainkan tissue ditangannya dengan meremasnya. Aku menunduk, khusuk mendengarkan keluh kesahnya. Aku tidak ingin menyela dia bicara. Supaya hatinya lega. Mendengar adalah terapi terbaik bagi jiwa yang sedang resah.
“Seminggu ini perbuatannya semakin membuatku sakit Mii. Masa dia transfer uang seperti orang minum obat, tiga kali dalam sehari. Pagi dia transfer 750 ribu, siang 300 ribu dan malam 2 juta. Untuk apa coba? Sedangkan dengan aku dia cuma transfer seadanya, jika di minta. Gajinya tidak pernah utuh aku pegang Mii” tanggisnya semakin menjadi.
Aku mendekat, mengelus punggungnya sebelah kanan. Bagian ini akan terasa berat dan sakit bagi orang yang sedang mengalami sakit jiwanya. Air matanya terus bercucuran. “Aku capek Mii…lelah diperlakukan seperti ini terus, aku salah apa Mii?”
Berlahan aku ketuk titik meridian diatas kepalanya. Tanggisnya semakin keras sambil berucap capek di sela sedu sedannya. Aku tapping wajahnya dalam diam. Aku tahu dia dalam kondisi tune in (merasa sedih teramat dalam) maka tapping ini akan mengurangi sesak dihatinya. Dalam hati aku berbisik, ya rabb…bantu aku menemani hambamu yang sedang resah ini.
Sembilan titik selesai ditapping, air matanya masih mengalir. Ku ulangi ketukan awal dari kepala. Menunggu tanggisnya reda. Lalu menambah ketukan pada titik lengan kiri. Saat napasnya sudah mulai teratur, aku lakukan teknik gamut dengan memejamkan mata, berhitung hingga bergumam. Dan diakhiri dengan tarikan napas dalam sambil mengucapkan Alhamdulillah.
Dia membuka mata memandang ke arahku, masih ada kecemasan di sana. Aku memberinya air minum rendaman bunga saffron, dan ikut minum bersamanya. Sepertinya dia benar-benar haus, minuman itu habis dengan sekali tegukan olehnya.
“Bagaimana rasanya? Agak berkurang?” tanyaku tersenyum
“Berkurang, dibanding tadi” jawabnya tanpa membalas senyumku
“Mii…sudah dua hari ini nomorku diblokir olehnya. Dia tidak menghubungi dan akupun tidak bisa menghubungi dia. Apa dia benar-benar marah dan kembali menjalin hubungan dengan mantannya itu Mii?” dia kembali mengambil tissue, mengelap sisa air mata yang belumlah mengering dan sepertinya akan basah kembali.
“Sudah…cukup, berdamailah dengan dirimu. Ini bukan masalah suami atau mantan pacarnya. Ini masalah hatimu yang sakit dan kau izinkan rasa itu mengerogoti dirimu.” Dia memandangku agak heran, tidak mengerti apa yang kusampaikan barusan.
“Saat ini masalah itu ada padamu, kamu merasa tidak nyaman, merasa lelah, merasa dikhianati dan merasa kalah. Iya kan?”
Dia memandangku tak berkedip lalu luruh sambil menutup wajahnya, “Iya Mii. Aku benar-benar lelah menghadapi rasa ini. Lalu aku harus bagaimana Mii?”
“Berdamailah…..berdamai dengan dirimu sendiri terlebih dahulu”
“Bagaimana Mii? Bagaimana caranya berdamai dengan diri sendiri? Mungkinlah aku salah, terlalu keras padanya, tapi…apakah yang dia perbuat bisa dibenarkan?”
“Setiap masalah yang Allah hadirkan pada kita sejatinya karena perbuatan kita sendiri. Nanti dulu menyalahkan orang lain, intropeksi diri dahulu. Bukankah di awal tadi kamu sudah mengakui bahwa pernikahan ini karena kecelakaan? Ini dulu yang harus kita perbaiki. Kesalahan kita kepada Allah, kepada orang tua bahkan mungkin kepada mantan pacarnya itu” Dia diam berusaha mencerna apa yang aku ucapkan.
“Umi akan ajari cara berdamai dengan diri sendiri”
“Iya…bagaimana caranya?” jawabnya seolah putus asa.
“Curhat ke Allah…walaupun kondisimu sedang tidak nyaman, merasa lelah, merasa tak dihargai sebagai isteri dan merasa kalah merebut hatinya. Ungkapkan semua perasaan itu kepadaNya. Lalu bilang kepada Allah….ya rabb aku terima. Terima perasaan yang sedang mengusikmu itu. Aku pasrahkan normalnya rasa ini padaMU. Minta pada sang pemilik hati untuk mengembalikan perasaan agar normal kembali, tidak lagi merasa sakit hati, tidak lagi merasa tidak berdaya dan frustasi. Minta kepada Allah normalnya rasa itu di hatimu. Lalu bisikan dalam diri aku ikhlas….aku pasrah. Ucapkan kalimat ini minimal tiga kali. Ulangi dan ulangi sampai hatimu terasa hangat karena hormon endorphin keluar dan memberi efek rileks dan tenang pada jiwamu.”
“Ya Allah Mii…ajari aku…ajari aku” jawabnya memohon.
“Baik…Umi bantu terapi. Pejamkan matamu dan ikuti perkataan Umi” Aku melakukan set up, tune in dan tapping dengan titik sempurna. Di akhiri dengan napas syukur dan ucapan terimakasih ya Allah. Dia membuka matanya.
“Ya allah Mii…plong rasanya. Aku tidak perduli lagi, aku ingin damai seperti ini. Seandainya aku datang lebih awal…”
“Hush…jangan berandai-berandai, itu bisikan setan. Pertahankan suasana hatimu seperti ini. Jika engkau sudah berhasil menata hati dan berdamai dengan dirimu maka yakinlah masalahmu akan selesai dengan sendirinya. Jangan cari solusi karena Allah yang akan membolak balikkan hati. Cukup minta kepadaNya dengan perasaan tenang lalu ikhlas dan pasrah apapun yang Allah takdirkan menimpa kita.”
“Iya Mii…terimakasih banyak”
“Malam ini..tidurlah dengan nyenyak. Jangan biarkan emosi negative kembali menghampirimu. Sayangi dirimu…engkau masih muda dan cantik. Masa depanmu masih panjang” pesanku lagi. Hari semakin larut.
“Umi…boleh aku peluk?” pintanya.
“Kemarilah…” aku berdiri dan memeluknya terlebih dahulu. Dan kamipun berpelukan dengan erat. Aku alirkan energy positif dan doa tulus untuk kesembuhannya. Diapun berpamitan dengan wajah yang sudah tersenyum.
Perempuan Kepahiang Bersatu Atasi Pandemi Melalui Baksos GOW Ketok Pintu
Kepahiang, 16/5/2020. Perempuan Kepahiang Bersatu dalam Baksos GOW Ketok Pintu
Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kepahiang yang dipimpin ibu Wakil Bupati Kepahiang, Netti Herawati, S.Sos memberikan sembako secara simbolis kepada masyarakat dan perwakilan organisasi wanita Se-Kabupaten Kepahiang pada hari Jumat, 15 Mei 2020.
Simbolis ini menandai dimulainya kegiatan GOW KETOK PINTU, agenda rutin yang selalu dilaksanakan setiap tahun pada bulan Ramadhan. Ini adalah tahun ke-9 kegiatan GOW Ketok Pintu yang kita laksanakan untuk membantu masyarakat miskin, lansia dan kaum dhuafa lainnya, kata Ibu Hera Aryani Asisten III yang juga sebagai wakil ketua GOW Kepahiang.

