"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

PENDAMPINGAN LANSIA

Nenek Demensia,… Aku Belum Pernah Dapat Bantuan

Nenek Demensia,… Aku Belum Pernah Dapat Bantuan

Mengawali tahun 2020 ini Lembaga Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia (LKSLU) Az zahra Kepahiang melakukan pendataan ulang lanjut usia yang akan diusulkan mendapat perawatan sosial tahun anggaran 2020.

Ditengah pendataan tersebut, ada beberapa laporan yang menginformasikan bahwa ada lansia yang belum mendapatkan bantuan sama sekali. Mereka berkirim foto dan hasil wawancara dengan nenek tersebut. Dengan suara khas lansia dia berkata, “Nenek ko belum dapat bantuan dari pemerintah. Idak ado bantuan samasekali”

Tim Az Zahra segera mencari data diri lansia tersebut, hasilnya setelah ditelusuri nenek tersebut setiap tahun mendapat bantuan program pendampingan dan perawatan lansia dari LKSLU. Bantuan berupa penambahan gizi, obat-obatan dan kebutuhan dasar lainnya.

Beberapa pendamping berdiskusi membahas hal tersebut, dan berkesimpulan bahwa lanjut usia tersebut terkena penyakit Dementia atau demensia, adalah penyakit yang mengakibatkan penurunan daya ingat dan cara berpikir. Kondisi ini berdampak pada gaya hidup, kemampuan bersosialisasi, hingga aktivitas sehari-hari penderitanya.

Demensia berbeda dengan pikun. Pikun adalah perubahan kemampuan berpikir dan mengingat yang biasa dialami seiring pertambahan usia. Perubahan tersebut dapat memengaruhi daya ingat, namun tidak signifikan dan tidak menyebabkan seseorang bergantung pada orang lain. Demensia disebabkan oleh rusaknya sel saraf dan hubungan antar saraf pada otak. Gejala utama demensia adalah penurunan memori dan perubahan cara berpikir, sehingga tampak perubahan pada perilaku dan cara bicara. Gejala tersebut dapat memburuk seiring waktu.

Nah…waspadai penyakit Demensia ini, dan jangan heran jika nenek ditanya sudah pernah dapat bantuan apa belum? Pasti jawabnya belum. Bahkan meski sudah makan 3 kali sehari, jika ditanya sudah makan apa belum? Dia akan jawab belum.

Selamat mendata Tim Az Zahra…semangat dan bantu lanjut usia di sekitar anda. Dampingi dan rawat lansia agar sehat dan bahagia dimasa tuanya.

 

Menjemput Kematian Dengan Bahagia

Menjemput Kematian Dengan Bahagia

Assallamu ‘alaikum kawan-kawan.

Saya mau sedikit berbagi kebahagian saya ketika menemani sakaratul maut Bude, istri dari kakak ibu saya yang tertua. Wak Yatul saya memanggilnya. Usianya sudah senja, berkisar 70 tahun. Diagnosa dokter sakitnya sudah komplikasi antara maag, jantung dan saluran cerna. Khas penyakit lanjut usia pada umumnya. Dia sudah dirawat dua malam di RSUD Kepahiang, keluhannya sakit perut dan tidak selera makan. Saat aku berkunjung, dia sedang tertidur pulas setelah mendapat suntikan anti nyeri melalui selang infusnya.

Malamnya, seingatku pukul 23.15 wib, Kak Darwes telpon mengabarkan bahwa kondisi ibunya kritis. Beliau anak Bude nomor dua. Mereka tujuh bersaudara. Aku menghubungi ibu, meminta pendapat tentang kondisi tersebut. Ibuku menyarankan untuk menunggu esok hari saja. Sudah larut malam, dan putra bungsuku yang baru berumur 5 tahun tidak ada yang jaga. Berdoa dan kirim al fatihah, pesan ibu. Aku menurut pesan ibu, mengambil tasbih dan berdzikir mohon kemudahan bagi Bude menghadapi situasi kritisnya.

