"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

Az Zahra Kepahiang

Merajut Empati, Memutus Rantai Perundungan

Merajut Empati, Memutus Rantai Perundungan

Sangat disayangkan ketika ruang-ruang kelas yang semestinya menjadi taman persemaian adab, budi pekerti, dan karakter baik, justru harus ternoda oleh tindakan perundungan (bullying). Hari ini, realita di lapangan membawa sebuah tugas yang mengiris hati: memberikan pendampingan langsung kepada seorang pelajar yang menjadi korban perundungan di lingkungan sekolahnya sendiri.

Sebagai Relawan Literasi Masyarakat (Relima) yang telah lama mengamati dinamika pendidikan di Kepahiang, kejadian ini menjadi alarm keras bagi kita semua. Literasi bukan hanya soal membaca buku, tetapi juga kemampuan membaca situasi, memahami emosi, dan memanusiakan manusia.

Penyelesaian Kekeluargaan dan Edukasi Orang Tua

Dalam upaya pendampingan hari ini, langkah utama yang diambil adalah memfasilitasi komunikasi antara pihak sekolah dan orang tua/wali murid yang dipanggil. Fokusnya adalah mencari titik terang dan menyelesaikan masalah perundungan ini melalui jalan kekeluargaan, tanpa mengesampingkan efek jera dan edukasi bagi pelaku.

Di hadapan para orang tua, edukasi yang mendalam menjadi hal yang tak bisa ditawar. Ada beberapa poin krusial yang ditekankan dalam pertemuan tersebut:

  • Kepekaan Pengasuhan: Orang tua, terkhusus sosok ibu sebagai madrasah pertama anak, dituntut untuk jauh lebih peka terhadap perubahan tingkah laku anak di rumah. Diamnya seorang anak atau perubahan emosi yang drastis seringkali adalah jeritan minta tolong yang tak terucap.
  • Memahami Fase Rentan: Pelajar di tingkat SMP yang berada pada rentang usia 11-15 tahun sedang melewati fase transisi yang sangat rawan. Ini adalah masa pubertas, pergolakan emosi, dan pencarian jati diri. Tanpa kompas moral yang kuat dari rumah, anak-anak mudah tersesat dalam perilaku agresif atau sebaliknya, menjadi korban yang rentan.
  • Edukasi Dampak Perundungan: Orang tua wajib menanamkan pemahaman di meja makan atau ruang keluarga tentang betapa destruktifnya dampak perundungan—baik bagi korban yang memikul trauma, maupun bagi pelaku yang kehilangan empati.

Menuju Sekolah Ramah Anak: Bukan Sekadar Slogan

Kasus ini juga menjadi catatan penting bagi institusi pendidikan. Mengandalkan teguran atau sanksi setelah kejadian tidaklah cukup. Pihak sekolah dituntut untuk meningkatkan kewaspadaan tingkat tinggi terhadap interaksi siswanya di luar jam pelajaran kelas.

Lebih dari itu, harus ada program nyata dan terukur terkait perlindungan anak. Sosialisasi anti-perundungan, posko pengaduan yang aman bagi siswa, serta pelatihan empati harus masuk ke dalam kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) sekolah.

Mewujudkan Sekolah Ramah Anak tidak boleh berhenti pada papan slogan di gerbang sekolah. Ia harus hidup dalam tegur sapa guru, dalam aturan yang melindungi, dan dalam rasa aman yang dirasakan setiap siswa saat melangkahkan kaki ke halaman sekolah.

Mari jadikan kejadian ini sebagai titik balik. Pendidikan karakter adalah tanggung jawab bersama; sinergi antara rumah yang peduli dan sekolah yang melindungi adalah satu-satunya perisai untuk menjaga masa depan anak-anak Kepahiang.

Penulis adalah Ketua Yayasan Az zahra Kepahiang yang merupakan Relawan Literasi Masyarakat (Relima) di Kabupaten Kepahiang.

