Kisah Attar Bawa Pesona Batik Diwo ke Puncak Kemenangan
Kisah Attar Zaid Alterio Bawa Pesona Batik Diwo ke Puncak Kemenangan

Di balik gemerlap panggung Lomba Fashion Show Motif Baru Batik Diwo, muncul sosok pemenang muda yang penuh kejutan dan kreativitas. Attar Zaid Alterio, siswa kelas 1 SD IT Fathonah Kepahiang kelahiran 1 November 2019, berhasil memukau dewan juri dan meraih Juara 1 kategori laki-laki. Membawakan Batik Diwo Kepahiang bermotif gasing beliget, putra dari pasangan Tri Kurniawan dan Intan Dahlia ini membuktikan bahwa usia muda bisa membawa visi seni yang luar biasa dalam melestarikan budaya.
Bakat Attar di atas catwalk tidak tumbuh dalam semalam. Ia telah menimba pengalaman di dunia fashion show sejak duduk di bangku TK A. Salah satu pencapaian awalnya adalah memenangkan kontes foto mengenakan baju batik yang membuahkan hadiah menginap di Hotel Mercure. Kunci dari setiap penampilannya adalah ketajamannya dalam mengamati lingkungan sekitar. Ia selalu belajar dari pengalaman dengan memperhatikan secara saksama gaya dan teknik para juara di berbagai perlombaan sebelumnya.
Namun, perjalanan menuju trofi Juara 1 kali ini sarat dengan cerita jenaka sekaligus menguji kesabaran di balik layar. Sang ibu sempat dibuat pusing saat mempersiapkan pakaian karena Attar enggan bersikap kooperatif saat proses fitting. Ia menolak berbagai ide dan foto referensi pakaian yang disodorkan. Bahkan, setiap kali diajak berlatih, Attar lebih memilih bermain-main tidak serius sambil melontarkan kalimat polos yang meyakinkan, “Adek sudah bisa, Ibu.”
Kejutan luar biasa justru terjadi pada waktu Subuh, tepat di pagi hari perlombaan. Attar tiba-tiba berubah menjadi sangat kooperatif dan secara tak terduga mengambil alih peran sebagai pengarah gaya untuk dirinya sendiri. Sambil meminta dipakaikan kain, ia dengan tegas mendikte detail penampilannya: “Ini mau, ini tidak mau, maunya seperti ini. Ini cukup, ini ditambah.”
Keputusan krusial untuk membiarkan lilitan kain murni tanpa jahitan, penonjolan motif gasing beliget, hingga ide brilian menggunakan properti tongkat berhias huruf aksara ulu, murni lahir dari pemikiran spontan Attar pagi itu. Sang ibu pada akhirnya bertugas mewujudkan visi orisinal putranya.
Berbekal konsep yang ia ciptakan sendiri, Attar melangkah ke atas panggung dengan kepercayaan diri yang memancar kuat, mengantarkannya pada posisi puncak sebagai pemenang. Kemenangan ini menjadi pijakan awal yang indah bagi mimpi-mimpi besarnya. Kelak, Attar bercita-cita mengemban dua peran mulia: menjadi seorang Polisi dan seorang Ustadz. Orang tuanya pun menaruh harapan besar agar Attar kelak tumbuh menjadi polisi yang jujur, ustadz yang berilmu, serta anak muda yang selalu bangga melestarikan Batik Diwo Kepahiang di manapun ia berada.
Tinggalkan Balasan