"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

BERITA PKBM

Bangkitkan Semangat, Bunda Literasi Kepahiang Buka Pembekalan Lomba Resensi Buku Pelajar Kepahiang

Bangkitkan Semangat, Bunda Literasi Kepahiang Buka Pembekalan Lomba Resensi Buku Pelajar Kepahiang

KEPAHIANG – Upaya peningkatan minat baca dan literasi di Kabupaten Kepahiang terus digalakkan. Semangat ini terekam jelas dalam acara Pembekalan Lomba Pembuatan Resensi Buku Berbasis Koleksi Perpustakaan yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Kepahiang hari ini. Acara berlangsung interaktif dan penuh antusiasme dengan dipandu langsung oleh Helmiyesi, Relima Kabupaten Kepahiang, yang tampil apik sebagai Master of Ceremony (MC).

Kegiatan ini menjadi sangat istimewa karena dibuka secara resmi oleh Bunda Literasi Kabupaten Kepahiang, Ibu Hj. Emi Nurhayati. Kehadiran istri Bupati Kepahiang ini tidak hanya sekadar membuka acara, tetapi juga membawa pesan penting dan visi besar untuk kemajuan literasi daerah.

Dalam sambutannya, Ibu Hj. Emi Nurhayati mendorong terciptanya ekosistem membaca yang dekat dengan keseharian warga.

“Kita berharap setiap desa memiliki pojok baca, sehingga masyarakat kita bisa semakin melek literasi,” pesan Ibu Emi.

Lebih lanjut, beliau juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor. Beliau berharap ibu-ibu PKK, khususnya Pokja 2, dapat bersinergi kuat dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Kepahiang dalam mengaktifkan berbagai kegiatan literasi langsung di tengah masyarakat.

Ide brilian dan dorongan dari sosok yang juga menjabat sebagai Bunda PAUD Kabupaten Kepahiang ini mendapat apresiasi tinggi. Pak Zikrullah, M.Pd., menyambut baik gagasan tersebut dan melihatnya sebagai langkah strategis untuk membangun fondasi pendidikan daerah yang lebih kuat.

Lomba pembuatan resensi buku ini sendiri menyasar para pelajar tingkat SMP dan SMA se-Kabupaten Kepahiang menurut laporan Ketua Pelaksana Kegiatan, Ibu Darsila Efriyanti, S.Sos. Melalui pembekalan ini, kegiatan meresensi buku diharapkan tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi cikal bakal bangkitnya minat baca dan kemampuan literasi yang kritis di kalangan generasi muda serta masyarakat luas.

Dengan adanya sinergi antara pemerintah, penggerak literasi, dan masyarakat, Kabupaten Kepahiang siap melangkah maju menuju daerah yang cerdas dan berbudaya literasi tinggi.

 

Merajut Empati, Memutus Rantai Perundungan

Merajut Empati, Memutus Rantai Perundungan

Sangat disayangkan ketika ruang-ruang kelas yang semestinya menjadi taman persemaian adab, budi pekerti, dan karakter baik, justru harus ternoda oleh tindakan perundungan (bullying). Hari ini, realita di lapangan membawa sebuah tugas yang mengiris hati: memberikan pendampingan langsung kepada seorang pelajar yang menjadi korban perundungan di lingkungan sekolahnya sendiri.

Sebagai Relawan Literasi Masyarakat (Relima) yang telah lama mengamati dinamika pendidikan di Kepahiang, kejadian ini menjadi alarm keras bagi kita semua. Literasi bukan hanya soal membaca buku, tetapi juga kemampuan membaca situasi, memahami emosi, dan memanusiakan manusia.

Penyelesaian Kekeluargaan dan Edukasi Orang Tua

Dalam upaya pendampingan hari ini, langkah utama yang diambil adalah memfasilitasi komunikasi antara pihak sekolah dan orang tua/wali murid yang dipanggil. Fokusnya adalah mencari titik terang dan menyelesaikan masalah perundungan ini melalui jalan kekeluargaan, tanpa mengesampingkan efek jera dan edukasi bagi pelaku.