 

Buktikan Kualitas, Peserta Didik Paket C Siap Bersaing di Lomba Resensi Buku Kepahiang

Buktikan Kualitas, Peserta Didik Paket C Siap Bersaing di Lomba Resensi Buku Kepahiang

KEPAHIANG — Semangat literasi terus menyala dan menembus batas-batas pendidikan formal di Kabupaten Kepahiang. Hari ini, Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Kepahiang turun langsung memberikan pendampingan intensif kepada tujuh peserta didik Program Kejar Paket C (setara SMA) dari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Az Zahra.

Fokus kegiatan hari ini adalah pelatihan dan penyusunan resensi buku. Langkah ini diambil sebagai persiapan matang para peserta didik untuk unjuk gigi dalam ajang Lomba Resensi Buku yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Kepahiang.

Mengangkat Karya Lokal Yayasan Az Zahra

Ada hal yang istimewa dari persiapan lomba kali ini. Ketujuh peserta didik sepakat memilih buku kumpulan cerita pendek (cerpen) terbitan Yayasan Az Zahra Kepahiang sebagai bahan resensi mereka.

Pilihan ini bukan tanpa alasan. Selain sebagai bentuk kebanggaan terhadap karya literasi lokal, membedah buku terbitan yayasan sendiri memberikan kedekatan emosional bagi para peserta didik. Di bawah bimbingan Relima, mereka diajak untuk membaca secara kritis, membedah alur, menganalisis karakter, hingga menangkap pesan moral dari cerpen-cerpen tersebut untuk dituangkan ke dalam tulisan yang tajam dan menarik.

Mematahkan Stigma, Berani Tampil Menginspirasi

Keikutsertaan warga belajar PKBM Az Zahra dalam kompetisi tingkat kabupaten ini membawa pesan yang sangat kuat. Ini adalah ajang pembuktian bahwa peserta didik pendidikan nonformal memiliki kualitas, daya saing, dan kepercayaan diri yang setara dengan siswa dari sekolah formal.

Status sebagai siswa pendidikan kesetaraan sama sekali bukan penghalang untuk berkarya. Sebaliknya, melalui program bimbingan seperti ini, mereka menunjukkan kesiapan mental dan intelektual yang luar biasa.

Keterlibatan aktif tujuh peserta didik Paket C ini diharapkan dapat memantik semangat literasi warga belajar lainnya di Kepahiang. Bersama pendampingan Relima dan dukungan penuh dari PKBM Az Zahra, mereka kini tidak hanya siap bertanding, tetapi juga siap menginspirasi.

 

Sabila Wisata Hadir sebagai “Travel Asli Orang Kepahiang”

Sabila Wisata Hadir sebagai “Travel Asli Orang Kepahiang”

“Berasal dari Kepahiang, Berpusat di Kepahiang, dan Melayani Jemaah Kepahiang Sepenuh Hati.”

Menunaikan ibadah umrah dan haji adalah impian suci setiap muslim. Namun, tidak bisa dimungkiri bahwa selama ini masyarakat Kabupaten Kepahiang sering kali dihadapkan pada rasa ragu saat memilih biro perjalanan ibadah.

Kebanyakan agen travel yang beroperasi di daerah kita merupakan kantor cabang atau perwakilan yang pusatnya berada di Jakarta atau provinsi lain. Dampaknya?

  • Jarak Konsultasi yang Jauh: Jemaah sering kali kesulitan untuk berdiskusi langsung dengan pihak pengambil keputusan.
  • Risiko Misinformasi: Informasi perizinan, jadwal, dan hotel kerap kali berbelit-belit karena harus melewati rantai perwakilan yang panjang.
  • Keraguan Keberadaan Kantor: Banyak calon jemaah merasa cemas karena keberadaan fisik kantor pusatnya yang berada jauh dari jangkauan.

Melihat kondisi tersebut, PT Safari Bina Labbaik (Sabila Wisata) hadir mematahkan semua batasan itu. Kami bangga menegaskan identitas kami sebagai Travel Asli Orang Kepahiang.

Memperpendek Jarak, Memperkuat Kepercayaan

Sabila Wisata lahir bukan sebagai cabang dari luar, melainkan perusahaan mandiri yang kantor pusatnya berdiri kokoh di Pasar Ujung, Kepahiang.

