"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

BDT syarat penerima bansos, Pendamping LU dilatih

ID BDT sebagai syarat penerima bansos lanjut usia

Meningkatnya angka harapan hidup lanjut usia berdampak pada peningkatan jumlah lanjut usia di Indonesia, tak terkecuali di Kabupaten Kepahiang.  Lansia di Indonesia menurut hasil survey Susenas tahun 2018 berjumlah 24,49 Juta Jiwa. Dan lansia miskin yang sudah terdaftar di Basis Data Terpadu (BDT) tahun 2018 dalam rumah tangga berjumlah 14,1 juta jiwa.

Untuk Tahun anggaran 2020 Lansia yang akan mendapatkan bantuan dari Kemensos RI akan mendapatkan 4 program sekaligus  yaitu Bantu LU, Perawatan Sosial, Dukungan Keluarga dan Terapi dengan jumlah bantuan per orang Rp. 2.700.000,- untuk 4 program tersebut.

Syarat lansia penerima bantuan 2020 :

  • Memiliki ID BDT
  • Tinggal di rumah tangga
  • Luar keluarga
  • Potensial /non potensial
  • Tidak boleh lansia penerima bantuan PKH

Permasalahan yang dihadapi LKSLU Az Zahra Kepahiang adalah banyak lanjut usia miskin yang belum memiliki ID BDT. Alasannya beragam, mulai dari tidak memiliki Kartu Keluarga sehingga tidak memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK). Hingga belum diinput dalam aplikasi Siks Ng oleh operator desa.

 

Oleh karena itu, LKSLU Az Zahra Kepahiang melatih para pendamping lansia untuk mengecek apakah lansia binaan mereka sudah memiliki ID BDT. Caranya dengan mengecek data lansia melalui laman https://cekbansos.siks.kemsos.go.id/kemsos/pencarian.

Narasumber yang melatih adalah Kms Fahrudin, S.Pd, Sekretaris sekaligus operator di LKSLU Az Zahra Kepahiang. Beliau juga membuat aplikasi untuk para pendamping yang akan mengirim data secara online, melalui laman . Aplikasi ini diharapkan mempermudah pendamping untuk mendata dan mengusulkan bantuan sosial sesuai dengan kriteria lansia.

 

Para pendamping yang akan melakukan pendataan sebagaimana Surat Keputusan Ketua Yayasan Az-Zahra Kepahiang Nomor  02/SK/Yazz-Kph/II/2020 Tanggal 6 Februari 2020 Tentang Pendamping Kegiatan Pendampingan Dan Perawatan Sosial Lanjut Usia Tahun 2020 adalah:

NO NAMA L/P WILAYAH (KECAMATAN)
1 SRI WANTI P KABAWETAN
2 IDA ROYANI P BERMANI ILIR
3 TANDAI TADURNA L BERMANI ILIR
4 DESNA P BERMANI ILIR
5 LIDYA ANALIZA P KEPAHIANG
6 RESI OKTIANI P KEPAHIANG
7 LILIS SURYANI P KEPAHIANG
8 DEWI HARTATI P KEPAHIANG
9 FONI SUSANTI P KEPAHIANG
10 LISMI NURHIDAYATI P KEPAHIANG
11 MERTI DWI ARIESTI P KEPAHIANG
12 EVI TARIA P KEPAHIANG
13 SUSILA EVIYANTI P KEPAHIANG
14 IMELDA ANDRIANI P KEPAHIANG
15 RISKA APRILIANA P TEBAT KARAI
16 ENI LESTARI P TEBAT KARAI
17 DESKA PRANOTO L MERIGI
18 DIANA PUSPITA P SEBERANG MUSI
19 YOVA APRILENSI P UJAN MAS
20 MARDATILLAH P UJAN MAS
21 SITI ASMA, Amd.Keb P TIM MEDIS
22 HENDRI GUNAWAN, S.Kep L TIM MEDIS

 

Nenek Demensia,… Aku Belum Pernah Dapat Bantuan

Nenek Demensia,… Aku Belum Pernah Dapat Bantuan

Mengawali tahun 2020 ini Lembaga Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia (LKSLU) Az zahra Kepahiang melakukan pendataan ulang lanjut usia yang akan diusulkan mendapat perawatan sosial tahun anggaran 2020.

