Az Zahra Kepahiang
Ikuti Kelas Terapi, FPPI Bantu Meminimalisir Kasus Perempuan dan Anak di Kepahiang
Baru-baru ini saya menangani klien seorang ibu dengan anak dibawah umur yang menjadi korban bujuk rayu ayah tiri sehingga terjadilah persetubuhan. Hal ini sudah berlangsung lebih dari sekali. Ketika sang ibu mengetahui perbuatan tersebut, dia syok dan meluapkan emosinya dengan memukul anaknya hingga tubuh anak memar dan biru-biru.
Seperti pengetahuan yang saya pelajari di kelas PPA For Healing, dr. Rama selalu menekankan bahwa jika ada permasalahan menimpa sang anak, maka yang diterapi terlebih dahulu adalah orangtuanya. Maka saya mendekati sang ibu yang tak bisa berhenti menangis sambil mengendong putranya yang berumur 1 tahun. Anak tersebut seolah mengerti kegelisahan sang ibu sehingga diapun rewel tidak mau lepas dari gendongan ibunya.
“Ibu, mohon izin membantu, saya Yesi, terapis. Jika ibu berkenan saya bantu meringankan beban yang ibu rasakan saat ini. Rasa apa yang paling menganggu ibu saat ini?” tanyaku sembari mengelus pundaknya. Ibu ini dalam posisi duduk dan tertunduk.
“Marah. Saya sangat marah sama anak tersebut, ngapo dio idak bercerito dari awal kalo laki aku ganggu dio. Kalo aku tahu dari awal, idak bakal lamo aku bertahan hingga punya anak lagi dari dio ni” dia menunjuk anak laki-laki dalam gendongannya.
Saya paham, mencoba memberi empati dengan musibah yang dihadapinya. Dia kehilangan kepercayaan dengan dua orang yang sangat dekat dan disayang yaitu anak perempuan dan suaminya. Dia merasa dikhianati. Merasa di duakan. Dia marah dengan anak perempuannya yang tak berdaya menghadapi ayah tirinya sejak awal. Dan dia marah dengan suami yang berbuat diluar perkiraan.
Seperti biasa, saya mulai sesi terapi dengan berdoa terlebih dahulu. Memohon kepada Allah yang maha membolak balikkan hati agar si ibu dapat menghilangkan rasa marahnya. Saya minum air putih yang telah disiapkan sebelumnya. Sang ibu sambil mendekap putranya yang sedang tertidur, saya bimbing membaca surat Alfatehah, Al-Ikhlas, Al-falaq dan surat An-nas lalu meminum air putih dengan doa agar allah meringankan beban perasaan yang dideritanya.
Seft up sudah usai, lalu Tune In yaitu merasakan emosinya, sambil membayangkan, merecall kembali audio kata-kata atau merasakan peristiwanya. Saya minta dia membayangkan anak perempuannya saat dia pukul dan dimaki dengan kata-kata kasar. Dia menurut, lalu saya minta dia membayangkan ketika hamil dan melahirkan putrinya tersebut. Dia mengelengkan kepala…katanya dia tidak bisa membayangkan, dia tidak ingat.
Saya tanya, apa yang dia ingat? Suami. Yang dia ingat adalah suaminya seolah sedang berdiri di depan pintu, memandangnya dengan wajah penyesalan. Saya tanya, apakah masih marah sama putrinya? Jawabnya tidak lagi…tidak ada rasa marah lagi. Dia tahu anaknya adalah korban. Seharusnya dia peluk dan beri perlindungan. Dia menangis lagi. Putranya terbangun, memecah konsentrasi. Aku minta dia pindah duduk di kursi sambil menyusui agar putranya tertidur kembali.
“Apakah ibu sangat mencintai suami?” Dia menjawab Iya, dan mengkhawatirkan nasib anak-anak karena dia tidak bekerja. Suamilah tulang punggung utama. Sekarang suaminya telah dipenjara karena laporan masyarakat yang mendengar curhat sang anak sebelumnya. Dia merasa tak berdaya, antara benci dan cinta. Benci karena perbuatan suami telah merusak masa depan putrinya. Namun masih tersisa rasa cinta karena selama ini suaminya tidak memperlihatkan gelagat aneh dan selalu berbuat baik padanya. Memenuhi semua kebutuhannya. Bimbang, antara percaya dan tidak dengan kenyataan yang dihadapi saat ini.
