Az Zahra Kepahiang
MENJADI BIDADARI DI HARI YANG FITRI
Untuk anak-anakku yang mulai ribut dan tak sabaran membuka celengan demi mendapatkan sepotong baju baru buat lebaran. Untuk adik-adikku, kaum muda yang asyik bercengkrama sembari jalan-jalan pagi di tepi trotoar sembari merencanakan tamasya ke mana lebaran nanti dan teristimewa buat teman-teman seprofesiku yakni kaum perempuan, ibu rumah tangga yang mulai kalut dengan toples-toples kue yang harus terisi dan cat rumah yang menuntut diganti.
Lebaran sebentar lagi, tinggal menghitung hari. Masjid-masjid mulai sepi dan aktifitas tadarusan seusai shalat tarawehpun menurun drastis. Sebaliknya pusat-pusat perbelanjaan banjir pembeli. Toko baju, sepatu, makanan bahkan sampai pasar daging dan ikan menjadi repot melayani pembeli yang membludak seolah tak berhenti. Anehnya, mereka begitu ceria, penuh canda antar sesama seolah lebaran adalah momen terpenting sepanjang bulan ramadan ini. Lebaran identik dengan hari ”pembebasan”. Pembebasan dari rasa lapar dan dahaga, maka kebebasan harus dirayakan.
Duhai anakku sayang, lebaran tak harus memakai baju baru. Cukuplah dengan pakaian bersih dan pantas pakai yang sudah ada. Lebaran tak harus rekreasi ke tempat-tempat hiburan adikku, alangkah indahnya bila lebaran di isi dengan agenda-agenda penuh makna lainnya. Bersilahturahmi ke tetangga, mengunjungi guru-guru atau membesuk pasien-pasien di rumah sakit yang tidak sempat merayakan lebaran bersama keluarga di rumah. Dan untukmu saudariku, kaum ibu, cukuplah makanan halal yang ada tanpa berlebih-lebihan dalam merayakan lebaran. Juga tidak harus menuntut suami menambah uang saku berlebih untuk mengecat rumah dan membeli pernak-pernik rumah lainnya. Rumah yang bersih dan penuh kasih sayang serta kesehajaan lebih terasa nikmat daripada rumah yang penuh dengan hiasan yang dipaksakan bukan ?
Kepada anakku yang lucu, adikku yang manis dan saudariku -kaum ibu yang mulia ada tiga amalan di bulan ramadan yang dapat kita lakukan untuk menjadi ”bidadari” di akhir ramadan nanti. Tiga amalan itu adalah:
Pertama Tartilul Qur’an (membaca alqur’an). ”Bulan Ramadan merupakan bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu sekaligus pembeda antara yang hak dan yang batil” (Al-Baqarah: 185). Alqur’an adalah petunjuk, kompas dan panduan hidup manusia. Ia adalah cahaya hidup. Sebagai cahaya, ia hanya akan bisa terpantul sempurna jika diserap oleh cermin yang bersih. Cermin yang bersih itu adalah gambaran hati 0rang-orang yang telah terampuni dosanya melalui pembakaran dosa-dosa dengan melakukan amalan di bulan ramadan secara benar dan sempurna. Membaca alqur’an di bulan ramadan amalannya berlipat ganda sebab setiap satu huruf yang dibaca akan mendapat ganjaran 10 kali lipat. Terutama di malam-malam terakhir menjelang lebaran ini, dimana para malaikat Allah turun ke bumi untuk memberi berkah orang-orang yang mendapat anugerah lailatul qadr.
Kedua Qiyamul lail (shalat malam). Bagi orang beriman (laki-laki dan perempuan) malam-malam ramadan terasa singkat karena mereka merasakan ”kelezatan” bermunajjah kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda ”barangsiapa yang berpuasa dan shalat malam dengan mengharap keridhaan Allah, maka dia keluar dari dosanya seperti bayi yang dilahirkan oleh ibunya” (Riwayat Ahmad).