Pukul 07.30 wib ibu telpon mengabarkan kondisi Bude yang kembali ngedrop. Masa kritisnya belum usai. Aku diminta segera menjenguk ke rumah sakit. Aku segera berkemas, bersih diri dan menitipkan putraku ke sekolah PAUD At thoriq yang bersebelahan dengan tempatku tinggal.

Pukul 08.09 wib saya sampai di rumah sakit. Di sana sudah berkumpul sanak famili dan semua anak Bude. Aku salami mereka satu persatu. Lalu aku melihat Bude sedang di kompres dengan tisue basah oleh anak nomor dua. Kepalanya terasa hangat saat disentuh. Anak pertamanya mengelus kaki Bude dan keluarga yang lain duduk-duduk beralaskan karpet dan sibuk dengan obrolan masing-masing. Bude diam seolah tertidur pulas. Kondisi ini sejak tengah malam. Bude kritis, namun selang oksigen sudah dilepas anak-anaknya. Mereka sudah ikhlas dan pasrah dengan segala kemungkinan yang bakal menimpa ibu mereka.

Saya mohon izin berbisik ke telinga Bude. Sebab setahu saya meski kritis dia tetap bisa mendengar. “Assallamualaikum Wak, ini Hel anak Sa’i. Apa kabar Wak?” pelan-pelan jari tengah dan telunjukku mengetuk kepalanya. Ini adalah gerakan tapping yang kupelajari di kelas PPA for healing beberapa bulan lalu.

Ada banyak hal yang terjadi saat tubuh seseorang akan mengalami kematian. Mereka tidak mau makan atau minum, mereka lelah, mereka tidak bisa bicara, mereka tidak bisa melihat, dan gejala lainnya. Tapi ada satu indra yang cenderung bertahan lebih lama daripada indra lainnya, yaitu indra pendengaran. Maka aku perlakukan seakan-akan Bude sedang dalam keadaan sadar. Aku mengajaknya bicara sambil berdoa. “Ya Allah walaupun aku sedang sakit, aku terima, aku ikhlas, aku pasrah.” Aku ulang-ulangi kalimat tersebut. Tiba-tiba Bude bergerak seolah tersentak dari tidurnya, namun dia diam lagi. Semua anaknya mendekat. Ada perintah membaca surat Yasin dari anak tertua. Mereka berebut mengambil buku Yasin di dekat kepala Bude. Lalu aku minta secara bergantian anak-anaknya mentalqin di telingga kanan Bude sambil berucap bahwa mereka ikhlas jika ibunya akan pergi. Bude kembali terdiam tanpa respon. Isak tanggis mulai terdengar.

Aku mendekat kembali. Mengetuk pelipisnya dengan lembut, gerakan tapping kedua. Kudekatkan wajah ke arahnya, “Allah…allah…,walaupun aku sakit, aku ikhlas, aku pasrah” kalimat inilah yang diulang-ulang. Aku tahu dia mendengarkan. Bude kembali merespon seperti tadi. Semua anaknya menangis.

“Jangan menangis…tolong bantu doa saja” ujarku kepada mereka yang meraung berlebihan. Aku teringat ada hadist yang berbunyi, “Sesungguhnya mayat akan disiksa karena tangisan keluarganya padanya.” (HR Bukhari dan Muslim). Menurut ulama, yang dimaksud hadis ini bahwa mayat merasa sedih dan tersiksa karena tangisan keluarganya, karena ia akan mendengar tangis dan melihat apa-apa yang mereka lakukan.

Proses sekarat mulai terjadi ketika tubuh tidak bisa mendapatkan asupan oksigen yang diperlukan untuk bisa bertahan hidup. Sel yang berbeda akan memiliki kecepatan kematian yang berbeda pula, sehingga panjangnya proses seseorang sekarat tergantung pada sel-sel yang kekurangan oksigen ini.

