Inovator Relima dan Pelopor Literasi Budaya Melalui Pesona Batik Diwo Kepahiang
Inovator Relima dan Pelopor Literasi Budaya Melalui Pesona Batik Diwo Kepahiang
Di tengah masifnya kampanye literasi yang umumnya berfokus pada kemampuan baca-tulis, muncul sebuah gebrakan segar dari Kabupaten Kepahiang. Sosok di balik inovasi ini adalah Helmiyesi, M.Si., atau yang akrab disapa Umi Yesi. Kiprahnya tidak hanya dikenal sebagai Ketua Yayasan Az zahra Kepahiang, tetapi juga sebagai sosok garda terdepan Relawan Literasi Masyarakat (Relima) dengan lokus pengabdian di Kabupaten Kepahiang. Melalui pemikiran visionernya, Umi Yesi membawa definisi literasi ke dimensi yang lebih luas, membumi, dan menyentuh identitas terdalam masyarakatnya: Literasi Budaya.
Gagasan pelestarian budaya yang diusung oleh Umi Yesi merupakan sebuah langkah taktis yang jarang dilirik oleh pegiat literasi pada umumnya. Alih-alih hanya berfokus pada tumpukan buku di perpustakaan, beliau menjadikan selembar kain sebagai “buku bacaan” yang hidup. Melalui pengembangan motif baru Batik Diwo yang sarat akan nilai-nilai luhur budaya Rejang, Umi Yesi mengajak generasi muda untuk “membaca”, memahami, dan pada akhirnya mencintai warisan leluhur mereka.
Langkah konkret dari inovasi literasi budaya ini dieksekusi dengan sangat apik melalui pergelaran Lomba Fashion Show Motif Baru Batik Diwo. Tidak tanggung-tanggung, Umi Yesi menyasar pelajar tingkat SD dan SMP sederajat se-Kabupaten Kepahiang sebagai aktor utamanya. Pemilihan rentang usia ini bukanlah tanpa alasan. Umi Yesi meyakini bahwa penanaman akar budaya harus dimulai sedini mungkin, agar nilai-nilai kebanggaan lokal tersebut tumbuh bersama kedewasaan mereka.
Melalui ajang fashion show tersebut, para siswa tidak sekadar diajarkan untuk berjalan di atas catwalk. Lebih dari itu, mereka sedang mempraktikkan bentuk literasi budaya yang paling nyata. Saat mengenakan Batik Diwo dengan motif-motif seperti gasing beliget dan aksara ulu, anak-anak ini secara tidak langsung menyerap informasi, mengenali filosofi daerahnya, dan mempromosikan kekayaan Kepahiang kepada khalayak luas. Mereka bertransformasi dari sekadar peserta lomba menjadi duta literasi budaya yang bangga mengenakan identitas bangsanya.
Bagi Umi Yesi, literasi masyarakat tidak akan pernah tuntas jika masyarakatnya sendiri tercerabut dari akar budayanya. Dedikasi beliau sebagai Relima Kabupaten Kepahiang membuktikan bahwa gerakan literasi bisa dikemas dengan cara yang sangat anggun, kreatif, dan relevan dengan perkembangan zaman. Apa yang telah dirintis oleh Umi Yesi melalui Yayasan Az zahra Kepahiang bukan sekadar perayaan busana semata, melainkan sebuah manifesto pelestarian budaya. Beliau telah membuka mata banyak pihak bahwa merawat tradisi dan mengenalkan budaya Rejang lewat mahakarya Batik Diwo adalah salah satu bentuk literasi paling indah yang bisa diwariskan kepada generasi penerus.

Tinggalkan Balasan