Ditengah pendataan tersebut, ada beberapa laporan yang menginformasikan bahwa ada lansia yang belum mendapatkan bantuan sama sekali. Mereka berkirim foto dan hasil wawancara dengan nenek tersebut. Dengan suara khas lansia dia berkata, “Nenek ko belum dapat bantuan dari pemerintah. Idak ado bantuan samasekali”

Tim Az Zahra segera mencari data diri lansia tersebut, hasilnya setelah ditelusuri nenek tersebut setiap tahun mendapat bantuan program pendampingan dan perawatan lansia dari LKSLU. Bantuan berupa penambahan gizi, obat-obatan dan kebutuhan dasar lainnya.

Beberapa pendamping berdiskusi membahas hal tersebut, dan berkesimpulan bahwa lanjut usia tersebut terkena penyakit Dementia atau demensia, adalah penyakit yang mengakibatkan penurunan daya ingat dan cara berpikir. Kondisi ini berdampak pada gaya hidup, kemampuan bersosialisasi, hingga aktivitas sehari-hari penderitanya.

Demensia berbeda dengan pikun. Pikun adalah perubahan kemampuan berpikir dan mengingat yang biasa dialami seiring pertambahan usia. Perubahan tersebut dapat memengaruhi daya ingat, namun tidak signifikan dan tidak menyebabkan seseorang bergantung pada orang lain. Demensia disebabkan oleh rusaknya sel saraf dan hubungan antar saraf pada otak. Gejala utama demensia adalah penurunan memori dan perubahan cara berpikir, sehingga tampak perubahan pada perilaku dan cara bicara. Gejala tersebut dapat memburuk seiring waktu.

Nah…waspadai penyakit Demensia ini, dan jangan heran jika nenek ditanya sudah pernah dapat bantuan apa belum? Pasti jawabnya belum. Bahkan meski sudah makan 3 kali sehari, jika ditanya sudah makan apa belum? Dia akan jawab belum.

Selamat mendata Tim Az Zahra…semangat dan bantu lanjut usia di sekitar anda. Dampingi dan rawat lansia agar sehat dan bahagia dimasa tuanya.

 

Menjemput Kematian Dengan Bahagia

Menjemput Kematian Dengan Bahagia

Assallamu ‘alaikum kawan-kawan.

Saya mau sedikit berbagi kebahagian saya ketika menemani sakaratul maut Bude, istri dari kakak ibu saya yang tertua. Wak Yatul saya memanggilnya. Usianya sudah senja, berkisar 70 tahun. Diagnosa dokter sakitnya sudah komplikasi antara maag, jantung dan saluran cerna. Khas penyakit lanjut usia pada umumnya. Dia sudah dirawat dua malam di RSUD Kepahiang, keluhannya sakit perut dan tidak selera makan. Saat aku berkunjung, dia sedang tertidur pulas setelah mendapat suntikan anti nyeri melalui selang infusnya.

Malamnya, seingatku pukul 23.15 wib, Kak Darwes telpon mengabarkan bahwa kondisi ibunya kritis. Beliau anak Bude nomor dua. Mereka tujuh bersaudara. Aku menghubungi ibu, meminta pendapat tentang kondisi tersebut. Ibuku menyarankan untuk menunggu esok hari saja. Sudah larut malam, dan putra bungsuku yang baru berumur 5 tahun tidak ada yang jaga. Berdoa dan kirim al fatihah, pesan ibu. Aku menurut pesan ibu, mengambil tasbih dan berdzikir mohon kemudahan bagi Bude menghadapi situasi kritisnya.

Pukul 07.30 wib ibu telpon mengabarkan kondisi Bude yang kembali ngedrop. Masa kritisnya belum usai. Aku diminta segera menjenguk ke rumah sakit. Aku segera berkemas, bersih diri dan menitipkan putraku ke sekolah PAUD At thoriq yang bersebelahan dengan tempatku tinggal.

