Az Zahra Kepahiang
DPC FPPI Peduli anak, Stop Pergaulan Bebas
Kepahiang, 14/2/2020. DPC FPPI Peduli anak, Stop Pergaulan Bebas
Maraknya pergaulan bebas dikalangan remaja menjadi perhatian DPC FPPI Kabupaten Kepahiang. Pergaulan bebas ini menjadi tren dikalangan remaja SD dan SMP yang sedang mengalami masa pubertas. Yaitu masa pencarian jati diri remaja.
Oleh karena itu Umi Yesi mengajak timnya untuk melakukan edukasi kepada pelajar di sekolah-sekolah. Mereka adalah Siti Asma. Amd.Keb (Bidang Kesehatan), Astria Januari, SH (Bidang Hukum dan HAM), Eni Lestari, S.Pd (Bidang Pendidikan) dan Dewi Hartati, S.Pd.I (Bidang Organisasi dan Koordinasi). Maka hari ini, Jumat, 14 Februari 2020 mulai dilakukan penyuluhan tentang Bahaya Seks Bebas bagi pelajar. Peserta penyuluhan perdana adalah siswa-siswi di SMP 3 Kepahiang, dan akan dilanjutkan ke sekolah lainnya.

Menurut Siti, Seks bebas adalah hubungan badan diluar nikah atau hubungan seks yang dilakukan secara bebas (bergonta-ganti pasangan) yang tidak sesuai dengan norma-norma yang diadakan di masyarakat. Pergaulan bebas menyebabkan terjadinya seks bebas. Faktor dan penyebab seks bebas berawal dari berpegangan tangan, berciuman pipi/kening, berciuman bibir, berpelukan, meraba – raba bagian tubuh dan terakhir melakukan hubungan seks.
Dampak pergaulan dan sek bebas adalah Putus sekolah, Perkawinan usia muda, Hamil diluar nikah, Aborsi, Penyakit kelamin. Penyakit menular seksual seperti Gonorea, Sifilis, Clamidia, Herpes, HIV/Aids.

Astria Januari, SH. Wakil ketua DPC FPPI Kabupaten Kepahiang ikut ambil bagian dalam penyuluhan ini. Sesuai dengan tupoksinya di bidang Hukum dan HAM, beliau menyampaikan tentang perlindungan terhadap anak. Anak adalah sesorang yang berusia mulai dari nol hingga 18 tahun. Beliau menekankan bahwa setiap anak dilindungi oleh Negara dalam bentuk undang-undang perlindungan anak. Maka kekerasan terhadap anak harus segera dihentikan. Kekerasan di sekolah dapat berupa perundungan/bullying yang dilakukan antar sesama pelajar, guru dan lingkungan sekolah. Mari kita lindungi anak-anak dari perundungan.

Terakhir, Siti dan Astria memberikan pertanyaan kepada siswa dan yang dapat menjawab pertanyaan dengan tepat mendapatkan hadiah. Peserta sangat antusias mendengarkan materi yang disampaikan, mereka bahagia dan berebut untuk menjawab pertanyaan demi pertanyaan. Acara ditutup dengan berfoto bersama.

STOP pergaulan bebas…..anak sehat anak bahagia…anak hebat anak ayah dan bunda. FPPI peduli…FPPI sahabat perempuan dan anak Indonesia.
BERDAMAI DENGAN ALLAH
BERDAMAI DENGAN ALLAH
Pagi sekali, ada pesan dari dokter Ramadhanus di grup Alumni PPA For Healing. Beliau guru saya dalam upaya kebaikan, sedekah energy. Sebuah upaya membantu sesama yang sedang sakit fisik atau psikisnya.
Sejak mendalami ilmu terapi yang diajarkan di kelas dr.Rama, sudah beberapa kasus yang saya tangani. Kasus dominan permasalahan perempuan dan anak. Hal ini sejalan dengan tugas dan fungsi saya sebagai Ketua Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia di Kabupaten Kepahiang.