Kehadiran kantor pusat di tanah sendiri memberikan jaminan penuh bagi masyarakat:

  1. Mudah Ditemui & Dikonsultasikan: Pintu kantor kami selalu terbuka kapan saja bagi calon jemaah atau keluarga yang ingin bersilaturahmi, berkonsultasi, maupun memastikan kelengkapan dokumen secara langsung.
  2. Tanpa Perantara: Semua urusan operasional dan administrasi ditangani secara transparan, akuntabel, dan tanpa perantara pihak ketiga.
  3. Pertanggungjawaban yang Jelas: Karena kami adalah tetangga dan bagian dari masyarakat Kepahiang, nama baik dan integritas adalah taruhan tertinggi kami dalam melayani tamu-tamu Allah.

Bersatunya 4 Srikandi Hebat Kabupaten Kepahiang

Kepercayaan dan kualitas layanan Sabila Wisata digerakkan oleh empat tokoh perempuan inspiratif yang dedikasi dan rekam jejaknya sudah tidak diragukan lagi di tengah masyarakat Kepahiang:

  • Ibu Hj. Titi Sarimanah, M.Pd.

Seorang Aparatur Sipil Negara (PNS) sekaligus pengusaha wanita yang sukses di Kepahiang. Beliau membawa ketelitian, manajemen profesional, dan integritas tata kelola ke dalam tata kerja perusahaan.

  • Ibu Hj. Ermawati, S.Sos.

Pensiunan PNS yang aktif menggerakkan masyarakat melalui melalui pemberdayaan kesejahteraan keluarga (PKK) dan majelis ta’lim. Kehadiran beliau memastikan bimbingan ibadah dan pendekatan keagamaan kepada jemaah terasa hangat, mengayomi, dan penuh keibu-an.

  • Ibu Helmiyesi, M.Si. (Umi Yesi)

Pegiat pendidikan nonformal, relawan literasi, dan tokoh berpengaruh di Kepahiang. Umi Yesi mengawal transparansi informasi, edukasi legalitas jemaah, dan memastikan setiap calon jemaah mendapatkan literasi ibadah yang benar dan menenangkan.

  • Ibu Leci Meipronika, S.ST.,CHE 

Seorang bidan yang sangat dikenal luas, ramah, dan dipercaya khalayak, serta seorang konten kreator handal. Beliau siap menyajikan edukasi visual perjalanan ibadah yang jujur, informatif, dan kreatif, sekaligus memperhatikan aspek kenyamanan kesehatan jemaah.

Komitmen Kami: Melayani dengan Kehangatan Kekeluargaan

Bersatunya empat pendiri ini dipicu oleh niat tulus untuk melindungi masyarakat Kepahiang dari risiko travel yang tidak bertanggung jawab. Kami tidak hanya ingin mengantarkan Anda ke Tanah Suci, tetapi kami ingin mendampingi setiap langkah ibadah Anda dengan kehangatan rasa kekeluargaan khas Kepahiang—mulai dari manasik, keberangkatan, pelaksanaan ibadah di Makkah & Madinah, hingga kembali ke rumah dengan selamat.

“Kini, untuk berangkat ke Tanah Suci, warga Kepahiang tidak perlu lagi merasa cemas. Rumah kita punya travel sendiri—Sabila Wisata.”

Alamat Kantor Pusat:

PT Safari Bina Labbaik (Sabila Wisata)

Jl. Pembangunan RT.05 RW.02, Kel. Pasar Ujung, Kec. Kepahiang, Kab. Kepahiang, Prov. Bengkulu.

  • Email: sabilawisata07@gmail.com
  • Hotline / Layanan Konsultasi:
    • 0812-7397-9936 (Titi Sarimanah)
    • 0852-1322-5137 (Ermawati)
    • 0852-6788-7453 (Umi Yesi)
    • 0852-6893-7720 (Leci Meipronika)

Kegiatan PKW Batik Diwo Kepahiang