Ketiga berzakat serta memberi sedekah. Seruan bersedekah pada bulan ramadan diriwayatkan sebagai berikut: ”Wahai manusia ! barangsiapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan ia diberi ampunan atas dosa-dosanya yang lalu. Para sahabat berkata, ”Ya Rasulullah, tidaklah kami semua mampu berbuat demikian. ”Rasulullah meneruskan, ”jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.” Nah, sebagai ibu rumah tangga yang setiap sorenya mempersiapkan hidangan berbuka puasa, sudahkah kita bersedekah kepada tetangga atau dhuafa yang kelaparan di ujung rumah kita?. Rasulullah telah menjadi teladan dalam hal meringkan beban orang lain, sebagimana yang digambarkan oleh Bukhari dan Muslim berikut ini ”Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan, lebih drmawan untuk memberikan kebaikan lebih cepat dari angin yang bertiup kencang”
Duhai engkau_kaum perempuan-, sangat mudah untuk menjadi bidadari di bulan yang di berkahi ini bila engkau telah selesai khatam Alqur’an minimal satu kali maka setelah Ramadan ini berganti bacaan wajibmu adalah Alqur’an bukan buku komik picisan atau buku resep masakan.
Jika malam-malam di bulan ramadan ini kau hiasi dengan qiyamul lail maka kau akan terbiasa bangun pagi sehingga tak akan kesiangan berangkat ke sekolah dan lebih di sayang suami jika setiap pagi sarapan telah tersedia menjelang ia berangkat ke kantornya.
Lalu, tak kalah pentingnya adalah bulan ramadan melatih kita untuk senantiasa berbagi kepada sesama agar timbul rasa kebersamaan dengan masyarakat sekitar yang kurang mampu. Dengan kebersamaam tersebut akan menciptakan kondisi lingkungan yang aman dan nyaman.
Nah, mari kita introspeksi diri. Mampukah predikat “bidadari” di hari yang fitri nanti kita raih ???????????
PENERIMAAN SISWA BARU TP 2018 – 2019
INFORMASI UMUM
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Az Zahra Kepahiang adalah Satuan Pendidikan Nonformal (UU No. 20 Th 2003) dan Lembaga Kesejahteraan Sosial (UU No. 11 Th 2009) yang bergerak dibidang pengembangan pembelajaran (learning development), pengembangan masyarakat komunitas (community development), dan pengembangan ekonomis (Business development). Legalitas awal PKBM Az-zahra Kepahiang adalah Izin Operasional Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Kepahiang nomor 1770/891.3/Diknas/2006 tanggal 11 Desember 2006 dan berbadan hukum akte notaris Safado Nugroho Widiatmo, SH nomor 17 tanggal 11 Desember 2007. Pada tahun 2010 telah berbadan hukum Yayasan dengan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia nomor AHU-5014.AH.01.04.Tahun 2010 pada tanggal 16 Desember 2010.
Untuk layanan pembelajaran nonformal, az Zahra membuka Program Pendidikan Kesetaraan paket A, paket B dan paket C. Layanan ini sudah di mulai sejak tahun 2006 hingga saat ini. Kabar gembiranya adalah semua layanan nonformal tersebut telah terjamin mutu dan kualitasnya. Terbukti dengan adanya sertifikat Akreditasi program paket C dengan nomor sertifikat PKBM 1708 00001 11 2016 dengan nilai terakreditasi B. Nilai akreditasi yang sama juga untuk program paket B dan paket A. Nomor sertifikat akreditasi paket B yaitu PKBM-PKB/1708/0004/06/2017 dan nomor sertifikat akreditasi paket A yaitu PKBM-PKA/1708/0003/06/2017. Hal ini menyebabkan az Zahra menjadi PKBM unggulan dan berprestasi sejak tahun 2008 hingga saat ini.

VISI
Menjadikan lembaga sebagai kekuatan sosial yang berkembang dan terpercaya dalam melayani warga binaan menuju kehidupan sejahtera.