Selesai curhat saya lanjutkan Tapping, adalah mengetuk-ngetuk ringan titik meridian sambil berdoa. Kali ini saya minta dia mendoakan suaminya agar menyadari kesalahannya. Saya tidak meminta dia melupakan bayangan suami, justru saya minta dia untuk mengingat masa-masa bahagianya bersama suami. Hal ini penting untuk mengurangi bebannya. Meringankan beban bukan dengan cara melupakan. Sebab semakin kuat keinginan untuk melupakan, maka semakin kuat ingatan terhadapnya. Yang saya ajarkan adalah penerimaan, mau membuka mata dan hati bahwa suami yang disayang tersebut telah melanggar aturan, melakukan dosa besar dan menghancurkan masa depan anak gadisnya.
Saya juga menyampaikan bahwa rejeki itu bukan semata dari suami. Jangan bergantung padanya. Sebab yang memberi rejeki adalah Allah SWT. Yakinlah…allah akan mencukupi kebutuhan mereka meski suami di penjara. Dia mengangguk…matanya tertutup menikmati setiap ketukan yang ku lakukan di titik meridian.
Aku lanjutkan tapping disertai doa agar Allah memberinya ketenangan. Semua adalah ketentuan Allah, jangan berkeluh kesah mengapa musibah seberat ini menimpa kita. Bisa jadi ada dosa yang selama ini tidak kita sadari sehingga ini menjadi teguran agar kita kembali kepadaNya. Atau ini adalah cara Allah menghapus dan mengurangi dosa-dosa kita di dunia, syaratnya kita ikhlas dan pasrah menerima musibah besar ini. Dia mengangguk. Tanggisnya sudah reda.
***************************************
Setelah melihat kondisi sang ibu yang sudah tenang dan rileks, aku datang menghampiri putrinya di ruang yang berbeda. Dia baru selesai shalat ashar di belakang rumah, tepatnya di rumah Ketua P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak), ada mushala kecil di sana. Dan dia ditemani seorang pemerhati anak yang ikut membantu dalam proses ini.
Anak ini masih sangat belia, berusia sekitar 12 tahun, masih sekolah di tingkat Sekolah Dasar. Dia menunduk sambil sesekali mengusap air mata yang jatuh membasahi mukenanya. Aku mendekat, memegang tangan kanannya dan memperkenalkan diri.
“Assallamu alaikum, sehat nak?” Dia menatapku, mengangguk sekilas dan menunduk kembali.
“Saya Yesi, Umi Yesi…, jangan khawatir, jangan cemas, umi datang untuk membantumu. Apa yang kau rasakan saat ini?”
“Takut” jawabnya singkat.
“Takut dengan siapa?”
“Mamak”
“Kenapa?”
“Dia mukul” dia memperlihatkan bahu sebelah kanan yang masih biru dan memar bekas pukulan. Aku mengangguk, tersenyum padanya. Memberinya rasa empati.
Setelah berbincang sejenak, aku memulai sesi terapi sesuai petunjuk yang ku dapat dari kelas PPA For Healing beberapa bulan lalu. Metode terapi ini terbukti ampuh membantu klien yang mengalami permasalahan fisik dan psikis.
Sesi pertama adalah menghilangkan rasa takut dengan ibunya, Alhamdulillah baru kalimat set up saja rasa takutnya sudah hilang. Dari skala 10 menjadi nol. Dia tidak takut lagi.
Namun dia masih cemas, khawatir jika ketahuan teman-teman di sekolah nanti. Aku melanjutkan sesi Tune in dan tapping. Baru satu putaran dia mengaku sudah tidak cemas lagi. Wajahnya sudah mulai memerah yang sebelumnya terlihat layu dan pucat. Aku mengucap syukur, Alhamdulillah dipermudah. Temanku, sang pemerhati anak tadi takjub. Dia sampai tak bisa menahan air mata karena haru. Kami memeluk anak tersebut, sama-sama menangis. Anak sekecil ini sudah diberi cobaan berat, semoga dewasanya nanti bisa jadi perempuan kuat dan hebat, doaku dalam hati.