Pukul 08.09 wib saya sampai di rumah sakit. Di sana sudah berkumpul sanak famili dan semua anak Bude. Aku salami mereka satu persatu. Lalu aku melihat Bude sedang di kompres dengan tisue basah oleh anak nomor dua. Kepalanya terasa hangat saat disentuh. Anak pertamanya mengelus kaki Bude dan keluarga yang lain duduk-duduk beralaskan karpet dan sibuk dengan obrolan masing-masing. Bude diam seolah tertidur pulas. Kondisi ini sejak tengah malam. Bude kritis, namun selang oksigen sudah dilepas anak-anaknya. Mereka sudah ikhlas dan pasrah dengan segala kemungkinan yang bakal menimpa ibu mereka.

Saya mohon izin berbisik ke telinga Bude. Sebab setahu saya meski kritis dia tetap bisa mendengar. “Assallamualaikum Wak, ini Hel anak Sa’i. Apa kabar Wak?” pelan-pelan jari tengah dan telunjukku mengetuk kepalanya. Ini adalah gerakan tapping yang kupelajari di kelas PPA for healing beberapa bulan lalu.

Ada banyak hal yang terjadi saat tubuh seseorang akan mengalami kematian. Mereka tidak mau makan atau minum, mereka lelah, mereka tidak bisa bicara, mereka tidak bisa melihat, dan gejala lainnya. Tapi ada satu indra yang cenderung bertahan lebih lama daripada indra lainnya, yaitu indra pendengaran. Maka aku perlakukan seakan-akan Bude sedang dalam keadaan sadar. Aku mengajaknya bicara sambil berdoa. “Ya Allah walaupun aku sedang sakit, aku terima, aku ikhlas, aku pasrah.” Aku ulang-ulangi kalimat tersebut. Tiba-tiba Bude bergerak seolah tersentak dari tidurnya, namun dia diam lagi. Semua anaknya mendekat. Ada perintah membaca surat Yasin dari anak tertua. Mereka berebut mengambil buku Yasin di dekat kepala Bude. Lalu aku minta secara bergantian anak-anaknya mentalqin di telingga kanan Bude sambil berucap bahwa mereka ikhlas jika ibunya akan pergi. Bude kembali terdiam tanpa respon. Isak tanggis mulai terdengar.

Aku mendekat kembali. Mengetuk pelipisnya dengan lembut, gerakan tapping kedua. Kudekatkan wajah ke arahnya, “Allah…allah…,walaupun aku sakit, aku ikhlas, aku pasrah” kalimat inilah yang diulang-ulang. Aku tahu dia mendengarkan. Bude kembali merespon seperti tadi. Semua anaknya menangis.

“Jangan menangis…tolong bantu doa saja” ujarku kepada mereka yang meraung berlebihan. Aku teringat ada hadist yang berbunyi, “Sesungguhnya mayat akan disiksa karena tangisan keluarganya padanya.” (HR Bukhari dan Muslim). Menurut ulama, yang dimaksud hadis ini bahwa mayat merasa sedih dan tersiksa karena tangisan keluarganya, karena ia akan mendengar tangis dan melihat apa-apa yang mereka lakukan.

Proses sekarat mulai terjadi ketika tubuh tidak bisa mendapatkan asupan oksigen yang diperlukan untuk bisa bertahan hidup. Sel yang berbeda akan memiliki kecepatan kematian yang berbeda pula, sehingga panjangnya proses seseorang sekarat tergantung pada sel-sel yang kekurangan oksigen ini.

Sedangkan otak memerlukan oksigen dalam jumlah yang besar dan hanya memiliki sedikit oksigen cadangan. Sehingga jika asupan oksigen berkurang maka akan mengakibatkan kematian sel dalam waktu 3-7 menit saja.

