Az Zahra Kepahiang
Memilih Menjadi Pribadi Unggul Demi Membangun Desa
Kepahiang, 12/3/2020. Memilih Menjadi Pribadi Unggul Demi Membangun Desa
Rabu, 11 Maret 2020 pukul 13.30 Wib berkumpul calon tutor program kelas jauh untuk kelompok belajar PKBM Iqro’ Az Zahra. Mereka adalah masyarakat Desa Batu Bandung Kecamatan Muara Kemumu yang memiliki niat membangun desa melalui pendidikan nonformal. Hadir Ibu Reti Maryani, beserta timnya Linda Hartati, Wika Hartati, Helmi, dan Gita Wulandari, mereka akan menjadi valuntir dan relawan kelas jauh tersebut.
Umi Yesi beserta tutor menyambut baik keinginan mereka untuk membuka layanan kelas jauh dikarenakan jarak domisili kegiatan yang cukup jauh dari PKBM Az Zahra Kepahiang. Hal ini juga sebagai upaya membantu masyarakat desa dalam mengenyam pendidikan dan keterampilan yang memadai. Kelas jauh juga berfungsi sebagai basis data dan pendampingan program lainnya.

Melihat semangat dan antusias pengelola dan calon tutor kelas jauh ini merupakan kebanggaan buat kami yang dipercaya menjadi pembimbing dan Pembina layanan program. Hanya orang yang memiliki jiwa sosial yang tinggi mau dan mampu berbuat untuk masyarakat sekitarnya, tanpa memikirkan dapat apa setelah kegiatan ini. Mereka bisa di sebut sebagai pribadi unggul.
Sungguh beruntung bagi siapapun yang dikaruniai oleh-Nya potensi dan bakat untuk unggul. Lebih beruntung lagi bagi siapapun yang di karuniai kemampuan untuk mengoptimalkan potensi dan bakatnya sehingga menjadi manusia unggul dan prestatif. Namun, betapa banyak pula orang yang cukup potensial tetapi tidak menjadi unggul. Betapa banyak orang yang memiliki bakat terpendam dan tetap “terpendam”, tidak tergali karena tidak tahu ilmu untuk mengoptimalkannya. Padahal tiap orang pada dasarnya memiliki potensi untuk unggul, termasuk kita.
Berikut ini beberapa kiat menjadi pribadi unggul dan prestatif yang saya kutip dari artikel yang ditulis K.H. Abdullah Gymnastiar.
PERCAYA DIRI
Bagi orang yang ingin memacu percepatan dirinya, maka tidak bisa tidak waktu adalah kuncinya. Sebab sesungguhnya waktu adalah hidup kita. Orang bodoh adalah orang yang diberi modal hidup berupa waktu kemudian ia sia-siakan. Ada tiga kelompok orang yang menggunakan waktu, yaitu : Orang sukses, yaitu orang yang menggunakan waktu dengan optimal, salah satu cirinya adalah ia melakukan sesuatu hal yang tidak di minati oleh orang gagal. Orang malang, yaitu orang yang hari-harinya diisi dengan kekecewaan dan selalu memulai sesuatu pada keesokan harinya. Orang hebat, yaitu orang yang bersedia melakukan sesuatu sekarang juga. Bagi orang hebat tidak ada hari esok, dia berkata bahwa membuang waktu bukan saja kejahatan, tetapi suatu pembunuhan yang kejam. Karena mengetahui dan menyadari akan pentingnya waktu berarti memahami pula nilai hidup dan kehidupan ini. Oleh karena itu, yang pertama dan utama yang harus dilakukan untuk menjadi pribadi unggul adalah pantang menyia-nyiakan waktu. Kita tidak boleh melakukan sesuatu dengan sia-sia, sebab semua yang dilakukan sangat pasti memakan waktu, sedangkan waktu itu sangat berharga. Tidak mungkin kita melakukan yang sia-sia (mubadzir), bukankah perbuatan mubadzir itu adalah perbuatan syetan, Alloh SWT berfirman : “sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syetan, dan syetan itu sangat ingkar pada Tuhan-Nya”. (QS. Al Israa (17:27)
SISTEM YANG KONDUSIF
Sistem yang kita masuki itu akan sangat mempengaruhi percepatan diri kita, salah dalam memilih sistem, memilih lingkungan maka akibatnyapun akan segera kita rasakan. Maka barang siapa ingin memiliki percepatan diri yang baik untuk menjadi unggul, maka harus bisa mencari sistem dan lingkungan atau teman-teman yang berkualitas. Sistem yang memiliki keunggulan dari standar biasa, lingkungan yang memuliakan perilaku yang terjaga, teman yang memiliki kehalusan budi pekerti yang tinggi. Apa bila kita memasuki dalam sistem seperti ini, maka imbasnya pada diri kita jua. Percepatan kita akan terkontrol untuk menjadi unggul dan bermutu. Lembaga atau organisasi yang memiliki sistem yang unggul, banyak yang telah membuktikan dirinya tampil dalam kehidupan bermasyarakat lebih maju dan lebih bermutu.