Menjelang magrib, kami mempertemukan ibu dan anak ini dalam satu ruangan. Awalnya masih kaku. Mereka saling berdiam diri. Aku memberi isyarat pada sang anak agar memeluk ibunya dan meminta maaf. Dia memandangku agak ragu, aku raih tangannya menuntun dia menyentuh ibunya. Pecahlah tanggis keduanya. Sang anak terisak memohon ampun dan maaf dari ibunya. Ibu membalas pelukan putrinya lebih erat. Kami yang menyaksikan terlarut dalam keadaan. Ikut menangis dan berucap syukur. Hatiku merasa hangat.
Nah..kawan-kawan kota kecil kita ini sedang marak dengan kasus-kasus seperti ini. Maka dibutuhkan tim yang solid dan kuat untuk membantu meminimalisir masalah perempuan dan anak. Saya, ketua DPC FPPI Kabupaten Kepahiang mengajak kawan-kawan yang berminat mengikuti kelas terapi seperti yang saya praktekkan kepada dua klien di atas. Insyaallah akan dilaksanakan Sabtu-Ahad, 14-15 Maret 2020 di Hotel Santika Bengkulu.
Info lengkap silahkan daftar dan hubungi Pak Dedi 0819-4380-800 atau Ibu Mudriyanti 0812-7198-8873. Semoga bermanfaat…

DUHAI IBU…SELAMATKAN PUTRIMU
DUHAI IBU…SELAMATKAN PUTRIMU
Seringkali kita dikejutkan dengan berita Ayah tiri yang tega memperkosa anak belasan tahun hingga mengandung, kisah seperti ini hampir setiap hari kita dengar baik melalui media massa maupun melalui media elektronik lainnya. Hasil laporan yang kami terima dan tangani melalui DPC FPPI Kepahiang rata-rata setiap bulannya mereka menangani 5 kasus kekerasan terhadap anak di bawah umur. Belum lagi kasus-kasus anak lainnya yang tidak sempat terlayani karena tidak adanya laporan dan keluhan. Dan yang paling memprihatinkan justru pelaku tindak kekerasan tersebut adalah orang-orang terdekat dengan anak. Banyak tindak kekerasan justru dilakukan oleh ayah tiri, kakek, paman, keponakan atau bahkan ayah kandungnya sendiri. Tragis memang.
Lalu apa yang seharusnya dilakukan seorang ibu terhadap anak-anak perempuannya agar terhindar dari hal-hal disebut diatas? Yang pertama sebelum menikah seorang perempuan harus benar-benar menyeleksi calon suami yang bakal menjadi ayah dari keturunannya. Sebab dengan mengetahui latar belakang keluarga calon dan pribadinya sebelum menikah kita telah meminimalisir hal-hal buruk di masa depan. Janganlah menjadi sok pahlawan dengan menikahi laki-laki yang buruk tabiatnya dengan dalih akan mampu merubahnya menjadi lebih baik setelah menikah nanti. Kecil sekali kemungkinan kita dapat merubah tabiat orang lain karena kita juga punya kelemahan dan keterbatasan. Nah…bagi yang belum menikah…pikirkanlah hal ini dan tegaslah pada laki-laki yang akan menjadi pendampingmu. Pilihlah laki-laki yang santun dan berakhlak mulia, calon ayah bagi anakmu.
