Hasil Evaluasi Pesdik Az Zahra Semester Ganjil TP 2018/2019
Kepahiang, 18/12/2018. Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh peserta didik Program Pendidikan Kesetaraan di Az Zahra, yakni pembagian raport hasil evaluasi penilaian belajar semester ganjil tahun pelajaran 2018/2019.
Sebelum pembagian raport dimulai, Umi Yesi memberikan arahan dan mengingatkan peserta didik agar mengikuti semua proses pembelajaran dari awal hingga akhir. Beliau juga memotivasi peserta didik agar bangga dan tak perlu malu mengikuti program kesetaraan. Sebab semua orang punya kesempatan yang sama untuk sukses dalam hidupnya.

“Umi tahu kalian mungkin sering diejek, dihina, dipermalukan. Namun jangan mau kalah dengan kondisi yang ada. Sebab boleh jadi nasib kalian jauh lebih baik daripada mereka. Untuk itu perlu perjuangan yang berat dan tak mudah. Tapi…kami disini yakin, anak-anak sekalian mampu bersaing dan keluar sebagai bintang. Bersinar terang di tengah kegelapan!
Sasaran peserta didik yang sekolah di az Zahra adalah 70% anak putus sekolah yang bekerja atau pekerja anak dan 30% adalah orang dewasa yang ingin mengejar ketertinggalannya dalam meraih cita-cita. Dalam metode pembelajarannya ada 3 pilihan yakni tatap muka, belajar online dan mandiri.

Untuk siswa regular yang mengikuti tatap muka maka kami memberikan penghargaan bagi siswa yang berprestasi dalam bentuk piagam penghargaan. Adapun siswa berprestasi tersebut antara lain:
Program Kesetaraan Paket A setara SD
| Juara | Tingkat I | Tingkat II |
| 1 | LINDA PERMATA SARI | MAS ADAM AJI MULYA |
| 2 | RINI MARYANI | REJA J.S |
| 3 | RINA MARYANA | RANGGA PRAMANDA |

Program Kesetaraan Paket B setara SMP
| Juara | Tingkat III | Tingkat IV |
| 1 | YUNITA LESTARI | RISKI MANDALA PUTRA |
| 2 | RIO AREBA | MIKE LESTARI |
| 3 | RIKI BAE | ABDUL FIKRI |

Program Kesetaraan Paket C setara SMA
| Juara | Tingkat V | Tingkat VI |
| 1 | JESIKA MAILANI | REKA WINDA YANTI |
| 2 | PITA | JEFISA ENJELINA |
| 3 | NYIMAS ALDA | REDO |

Suasana ceria dan bahagia meliputi wajah-wajah peserta didik yang menerima raport hari ini. Ada yang tertawa merasa lucu, ada pula yang sedih karena nilai tak sesuai harapan. Dan teman-temannya sibuk menenangkan agar tak sedih berlebihan. Memang, nilai yang diberikan oleh tutor adalah nilai murni peserta didik. Harapannya mereka dapat mengukur dirinya sehingga lebih rajian belajar di rumah dan di sekolah. Para tutor berharap, peserta didik bersemangat datang tatap muka agar mendapat menyelesaikan proses belajar dengan tuntas.

Akhirnya, segenap tutor dan pengelola az Zahra mengucapkan selamat kepada siswa yang sudah menerima hasil belajar semester ganjil ini. Kita libur semesteran sampai dengan tahun baru. Dan mulai belajar tatap muka kembali hari Senin, 7 Januari 2019.



FATHIR YANG MEMANGGILKU UMI
Sejak menjadi penulis yang berusaha menerbitkan satu bulan satu buku, aku menjadi lebih perhatian pada obyek di sekitarku. Terutama jika ada kesempatan bertugas ke luar daerah. Selalu ada obyek yang menarik untuk kutuliskan. Entah tentang candaan orang, tentang perilaku, tentang suasana yang berkesan di hati.
Seperti perjumpaanku pada sosok Fathir, anak laki-laki usia 2.5 tahun yang begitu mengoda. Saat itu aku bersama lima orang GTK Dikmas Bengkulu menghadiri undangan Pengayaan GTK PAUD dan Dikmas dalam bentuk pengimbasan hasil kursus singkat di Denmark, 10-13 Desember 2018 di Hotel Sahira Bogor.