Sedangkan otak memerlukan oksigen dalam jumlah yang besar dan hanya memiliki sedikit oksigen cadangan. Sehingga jika asupan oksigen berkurang maka akan mengakibatkan kematian sel dalam waktu 3-7 menit saja.

Beberapa tanda yang ditunjukkan oleh orang yang sekarat adalah lebih banyak tidur, hal ini untuk menghemat energi yang tinggal tersisa sedikit di tubuh. Ketika energi tersebut hilang, maka seseorang akan kehilangan nafsu untuk makan ataupun minum. Proses menelan pun menjadi sulit dan mulut akan sangat kering, sehingga memaksa orang yang sekarat untuk minum akan membuatnya tersedak. Selain itu orang yang sekarat akan kehilangan kontrol pada kandung kemih dan ususnya, sehingga seringkali terlihat mengompol.

Kematian akan semakin mendekat jika kaki dan tangan terasa dingin dan mulai sedikit membiru akibat terhentinya aliran darah ke daerah tersebut. Tapi lama-kelamaan akan semakin menyebar ke bagian tubuh atas seperti lengan, bibir dan kuku. Selain itu orang menjadi tidak responsif, meskipun matanya terbuka tapi memiliki tatapan mata kosong atau tidak melihat sekelilingnya.

Setelah itu pernapasan akan terhenti sama sekali dan diikuti oleh berhentinya kerja jantung, maka secara klinis orang tersebut sudah mati karena tidak ada sirkulasi dan cadangan oksigen untuk bisa mencapai sel-sel di tubuh. Akibat tidak adanya asupan oksigen dan darah ke otak, maka dalam hitungan beberapa detik otak juga akan mati dan disitulah akhir dari perjalanan hidup seorang manusia.

Ditengah kesibukan menenangkan suara tanggis dan lantunan ayat kursi yang dibacakan, ibuku datang. Dia masuk ruangan dan memeriksa kaki Bude yang mulai dingin, dan beliau memberiku isyarat bahwa sakaratul maut sudah datang. Aku mengangguk paham, artinya aku harus membimbing Bude sebaik-baiknya menghadapi kematian ini. Kematian yang indah…bismillahirrahmannirrahim.

Aku kembali ketuk pelipisnya, dengan keyakinan dan penuh kasih sayang. Aku tuntun Bude, “Ya Allah ringankan…ringankan…bantu… bantu yaa Allah…bimbing ya Allah…” kuulang-ulang kalimat tersebut ditelingganya. Aku lihat ekspresi wajahnya menegang. Ada pergulatan disana. Napasnya naik turun.  Aku raih tangannya dan pelan-pelan aku bimbing Bude mengucapkan kalimat syahadat. “Asyhadu al la ilaha illallah. Wa asyhadu anna muhammadar rasulullah. Saya bersaksi dengan sebenar-benarnya bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah rasulNya.”

Budeku merespon…matanya terbuka, lalu seolah ada hentakan kuat menariknya dari atas kepala. Aku merasakan dengan jelas hentakan tersebut menarik hingga bahu Bude terangkat. Dan berlahan napasnya melemah lalu hilang. Innalillahi wa innalilahi rajiun. Aku mundur dari kerumunan, memberi tempat kepada anak-anak untuk memeluk ibunya terakhir kalinya. Tepat pukul 08.42 wib Bude dinyatakan wafat oleh dokter jaga.

Aku tersenyum, ibuku juga tersenyum bahagia melihat akhir kisah ini. Terus terang ini pertamakalinya aku melihat dan menemani orang sakaratul maut. Tidak seseram yang diceritakan orang. Bude pergi dengan syahadat sempurna dan senyum tersungging dibibirnya. Ketika aku ceritakan kisah ini kepada Ayah, beliau bersaksi bahwa Bude memang wanita baik dan shalehah. Bude pandai membaca alqur’an dan menghindari perkataan buruk kepada sesama. Bude memilih diam di rumah disbanding kumpul dengan tentangga yang sibuk bergosib tentang hidup orang lain.