Yang kedua, saat perempuan telah dipercaya untuk mengandung benih kasih sayang antara suami dan isteri maka tugas sebagai ibu telah di mulai. Di saat awal kehamilan, janin telah mampu merespon kehendak ibunya. Hal ini terbukti dengan, jika sang ibu merasa senang dan rileks dalam masa kehamilan maka dia tidak akan mengalami kesulitan-kesulitan berarti dalam masa kehamilannya. Sebaliknya bila seorang ibu tidak dapat tenang dan sering emosional semasa kehamilannya maka sering kita dengar keluhan-keluhan seputar kehamilannya. Anak harus di didik sedini mungkin, sejak masa kehamilan sampai usia 8 tahun pertumbuhannya. Masa ini di sebut masa golden age yaitu masa keemasan bagi anak. Jika masa-masa ini kita tidak maksimal mendidik anak maka kita akan menghasilkan anak-anak yang lemah dan rentan terhadap masalah. Anak-anak yang tidak terbiasa dekat dengan orang tua terutama ibunya akan menjadi anak-anak yang tidak bersemangat, tidak antusias dan pasif terhadap semua kegiatan. Lain halnya dengan anak-anak yang telah kita didik sejak masa kehamilan hingga usia balitanya dengan baik, maka akan menghasilkan anak-anak yang hangat, ceria, tidak berpura-pura, mudah memaafkan dan dapat menghadapi kendala dalam masa pertumbuhan dan perkembangannya.
Yang ketiga, jadilah sahabat bagi putra-putri anda. Seorang ibu tidak seharusnya malu untuk ikut bahasa-bahasa gaul muda mudi yang sedang tren sekarang. Usia 10 sampai 18 tahun adalah usia anak yang sedang di masa pubertas, masa pencarian jati diri dan masa perkembangan organ kelaminnya. Seorang ibu selayaknya bersikap sebagai sahabat dalam masa-masa transisi ini agar anak tidak salah memilih orang sebagai sahabat atau tempat curhat. Sikap ibu yang terbuka dan mau mendengarkan keluh kesah anak-anaknya dapat meminimalkan kekerasan terhadap mereka. Sebab anak-anak ini akan bercerita jika ada hal-hal yang janggal terhadap orang-orang yang berada di sekitarnya. Hal ini langkah awal seorang ibu mengetahui dan segera mengatasi etikad tidak baik orang-orang terhadap anaknya. Banyak kasus perkosaan yang menimpa anak-anak tidak diketahui orang tuanya karena anak takut mengadu. Anak takut dengan ancaman pelaku kekerasan sehingga seringkali perkosaan terjadi berkali-kali di saat ibunya bepergian.
Ilustrasi berikut ini mengambarkan betapa pentingnya seorang ibu memilih suami yang baik, mendidik anaknya sejak usia dini dan menjadi sahabat saat anak membutuhkan. Kisahnya dimulai saat seorang perempuan terpaksa menikah di usia muda dengan pacarnya karena telah mengandung duluan. Perempuan ini terpaksa putus sekolah di tingkat SLTA dan berganti status dari “pelajar” menjadi seorang “isteri”. Beberapa bulan kemudian dia melahirkan seorang anak perempuan, dan statusnyapun berganti sebagai “ibu”. Dengan suami yang masih muda dan tanpa pekerjaan jelas, maka pekerjaan mendidik dan mengasuh anakpun hanya terfokus kepadanya seorang. Saat anak masih balita, sang ibu belum begitu kerepotan mengurusnya. Namun seiring waktu anak tumbuh dan semakin banyak hal-hal yang tak pernah diperhatikan serius olehnya. Setiap kali anak rewel dan menangis, sang ibu punya jurus jitu untuk menenangkannya. Jurus jitu tersebut adalah kata-kata ancaman “Awas, jangan nakal, jangan cengeng…nanti ibu tinggal !” Kalimat ini diucapkan dengan mimik muka serius dan tanpa belas kasih. Dan kalimat ini ternyata ampuh untuk meredam gejolak sang anak.
Seiring dengan waktu, anak perempuan itupun bertambah dewasa, dia berteman dengan seorang laki-laki teman sekelasnya. Dan ternyata kalimat ampuh ibunya dahulu juga digunakan oleh sang teman laki-lakinya tersebut setiap kali ada permintaannya yang tak dituruti olehnya. Awalnya hanya hal-hal sepele seputar pekerjaan sekolah. Sang lelaki mengancam tidak mau berteman lagi jika PR nya tidak dikerjakan. Dia juga mengunakan bahasa yang sama jika minta ditraktir makanan atau sekedar minta kirim pulsa. Walhasil, sang anak perempuan selalu menuruti permintaan teman laki-lakinya karena takut ditinggal dan tidak di anggab temannya. Hal ini persis dengan ancaman yang selalu di ucapkan oleh ibunya dahulu ketika dia rewel minta sesuatu. Ibunya selalu bilang “Awas, jangan nakal, jangan cengeng…nanti ibu tinggal !”.