GTK yang diundang kegiatan adalah Suci (Tutor Paket C), Heni (Instruktur Menjahit), Eki (Pengelola LKP), Pak Zulkipli (Pamong dari BP PAUD dan Dikmas Bengkulu) dan tentu saja Umi Yesi selaku Pengelola PKBM berprestasi tingkat Provinsi Bengkulu tahun 2017.
Kami berlima naik pesawat Lion Air, karena saat cek in tidak berbarengan maka tempat duduk pun tidak berurutan. Aku mendapat nomor 21F. Sedang Suci dan Heni duduk di belakangku. Lama duduk sendirian, sambil memperhatikan pramugari yang sibuk mengatur bagasi penumpang. Kemudian datang seorang Ibu muda dengan seorang anak balita dengan nomor 21E dan 21D. Aku berdiri dan mempersilahkan mereka masuk dan duduk di sisi kananku.

Awalnya mereka tidak begitu menarik perhatianku. Aku meraih majalah yang terselip di saku jok depan. Membaca saat terbang dalam pesawat adalah salah satu kesenanganku. Sebab banyak informasi mengenai destinasi wisata dan kuliner khas daerah yang selalu menarik untuk di baca. Ada pula tips dalam perjalanan dan motivasi kerja.
Sampai pada celoteh si kecil, “Mama itu pesawat” dia menunjuk pesawat lain di luar dengan riangnya.
“Iya, itu pesawat” jawab ibunya. Kemudian dia meminta air minum dan kembali menunjuk pesawat dengan riangnya. Suaranya nyaring dan renyah. Aku menoleh, memperhatikan tingkah pola si kecil itu. Dia tersenyum padaku, mengulurkan tangannya. Aku takjub, setengah tak percaya. Anak ini mengajakku bersalaman. Dan Ibunya menuntun dengan berkata, “Atin mau kenalan” tersenyum ramah padaku.

Reflek aku menjulurkan tangan kanan meraih tangan mungilnya. “Oh ya…panggil saya Umi…Umi Yesi. Namanya Atin?” aku membalas senyum ibunya dan bertanya identitas anak tersebut.
“Namanya Fathir, kalo kenalan dia berkata namanya Atin. Lebih mudah dalam pelapalannya.”
“Oh…Atin, nama yang bagus. Atin mau kemana?” aku menutup majalah dan mencoba beramah tamah dengan ibu muda dan anak balitanya ini.
“Mau ke Jakarta, nengok adik saya yang akan di operasi”
“Operasi? Sakit apa adiknya?” tanyaku ingin tahu
“Sakit Jantung. Ada penyempitan dan bocor katup jantung.” Jawabnya sambil melayani Atin yang ingin makan cemilan yang di bawanya. Lalu dia bercerita tentang adik bungsunya berumur 23 tahun yang sakit Jantung. Penyakit yang tak di sangka-sangka. Sang adik adalah mahasiswa IAIN Bengkulu tingkat akhir, sedang penelitian dan penulisan skripsi. Namun kondisinya semakin memburuk akhir-akhir ini. Sehingga dokter merujuk untuk segera ke Jakarta dan melakukan operasi. Rencananya operasi akan dilaksanakan tanggal 20 Desember 2018. Saat ini sedang masa persiapan dan menaikkan kadar darah adiknya yang masih dibawah normal.

Sepanjang perjalanan kami bercerita, Atin duduk manis sambil sesekali minta minum air putih dan makan cemilannya. Dia memandangku tersenyum, aku teringat puteraku Aghna Abdul Majid yang tinggal di rumah. Dia juga manis dan lucu seperti anak balita ini. Anak-anak memang selalu mampu mencuri perhatian orang dewasa. Senyumnya, tingkahnya, suaranya…bikin betah dan bahagia.
Satu jam kemudian pesawat mendarat di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Kami telah sampai di Jakarta. Kami tetap duduk menunggu antrian untuk keluar pesawat.
Tak disangka, Atin bergerak mendekat padaku. Dia ingin duduk di pangguanku. Menatapku dengan mata beningnya yang mengoda. Kembali aku terperangah. Alangkah tampan anak ini, bathinku dalam hati. Kesempatan ini tak kusia-siakan untuk foto selfi bersamanya. Dan diapun menatap kamera androidku dengan bergaya. Rupanya dia suka difoto. Beberapa foto aku ambil, dan dia tertarik untuk melihat hasilnya. Ketika diperlihatkan, tampak senyum lebarnya bahagia.

Ketika keluar pesawat dan menuju ruang bagasi, Atin memegang tangan kananku. Berjalan berdampingan dengannya. Entah apa yang membuatnya cepat sekali dekat dan akrab padaku. Sesekali dia memanggilku Umi.
Sampai pada pintu keluar bandara, kami harus berpisah. Aku akan melanjutkan perjalanan ke Bogor. Sementara mereka akan ke rumah sakit. Rasanya berat sekali untuk berpisah. Aku mulai jatuh hati pada pesona anak ini. Atin pun sama tak ingin jauh dariku. Aku harus mencari cara agar bisa pisah dengannya. Maka dengan susah payah aku mencari celah agar bisa pergi tanpa sepengetahuannya. Meski tak tega, tapi harus bagaimana?