Dalam membantu permasalahan perempuan dan anak, ada kalanya mendapat hambatan disana sini. Salah satunya pertentangan dari pihak tertentu yang tidak ingin anaknya “dibantu” dalam menghadapi kasusnya. Hal ini tentu membuat saya kecewa, uluran tangan tulus untuk membantu dibalas dengan penolakan.
Lalu, seolah tahu pergolakan bathin yang saya rasakan, dokter Rama menulis nasehatnya melalui grup whatsapp alumni PFH pagi. Nasehat untukku dan untuk semua alumni yang sedang rutin menjalankan sedekah energy untuk membantu sesama.
Setelah membaca nasehat tersebut, maka bismillah…saya siap menghadapi hari ini dengan damai. Saya tidak peduli apakah usaha ini akan disukai orang atau tidak. Saya adalah hamba, tugas saya adalah ikhtiar untuk peduli dan terus membantu semampu saya. Hasilnya untuk Allah semata, boleh jadi satu anak yang saya bantu hari ini akan menyelamatkan nasib anak-anak saya sendiri di kemudian hari.
Aku merasa ini nasehat untukku pribadi yang sedang dilema karena “merasa” telah berbuat baik. Padahal kebaikan itu datangnya dari Allah. Allahlah yang maha membolak-balikkan hati manusia. Jika orang jahat datang ke kita lalu menjadi baik, itu karena Allah yang berkenan membuatnya menjadi orang baik. Bukan lantaran saya mereka jadi baik. Kasih sayang Allah lah yang meresab di hati mereka, hingga hidayah masuk dan menjadikan keburukan menjadi kebaikan. Astaqfirrullah al adhim….ampuni hamba ya rabb
Berikut nasehat gurunda dr. Rama
BERDAMAI DENGAN ALLAH
Pernahkah Anda kebingungan dan bahkan merasa susah serta menderita, di saat Anda menginginkan orang-orang yang dicintai kembali di jalanNya? Akan tetapi tanggapan mereka malah sebaliknya, kerusakannya semakin menjadi-jadi. Padahal niat baik serta kebaikan terus menerus Kita lakukan untuk memberikan penyadaran pada mereka.
Kecewa? Putus asa?
Jangan, sahabatku …
Inilah fase di mana Kita mesti berdamai dengan Nya.
Tentang orang lain yang belum berjalan di atas jalan Nya.
Kita janganlah memaksakan kehendak orang yang Kita cintai mesti berubah, apapun alasannya.
Sebab sejatinya, perubahan itu bukan dari Kita, tapi dari Nya.
Allah saja, membatasi diriNya dengan mengatakan, “Allah takkan mengubah kondisi suatu kaum, sehingga kaum itu berniat untuk berubah.”
Ada Nabi yang ngga bisa mengubah ayahnya (Ibrahim ‘alaihissalam).
Ada Nabi yang ngga bisa mengubah istrinya (Luth ‘alaihissalam).
Ada Nabi yang ngga bisa mengubah anaknya (Nuh ‘alaihissalam).
Ada Nabi yang ngga bisa mengubah pamannya (Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam).
Dan ada Nabi yang belum bisa mengubah satupun dari kaumnya (Nabi Yunus ‘alaihissalam).
Do’a dan loving kindness (cinta dan ketulusan) adalah cara termudah untuk mendatangkan hidayah wa taufiq dari Nya untuk perubahan orang-orang yang Kita cintai.
So, setiap Kita akan ditanya satu-satu, mempertanggungjawabkan ‘amalnya masing-masing.
Jangan sampai keinginan Kita agar orang lain berubah, malah Kita merasa jadi besar diri (merasa sudah baik), padahal Kita juga sedang berusaha untuk tetap istiqomah di jalan Nya.
Siapa yang menjamin masa depan Kita tetap istiqomah di jalan Nya.
Wallaahu A’lam. Sahabat belajar Anda
Ramadhanus, CHt., CI.
Healing Soul Practitioner & Instructor
PPA For Healing Master Trainer
Saya mengurusi anak putus sekolah, saya tidak rela ada anak yang dikeluarkan dari sekolahnya
“Saya memang mengurusi anak putus sekolah, namun saya tidak rela ada anak yang dikeluarkan dari sekolahnya!”