Bisa ditebak, ketika sang teman laki-laki minta dia nginab di kostnya, diapun menuruti. Dan sudah pasti kejadian yang tidak diharapkanpun terjadi yakni perbuatan zina antara dua pelajar tersebut. Hal ini banyak terjadi di kalangan pelajar kita. Bahkan sebuah study mencengangkan yang pernah dilakukan pelajar SMA beberapa tahun lalu menyatakan bahwa hampir 40% pelajar SMA di Kepahiang sudah pernah berhubungan intim alias tidak perawan lagi. Nauzubillah min dzalik….
Nah…ibu..selamatkan anakmu. Mulailah dengan hal-hal kecil bersama anak-anak kita. Bagi yang belum menikah, waktu masih panjang untuk mencegah kekerasan terhadap anak-anak kita. Bagi yang telah mempunyai anak usia dini, jadilah ibu yang hangat dan pendidik utama di keluarga. Ibu juga dapat menitipkan anak ke lembaga PAUD yang ada di sekitar rumah. Namun, perlu diperhatikan jika ingin menitipkan anak di PAUD, pilihlah lembaga anak usia dini yang benar-benar menekankan pembelajaran karakter di sekolahnya. Jangan tergiur dengan lembaga-lembaga PAUD yang menawarkan kegiatan ektrakurikuler yang berjibun sementara kegiatan kesehariannya biasa-biasa saja. Dalam hal ini tentu saya merekomendasikan lembaga PAUD yang saya asuh seperti PAUD At Thoriq di Padang Lekat, yang siap menerima siswa baru dan bersedia mendidik anak-anak usia dini di Kepahiang yang berakhlak mulia dan menjadi generasi penerus bangsa nantinya.
Oke..ibu selamatkan anakmu. Jadilah sahabat dikala anak gundah. Jadilah penyelamat masa depannya. Selamat menjadi ibu…
Engkau Bidadari Kecil Yang Tak Pernah Sendirian
*Tulisan ini adalah kisah nyata sahabatku, Anita, yang Ia tulis untuk adik tercinta yang telah berpulang tahun 2004. Semoga menginspirasi!
Matanya bulat, cantik dan jernih seolah tak berdosa. Tawanya pun selalu lepas, sehingga menambah keceriaan di wajah. Usianya memang telah dewasa, namun ia berprilaku bagaikan balita yang polos dan tak banyak meminta. Kelembutan yang terpancar dari jiwa, juga telah menghapus kesempatannya untuk berbuat nakal dan dosa.
Ia adikku, Dian namanya. Limpahan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, menjadikan dirinya ditakdirkan terlahir dengan keterbelakangan mental. Chromosome 15 Trisomy Syndrome yang diderita membuatnya bagaikan seorang kanak-kanak. Namun, tak pernah sekalipun ia terlihat menyesali nasibnya.
Dian memang anak istimewa. Selain cacat mental, menjelang akhir hayatnya ia juga menderita sakit ginjal, diabetes, kelainan jantung, lalu lumpuh dan isu. Bahkan beberapa hari sebelum maut menjemput, kebutaan pun merampas penglihatannya. Tangis ketakutan yang kekanak-kanakan, akan membuat siapapun yang mendengar giris hatinya.
“Ma… ma… aku takut, gelap ma. Mama di sini sama aku ya ma,” terdengar rengekannya yang pernah membuat air mata Mamaku tumpah. Beliau lalu mengajak Dian berdzikir dan membaca do’a-do’a.
Apa yang diderita Dian pernah membuatku dan saudara-saudara yang lain berburuk sangka kepada-Nya, “Ya Allah, mengapa Engkau timpakan penderitaan sepedih ini kepada adik kami?” Pertanyaan itu sering kali menyeruak, dan bertubi-tubi menghujani hati ini.