Aku terharu, antara percaya dan tidak sudah melampaui semua ini. Bahkan aku tidak bisa menanggisi kepergiannya. Aku bahagia…bahagia karena yakin dia husnul khotimah, akhir yang baik.  Darinya aku belajar mempersiapkan diri untuk menjemput kematian yang indah. Menjemput kematian dengan bahagia. Salah satunya dengan ikhtiar sedekah energi ini. Terimakasih PPA…karena kalian aku berani sampai sejauh ini. Wassallamu ‘alaikum wr wb.

 

Bantu Pembuatan Kartu Keluarga Untuk Lansia Sebatangkara

Kepahiang, 30/8/2018. Hari ini, kami sengaja menyempatkan diri untuk berkoordinasi dengan Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Kepahiang dalam rangka memberikan layanan kepada lanjut usia yang belum memiliki Kartu keluarga (KK). Hal ini di karenakan salah satu permasalahan  kami dalam memberikan pelayanan pendampingan dan perawatan lanjut usia di rumah (home care) adalah lanjut usia yang tidak memiliki identitas legal.

Banyak lansia yang tinggal sendirian (sebatangkara) tidak memiliki identitas seperti KTP dan Kartu keluarga. Hal ini menyulitkan pendamping untuk memintakan bantuan sosial, karena syarat penerima bantuan adalah memiliki NIK. Di satu sisi, ada bebarapa lansia yang mengeluh karena KTP/KK nya hilang di karenakan banyaknya orang datang yang meminta legalitas tersebut sebagai dasar penerima bantuan, namun bantuan yang di janjikan tidak pernah mereka terima.

Daftar nama nama lansia yang akan di bantu pembuatan kartu keluarga adalah sebagai berikut:

No Nama L/P Tempat, Tgl lahir Alamat
1 Ismail L Cinta Mandi, 5 Juli 1932 Desa Cinta Mandi
2 Rakya P Cinta Mandi, 5 Juli 1930 Desa Cinta Mandi
3 Wati P Imigrasi Permu, 1 Juli 1936 Imigrasi Permu
4 Sakada P Semidang, 1 Januari 1932 Nanti agung
5 Nuya P Nanti Agung, 1 Desember 1933 Nanti Agung
6 Ngadinem P Sidorejo, 1 Juli 1938 Sidorejo
7 Painem P Kutorejo, 1 Juli 1937 Kutorejo
8 Seta L Weskust, 1 Juli 1933 Weskust
9 Nurhuda P Semidang, 8 Oktober 1935 Weskust

Maksud dan kedatangan kami di di respon dengan sangat baik oleh Sekretaris Dinas Kependudukan Dan Catatan Sipil Kabupaten Kepahiang, Drs Pandri.

“Bu yesi….Kami sangat berterima kasih dan merespon positif upaya ibu dan kawan kawan di az Zahra dalam melakukan pelayanan terhadap lanjut usia ini. Dan kami apresiasi gerakan masyarakat yang peduli akan pentingnya legalitas sebagai warga negara berupa pembuatan kartu keluarga. Ada tiga dokumen penting yang wajib di miliki sebagai warga negara yakni Kartu Keluarga (KK), Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan akte kelahiran”.

Saya langsung di ajak ke ruang pendaftaran dan pelayanan umum. Pak Sekdis langsung meminta beberapa staf untuk memberikan dokumen formulir isian untuk syarat pembuatan kartu tersebut.  Dalam pengurusan kartu keluarga ada beberapa dokumen yang harus di lengkapi antara lain:

  1. Formulir Isian Biodata Penduduk yang di tanda tangani Kades/Lurah (blanko di sediakan dukcapil)
  2. Surat Nikah/Surat Cerai (jika ada)
  3. Fotokopi akta kelahiran (jika ada)
  4. Surat keterangan domisili dari Kades/Lurah

Untuk lanjut usia yang masih memiliki keluarga (sanak family) maka di sarankan untuk bergabung dengan keluarga tersebut, syarat yang harus di lengkapi antara lain:

  1. Kartu Keluarga Asli dari keluarga yang akan di tumpangi
  2. Formulir Biodata penduduk untuk perubahan data

Jika lanjut usia tersebut sudah tidak memiliki surat nikah/surat cerai maka dapat mengisi surat pernyataan tanggung jawab mutlak (SPTJM) kebenaran sebagai pasangan suami isteri. Dan jika lansia tersebut tidak memiliki akta kelahiran  maka dapat mengisi surat pernyataan tanggung jawab mutlak (SPTJM) kebenaran data kelahiran.

