Az Zahra Kepahiang
CALON ORANG BESAR MEMULAI PERUBAHAN
CALON ORANG BESAR MEMULAI PERUBAHAN
Sebulan yang lalu, kami diundang untuk mengikuti kegiatan pelatihan pengembangan tutor PAUD yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kepahiang berkerjasama dengan PKK Kabupaten Kepahiang, dengan Tema “Kita Tingkatkan Pembinaan Bagi Pendidik PAUD Untuk Terciptanya Anak-anak Yang Berkarakter dan Berpotensi.
Inti dari pelatihan tersebut adalah diharapkan kesadaran Pendidik PAUD dalam melaksanakan aktifitasnya sebagai pendidik anak usia dini. Bahwa menjadi seorang pendidik tidaklah gampang, apalagi dengan tujuan untuk menghasilkan anak-anak yang berkarakter. Sebab kebanyakan pendidik PAUD adalah guru yang bertipe nyasar alias hanya bekerja sambilan dengan niat mengisi waktu luang saja. Ada juga pendidik PAUD yang bertipe guru bayaran yaitu rajin mengajar jika ada insentif atau uang transport saja.
Apa penyebab guru PAUD bertipe nyasar dan bayar? Salah satunya karena tidak memahami potensi dalam dirinya, yaitu potensi lahiriah seorang perempuan (kebanyakan pendidik PAUD adalah perempuan). Jika potensi ini bisa tersalurkan melalui upaya pendampingan tumbuh kembang anak usia dini maka fitrah sebagai perempuan alias ibu akan maksimal. Sayangnya, beban ekonomi dan pandangan sosial masyarakat kadang menjadi pemicu tidak maksimalnya pendidik dalam melaksanakan aktifitasnya. Belum lagi, ketidak mampuan dalam berkonsentrasi terhadap kebutuhan anak didik. Banyak pendidik yang membawa permasalahan pribadinya di sekolah sehingga perhatian terhadap anak didikpun terabaikan.
Sebagian besar pendidik kita terlalu banyak menggunakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk sesuatu di luar dirinya. Juga terlalu banyak energi dan potensi untuk memikirkan selain diri, baik itu merupakan kesalahan, keburukan mau pun kelalaian orang lain.
Ketika peserta didik tidak mengalami kemajuan berarti, biasanya antar pendidik saling menyalahkan satu sama lain, sehingga suasana mengajarpun tambah runyam.
Banyak pendidik yang menginginkan orang lain berubah, tapi ternyata yang diinginkannya itu tak kunjung terwujud.
Siapa pun yang bercita-cita besar, rahasianya adalah perubahan pada diri sendiri. Ingin mengubah anak didik menjadi berkarakter dan berakhlak mulia?, caranya ubah saja diri sendiri. Betapapun kuatnya keinginan kita untuk mengubah anak didik, tapi kalau tidak dimulai dari diri sendiri, semua itu menjadi hampa. Setiap keinginan mengubah hanya akan menjadi bahan tertawaan kalau tidak dimulai dari diri sendiri. Orang di sekitar kita akan menyaksikan kesesuaian ucapan dengan tindakan kita.
Boleh jadi orang yang banyak memikirkan diri sendiri itu dinilai egois. Pandangan itu ada benarnya jika kita memikirkan diri sendiri lalu hasilnya juga hanya untuk diri sendiri. Tapi yang dimaksud di sini adalah memikirkan diri sendiri, justru sebagai upaya sadar dan sungguh-sungguh untuk memperbaiki kualitas diri yang lebih luas.
Perumpamaan yang lebih jelas untuk pandangan ini adalah seperti kita membangun pondasi untuk membuat rumah. Apalah artinya kita memikirkan dinding, memikir kan genteng, memikirkan tiang sehebat apa pun, kalau pondasinya tidak pernah kita bangun. Jadi yang merupa kan titik kelemahan manusia adalah lemahnya kesungguhan untuk mengubah dirinya, yang diawali dengan keberanian melihat kekurangan diri. Nah…bagaimana pendidik akan menciptakan anak-anak PAUD yang berkarakter dan berpotensi jika dirinya belum mau berubah?.
Pemimpin mana pun bakal jatuh terhina manakala tidak punya keberanian mengubah dirinya. Orang sukses mana pun bakal roboh kalau dia tidak punya keberanian untuk mengubah dirinya. Kata kuncinya adalah keberanian.
Berani mengejek itu gampang, berani menghujat itu gampang, tapi, tidak sembarang orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri. Ini hanya milik orang- orang yang sukses sejati.