Maka kalau ingin memiliki pribadi yang unggul, tangguh dan prestatif, pastikan untuk tidak salah dalam memilih pergaulan. Sebab salah dalam memilih pergaulan lingkungan, salah dalam memilih sistem, berarti telah salah dalam memilih kesuksesan. Ingatlah pepatah “Bergaul dengan tukang minyak wangi akan kebawa wangi, bergaul dengan pandai besi akan kebawa bau bakaran”.
BERDAYA SAING POSITIF
Dalam setiap kesempatan dan lingkungan, kita harus memiliki naluri berdaya saing positif. Kalau tidak, pasti kita akan berat menghadapi hidup ini. Majalah “Panji” pernah memberitakan bahwa beberapa tahun lagi Universitas-Universitas luar negri, seperti Oxford, Harvard, UCLA, Stanford dan Universitas beken lainnya, akan masuk ke Indonesia. Kenyataan ini akan membuat miris beberapa perguruan tinggi. Sikap ini nampaknya dipicu oleh kenyataan adanya kesenjangan kualitas Perguruan Tinggi dalam negri dan Perguruan Tinggi luar negri.
Bagi Perguruan Tinggi yang tidak memiliki mental berdaya saing positif, akan membuat mereka panik, kalang kabut karena takut kesaingan. Melihat kenyataan yang sama atau lebih darinya, maka akan dianggap sebuah ancaman yang seolah-olah akan menghancurkanya.Namun bagi yang memiliki mental bersaing yang positif, hal itu justru akan di tanggapi dengan senang hati, seolah-olah dia mendapatkan sparing partner yang akan memacunya lebih berkualitas lagi. Sebab mereka yang tidak diberi pesaing, kadang-kadang tidak membuat mereka maju.
Pepatah mengatakan bahwa “lebih baik menjadi juara dua di antara juara umum, dari pada jadi juara satu dari yang lemah, atau juara utama dari yang bodoh”. Karena yang terpenting bukan jadi juaranya, tapi bagai mana caranya kita memompa kemampuan optimal dalam menjalani kehidupan. Lebih baik juara dua di antara juara dari pada juara umum di antara yang kalah. Sahabat-sahabat sekalian, kita janganlah sebel jika melihat orang lain lebih baik dari kita, karena orang-orang yang suka iri hati, sebel dongkol kepada prestasi orang lain, biasanya tidak akan unggul. Berani bersaing secara sehat dan positif adalah kunci menuju gerbang kesuksesan.

MAMPU BERSINERGI (BERJAMAAH).