Berbincang bincang dengan pak Pandri dan karyawan di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Kepahiang ini sangat menyenangkan. Mereka ramah dan mudah senyum. Ciri khas para pelayan jasa bagi masyarakat luas.

Masih banyak masyarakat Kepahiang yang belum memiliki Kartu keluarga. Padahal KK adalah induk dari legalitas sebagai warga Negara. Tahap pertama sekali adalah pembuatan kartu keluarga ini. Jika KK sudah selesai di buat maka bisa di lakukan perekaman KTP elektronik. Selanjutnya baru pembuatan akte kelahiran. Ketiga dokumen ini sangat penting dan banyak manfaatnya.

Kartu Keluarga ( KK ) adalah suatu identitas atau daftar susunan anggota keluarga serta hubungan dalam keluarga, status, pekerjaan dalam satu rumah tangga mulai dari suami dan istri, anak dan anggota keluarga yang tinggal serumah dengan kita yang berdomisili dalam jangka waktu yang lama. Banyak diantara kita kadang kala masih menyepelekan masalah kepemilikan kartu keluarga, padahal ini sangat penting dalam lingkungan atau tempat kita tinggal.

Manfaat Kartu Keluarga

  1. Sebagai Syarat pembuatan KTP ( Kartu Tanda Penduduk )
  2. Sebagai bukti yang sah dan kuat atas status Identitas keluarga dan anggota keluarga akan kedudukan keberadaan kependudukan seseorang
  3. Sebagai Syarat dalam  pembuatan Akta Kelahiran anggota keluarga baru lahir
  4. Sebagai Syarat dalam pendaftaran asuransi atau BPJS
  5. Sebagai Syarat untuk pendaftaran anak – anak yang baru masuk sekolah
  6. dan lain – lain

Dan bagi lanjut usia yang mendapatkan layanan pendampingan dan perawatan di rumah (home care) maka Kartu Keluarga adalah syarat untuk mendapatkan bantuan sosial. Sebab di butuhkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) untuk di input sebagai Basis Data Terpadu (BDT).

Sekretaris Dinas Kependudukan Dan Catatan Sipil Kabupaten Kepahiang, Drs Pandri berpesan bahwa masyarakat harus  pro aktif untuk mengurus dokumen penting ini. Sebab dukcapil hanya bisa melayani jika ada permohonan masyarakat. Jika hanya lisan dan tidak ada permohonan maka kami tidak bisa melayani karena tupoksi kami adalah melayani dan mencatat. Artinya ada dokumen  yang mesti kami catat.

“Kami senang ada keterlibatan organisasi masyarakat seperti yayasan az Zahra ini. Benar benar membantu masyarakat kurang mampu yang memerlukan layanan. Setelah dokumen persyaratan ini di isi maka kami akan bantu menerbitkan kartu keluarga tersebut, jika ada kendala segera hubungi saya  ya bu yesi”, pesan beliau dengan sumringah.

Saya ucapkan terima kasih kepada beliau, dan pamit pulang ke az Zahra untuk meminta para pendamping lansia turun ke lapangan dan membantu beberapa lansia yang belum memiliki KK tersebut. Dengan adanya bantuan pembuatan kartu keluarga ini di harapkan lanjut usia yang hidup sendirian atau sebatangkara dapat terlayani dengan baik dan dapat di usulkan untuk mendapatkan bantuan sosial lainnya. Aamiin

 

 

Kegiatan PKW Batik Diwo Kepahiang