Orang yang berani membuka kekurangan orang lain, itu biasa. Orang yang berani membincangkan orang lain, itu tidak istimewa. Sebab itu bisa dilakukan semua orang yang tidak punya apa-apa sekali pun. Tapi, kalau ada orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri, bertanya tentang kekurangan itu secara sistematis, lalu dia buat sistem untuk melihat kekurangan dirinya,inilah calon orang besar.
Mengubah diri dengan sadar, itu juga mengubah orang lain. Walaupun dia tidak mengucap sepatah kata pun untuk perubahan itu, perbuatannya sudah menjadi ucapan yang sangat berarti bagi orang lain. Percayalah, kegigihan kita memperbaiki diri, akan membuat orang lain melihat dan merasakannya.
Memang pengaruh dari kegigihan mengubah diri sendiri tidak akan spontan dirasakan. Tapi percayalah, itu akan membekas dalam benak orang. Makin lama, bekas itu akan membuat orang simpati dan terdorong untuk juga melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Ini akan terus berimbas, dan akhirnya seperti bola salju. Perubahan bergulir semakin besar.
Jadi kalau ada orang yang bertanya tentang sulitnya mengubah anak, jawabannya dalam diri orang itu sendiri. Jangan dulu menyalahkan orang lain, ketika mereka tidak mau berubah.
Jangan terlalu banyak bicara. Lebih baik bersungguh-sungguh memperbaiki diri sendiri. Jadikan perkataan makin halus, sikap makin mulia, etos kerja makin sungguh-sungguh, ibadah kian tangguh. Mudah-mudahan, kita bisa menjadi pendidik yang sadar bahwa kesuksesan peserta didik diawali dari keberanian melihat kekurangan diri sendiri, dan berusaha memulai perubahan ke arah lebih baik.
Kitalah yang akan menghargai diri sendiri dan kemudian orang lain juga akan menghargai kita. Tak ada pribadi yang BIASA-BIASA saja dalam jagad raya ini. Yang ada adalah pribadi yang GAGAL menjadikan dirinya LUAR BIASA. Kesuksesan itu adalah kepercayaan dalam mengaktualisasikan diri dalam bentuk pengabdian dan kasih sayang. Maka banggalah dengan dirimu sendiri, jangan pernah bermimpi untuk menjadi orang lain. Mari mulai perubahan…..(salam Az-zahra)
Az Zahra, 20 Oktober 2014.
Rina dan Rini
RINA DAN RINI
Pagi ini, pukul 08.12 wib, ananda Rina datang ke rumah dengan malu malu.
“Mii…punya nasi ?? Rini mau nasi.”
“lhoo,….. kenapa perlu nasi ? Rini belum makan ? kemana wawak nak ?” tanyaku penasaran.
“wawak ke Ujan mas karena nenek meninggal tiga hari yang lalu, kami mau masak tapi tidak ada beras”, ucapnya pelan sambil menunduk.
Rina dan Rini adalah kakak beradik yang tinggal menumpang dengan saudara tua Ibunya, biasa di panggil wawak (bude). Profesi wawak mereka adalah pemulung sampah daur ulang seperti botol plastik, kertas dan Koran bekas. Di rumah sempit yang tak layak huni tersebut tinggal juga seorang kakek lanjut usia yang sehari hari pergi ke rumah rumah untuk meminta “sumbangan”. Ada 8 orang tinggal dalam rumah petak dengan satu buah kamar dan tanpa perabotan rumah tangga yang layak. Terkadang beberapa anak keluarga juga menumpang tinggal di sana, berdesakan hingga ada yang tidur di luar rumah beralaskan kardus dan Koran bekas.
Wawak mempunyai 3 orang anak, anak pertama perempuan berusia 15 tahun, anak kedua laki laki berusia 10 tahun dan anak ketiga laki laki berusia 6 tahun. Sedangkan Rina dan Rini berusia 12 dan 11 tahun. Kelima anak usia sekolah tersebut tidak ada satupun yang pernah mengenyam pendidikan formal. Karena faktor ekonomi dan beratnya beban hidup yang mesti mereka tanggung. Untuk mengurangi beban ekonomi, anak pertama wawak telah di nikahkan dengan seorang petani dewasa sehingga anak tersebut dapat ikut suaminya ke kebun. Pernyataan miris sang wawak kepadaku saat menikahkan anak tersebut adalah, “hilang satu beban aku miii, …..dio la nikah bisa ikut lakinyo!”. Aahhhh…..aku hanya bisa istiqfar dalam hati. Semoga engkau bahagia nak…doaku lirih.
