Az Zahra Kepahiang
Kantor Bahasa Prov Bengkulu dan Forum TBM Perkuat Literasi Kepahiang
“Alhamdulillah …………. kita dapat melaksanakan Praktik Baik Literasi di sini. Kepahiang sudah paket komplit karena telah memiliki banyak TBM, Penulis, Penerbit dan sudah dua kali mengharumkan nama daerah di event nasional.” (Kimli Haroswinarti, S.Pd,.M.TPd-Ketua Forum TBM Prov. Bengkulu)
Sebanyak 50 orang perwakilan komunitas literasi Kepahiang berkumpul di Aula Dikbud Kab Kepahiang guna mengikuti kegiatan Praktik Baik Literasi bagi Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Kegiatan ini dilaksanakan oleh Pak Karyono, S.Pd.M.Hum Kepala Kantor Bahasa Provinsi Bengkulu bekerjasama dengan FTBM Prov Bengkulu dan FTBM Kab Kepahiang, Selasa-Kamis, 25-27 Agustus 2020.

Ibu Kimli Haroswinarti, S.Pd,.M.TPd- Ketua Forum TBM Prov. Bengkulu menerangkan bahwa Literasi adalah kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. Dalam perkembangannya, definisi literasi selalu berevolusi sesuai dengan tantangan zaman. Jika dulu definisi literasi adalah kemampuan membaca dan menulis. Saat ini, istilah Literasi sudah mulai digunakan dalam arti yang lebih luas. Dan sudah merambah pada praktik kultural yang berkaitan dengan persoalan sosial dan politik.

Hendri, A. S.Pd. Ketua FTBM Kab Kepahiang juga menambahkan bahwa definisi baru dari literasi menunjukkan paradigma baru dalam upaya memaknai literasi dan pembelajaran nya. Kini ungkapan literasi memiliki banyak variasi, seperti Literasi media, literasi komputer, literasi sains, literasi sekolah, dan lain sebagainya. Hakikat ber-literasi secara kritis dalam masyarakat demokratis diringkas dalam lima verba: memahami, melibati, menggunakan, menganalisis, dan mentransformasi teks. Kesemuanya merujuk pada kompetensi atau kemampuan yang lebih dari sekedar kemampuan membaca dan menulis.

Acara berlangsung khidmat di hadiri Pak Tomi dari Kantor Bahasa Prov Bengkulu dan dibuka oleh Kepala Dinas Dikbud Kab. Kepahiang yang diwakili Nining Fawelly Fasju, S.Pd.MPd.
Para penulis yang tergabung di Kelas Menulis Sabusabu yang dipimpin Umi Yesi mengucapkan terimakasih kepada Kantor Bahasa Prov. Bengkulu dan FTBM Prov Bengkulu serta FTBM Kab Kepahiang yang telah memperkuat literasi di Kepahiang.

SALAM LITERASI !
Praktik Baik Literasi Penulis Sabusabu
Hari ini, 25/8/2020 para Penulis yang bergabung dalam Kelas Menulis Sabusabu (Satu Bulan Satu Buku) hadir mengikuti pelatihan yang bertajuk Praktik Baik Literasi Bagi Taman Bacaan (TBM) di Kabupaten Kepahiang.
Kegiatan yang dilaksanakan oleh Kantor Bahasa Provinsi Bengkulu, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan diikuti oleh 50 orang peserta komunitas literasi Kepahiang. Akan dilaksanakan mulai 25 s.d 27 Agustus 2020 di Aula Dikbud Kepahiang.

Setelah vakum beberapa bulan akibat isolasi dan pembatasan berkumpul dimasa pandemi covid 19. Maka hari ini penulis-penulis tersebut berkumpul untuk reuni dan menyegarkan kembali kecintaan mereka terhadap tulis menulis.
Umi Yesi, Founder Kelas Menulis Sabusabu berharap para penulis yang berkumpul hari ini akan termotivasi untuk kembali menulis dan melahirkan buku-buku berkualitas yang akan mewarnai literasi di Kepahiang.
Penulis sabusabu yang hadir tersebut adalah:
- Siti asma unsur FPPI
- Jeniar Ferary unsur Himmah Pustaka
- Sischa Peliyanti unsur kelas menulis sabusabu
- Maulida Suryani dari BKMT
- Endang TBM bougenville Indah
- Widya Hastuti, perpustakaan SD 1 seberang Musi
- Fromes Media Bagite, TBM jejak daerah
- Rina Apriani, Perpustakaan SDN 03 MK
- Dwi Dessy Pratiwi, perpustakaan MIN 04 Daspetah
- Susila evianti perwakilan siswa paket dari SAPASAKU
Buku-buku yang sudah terbit karya Penulis Kelas Menulis Sabusabu antara lain Dandelion, Melawan Rasa, Epilog Dua Hati, Edelweis Catatan Seorang Bidan Desa, Mikrofthalmia, Dua Mata Tapi Tak Sama, Perjalanan Pembuktian Cinta, Bias asa dll.






Perempuan Kepahiang Lestarikan Batik Daerah
“Batik Diwo sudah ada sejak tahun 1985-1990. Namun nyaris punah. Tidak ada yang membuat dan melestarikannya. Padahal batik ini ciri khas daerah yang bernilai ekonomis tinggi. Pakaian para Raja-Raja Rejang dahulu kala”
Menurut Ibu Nurhayati Founder IKM Sumber Hayati, Diwo berasal dari kata Dewa, nama Diwo dipakai karena baju adat para Raja Suku Rejang. Batik Diwo merupakan varian dari Batik Kaganga (aksara rejang) yang artinya Kepahiang.

Ciri khas Batik Diwo adalah pada motifnya yaitu Selempang emas, Pucuk rebung, Stabik, Bunga bangkai (amorphophallus)/ bunga raflessia, Huruf lingkung/kha ga nga dan motif hasil perkebunan seperti kopi dan lada.
Sangat disayangkan jika batik tradisional ini hilang dari Bumi Sehasen Kabupaten Kepahiang ini. Untuk itu PKBM Az zahra Kepahiang bersama IKM Sumber Hayati berkolaborasi untuk melestarikan batik diwo sehingga kembali berjaya dan dapat menjadi icon di Kabupaten Kepahiang.

“Perempuan Kepahiang akan ikut andil dalam melestarikan batik diwo sebagai warisan sejarah. Kita patut menjaga pakaian khas Raja-Raja Suku Rejang tersebut agar tidak punah” Ujar Umi Yesi Ketua PKBM sekaligus Ketua Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Kabupaten Kepahiang.



