Az Zahra Kepahiang
Literasi Tanpa Batas, Peserta Didik PKBM Az Zahra Kepahiang Unjuk Gigi di Lomba Resensi Buku Kepahiang
Literasi Tanpa Batas, Peserta Didik PKBM Az Zahra Kepahiang Unjuk Gigi di Lomba Resensi Buku Kepahiang
KEPAHIANG – 5/8/2026 – Gaung kebangkitan literasi di Kabupaten Kepahiang rupanya tidak hanya menyentuh bangku sekolah formal. Semangat membara ini juga merasuk kuat ke jalur pendidikan nonformal. Hal ini dibuktikan dengan partisipasi aktif peserta didik dari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Az Zahra Kepahiang dalam rangkaian kegiatan Lomba Pembuatan Resensi Buku Berbasis Koleksi Perpustakaan yang digelar hari ini.
Kehadiran warga belajar dari program Kejar Paket B dan Paket C ini menjadi warna dan inspirasi tersendiri dalam acara yang diinisiasi oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Kepahiang. Ini menjadi bukti nyata bahwa hak dan semangat untuk membaca, memahami, dan mengkritisi sebuah buku dimiliki oleh semua generasi muda, tanpa membedakan latar belakang instansi pendidikannya.
Dengan penuh semangat, para peserta didik pendidikan kesetaraan ini hadir didampingi langsung oleh tutor sekaligus pendamping mereka, Ibu Erna Wati Batik. Mereka tampak antusias menyerap materi pembekalan dan siap bersaing menghasilkan karya resensi terbaik.
Adapun delegasi perwakilan peserta lomba dari PKBM Az Zahra Kepahiang adalah sebagai berikut:
Peserta Didik Paket C:
- Annas
- Neysa
- Elsinta
Peserta Didik Paket B:
- Asyifa
- Rafi
- Rizkan
- Wilya
Partisipasi dari ketujuh warga belajar PKBM Az Zahra ini menuai apresiasi positif dan dinilai sangat sejalan dengan visi Bunda Literasi Kabupaten Kepahiang, Ibu Hj. Emi Nurhayati. Di mana sebelumnya beliau menekankan pentingnya menghidupkan ekosistem membaca di seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Keterlibatan peserta didik Paket B dan C PKBM Az Zahra Kepahiang ini diharapkan dapat memotivasi warga belajar lainnya untuk terus berkarya. Sekaligus membuktikan bahwa dari rahim pendidikan nonformal pun, bisa lahir pemikir-pemikir kritis dan agen-agen literasi yang hebat untuk kemajuan Kabupaten Kepahiang.
Bangkitkan Semangat, Bunda Literasi Kepahiang Buka Pembekalan Lomba Resensi Buku Pelajar Kepahiang
Bangkitkan Semangat, Bunda Literasi Kepahiang Buka Pembekalan Lomba Resensi Buku Pelajar Kepahiang
KEPAHIANG – Upaya peningkatan minat baca dan literasi di Kabupaten Kepahiang terus digalakkan. Semangat ini terekam jelas dalam acara Pembekalan Lomba Pembuatan Resensi Buku Berbasis Koleksi Perpustakaan yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Kepahiang hari ini. Acara berlangsung interaktif dan penuh antusiasme dengan dipandu langsung oleh Helmiyesi, Relima Kabupaten Kepahiang, yang tampil apik sebagai Master of Ceremony (MC).
Kegiatan ini menjadi sangat istimewa karena dibuka secara resmi oleh Bunda Literasi Kabupaten Kepahiang, Ibu Hj. Emi Nurhayati. Kehadiran istri Bupati Kepahiang ini tidak hanya sekadar membuka acara, tetapi juga membawa pesan penting dan visi besar untuk kemajuan literasi daerah.
Dalam sambutannya, Ibu Hj. Emi Nurhayati mendorong terciptanya ekosistem membaca yang dekat dengan keseharian warga.
“Kita berharap setiap desa memiliki pojok baca, sehingga masyarakat kita bisa semakin melek literasi,” pesan Ibu Emi.
Lebih lanjut, beliau juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor. Beliau berharap ibu-ibu PKK, khususnya Pokja 2, dapat bersinergi kuat dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Kepahiang dalam mengaktifkan berbagai kegiatan literasi langsung di tengah masyarakat.
Ide brilian dan dorongan dari sosok yang juga menjabat sebagai Bunda PAUD Kabupaten Kepahiang ini mendapat apresiasi tinggi. Pak Zikrullah, M.Pd., menyambut baik gagasan tersebut dan melihatnya sebagai langkah strategis untuk membangun fondasi pendidikan daerah yang lebih kuat.