Kegiatan yang dikoordinir Ketua Bidang Sosial Ibu Jernilan dkk ini adalah hasil dana sumbangan dari organisasi-organisasi perempuan yang ada di Kepahiang dan beberapa dermawan yang tidak mau disebut namanya, hingga terkumpul dana sebesar Rp.24.600.000,-. Dana tersebut mereka kemas dalam bentuk paket sembako hingga terkumpul sebanyak 237 paket.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana paket sembako ini diantar dari rumah ke rumah yang membutuhkan. Tahun ini dikarenakan adanya kebijakan social distancing kondisi darurat pandemi covid-19 maka Ketua GOW mendeligasikan bantuan kepada organisasi-organisasi perempuan yang hadir untuk memberikan bantuan tersebut kepada yang berhak menerimanya. Sebagian sembako diberikan kepada tukang becak yang sudah antri sejak pagi di kediaman rumah dinas beliau tersebut.

Adanya kebersamaan dan kegotongroyongan perempuan kepahiang ini mendapat apresiasi yang tinggi dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kepahiang. Ibu Wakil Bupati sekaligus Ketua GOW Kepahiang sangat bangga dan mengucapkan terimakasih kepada semua organisasi perempuan yang telah menyumbangkan dana, waktu dan tenaganya untuk kegiatan GOW Ketok Pintu tahun 2020 ini. Dalam menjalankan tugas di lapangan tetap harus jaga jarak, cuci tangan dan wajib pakai masker, pesan beliau kepada ibu-ibu yang siap melaksanakan tugasnya membagikan paket sembako tersebut.

Umi Yesi, Ketua DPC FPPI Kabupaten Kepahiang menerima 14 paket sembako yang akan dibagikan. Beliau didampingi sekretaris Eka Nopita langsung ke lokasi untuk memberikan amanah tersebut. Maka 14 paket sembako telah mereka sampaikan kepada masyarakat dan lansia tidak mampu di Desa Karang Endah, Kelurahan Padang Lekat, Desa Kandang dan Desa Taba Padang.
Sementara itu setiap organisasi juga memberikan bantuan tersebut kepada yang berhak dan membutuhkan. Ada sekitar 20 organisasi yang melakukan bakti sosial ini. Hari ini yang melanjutkan pembagian sembako adalah Ibu Mulyanti ketua Aisyiyah Kepahiang, mereka membagikan sembako ke daerah Kelurahan Pensiunan, Pasar Kepahiang, gang as sholihin, mandi angin dan Desa Tebat Monok.

Nampak senyum ceria dan rasa syukur masyarakat yang tidak menyangka akan menerima bantuan paket sembako dari kegiatan ini. Dan mereka juga bertitip salam kepada seluruh pengurus dan anggota GOW yang telah membantu. Terimakasih ibu-ibu GOW Kepahiang. Semoga senantiasa diberikan kesehatan, umur panjang dan rejeki berlimpah, doa mereka. Aamiin.