Steven R. Covey, mencantumkan sinergi sebagai salah satu dari tujuh kebiasaan yang efektif. Dalam bersinergi atau berjamaah akan tercermin perbedaan nilai tiap individu, yang kalau kita mampu mengelolanya akan melahirkan team work yang solid, dimana nilai hasilnya akan jauh lebih besar, lebih dahsyat atau lebih unggul dibandingkan kalau dilakukan sendiri-sendiri. Makin besar kekuatan sinerginya dalam setiap kali berinteraksi dengan yang lain, maka akan semakin besar pula kemampuan yang di hasilkan , itulah diantara kunci menjadi unggul. Jadi kalau ingin menjadi unggul, nikmati hidup berjamaah, karena seorang yang pintar jika bertemu orang yang pintar akan bertambah pintar. Untuk itu berjamaahlah, tapi berjamaah yang positif, karena berjamaah itu ada kalanya saling melemahkan dan saling melumpuhkan. Maka, lakukanlah branchmarking (studi banding) ke institusi lain sebagai perbandingan, dan ini sangat penting. Hal ini agar pemikiran kita terus berkembang tidak mandek atau di situ-situ terus.. Oleh karena itu jangan pernah meremehkan orang lain, setiap bertemu orang harus jadi sarana perubahan dan penambahan wawasan kita. Jangan merasa pintar sendiri, merasa yang terbaik, yang terbagus, maka sebenarnya kita telah menjadi yang terbloon.
MANAJEMEN KALBU
Tidak bisa tidak, bagi pribadi yang ingin unggul dan prestatif maka dia harus mampu mengendalikan suasana hatinya, karena orang itu tergantung suasana hatinya. Kalau hatinya merasa gembira, maka dia gembira. Kalau hatinya sedang sedih maka sedih pula dirinya, kalau hatinya lagi dongkol, ngambek , maka seperti itulah dirinya. Semua tergantung pada suasana hatinya, maka bagi orang yang tidak mampu mengendalikan/mengelola hatinya akan merasa repot dalam menghadapi hidup ini. Rosululloh SAW bersabda “ingatlah dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya, tetapi bila rusak, niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama hati”,(HR. Bukhari – Muslim).
Terakhir, pesan ini agar menjadi acuan bagi pengelola dan calon tutor di PKBM Iqro’ Az Zahra yang akan memulai tugasnya hari Rabu, 18 Maret 2020 nanti. Bismillah….niatkan ini karena mengharap Ridho Allah semata. Jadilah pribadi unggul yang membangun desa dan sekitarnya. Boleh jadi ini adalah sarana menuju kesuksesan dan impian yang selama ini anda harapkan.

RUMAH TANGGA YANG MENYENANGKAN
RUMAH TANGGA YANG MENYENANGKAN
——————————————————————————–
Hari Minggu (8/3/2020) kemarin, kita digegerkan oleh berita penikaman suami terhadap isterinya di Dusun Baru Desa Kelobak Kecamatan Kepahiang. Penyebabnya diperkirakan karena terjadinya percecokan diantara keduanya, suami menuduh isterinya selingkuh dengan pria lain.
Sebelumnya kita juga dihebohkan oleh berita pembunuhan sadis di Desa Sekayun Kecamatan Bang Haji Kabupaten Bengkulu Tengah pada Minggu (26/1/2020). Adalah Revi Puspitasari (20), yang diduga menjadi korban pembunuhan dengan terduga pelaku adalah Eliya Pranata (22), suami korban. Permasalahannya sangat sepele yaitu korban terpancing emosi karena dimarahi isteri yang menyebutnya sebagai suami pemalas. Suami tega mengorok leher isterinya yang baru dinikahi 5 bulan, masih pengantin baru.
Berita-berita seperti ini nyaris setiap hari mewarnai media kita, baik online maupun offline. Apa penyebab rumah tangga yang rentan kekerasan? Bukankah tujuan menikah adalah untuk merasa tentram dan bahagia? Untuk itu ada baiknya kita belajar dari Ustad Aa Gym yang memaparkan tentang Rumah Tangga Yang Menyenangkan berikut ini:
Banyak orang yang menyangka bahwa pernikahan itu indah. Padahal sebetulnya? Indah …sekali. Tak sedikit yang menyesal, kenapa tak dari dulu menikah. Sahabat, itu adalah secuplik ungkapan yang lazim terdengar tentang pernikahan. Namun jelas, tak segampang yang dibayangkan untuk membina sebuah keluarga. Membangun sebuah keluarga sakinah adalah suatu proses. Keluarga sakinah bukan berarti keluarga yang diam tanpa masalah. Namun lebih kepada adanya keterampilan untuk manajemen konflik.