Umi Yesi, Ketua PKBM Az Zahra Kepahiang merasa prihatin dengan maraknya kasus yang menimpa pelajar di Kabupaten Kepahiang akhir-akhir ini. Bayangkan baru dua bulan pertama di tahun 2020 yakni Januari dan Februari pelajar kepahiang yang tersandung kasus sudah puluhan jumlahnya. Pelajar yang beliau tangani langsung antara lain korban perkosaan 1 orang, korban kekerasan 1 orang, pergaulan bebas 2 orang, sodomi 7 orang, dan puluhan pelajar yang menonton video porno di saat jam istirahat di kelas. Nauzubillahi min dzalik.
Dan parahnya lagi sebagian besar permasalahan ini justru menimpa anak usia 12 hingga 15 tahun, yang rata-rata masih sekolah di tingkat SD dan SMP. Tingginya kasus anak ini menjawab tanda tanya mengapa peserta didik yang mengikuti sekolah paket B dilembaganya meningkat tiap tahunnya. Bahkan tahun pelajaran 2019/2020 jumlah peserta didik paket B sebanyak 103 anak, usia 12 s.d 18 tahun.
Tingginya angka kasus yang menimpa pelajar ini perlu menjadi bahan renungan dan upaya pemecahan masalah bersama. Ini tanggungjawab kita semua, orang tua, guru, masyarakat dan Pemerintah Daerah. Salah satu penyebab maraknya kasus sodomi dan pergaulan bebas adalah lemahnya pengawasan orangtua, guru dan masyarakat serta Pemdanya.
Titik kasus tertinggi terjadi di Kecamatan Kepahiang sebagai Kecamatan induk. Hal ini dikarenakan anak tidak tinggal dengan orang tua melainkan kost/kontrak atau dititipkan dengan family lainnya. Kurangnya pengawasan dan kontrol orang tua ini menyebabkan perbuatan asusila mudah merebak dikalangan pelajar kita. Jikapun tinggal bersama orang tua, anak tetap sendiri di rumah karena orangtua sibuk bekerja terutama menjelang musim tiba. Kasus sodomi banyak terjadi di kost-an karena masyarakat tidak curiga melihat sesama laki-laki ngumpul dalam ruang kostnya.
Guru sebagai orangtua kedua bagi siswa juga sangat menentukan karakter anak. Sebab selain sebagai pengajar, sudah seharusnya guru juga menjadi seorang pendidik, yang artinya menanamkan nilai-nilai budi pekerti dan akhlak yang baik. Menjadi guru tidak saja bertanggungjawab terhadap permasalahan akademis, namun juga pada perkembangan psikologis dan kepribadian siswanya. Seorang pendidik sudah pasti bisa mengajar, namun seorang pengajar belum tentu bisa mendidik. Seorang guru dituntut untuk dapat melakukan keduanya; mengajar dan mendidik. Seringkali seorang guru terjebak pada sistem dan kebiasaan sehingga lebih dominan berperan sebagai seorang pengajar dan bukan pendidik.
Mirisnya, justru ketika guru mendapati anak didiknya memiliki kasus mereka ramai-ramai memberikan vonis “mencemarkan nama baik sekolah”. Dan bisa ditebak solusi apa yang mereka lakukan terhadap anak-anak tersebut, DIKELUARKAN!
Apakah jika anak dikeluarkan masalah akan selesai? Bukankah itu artinya melempar masalah sekolah kita ke sekolah lainnya? Mengapa pihak sekolah seolah mau enaknya saja, cuci tangan dengan kasus-kasus yang menimpa anak didiknya.
“Saya memang mengurusi anak putus sekolah, namun saya tidak rela ada anak yang dikeluarkan dari sekolahnya!” tegas Umi Yesi sampaikan di setiap kegiatan sosialisasi perlindungan anak di sekolah-sekolah yang mengundangnya sebagai narasumber.
Tahun 2019, Kabupaten Kepahiang mendapat gelar Kota layak anak atau Kabupaten Ramah Anak. Apakah gelar tersebut masih bisa kita pertahankan di tahun 2020? Wallahu alam bishowab.