Di hadapan para orang tua, edukasi yang mendalam menjadi hal yang tak bisa ditawar. Ada beberapa poin krusial yang ditekankan dalam pertemuan tersebut:

  • Kepekaan Pengasuhan: Orang tua, terkhusus sosok ibu sebagai madrasah pertama anak, dituntut untuk jauh lebih peka terhadap perubahan tingkah laku anak di rumah. Diamnya seorang anak atau perubahan emosi yang drastis seringkali adalah jeritan minta tolong yang tak terucap.
  • Memahami Fase Rentan: Pelajar di tingkat SMP yang berada pada rentang usia 11-15 tahun sedang melewati fase transisi yang sangat rawan. Ini adalah masa pubertas, pergolakan emosi, dan pencarian jati diri. Tanpa kompas moral yang kuat dari rumah, anak-anak mudah tersesat dalam perilaku agresif atau sebaliknya, menjadi korban yang rentan.
  • Edukasi Dampak Perundungan: Orang tua wajib menanamkan pemahaman di meja makan atau ruang keluarga tentang betapa destruktifnya dampak perundungan—baik bagi korban yang memikul trauma, maupun bagi pelaku yang kehilangan empati.

Menuju Sekolah Ramah Anak: Bukan Sekadar Slogan

Kasus ini juga menjadi catatan penting bagi institusi pendidikan. Mengandalkan teguran atau sanksi setelah kejadian tidaklah cukup. Pihak sekolah dituntut untuk meningkatkan kewaspadaan tingkat tinggi terhadap interaksi siswanya di luar jam pelajaran kelas.

Lebih dari itu, harus ada program nyata dan terukur terkait perlindungan anak. Sosialisasi anti-perundungan, posko pengaduan yang aman bagi siswa, serta pelatihan empati harus masuk ke dalam kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) sekolah.

Mewujudkan Sekolah Ramah Anak tidak boleh berhenti pada papan slogan di gerbang sekolah. Ia harus hidup dalam tegur sapa guru, dalam aturan yang melindungi, dan dalam rasa aman yang dirasakan setiap siswa saat melangkahkan kaki ke halaman sekolah.

Mari jadikan kejadian ini sebagai titik balik. Pendidikan karakter adalah tanggung jawab bersama; sinergi antara rumah yang peduli dan sekolah yang melindungi adalah satu-satunya perisai untuk menjaga masa depan anak-anak Kepahiang.

Penulis adalah Ketua Yayasan Az zahra Kepahiang yang merupakan Relawan Literasi Masyarakat (Relima) di Kabupaten Kepahiang.

 

Buktikan Kualitas, Peserta Didik Paket C Siap Bersaing di Lomba Resensi Buku Kepahiang

Buktikan Kualitas, Peserta Didik Paket C Siap Bersaing di Lomba Resensi Buku Kepahiang

KEPAHIANG — Semangat literasi terus menyala dan menembus batas-batas pendidikan formal di Kabupaten Kepahiang. Hari ini, Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Kepahiang turun langsung memberikan pendampingan intensif kepada tujuh peserta didik Program Kejar Paket C (setara SMA) dari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Az Zahra.

Fokus kegiatan hari ini adalah pelatihan dan penyusunan resensi buku. Langkah ini diambil sebagai persiapan matang para peserta didik untuk unjuk gigi dalam ajang Lomba Resensi Buku yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Kepahiang.

Mengangkat Karya Lokal Yayasan Az Zahra

Ada hal yang istimewa dari persiapan lomba kali ini. Ketujuh peserta didik sepakat memilih buku kumpulan cerita pendek (cerpen) terbitan Yayasan Az Zahra Kepahiang sebagai bahan resensi mereka.

Pilihan ini bukan tanpa alasan. Selain sebagai bentuk kebanggaan terhadap karya literasi lokal, membedah buku terbitan yayasan sendiri memberikan kedekatan emosional bagi para peserta didik. Di bawah bimbingan Relima, mereka diajak untuk membaca secara kritis, membedah alur, menganalisis karakter, hingga menangkap pesan moral dari cerpen-cerpen tersebut untuk dituangkan ke dalam tulisan yang tajam dan menarik.

Mematahkan Stigma, Berani Tampil Menginspirasi

Keikutsertaan warga belajar PKBM Az Zahra dalam kompetisi tingkat kabupaten ini membawa pesan yang sangat kuat. Ini adalah ajang pembuktian bahwa peserta didik pendidikan nonformal memiliki kualitas, daya saing, dan kepercayaan diri yang setara dengan siswa dari sekolah formal.

Status sebagai siswa pendidikan kesetaraan sama sekali bukan penghalang untuk berkarya. Sebaliknya, melalui program bimbingan seperti ini, mereka menunjukkan kesiapan mental dan intelektual yang luar biasa.

Keterlibatan aktif tujuh peserta didik Paket C ini diharapkan dapat memantik semangat literasi warga belajar lainnya di Kepahiang. Bersama pendampingan Relima dan dukungan penuh dari PKBM Az Zahra, mereka kini tidak hanya siap bertanding, tetapi juga siap menginspirasi.

 

Kegiatan PKW Batik Diwo Kepahiang