Ada tiga jenis manajemen konflik dalam rumah tangga, yaitu pencegahan terjadinya konflik, menghadapi tatkala konflik terlanjur berlangsung, dan apa yang harus dilakukan setelah konflik reda. Pada kesempatan pertama, insya Allah kita akan mengurai tentang bagaimana meminimalkan terjadinya konflik di dalam rumah tangga kita.
Siap dengan hal yang tidak kita duga
Pada dasarnya kita selalu siap untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Mudah bagi kita bila yang terjadi cocok dengan harapan kita. Namun, bagaimanapun, setiap orang itu berbeda-beda. Tidak semuanya harus sama “gelombangnya” dengan kita. Maka yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan diri agar potensi konflik akibat perbedaan ini tidak merusak.
Dalam rumah tangga, bisa jadi pasangan kita teryata tidak seideal yang kita impikan. Maka kita harus siap melihat ternyata dia tidak rapi, tidak secantik yang dibayangkan atau tidak segesit yang kita harapkan., misalnya. Kita harus berlapang dada sekali andai ternyata apa yang kita idamkan, tidak ada pada dirinya. Juga sebaliknya, apabila yang luar biasa kita benci. Ternyata isteri atau suami kita memiliki sikap tersebut.
Memperbanyak pesan Aku
Tindak lanjut dan kesiapan kita menghadapi perbedaan yang ada, adalah memperbanyak pesan aku. Sebab, umumnya makin orang lain menegetahui kita, makin siap dia menghadapi kita. Misalnya sebagai isteri kita terbiasa katakanlah mengorok ketika tidur. Maka agar suami dapat siap menghadapi hal ini, kita bisa mengatakan “Mas, orang bilang, kalau tidur saya itu suka ngorok,…. jadi Mas siap-siap saja. Sebab, sebetulnya, saya sendiri enggak niat ngorok.”
Lalu sebagai suami, misalnya kita menyatakan keinginan kita: “Saya kalau jam tiga suka bangun. Tolonglah bangunkan saya. Saya suka menyesal kalau tidak Tahajjud. Dan kalau sedang Tahajjud, saya tidak ingin ada suara yang mengganggu.”
Dengan demikian, diharapkan tidak terjadi riak-riak masalah akibat satu sama lain tidak memahami nilai-nilai yang dipakai oleh pasangan hidupnya. Sebab sangat mungkin orang membuat kesalahan akibat dia tidak tahu tata nilai kita. Yang dampaknya akan banyak muncul ketersinggungan-ketersinggungan. Maka di sinilah perlunya kita belajar memberitahukan. Memberitahukan apa yang kita inginkan. Inilah esensi dari pesan aku.
Dengan demikian, ini akan membuat peluang konflik tidak membesar. Karena kita telah mengkondisikan agar orang memahami kita. Sungguh tidak usah malu menyatakan harapan ataupun keberatan-keberatan kita. Sebab justru dengan keterbukaan seperti ini pasangan hidup kita dapat lebih mudah dalam menerima diri kita. Termasuk dalam hal keberadaan orang lain.
Misalnya orang tua kita akan datang. Maka adalah suatu tindakan bijaksana apabila kita mengatakan kepada suami tentang mereka. Sebagai contoh, orang tua kita mempunyai sikap cukup cerewet, senang mengomentari ini itu. Maka katakan saja: “Pak… saya tidak bermaksud meremehkan. Namun begitulah adanya. Orang tua saya banyak bicara. Jangan terlalu dipikirkan, itu memang sudah kebiasaan mereka. Juga dalam hal makanan, yang ikhlas saja ya Pak…kalau nanti mereka makannya pada lumayan banyak…”
Sungguh sahabat, makin kita jujur maka akan semakin menentramkan perasaan masing-masing di antara kita.