Dalam kondisi sulit dan serba kekurangan tersebut, apakah tidak ada perhatian dari pemerintah ?. jawabnya ADA. Keluarga wawak adalah peserta Program Keluarga Harapan (PKH). Kakek tua yang ada di rumah juga di bantu melalui program UEP Lansia dan program Homecare Lansia. Dan sesekali ada bantuan sembako dari organisasi wanita dan para dermawan di Kepahiang. Namun….kemiskinan belum mau sirna dari kehidupan mereka.
Rina, Rini dan kedua anak wawak kami bujuk untuk mau sekolah di PKBM az Zahra Kepahiang. Alhamdullillah saat ini mereka sudah duduk di Paket A (setara SD) tingkat 1. Mereka masih perlu layanan khusus karena masih buta huruf. Dan, ternyata anak anak di Kabupaten Kepahiang yang masih buta huruf dan belum mengenyam pendidikan ini masih cukup banyak. Tahun pelajaran 2016/2017 ada 13 anak yang masuk kategori Paket A tingkat 1. Jumlah ini tentu cukup mengherankan bagi dunia pendidikan di Kabupaten, sebab anak anak ini tinggal di Kecamatan induk yaitu Kecamatan Kepahiang, yang fasilitas pendidikan formalnya sangat cukup dan memadai. Mengapa mereka tidak sekolah ? Mengapa mereka mau dan tertarik ikut paket A ? Mengapa anda tidak tanya langsung dan bertemu dengan mereka???.
Yukk ketemu Rina dan Rini di az Zahra !!!
Ganjelan Tisue
Jum’at, 26 Januari 2018
Hari Minggu lalu, saya di ajak salah satu tutor az Zahra untuk mengikuti training Pola pertolongan Allah (PPA), tepatnya di hotel splash Bengkulu. Acara tersebut sangat menarik dan meninggalkan kesan yang mendalam, terutama materi tentang “ganjelan tisue”. Ganjelan tissue adalah perumpamaan untuk menjelaskan beberapa sifat buruk manusia yang menutup/mengganjal fitrah kebaikan dalam dirinya.
Semua orang adalah baik, tidak ada manusia lahir langsung membawa sifat keburukan dalam dirinya. Perbuatan buruk atau jahat timbul karena pengaruh lingkungan, pengaruh teman/pergaulan, pengaruh orang tua/keluarga dan pengaruh media terutama dunia maya seperti facebook, Whatshap dll.
Jika di ibaratkan kebaikan adalah air yang jernih di dalam gelas, maka air tersebut akan sangat bermanfaat bagi tubuh kita. Bahkan manusia bisa bertahan tanpa makan nasi asalkan ada air. Cukup dengan air, kehidupan tetap bisa berlangsung. Begitu pentingnya air seperti pentingnya kebaikan diri.
Perbuatan buruk akan menjadi ganjelan dalam kehidupan kita jika tidak segera di selesaikan. Perbuatan buruk ibarat minyak. Jika minyak kita tuangkan ke dalam gelas yang berisi air tadi maka minyak akan menutupi sifat air, karena minyak dan air tidak bisa bersatu. Begitupun dengan kebaikan, akan tertutup dengan keburukan. Semakin banyak keburukan maka semakin tebal ganjalan tissue yang menutupi kebaikan. Akibatnya hidup terasa gersang, serba salah, serba susah. Dampaknya pikiran tidak konsentrasi, mudah emosi dan marah, suka menggeluh dan menyalahkan takdir atas kemalangan yang di hadapi.
Lalu, bagaimana membuang ganjelan tissue yang terlanjur menebal dalam diri kita tersebut ?. jawabnya HILANGKAN GANJELAN TISUE nya. Hal ini erat kaitannya dengan perbuatan dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil. Dosa kepada Allah SWT dan dosa kepada Manusia. Jika kita melakukan perbuatan maksiat dan melanggar ketentuan Allah SWT, maka cara menghilangkan ganjelan tissue dengan bertaubat, mohon ampunan dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama di masa yang akan datang.
Dosa kepada manusia menjadi ganjalan yang tidak mudah untuk di hilangkan. Sebab satu satunya cara untuk menarik ganjelan tissue nya adalah dengan kata “Maaf”. Meminta maaf dan memaafkan adalah hal yang mudah namun sulit di lakukan. Terkadang merasa takut, malu dan gengsi. Takut dan malu minta maaf Jika telah melakukan kesalahan dengan menyakiti orang lain harus di lawan. Tugas kita adalah meminta maaf dengan cara yang baik dan waktu yang tepat. Jika orang yang di sakiti belum mau menerima maaf, maka cukuplah Allah yang berkehendak. Tugas kita hanya meminta maaf atas kesalahan atau kekhilafan yang pernah di lakukan. Itu saja …!