Kami pun pernah sedih karena memikirkan Dian yang tak pernah hidup normal seperti layaknya saudara-saudaranya yang lain. Tumbuh dewasa, menikah,
lantas merasakan kebahagiaan berumah tangga. Namun, bukankah Allah Yang Maha Pencipta tentu lebih tahu segalanya. Mungkin IA hanya tersenyum bijaksana, menatap kesalahpahaman kami semua.
Dian memang cacat fisik dan mental, tapi tidak hatinya. Tubuh yang penuh tutulan obat merah dan perban karena koreng bernanah, bahkan sebagian hidupnya yang harus dijalani dengan kursi roda, tak mampu menutupi keistimewaan yang ada pada dirinya.
Suatu peristiwa saat ia berusia 5 tahun, menampilkan sosok jiwanya yang begitu lembut. Ia tak pernah tega walaupun terhadap semut-semut yang mengerubungi piring nasinya. Ia hanya menjerit-jerit, “Ma… nyamut,
nyamut ma!” karena saat itu ia tidak bisa membedakan antara nyamuk dan semut.
Lalu aku yang saat itu mendengar tergopoh-gopoh menghampirinya, “Jangan menangis Dian, ini kan cuma semut. Pukul saja, ntar juga semutnya pergi.” Lalu kuusir semut-semut itu, dengan tepukan tangan di lantai teras depan rumah kami.
Allah Yang Maha Pengasih memang sangat mencintai Dian. Betapa tidak?
Kelahirannya disambut dengan penuh kebahagiaan, dan kematiannya di usia 30 tahun adalah peristiwa terindah yang pernah kudengar.
Ketika itu, menjelang malaikat maut hendak menjemput, Mamaku meminta Dian untuk selalu mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala sambil membelai-belai lembut kepalanya, “Dian, nyebut ya sayang, ya Allah… gitu nak. Ya Allah… Allahu Akbar!”
Lalu Mama membaca surah Yaa siin di pinggir tempat tidur, sedangkan bapak melakukan sholat Ashar, tak jauh dari sisi tempat tidur Dian.
Lidah Dian mulai sulit bergerak. Namun orangtuaku dengan tabah berusaha membimbingnya mengucapkan “Allahu Akbar, ya Allah.” Hingga suatu saat, ketika Mama membisikkan kalimat itu, Dian menggenggam tangannya dengan kuat dan bergumam lirih, “Aaaaaahhhhhh…”
Air bening pun bergulir dari sudut mata Dian yang telah buta. Mungkin sebagai isyarat permintaan maaf, dan mohon kerelaan karena ia sebentar lagi akan berpulang kepada Sang Pencipta.
“Pulanglah Dian ke haribaan Allah…” kata mama dengan tabah di sela isakan tangisan. Lalu dengan tenang Dian meninggalkan kami semua dengan hembusan nafas terakhirnya.
Di saat penguburan, Mama mengecup telapak tangannya sendiri kemudian melambai ke pusara Dian. “Selamat jalan, bidadari kecilku. Tunggu mama di sana ya, nak,” katanya seraya menatap lubang peristirahatan terakhir Dian yang mulai ditutupi tanah merah oleh para sanak saudara dan sahabat.
Adikku Dian memang benar-benar anak istimewa, bahkan teristimewa di antara saudara-saudaranya. Karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala pun mengirim bapak untuk pulang menyertai Dian, tak lama setelah kepergiannya. Mungkin sebagai jawaban kepada bapak yang memang selalu merindukan anak istimewanya.
Sekarang bidadari kecil kami tak perlu takut sendirian, karena bapak telah berada di sana untuk menemaninya.
Dian, adikku tersayang… Jangan takut untuk kembali kepada Allah ya sayang.
Engkau tahu, engkau tak sendirian. Mama pun selalu berkata, engkau tak akan pernah sendirian, karena do’a dan segenap cinta kami selalu bersama dirimu, adikku tercinta.
Kembali kepada Allah adalah sesuatu yang indah. Bahkan teramat indah dari apa yang mungkin pernah engkau bayangkan. Selamat jalan sayang, selamat tinggal adikku yang teristimewa. Engkau memang bidadari kecil yang tak pernah sendirian.
WaLlahua’lam bi shawab.