Alkisah, ada sebuah keluarga. Sering sekali terjadi pertengkaran. Akhirnya, suatu ketika si isteri bicara “Pak, maaf ya, keluarga kami memang bertabiat keras. Sehingga bagi kami kemarahan itu menjadi hal yang amat biasa.”
Lalu suaminya membalas “Sedangkan Papa lahir dari keluarga pendiam, dan jarang sekali ada pertempuran…”
Jelas itu akan membuat keadaan berangsur lebih baik dibanding terus menerus bergelut dalam pertengkaran-pertengkaran yang semestinya tak terjadi.
Jadi kita pun harus berani untuk mengumpulkan input-input tentang pasangan kita. Misalnya ternyata dia punya BB atau bau badan. Maka kita bisa menyarankan untuk meminum jamu, sekaligus memberitahukan bahwa kadar ketahanan kita terhadap bau-bauan rendah sekali. Sehingga ketika kita tiba-tiba memalingkan muka dari dia, isteri kita itu tidak tersinggung. Karena tata nilainya sudah disamakan.
Tentunya, dengan saling keterbukaan seperti itu masalah akan menjadi lebih mudah dijernihkan dibanding masing-masing saling menutup diri. Ketertutupan, pada akhirnya akan membuat potensi masalah menjadi besar. Kita menjadi mengarang kesana kemari, membayangkan hal yang tidak tidak berkenaan dengan pasanagan hidup kita. Dongkol, marah, benci dan seterusnya. Padahal kalau saja didiskusikan, bisa jadi masalahnya menjadi sangat mudah diselesaikan. Dan potensi konflik pun menjadi minimal.
Tentang aturan
Kita harus memiliki aturan-aturan yang disepakati bersama. Karena kalau tak tahu aturan, bagaimana orang bisa nurut? Bagaimana kita bisa selaras? Jadi kita harus membuat aturan sekaligus…sosialisasikan! Misalnya isteri kita jarang mematikan kran setelah menggunakan. Bisa jadi kita dongkol. Disisi lain, boleh jadi isteri malah tak merasa bersalah sama sekali. Sebab dia berasal dari desa. Dan di desa.. pancuran toh tak pernah ditutup. Begitu pula pada anak-anak. Kita harus mensosialisasikan peraturan ini. Tidak usah kaku. Buat saja apa yang bisa dilaksanakan oleh semua. Makin orang tahu peraturan, maka peluang berbuat salah makin minimal.
Nah, semoga pesan yang disampaikan ustad Aa Gym melalui artikel Manajemen Qalbu ini dapat meminimalisir permasalahan dalam keluarga. Ingat Menikah itu ingin mendapatkan Kebahagiaan. Menikah untuk merasa nyaman satu dengan lainnya. Mari bangun rumah tangga yang menyenangkan.
Kabar Gembira, Di Kecamatan Muara Kemumu ada Kelompok Belajar Paket A/B/C
Program Perluasan Akses Pendidikan Kesetaraan
Dalam rangka perluasan akses layanan kepada masyarakat yang belum menyelesaikan pendidikan formal di desa dan daerah terpencil maka PKBM Az Zahra Kepahiang bersama Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) melaksanakan Sosialisasi Pemberdayaan Perempuan dan Anak melalui Pendidikan Nonformal. Lokasi sosialisasi di Desa Batu Bandung Kecamatan Muara Kemumu Kabupaten Kepahiang pada hari Kamis, 27/2/2020.
Reti Maryani, SP.M.Pd Ketua Bidang Pendidikan di FPPI sekaligus ibu Kepala Desa di Batu Bandung menyampaikan bahwa sebelumnya mereka kesulitan mencari masyarakat yang memiliki ijazah SMA untuk dijadikan perangkat desa. Banyak anak putus sekolah, angka putus sekolah tertinggi disebabkan pernikahan usia muda.