MISI
Mengembangkan lembaga sebagai sarana gerakan pembebasan dan gerakan pemberdayaan dalam rangka membangun struktur masyarakat madani sehingga terwujud kualitas warga binaan yang sejahtera
TUJUAN
- Terciptanya tata kehidupan dan penghidupan sosial materil maupun spritual keluarga yang diliputi rasa keselamatan, kesusilaan dan kententraman lahir batien serta terciptanya stabilitas sosial dan integrasi sosial serta rasa kesetiakawanan sosial.
- Terciptanya lembaga yang dapat berfungsi sebagai pusat pembelajaran, informasi, komunikasi, advokasi dan rujukan bagi warga binaan dalam mengembangkan diri untuk mencapai kesejahteraan hidupnya.
- Terciptanya gerakan ekonomi riil warga sehingga ikut serta membangun tatanan perekonomian daerah
Az Zahra Kepahiang menyelenggarakan pendidikan melalui sistem TERBUKA DAN TANPA SERAGAM. Terbuka artinya bahwa setiap orang dapat menjadi peserta didik tanpa ada batasan, baik tahun kelulusan ijazah, usia, status pernikahan, wilayah domisili dan pekerjaan. Artinya setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk ikut serta, tidak terhalang dengan usia (muda/tua), status (menikah/belum menikah), wilayah domisili (jauh/dekat) dan pekerjaan (swasta/negeri). Tanpa seragam artinya tidak kaku dalam aturan. Peserta reguler bersekolah dengan pakaian bebas pantas dan membuat kesepakatan bersama dalam hal jadwal tatap muka. Mereka bisa memilih hari dan waktu yang tidak menganggu dengan aktifitas harian. Bahkan peserta dapat memilih belajar secara mandiri atau secara online. Kami menyediakan layanan bantuan belajar yang di sebut dengan tutorial, baik melalui pertemuan berkala secara tatap muka maupun secara mandiri atau online. Penilaian hasil belajar dilakukan dalam bentuk tugas, praktikum, ujian semesteran, USBN dan UNBK.
PROGRAM PILIHAN
- Paket A setara SD
- Paket B setara SMP
- Paket C setara SMA
PERSYARATAN SISWA BARU
A. JALUR BEASISWA (Kelas Reguler)
Jalur Beasiswa di peruntukkan bagi anak anak usia sekolah umur 6 sampai dengan 17 tahun dalam kelas reguler dengan metode pembelajaran wajib tatap muka. Peserta yang mengikuti kelas ini tidak di pungut biaya alias GRATIS dengan melengkapi persyaratan sebagai berikut:
- Mengisi formulir pendaftaran yang di sediakan lembaga
- Fotokopi ijazah terakhir di legalisir (*bagi siswa paket B dan paket C)
- Fotokopi Kartu keluarga
- Fotokopi KTP orang tua
- Fotokopi Kartu Indonesia Pintar (KIP)/PKH/KKS
- Surat Keterangan Tidak mampu dari Lurah/Kades
- Surat keterangan belum menikah dari Lurah/Kades
- Pasfoto warna ukuran 3×4 sebanyak 5 lembar dan ukuran 2 x 3 sebanyak 5 lembar
Pendaftaran sampai dengan tanggal 31 Mei 2018 pukul 12.00 wib

B. JALUR UMUM (Kelas Eksekutif)
Jalur umum/kelas eksekutif di peruntukkan bagi anak dan orang dewasa tanpa batasan umur, status, wilayah dan pekerjaan. Peserta yang memilih jalur ini di kenakan biaya pendidikan dan tidak wajib mengikuti tatap muka. Pengayaan wawasan dapat di lakukan secara mandiri dan online. Persyaratan jalur umum/kelas eksekutif sebagai berikut:
- Mengisi formulir pendaftaran yang di sediakan lembaga atau secara online di link http://azzahrakepahiang.or.id/new-page-2/
- Fotokopi ijazah terakhir di legalisir (*bagi siswa paket B dan paket C)
- Fotokopi Kartu keluarga
- Pasfoto warna ukuran 3×4 sebanyak 5 lembar dan ukuran 2 x 3 sebanyak 5 lembar

BIAYA PENDIDIKAN
Biaya pendidikan dikenakan kepada peserta didik jalur umum dan eksekutif untuk penyelenggaraan dan pembinaan pendidikan meliputi biaya tutorial/tatap muka, try out dan semesteran, ujian praktek, biaya Ujian Sekolah Berstandar Nasional/USBN, biaya Ujian Nasional Berbasis Komputer /UNBK secara mandiri dan bantuan pengembangan lembaga. Peserta di kenakan biaya pendidikan selama mengikuti kegiatan sampai dengan kelulusan sebagai berikut:
GELOMBANG I
Waktu Pendaftaran tanggal 1 April – 31 Mei 2018
Biaya Pendaftaran semua program Rp.100.000,- (Seratus ribu rupiah)
- Biaya Pendidikan Paket A (SD) Rp.1.000.000,- (Satu juta rupiah)
- Biaya Pendidikan Paket B (SMP) 1.500.000,- (Satu juta lima ratus ribu rupiah)
- Biaya Pendidikan Paket C (SMA) 2.500.000,- (Dua juta lima ratus ribu rupiah)
- Biaya dapat di angsur dan di lunasi selambatnya 30 Oktober 2018
GELOMBANG II
Waktu Pendaftaran tanggal 1 Juni – 14 Juli 2018
Biaya Pendaftaran semua program Rp.250.000,- (Dua ratus lima puluh ribu rupiah)
- Biaya Pendidikan Paket A (SD) Rp.1.500.000,- (Satu juta lima ratus ribu rupiah)
- Biaya Pendidikan Paket B (SMP) 2.500.000,- (Dua juta lima ratus ribu rupiah)
- Biaya Pendidikan Paket C (SMA) 4.000.000,- (Empat juta rupiah)
- Biaya dapat di angsur dan di lunasi selambatnya 30 Desember 2018
HARI PERTAMA MASUK SEKOLAH KELAS REGULER
SENIN, 16 JULI 2018 PUKUL 08.00 WIB
Informasi lebih lanjut hubungi Helmiyesi, M.Si (0852 67887453); Kms Fahrudin, S.Pd (0853 79244252).
Alamat Sekretariat:
Jl. Pengabdian RT.1 RW.2
Kelurahan Padang Lekat
Kecamatan Kepahiang
Kabupaten Kepahiang
Provinsi Bengkulu. Kode Pos 39372
Email: azzahra_kph@yahoo.co.id
Dalam Jeda Perjalananku
Dalam jeda perjalananku, Bengkulu – Surabaya. Aku duduk di ruang tunggu transit C6 Bandara Soekarno Hatta. Saat itu disampingku ada seorang Kakek tua yang sudah duduk duluan dan hanya memandang lurus ke depan. Awalnya aku tidak berniat untuk mengajaknya berbicara, dan lebih memilih membaca buku “One person, multi career” yang baru saja ku beli di Mega mall Bengkulu beberapa hari yang lalu. Aku selalu menyempatkan diri untuk membaca buku-buku motivasi, spiritual dan etos kerja di kala waktu sengang perjalanan.
Beberapa saat kemudian Kakek tua tersebut mengeluarkan obat tetes mata dari tas ranselnya. Sekilas aku melirik apa yang dia lakukan tersebut dan membaca merk obat tetes yang sedang dia pakai. Spontan aku bertanya “Bapak habis operasi mata ya?”. Kakek tersebut mengangguk sedikit sambil mengedip-ngedipkan matanya untuk menghilang nyeri akibat efek obat tetes tersebut. Aku mengenal jenis obat tersebut karena setahun yang lalu aku juga menggunakannya untuk menormalkan mata yang minus 5 (- 5) dan silender yang cukup menyiksa.
