Semester Genap Tetap Belajar Dari Rumah (BDR)
ZAHRA PUBLISHING. Siswa PKBM Az zahra Kepahiang Tetap Menjalani BDR selama masa pandemi.
Menindaklanjuti Surat Edaran Gubernur Bengkulu nomor 420/825/Dikbud/2020 tanggal 30 Desember 2020 tentang Penundaan Kegiatan Belajar Mengajar Tatap Muka Semester Genap 2020/2021 di Provinsi Bengkulu. Dan Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepahiang nomor 800/005/DKD/Dikbud/2020 tanggal 4 Januari 2020 tentang Penundaan Kegiatan Pembelajaran Tatap Muka Semester Genap 2020/2021 di Kabupaten Kepahiang, maka pengelola dan seluruh tutor memutuskan untuk tetap belajar di rumah (BDR)
Rapat yang dilaksanakan pada hari Jumat, 8 Januari 2020 memutuskan bahwa seluruh peserta didik paket B dan Paket C melaksanakan pembelajaran secara daring dari rumah. Jadwal belajar masih sama seperti jadwal tatap muka yaitu paket C pada hari Senin dan Selasa, paket B pada hari Rabu dan Kamis. Sementara untuk paket A belajar secara Luring dengan cara mengambil materi/tugas ke PKBM setiap hari Jumat dan Sabtu.
Untuk memudahkan proses belajar daring maka setiap tingkatan dipandu oleh wali kelas masing-masing. Untuk itu seluruh peserta didik segera menghubungi wali kelasnya masing-masing. Paket B tingkat 3 dengan Umi Foni Susanti, A.Md (0813-7987-9144); Paket B tingkat 4 dengan Umi Eni Lestari, S.Pd (0852-6726-9887); Paket C tingkat 5 dengan Abi Irawan, S.Pd (0831-6147-6211) dan Paket C tingkat 6 dengan Umi Merti Dwi Ariesti, S.Hut (0821-8261-1190).
Kegiatan BDR atau belajar secara daring semester genap akan dimulai hari Senin, 11 Januari 2020.
Hamari Adhuri Kahani 2
Kau mendekat
Namun jarak di antara kita tak jua berkurang
Bumi tak harus berjumpa dengan langit
Cinta sejati adalah yang tak mencapai tujuannya
Di atas pasir waktu
Kau tulis sesuatu seperti namaku lalu pergi
Di manakah dirimu
Kisah kita belum tuntas
Cinta pada yang tak mencintai
Berharap pada yang tak pasti
Peduli pada yang tak peduli
Bagaimana mungkin kita saling jatuh cinta
Hamari Adhuri Kahani
Kisah kita belum tuntas
Sudah tiga tahun berlalu. Susah payah kuhapus ingatan tentangmu. Wajah tampan berbatik biru, berkumis tipis dan berkacamata itu masih sering hadir di kala sendiri. Menghadirkan getar rindu. Rindu yang tak seharusnya hadir untukku. Sesekali…ya sesekali saja siluet tentangmu hadir menambah resahku.
Sejak pertemuan terakhir di kampus Biru Universitas Bengkulu tiga tahun yang lalu, kau tak lagi menyapaku. Awalnya karena nomormu aku blokir. Aku tidak mau ada ikatan hati denganmu. Menyimpan nomormu akan merusak kedamaian yang sedang aku bangun. Lebih tepatnya aku sedang marah dengan diri sendiri. Memblokir nomormu adalah salah satu cara melampiaskan rasa marah itu.
Mengapa harus marah? Karena asa yang tak berbalas selayaknya atau karena keegoisan semata? Entahlah…yang jelas aku terlalu naïf untuk mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta padamu. Cinta yang tak utuh, sebab kisah kita tak pernah sampai pada tahap itu.
“Numm…kok melamun?” tiba-tiba Mas Slamet sudah berada di depanku. Dia kakak kesayanganku, idolaku.
“Ehh Mas….kapan datang?” tanyaku gelagapan, malu kelihatan sedang melamun. Padahal saat itu novel Hamari Adhuri Kahani sedang berada dipangkuanku. Membaca kisah dalam novel itu jua yang mengingatkanku kembali tentangmu, lelaki berbatik biru, berkumis tipis dan berkacamata minus.
“Sejak sejam lalu, nengok Mama. Kamu lagi apa? Bukannya nemani Mama, malah melamun di sini. Kemarin kucing tetangga Mas mati tu gara-gara melamun. Hehhehe…” Kakakku itu tertawa dengan leluconnya sendiri. Akupun tersenyum meringis.
Apakah ingatanku tentangmu tidak bisa hilang? Hingga dengan membaca novel yang karakternya mirip denganmu saja aku harus terdiam? Dimanakah kamu? Aku ingin bertemu.
“Baca apa tu? Novel cengeng ya? Ehh…pantesan melamun, bacaannya nggak bermutu” Mas Slamet menjulurkan tangan kanannya dan meraih novel yang sedang kubaca. Dia mengamati dan membaca sinopsis pada halaman belakang buku.
“Hmm….Umi Yesi, kayaknya nama ini tidak asing. Hanum kenal dengan penulisnya?”