Umi Yesi, Ketua PKBM Az Zahra Kepahiang sekaligus Ketua DPC FPPI Kepahiang menyambut baik aksi positif yang digagas ibu Reti dkk untuk membantu masyarakatnya meminimalisir kekerasan terhadap perempuan dan anak sekaligus membuka layanan pendidikan kesetaraan agar sumber daya manusia (SDM) di desanya meningkat.
Beliau menyampaikan bahwa permasalahan utama yang dihadapi perempuan dan anak di Kabupaten Kepahiang saat ini adalah Pergaulan Bebas. Sudah bukan rahasia lagi jika ada anak usia sekolah sudah melakukan hubungan sek tanpa sepengetahuan orangtua mereka. Dominan terjadi pada anak usia SD dan SMP. Penyebabnya antara lain anak yang kost tanpa dampingan orangtua atau anak yang sering ditinggal orangtuanya ke kebun. Ditambah dengan kecanggihan teknologi yang dapat mengakses video porno tanpa batas, dimanapun dan kapanpun. Pergaulan bebas menjadi momok yang menakutkan bagi orangtua di Kepahiang saat ini. Akibatnya anak putus sekolah usia sekolah meningkat tiap tahunnya. Tahun 2019/2020 anak usia sekolah yang mengikuti program paket B di PKBM Az Zahra kepahiang berjumlah 103 orang yang berusia 14-18 tahun.

Pergaulan bebas juga menyebabkan pernikahan usia dini meningkat. Jika sudah menikah, dapat dipastikan mereka putus sekolah. Lalu menjadi petani atau buruh di desanya. Kemiskinan dan kebodohan sering memicu perselisihan dalam rumah tangga keluarga yang menikah usia muda. Maka tak heran jika korban kekerasan dalam rumah tangga dan tingkat perceraianpun kian bertambah.
Hal ini tentu akan menjadi ancaman bagi Pemerintah Desa khususnya dan Pemerintah Daerah pada umumnya. Karena anak-anak tersebut berpotensi untuk memicu munculnya permasalahan permasalahan sosial seperti kejahatan, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, perdagangan orang (traffikcing), maraknya demo yang anarkis, dan lemahnya daya saing secara ekonomi
Oleh karena itu perlu langkah antisipasi dan wadah yang akan membantu meminimalisir permasalahan di desa. Salah satu program yang dapat diberikan adalah Pendidikan Kesetaraan bagi anak putus sekolah. Program ini ditujukan bagi warga masyarakat yang karena keterbatasan sosial, ekonomi, waktu, kesempatan dan geografi tidak dapat mengikuti pendidikan di sekolah formal karena berbagai masalah yang melingkupinya.
Antusiasme masyarakat sangat tinggi, terbukti dengan adanya kesepakatan membentuk kelas jauh. Seusai sosialisasi sudah terdaftar 20 peserta didik yang siap mengikuti proses pembelajaran. Mereka menamakan diri kelompok belajar PKBM Iqro’ Az Zahra, dan proses belajar mengajar atau tatap muka akan dilaksanakan mulai hari Rabu, 18 Maret 2020. Sekretariat dan tempat pertemuan sementara di rumah Kepala Desa Batu Bandung Kecamatan Muara Kemumu.
Masyarakat bisa mendaftar dan mengisi formulir dengan persyaratan membawa fotokopi ijazah terakhir yang dilegalisir, fotokopi kartu keluarga, fotokopi raport bagi yang pindahan sekolah formal dan pasfoto warna ukuran 3 x 4 sebanyak 10 lembar. Info selengkapnya dapat menghubungi Ibu Reti Maryani, SP.M.Pd (0821-7970-6024) atau dengan Ibu Linda Hartati, S.Pd.I (0813-1112-4978)

Yuk kita sekolah….lagi.