Akhirnya, Atin bersama Ibunya naik Grab menuju rumah sakit. Dan aku melihat mereka dari kejauhan. Ada rasa kehilangan yang ku rasakan. Semoga dapat berjumpa lagi anakku. Fathir yang memanggilku Umi!
Teriring doa semoga “Bungsu” (pangilan akrab adik yang sedang sakit) dapat bersabar dan operasinya berjalan lancar sehingga dapat segera pulang, menyelesaikan skripsinya. Dan beraktifitas sebagaimana layaknya. Aamiin
WORKSHOP SATU TUTOR SATU BUKU (SATU SAKU)
Kepahiang, 9/12/2018. Workshop Satu Saku adalah impian dan cita-cita kami untuk menghasilkan Satu Tutor Satu Buku. Kegiatan ini adalah dalam rangka peningkatan mutu tutor dan penyelenggara program kesetaraan yang dilaksanakan mulai tanggal 8 s.d 9 Desember 2018.
Acara dihadiri dan dibuka oleh Dr. Hartono, S.Pd, M.Pd Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepahiang beserta Kasi Kelembagaan pada bidang Pembinaan PAUD dan PNF Kepahiang.

Dalam sambutannya beliau berpesan, “Kalau ingin menjadi penulis sukses, selesaikanlah tulisan sampai tuntas. Jangan buru-buru mengedit. Sebab jika baru nulis sedikit, diulang, dibaca dan diedit maka akan terlihat salah terus. Dampaknya tulisan tidak akan kelar-kelar, karena sibuk dengan edit mengedit.”
Beliau juga mengapresiasi upaya Az Zahra dalam meningkatkan mutu tutornya. Menanggapi laporan Umi Yesi bahwa kegiatan ini untuk mempersiapkan tutor Az Zahra yang akan full ngantor setiap harinya. “Selama ini tutor hanya datang pada saat mengajar saja, setelahnya langsung pulang. Mulai tahun 2019, tutor akan ngantor dari jam 07.30 s.d 14.00 wib sebagaimana layaknya sekolah agar perhatian terhadap peserta didik maksimal. Dan memberikan pelayanan jasa sebagai Penyedia Peningkatan Kapasitas Teknis Desa (P2KTD) melalui dana desa, bagi desa yang memerlukan layanan program Az Zahra.

Narasumber yang mengisi adalah BENNY ARNAS penulis dari Kota Lubuk Linggau. Beliau telah menulis dalam bahasa Indonesia & bahasa Inggris. Menerbitkan 25 buku dalam bahasa Inggris & bahasa Indonesia. Mengikuti residensi sastra di penjuru Indonesia, Australia, Uni Emirat Arab, Selandia Baru. Sejak 2012 mengelola lembaga kebudayaan Benny Institute di Lubuk Linggau.

Peserta adalah tutor program kesetaraan berjumlah 20 orang dan tutor PAUD binaan Az Zahra sebanyak 10 Orang. Sehingga total berjumlah 30 orang. Mereka mengikuti workshop dengan semangat dan antusias. Setelah materi disampaikan, mereka langsung praktek menulis dan membacakan hasil tulisan tersebut. Dengan percaya diri mereka membaca hasil karyanya, bahkan ada peserta yang tak sanggup membaca tulisannya karena terkenang sahabat baik yang telah tiada dan menjadi tokoh dalam tulisannya. Suasana haru pun tercipta. Kami mengenang sahabat kami Umi Suwartinah (Alm) salah satu pendidik PAUD Bougenville Indah yang wafat beberapa tahun yang lalu karena penyakit yang di deritanya. Kisah perjuangan tutor tersebut layak di tulis sebagai kenang-kenangan.

Tutor Kesetaraan, Umi Rilla menulis tentang kesehariannya dalam berinteraksi dengan peserta didik Paket C. Umi Essy menulis tentang kondisi pendidikan saat ini dan upaya agar anak kembali bersekolah. Dan Pak Fikram menulis tentang filosofi budaya masyarakat lembak. Kearifan lokal yang patut dijadikan buku supaya menjadi acuan dan pengetahuan di masa mendatang. Karya tulis bertema lokal menjadi daya tarik dan menjadi trend budaya saat ini.

Selanjutnya, kegiatan dibimbing melalui kelas menulis online agar hasil tulisan benar-benar dapat menjadi satu buku dan diterbitkan oleh Az Zahra. Impian Satu Saku, Satu Tutor Satu Buku akan terlaksana di Az Zahra!