Beberapa tanda yang ditunjukkan oleh orang yang sekarat adalah lebih banyak tidur, hal ini untuk menghemat energi yang tinggal tersisa sedikit di tubuh. Ketika energi tersebut hilang, maka seseorang akan kehilangan nafsu untuk makan ataupun minum. Proses menelan pun menjadi sulit dan mulut akan sangat kering, sehingga memaksa orang yang sekarat untuk minum akan membuatnya tersedak. Selain itu orang yang sekarat akan kehilangan kontrol pada kandung kemih dan ususnya, sehingga seringkali terlihat mengompol.

Kematian akan semakin mendekat jika kaki dan tangan terasa dingin dan mulai sedikit membiru akibat terhentinya aliran darah ke daerah tersebut. Tapi lama-kelamaan akan semakin menyebar ke bagian tubuh atas seperti lengan, bibir dan kuku. Selain itu orang menjadi tidak responsif, meskipun matanya terbuka tapi memiliki tatapan mata kosong atau tidak melihat sekelilingnya.

Setelah itu pernapasan akan terhenti sama sekali dan diikuti oleh berhentinya kerja jantung, maka secara klinis orang tersebut sudah mati karena tidak ada sirkulasi dan cadangan oksigen untuk bisa mencapai sel-sel di tubuh. Akibat tidak adanya asupan oksigen dan darah ke otak, maka dalam hitungan beberapa detik otak juga akan mati dan disitulah akhir dari perjalanan hidup seorang manusia.

Ditengah kesibukan menenangkan suara tanggis dan lantunan ayat kursi yang dibacakan, ibuku datang. Dia masuk ruangan dan memeriksa kaki Bude yang mulai dingin, dan beliau memberiku isyarat bahwa sakaratul maut sudah datang. Aku mengangguk paham, artinya aku harus membimbing Bude sebaik-baiknya menghadapi kematian ini. Kematian yang indah…bismillahirrahmannirrahim.

Aku kembali ketuk pelipisnya, dengan keyakinan dan penuh kasih sayang. Aku tuntun Bude, “Ya Allah ringankan…ringankan…bantu… bantu yaa Allah…bimbing ya Allah…” kuulang-ulang kalimat tersebut ditelingganya. Aku lihat ekspresi wajahnya menegang. Ada pergulatan disana. Napasnya naik turun.  Aku raih tangannya dan pelan-pelan aku bimbing Bude mengucapkan kalimat syahadat. “Asyhadu al la ilaha illallah. Wa asyhadu anna muhammadar rasulullah. Saya bersaksi dengan sebenar-benarnya bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah rasulNya.”

Budeku merespon…matanya terbuka, lalu seolah ada hentakan kuat menariknya dari atas kepala. Aku merasakan dengan jelas hentakan tersebut menarik hingga bahu Bude terangkat. Dan berlahan napasnya melemah lalu hilang. Innalillahi wa innalilahi rajiun. Aku mundur dari kerumunan, memberi tempat kepada anak-anak untuk memeluk ibunya terakhir kalinya. Tepat pukul 08.42 wib Bude dinyatakan wafat oleh dokter jaga.

Aku tersenyum, ibuku juga tersenyum bahagia melihat akhir kisah ini. Terus terang ini pertamakalinya aku melihat dan menemani orang sakaratul maut. Tidak seseram yang diceritakan orang. Bude pergi dengan syahadat sempurna dan senyum tersungging dibibirnya. Ketika aku ceritakan kisah ini kepada Ayah, beliau bersaksi bahwa Bude memang wanita baik dan shalehah. Bude pandai membaca alqur’an dan menghindari perkataan buruk kepada sesama. Bude memilih diam di rumah disbanding kumpul dengan tentangga yang sibuk bergosib tentang hidup orang lain.

Aku terharu, antara percaya dan tidak sudah melampaui semua ini. Bahkan aku tidak bisa menanggisi kepergiannya. Aku bahagia…bahagia karena yakin dia husnul khotimah, akhir yang baik.  Darinya aku belajar mempersiapkan diri untuk menjemput kematian yang indah. Menjemput kematian dengan bahagia. Salah satunya dengan ikhtiar sedekah energi ini. Terimakasih PPA…karena kalian aku berani sampai sejauh ini. Wassallamu ‘alaikum wr wb.

 

Kegiatan PKW Batik Diwo Kepahiang