“Ya kenallah Mas…semua orang kenal dengan nama itu. Itu lo yang ngurusi anak putus sekolah di PKBM Az Zahra Kepahiang. Dia kan sering juga ngisi seminar di kampus Mas”
“Ohh…Umi yang itu. Iya Mas juga kagum dengan perjuangannya memberantas buta aksara dan mengerakkan anak putus sekolah agar kembali bersekolah. Kamu harus banyak belajar darinya. Pakai jurus ATM”
“ATM? Apa itu Mas?
“Amati Tiru dan Modifikasi. Gitu aja nggak ngerti. Huu…” Mas Slamet mendekatkan novel itu berusaha memukulku. Aku menghindar dan terkekeh dengan tingkahnya.
“Iya..ya…nanti aku ATM-an sama Umi Yesi. Mas sudah ketemu Mama?” aku mengalihkan topik pembicaraan. Berharap bayangmu juga segera sirna dari ingatanku.
“Sudah…katanya perut sebelah kanan terasa nyeri. Adek yang nemani Mama cek lab kemarin. Apa kata dokter?” Mas Slamet duduk di sofa tak jauh dari tempatku santai membaca novel sembari mengenangmu tadi. Dia mulai serius, kalau urusan Mama dia akan sangat serius. Sebab dia adalah Kakak laki-laki tertua di rumah ini.
“Nggak ada yang serius, hasil rontgen dan USG semua organ Mama dalam kondisi baik dan sehat. Tapi keluhan sakitnya belum berkurang. Hanum juga nggak tahu Mas”
“Kok bisa? Kalau semuanya baik-baik saja, mengapa Mama masih meringis kesakitan? Apa Mama kena usus buntu? Salah makan? Atau Mama pernah terjatuh sebelumnya?” Kakakku itu seperti detektif saja. Wawancaranya detail.
“Hanum nggak tahu Mas. Coba Mas ajak Mama ngobrol, barangkali ada ganjalan lain dihati Mama yang belum terungkap hingga sakitnya tidak mereda.” Aku merubah posisi duduk dengan melonjorkan kaki diatas sofa. Posisi santai sembari meraih kembali novel yang belum usai dibaca tadi. Kisahnya menarik, dan tentu saja karena tokoh dalam cerita itu mirip denganmu, lelaki berbaju biru berkumis tipis dan berkacamata.
Mas Slamet bangkit berdiri dan meninggalkanku, kembali menuju kamar Mama. Aku berusaha fokus kembali membaca kisah Hamari Adhuri Kahani, Kisah Kita Yang Belum Tuntas. Akankah kisah kita sama seperti judul buku ini? Aku hapus nomormu yang pernah terblokir. Dengan demikian kau bisa menghubungiku tanpa blokir-an. Ahh…andai saja.
Bersambung…
Kelas Sabusabu V: Kecil Kecil Punya Karya
Zahra Publishing. Guna mengisi liburan sekolah, Minggu, 27/12/2020 TBM Cahaya PKBM Az zahra Kepahiang mengelar kelas menulis sabusabu V dengan tajuk KECIL KECIL PUNYA KARYA. Kegiatan ini bertempat di rumah Kak Dyah Kelurahan Pasar Ujung dan diikuti oleh pelajar di Kepahiang dan Lebong sebanyak 15 orang yaitu:
| No | Nama Peserta | Asal Sekolah | Kelas |
| 1 | Alifa Eshal Sausan | SDIT cahaya Rabbani | II |
| 2 | Rifda Maharani | SDN 02 Kepahiang | III |
| 3 | Mutiara Zahira | SDIT Cahaya Rabbani | IV |
| 4 | M.Patrialis Akbar | MI Darusalam | IV |
| 5 | Naura Zalfa Rina | SDIT Cahaya Rabbani | IV |
| 6 | Aurora Charolina | SDN 01 Tebat Karai | V |
| 7 | Shafira Ayu Chesa | SDN 04 Kepahiang | VI |
| 8 | Nurul Ayu Azizah | SMP IT Al-Kahfi Lebong | VII |
| 9 | Berlin Dirgantara | MTSN 01 Kepahiang | VIII |
| 10 | Fauziah Luthfiyyah | Rabbani Boarding School | IX |
| 11 | Selvi Novita Sari | SMAN 1 Kepahiang | X |
| 12 | Nabila Septyani | SMAN 1 Kepahiang | X |
| 13 | Dinta Melinda | MAN 2 Kepahiang | XI |
| 14 | Maulida Khairani | SMKN 3 Rejang Lebong | XI |
| 15 | Iis Saropa | SMKN 4 Kepahiang | XII |
Umi Yesi, penulis yang menjadi narasumber kelas menulis menyampaikan rasa takjub dan bangga melihat kemauan dan tekad yang kuat dari calon penulis muda yang ikut kelas hari ini. Sabusabu angkatan V ini diperuntukkan khusus bagi pelajar yang memanfaatkan libur sekolah dengan karya.
Terakhir, Umi memberikan PR, setiap peserta akan menulis karya dengan Tema Curhatku, Sekolah di Masa Pandemi. Kita tunggu hasil karya mereka ya…