Gengsi minta maaf kepada orang yang menyakiti hati kita, merasa tidak salah karena di fitnah atau di jelekkan tanpa dasar. Permusuhan panjang yang terjadi karena hasutan orang lain, kadang berdampak buruk pada kehidupan kita. Akibatnya timbul dendam panjang tak berkesudahan. Orang yang menyakiti harus di datangi dan minta maaflah. Kok kita yang minta maaf ??? yang salah kan dia ??. Ini bukan masalah salah dan benar, meminta maaf bukan berarti kita salah kok. Maaf itu cermin kerendahan hati, semakin sering kita meminta maaf maka semakin jernih dan bersih hati kita. Bukankah itu yang kita cari ?, ketenangan hati. Ayo…datang dan sambung tali silahturahmi dengan orang orang yang pernah kita sakiti dan orang orang yang berusaha menyakiti kita.
Jum’at yang berkah ini, saya mendatangi salah satu tutor yang pernah mengabdi di az Zahra, dengan niat menyambung tali silahturahmi dan menghilangkan ganjalan tissue yang pernah terjadi. Ganjelan tissue tersebut adalah ketika saya memarahi beliau karena sering menggambil keputusan sendiri tanpa berkoordinasi dan seizin kepala sekolah PAUD. Beliau salah satu pendidik PAUD yang berada di bawah naungan Yayasan Az Zahra Kepahiang. Puncaknya adalah saya memberinya cuti satu semester untuk memperbaiki diri dan merenunggi kesalahannya, apalagi dia sedang dalam kondisi hamil tua. Jadi istirahat saja mengajar dahulu, nanti masuk lagi setelah melahirkan.
Jika di lihat dari alasan “perumahan sementara” tersebut, langkah yang di ambil sebagai pengelola terhadap tutornya sudah tepat. Namun, apa yang menurut kita baik belum tentu baik juga buat orang lain. Sang tutor justru memutuskan bekerja di PAUD lain, tanpa pemberitahuan sebelumnya. Mungkin dia merasa sakit hati, merasa kecewa dan tidak terima mendapat teguran seperti itu. Hal yang wajar dan normal.
Enam bulan masa cuti yang diberikan sudah usai, kami menunggu kehadiran nya kembali. Melanjutkan tugas, mendidik anak usia dini dan juga membantu tugas tugas sosial di az Zahra lainnya. Namun dia tidak muncul.
Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mengerti bawahannya. Tidak egois dan mau menang sendiri. Dan tidak harus selamanya benar.
Saya datang ke sekolah baru, tempat dia mengajar. Membawa kado untuk si kecil yang baru lahir. Dan dengan niat menyambung tali silahturahmi kembali. Saat tahu kedatanganku, awalnya dia enggan dan takut untuk bertemu. Aku menunggu dengan senyum dan penuh harap.
Akhirnya dia datang, sedikit tersenyum dan tertunduk diam. Ku pegang tangan dan bahunya, bertanya tentang anak nya yang baru lahir dan kondisi kesehatannya. Saatnya aku meminta maaf!. Memohon pengertian atas langkah yang di ambil sebagai pimpinan. Membuatnya nyaman, bahwa kami merindukan dan merasa kehilangan. Mengucapkan terima kasih atas pengabdian selama beberapa tahun di az Zahra. Tentu banyak kesalahan yang di temui, namun kebaikan tak kalah banyak pula di berikan. Dia menanggis…memelukku dengan erat. Aku tau dia menyayangiku seperti halnya aku menyayanginya. Kata maaf dan trima kasih telah melembutkan hati kami. Tidak ada lagi rasa resah dan merasa benar sendiri. Semua memahami kondisi dan keadaan masing masing.
Terakhir, saya menitipkan mantan tutor tersebut kepada kepala sekolah tempatnya mengabdi yang baru. Semoga dia semakin baik di lingkungan yang baik. Menjadi pendidik yang cerdas hati dan pikiran sehingga menghasilkan peserta didik yang berhasil di kelak kemudian hari.
Saya pulang dengan meneteskan air mata, merasa lega dan bahagia. Sebab satu ganjelan tissue sudah tercabut dan berganti dengan air putih jernih. Siap di nikmati dengan penuh kesyukuran.



