Kisah Gisella Asyifa: Perjuangan Jarum Pentul dan Insiden Motif Terbalik
Kisah Gisella Asyifa: Perjuangan Jarum Pentul dan Insiden Motif Terbalik
Gemerlap panggung dan tepuk tangan riuh tidak didapatkan dengan mudah oleh Gisella Asyifa Sandori. Siswi kelas 6 dari SDN 09 Kepahiang ini sukses menyabet gelar Juara 1 kategori perempuan dalam Lomba Fashion Show Motif Baru Batik Diwo Berbasis Budaya Rejang. Di balik senyum menawan dan langkah anggun dara kelahiran Kepahiang, 29 Maret 2015 ini, tersimpan cerita seru tentang kerja keras keluarga, tetesan keringat, dan dedikasi luar biasa untuk melestarikan budaya lokal.
Gisella, yang kelak bercita-cita menjadi seorang dokter, memang bukan sosok baru di dunia prestasi. Gadis cilik ini adalah paket lengkap yang menyeimbangkan prestasi akademik dan non-akademik. Jejak langkahnya di dunia fashion show sudah terukir sejak ia duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, di mana ia pernah meraih Juara 1 di TK Tadika Puri dan Juara Favorit di Puncak Mall Kepahiang. Memasuki usia sekolah dasar, deretan pialanya semakin panjang. Ia memenangkan Juara 1 Fashion Show bertema Batik dan Merah Putih di The Boat Curup (2026), Juara 1 dari PT Indomarco Prismatama Cabang Bengkulu (2026), hingga Juara 2 Kostum Terbaik Kids Fashion Show Batik Diwo KNPI.
Lebih dari sekadar lenggak-lenggok, Gisella juga langganan juara di bidang akademik dan literasi. Ia tercatat sebagai Juara 2 FLS2N berturut-turut pada 2025 dan 2026, Juara 1 Lomba Ceramah Pesantren Kilat, Juara 3 Lomba Pidato PAI tingkat kabupaten, hingga melaju ke tingkat Nasional setelah meraih Juara 3 Mengulas Buku tingkat Provinsi pada 2026. Di kelas pun, ia konsisten mempertahankan peringkat tiga besar sejak kelas 4 hingga kelas 5.
Namun, di balik kemenangan terbarunya di ajang Batik Diwo, ada drama menegangkan yang menguji kekompakan keluarganya. Merancang busana memukau dari selembar kain tanpa sehelai pun benang jahitan menjadi tantangan ekstrem bagi kedua orang tuanya, Dori Nando dan Sapari Listi. Sebelumnya, mereka sudah melakukan uji coba fitting di rumah yang berjalan lancar. Namun, pada hari eksekusi, menyulap kain lilit menjadi gaun yang rapi dan elegan ternyata sangat menyiksa. Jari-jari mereka tak terhitung lagi tertusuk tajamnya jarum pentul demi menyambung lekukan kain.
Puncak kepanikan terjadi ketika busana hampir selesai terpasang sempurna. Saat diperhatikan kembali, mereka baru menyadari satu kesalahan fatal: motif gasing pada kain tersebut terbalik. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi, jadwal berkumpul sudah di depan mata. Keputusan berat harus diambil. Di tengah perdebatan sengit dan kepanikan antara ayah, ibu, dan anak, mereka terpaksa membongkar dan merombak ulang seluruh lilitan busana tersebut. Meski waktu terus mengejar dan masih ada sedikit ketidaksempurnaan di bagian belakang, mereka berhasil membentuk ulang gaun lilit tersebut hingga keindahan motif gasing beliget terekspos dengan sempurna.
Rasa sakit akibat tusukan jarum dan ketegangan pagi itu seketika terbayar lunas saat Gisella dinobatkan sebagai Juara 1. Bagi sang ayah dan ibu, kemenangan ini adalah buah manis dari pengalaman baru yang tak terlupakan.
Melalui partisipasi ini, orang tua Gisella menaruh harapan besar yang melampaui sekadar trofi kejuaraan. Mereka berharap ajang ini menjadi wadah pengembangan kreativitas, pengalaman baru, serta penanaman rasa cinta warisan budaya sejak dini. Rasa terima kasih yang mendalam pun mereka sampaikan kepada pihak penyelenggara. Ke depannya, mereka memimpikan agar anak-anak Kepahiang tidak hanya pandai memperagakan Batik Diwo di kampung halaman, tetapi juga mampu menjadi duta budaya yang membawa nilai-nilai luhur Batik Diwo terbang tinggi, dikenal luas di seluruh penjuru Nusantara, bahkan hingga menembus panggung dunia.

Tinggalkan Balasan