Pertanyaan awal tadi mencairkan suasana di antara kami. Dia bercerita bahwa baru selesai operasi mata karena ada syaraf mata sebelah kanan yang putus akibat kecelakaan bermotor 3 tahun yang lalu-aku lupa nama penyakitnya. Gejala yang dialaminya adalah kebutaan mendadak di sebelah matanya. Saat aku bertanya mana keluarga yang mengantar dia saat operasi. Jawabnya sungguh diluar dugaan dan kelaziman kita sebagai muslim yang baik. Dia berangkat dari Padang-Sumatera Barat menuju Rumah Sakit Islam Jakarta sebulan yang lalu tanpa kawalan. Sendirian…??? ya…tidak ada satupun anggota keluarganya yang menyertai padahal 1 bulan dia dirawat dan ada 2 hari pasca operasi dia tidak bisa bergerak sama sekali. Untunglah layanan tim medis di sana sangat baik dan memuaskan. Ada 2 orang tim medis laki-laki yang menemani dan melayani kebutuhannya.
Berkecamuk perasaanku, antara kagum dengan kemandiriannya menghadapi operasi tanpa kawalan keluarga dan kegeraman dengan sikap ketidakpedulian keluarganya. Bagaimana mungkin ada keluarga yang tega tidak merawatnya pasca operasi, alangkah durhaka sang anak yang membiarkannya berangkat sendirian naik pesawat kelas ekonomi tanpa pengawalan dan dalam kondisi sakit pula. Lalu dimana pula peran sanak keluarga yang lainnya???
Sepanjang perjalanan, tanda tanya besar tersebut terus bermain di benakku. Dan pertanyaan tersebut tak terjawab sebab beberapa saat kemudian suara pramugari pesawat Sriwijaya Air yang merdu telah memanggilnya untuk melanjutkan perjalanan. Tinggallah aku sendiri memandang resah pada sosok tua yang memunggungiku tersebut. Gairah membacapun sirna, dan aku memilih diam sambil menulis beberapa kalimat yang sedang aku rasakan saat itu.
Tiga hari di Surabaya mengikuti kegiatan orientasi lembaga penyelenggara program Pendidikan Keluarga Berbasis Genderpun berakhir. Aku bertolak ke Jakarta naik travel dan langsung menuju Rumah Sakit Patria IKKT untuk menjenguk adikku yang sedang di rawat di sana. Dia kena Demam Berdarah dan gejala thipus. Sampai di sana, kondisi adikku sudah membaik. Selang infus sudah dicabut, meninggalkan bercak biru pada kulitnya. Namun ia masih terbaring lemah di tempat tidur. Kedatanganku di sambut dengan senyum dan binar mata bercahaya sehingga pucat wajahnya tersamarkan. Selayaknya kakak yang baik, aku mengurus adikku dengan suka cita. Menyuapi makannya, bercerita tentang betapa kuatirnya ayah dan ibu di kampung serta membereskan semua administrasi rumah sakit saat ia telah diizinkan pulang. Sesampai di kost aku juga segera merapikan kamarnya yang agak berdebu, mencuci pakaian kotor selama di rumah sakit dan tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada sanak saudara serta teman-teman kost adikku yang telah membantu dan merawat adikku sebelum kedatanganku. Aku minta izin tidak kerja selama 3 hari demi menemani adikku. Dan ketika dia sudah benar-benar pulih, barulah aku pamit pulang ke Bengkulu karena anak-anakkupun sudah rindu masakan ibunya.
Dan ketika chek in dari Jakarta menuju Bengkulu memoriku teringat kembali pada sosok laki-laki tua yang pulang pergi sendirian tanpa keluarga. Dalam hati aku berdoa semoga di kampung halamannya dia di sambut hangat oleh sanak keluarga. Diperhatikan segala kebutuhannya, dihibur oleh tingkah lucu cucu-cucunya dan di sayangi isteri dan anak-anaknya.
Dalam jeda perjalananku, aku belajar tentang empati. Aku belajar memahami arti memiliki keluarga sejati dan aku mengajakmu untuk tak menelantarkan orang-orang di sekitarmu. Mari tebar kasih dan peduli sesamamu. Buku “One person, multi career” pun kembali ku buka, membacanya dengan penuh minat sembari menunggu suara merdu pramugari Lion Air memanggil.
( 5 Mei 2013)