Lomba pembuatan resensi buku ini sendiri menyasar para pelajar tingkat SMP dan SMA se-Kabupaten Kepahiang menurut laporan Ketua Pelaksana Kegiatan, Ibu Darsila Efriyanti, S.Sos. Melalui pembekalan ini, kegiatan meresensi buku diharapkan tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi cikal bakal bangkitnya minat baca dan kemampuan literasi yang kritis di kalangan generasi muda serta masyarakat luas.
Dengan adanya sinergi antara pemerintah, penggerak literasi, dan masyarakat, Kabupaten Kepahiang siap melangkah maju menuju daerah yang cerdas dan berbudaya literasi tinggi.
Merajut Empati, Memutus Rantai Perundungan
Merajut Empati, Memutus Rantai Perundungan
Sangat disayangkan ketika ruang-ruang kelas yang semestinya menjadi taman persemaian adab, budi pekerti, dan karakter baik, justru harus ternoda oleh tindakan perundungan (bullying). Hari ini, realita di lapangan membawa sebuah tugas yang mengiris hati: memberikan pendampingan langsung kepada seorang pelajar yang menjadi korban perundungan di lingkungan sekolahnya sendiri.
Sebagai Relawan Literasi Masyarakat (Relima) yang telah lama mengamati dinamika pendidikan di Kepahiang, kejadian ini menjadi alarm keras bagi kita semua. Literasi bukan hanya soal membaca buku, tetapi juga kemampuan membaca situasi, memahami emosi, dan memanusiakan manusia.
Penyelesaian Kekeluargaan dan Edukasi Orang Tua
Dalam upaya pendampingan hari ini, langkah utama yang diambil adalah memfasilitasi komunikasi antara pihak sekolah dan orang tua/wali murid yang dipanggil. Fokusnya adalah mencari titik terang dan menyelesaikan masalah perundungan ini melalui jalan kekeluargaan, tanpa mengesampingkan efek jera dan edukasi bagi pelaku.
Di hadapan para orang tua, edukasi yang mendalam menjadi hal yang tak bisa ditawar. Ada beberapa poin krusial yang ditekankan dalam pertemuan tersebut:
- Kepekaan Pengasuhan: Orang tua, terkhusus sosok ibu sebagai madrasah pertama anak, dituntut untuk jauh lebih peka terhadap perubahan tingkah laku anak di rumah. Diamnya seorang anak atau perubahan emosi yang drastis seringkali adalah jeritan minta tolong yang tak terucap.
- Memahami Fase Rentan: Pelajar di tingkat SMP yang berada pada rentang usia 11-15 tahun sedang melewati fase transisi yang sangat rawan. Ini adalah masa pubertas, pergolakan emosi, dan pencarian jati diri. Tanpa kompas moral yang kuat dari rumah, anak-anak mudah tersesat dalam perilaku agresif atau sebaliknya, menjadi korban yang rentan.
- Edukasi Dampak Perundungan: Orang tua wajib menanamkan pemahaman di meja makan atau ruang keluarga tentang betapa destruktifnya dampak perundungan—baik bagi korban yang memikul trauma, maupun bagi pelaku yang kehilangan empati.
Menuju Sekolah Ramah Anak: Bukan Sekadar Slogan
Kasus ini juga menjadi catatan penting bagi institusi pendidikan. Mengandalkan teguran atau sanksi setelah kejadian tidaklah cukup. Pihak sekolah dituntut untuk meningkatkan kewaspadaan tingkat tinggi terhadap interaksi siswanya di luar jam pelajaran kelas.
Lebih dari itu, harus ada program nyata dan terukur terkait perlindungan anak. Sosialisasi anti-perundungan, posko pengaduan yang aman bagi siswa, serta pelatihan empati harus masuk ke dalam kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) sekolah.
Mewujudkan Sekolah Ramah Anak tidak boleh berhenti pada papan slogan di gerbang sekolah. Ia harus hidup dalam tegur sapa guru, dalam aturan yang melindungi, dan dalam rasa aman yang dirasakan setiap siswa saat melangkahkan kaki ke halaman sekolah.
Mari jadikan kejadian ini sebagai titik balik. Pendidikan karakter adalah tanggung jawab bersama; sinergi antara rumah yang peduli dan sekolah yang melindungi adalah satu-satunya perisai untuk menjaga masa depan anak-anak Kepahiang.
Penulis adalah Ketua Yayasan Az zahra Kepahiang yang merupakan Relawan Literasi Masyarakat (Relima) di Kabupaten Kepahiang.


