Az Zahra Kepahiang
SENYUM PENERIMA PIP PAKET C
Kepahiang, 13 Juli 2018.
Hari ini, beberapa peserta didik Pendidikan Kesetaraan Paket C az Zahra mulai mencairkan dana bantuan PIP tahun 2018. Penerima PIP tahap 4 ini sesuai dengan SK Direktur SMA nomor 5390/D4/KU/2018 tanggal 15 Mei 2018.
Program Indonesia Pintar (PIP) adalah tindak lanjut dari Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2014 dengan tujuan untuk meningkatkan akses bagi anak usia 6 sampai dengan 21 tahun untuk mendapatkan layanan pendidikan sampai tamat satuan pendidikan menengah, dan mencegah peserta didik dari kemungkinan putus sekolah (drop out).

Sasaran PIP adalah Peserta Didik berusia 6 sampai dengan 21 Tahun yang merupakan:
- Peserta didik pemilik KIP;
- Peserta didik dari keluarga miskin/rentan miskin dan/atau dengan pertimbangan khusus seperti:
- Peserta didik dari keluarga peserta Program Keluarga Harapan (PKH)
- Peserta didik dari keluarga pemegang Kartu Keluarga Sejahtera (KKS)
- Peserta didik yang berstatus yatim piatu/yatim/piatu dari sekolah/panti sosial/panti asuhan
- Peserta didik yang terkena dampak bencana alam
- Kelainan fisik (peserta didik inklusi), korban musibah, dari orang tua PHK, di daerah konflik, dari keluarga terpidana, berada di LAPAS, memiliki lebih dari 3 saudara yang tinggal serumah

Persyaratan Penerima
- Terdaftar sebagai peserta didik di PKBM
- Terdaftar dalam Dapodikmas PKBM

Nama nama peserta didik yang mendapatkan bantuan PIP tahun 2018 sebagai berikut:
| NO | NAMA | NISN | NO KIP | NAMA IBU | NO REKENING |
| 1 | ANGGA PERNANDES | 9995069789 | A506K6 | NON ANILA | 586684822 |
| 2 | AYU PUTRI SUSANTI | 0007779011 | A5LRWE | TITI PUTRIANA | 586684888 |
| 3 | DELLA IDIA | 0002616870 | A5K1Z9 | YENI ROSITA | 586684902 |
| 4 | ERLAN DENI KANEDI | 9996470047 | A56PP3 | BENTI KUSUMA | 586685065 |
| 5 | HADI SUPRAYITNO | 9995005676 | A5DZTO | MEGAWATI | 586685189 |
| 6 | HENDRA SAPUTRA | 9998885180 | A5EY5B | ILA SAPIATI | 586685236 |
| 7 | JENI HERLIYAN | 0017845964 | A52JJB | ARSA | 586685292 |
| 8 | LENSI PERMATASARI | 9985685732 | A5T9YK | ABA | 586685383 |
| 9 | MARYATI YUNINGSIH | 9994161228 | A520N6 | ABA | 586685474 |
| 10 | MEKI SANDRA | 9986428920 | A5WPEK | ARMAWATI | 586685521 |
| 11 | MELAN TRIYANI | 9989093934 | A5P3JC | RIAN SUMARTI | 586685554 |
| 12 | MUHAEMIN ADI ENSA | 0015700183 | A5H1ZU | ENSI SESTI | 586685611 |
| 13 | RIKA RUKMAYA | 9999606340 | A53ZSU | PATMAWATI | 586685791 |
| 14 | RIO ALFARIDZI | 9990983796 | A574B2 | SRI MARDALENA | 586685859 |
| 15 | SAINUDIN KAMIRUDIN | 9987242868 | A5I3XI | MIRAWATI | 586685917 |
| 16 | SUPRIATIN | 9997370488 | A5JL3L | YANTI | 586685962 |
| 17 | SURYAWATI | 9998207437 | A501FG | PONIRAH | 586685995 |
| 18 | SUSILAWATI | 0006058075 | A5PZ0G | SERANIT | 586686024 |
| 19 | YOFI ANGGELLA AGUSTINA | 9999119345 | A5NVHB | SUKMAWATI | 586686080 |

Peserta didik yang mencairkan dana hari ini baru 11 orang, sisanya belum bisa mencairkan dana PIP tersebut di karena persyaratan administrasi yang di minta pihak bank belum bisa dilengkapi oleh mereka. Persyaratan tersebut meliputi Akte lahir, Kartu Keluarga, Ijazah terakhir dan KTP, semua harus asli dan di bawa saat pencairan. Persyaratan ini cukup memberatkan peserta didik yang notabene nya berasal dari keluarga kurang mampu dan tidak memiliki legalitas seperti yang di minta. Terutama peserta didik yang di titipkan tinggal di Panti Asuhan dan anak yang lahir tanpa perkawinan sebagaimana undang undang yang berlaku. Harapan kami proses pencairan dana dapat di permudah sehingga manfaat dana tersebut benar benar di rasakan oleh mereka.
Lihatlah senyum bahagia mereka setelah menerima dana PIP.

KISRUH PPDB 2018 DAN PELUANG PENDIDIKAN NONFORMAL
Pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMA di Provinsi Bengkulu telah usai. Pelaksanaan pendaftaran PPDB tingkat SMA di laksanakan senin s.d kamis, 2 s.d 5 Juli 2018 dan pengumuman siswa di lakukan pada hari Jum’at, 6 Juli 2018 pukul 10.00 wib. PPDB tahun 2018 mengacu pada peraturan terbaru tentang PPDB yakni Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018. Salah satunya mengatur tentang sistem zonasi yang mulai diterapkan dalam PPDB tahun ini. Tujuan diterapkan zonasi adalah menghapus sekolah favorit karena semua harus sama tidak boleh ada yang status favorit kemudian yang lain buangan. Sistem zonasi diklaim dapat menghilangkan adanya anggapan sekolah favorit. Beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai sistem zonasi dalam PPDB 2018 diantaranya:
- Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah (pemda) wajib menerima calon peserta didik berdomisili pada radius zona terdekat dari sekolah dengan kuota paling sedikit 90% dari total jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima.
- Domisili calon peserta didik yang termasuk dalam zonasi sekolah didasarkan pada alamat pada kartu keluarga (KK) yang diterbitkan paling lambat 6 (enam) bulan sebelum pelaksanaan PPDB.
- Radius zona terdekat dalam sistem zonasi ditetapkan oleh pemda sesuai dengan kondisi di daerah tersebut dengan memperhatikan ketersediaan anak usia sekolah di daerah tersebut; dan jumlah ketersediaan daya tampung sekolah.
- Penetapan radius zona pada sistem zonasi ditentukan oleh pemda dengan melibatkan musyawarah/kelompok kerja kepala sekolah
Permasalahan terjadi ketika pihak petugas penerimaan siswa baru hanya memahami point 2 yaitu tentang domisili peserta didik minimal 6 bulan sesuai tanggal terbitnya KK. Sehingga menyulitkan siswa mendaftar dengan mengunakan KK baru yang terbit karena adanya penambahan anggota keluarga (penambahan adik yang baru lahir atau family lain yang menumpang di KK tersebut). Begitu juga dengan KK yang berubah tanggal terbit karena adanya pemekaran wilayah. Petugas penerimaan siswa baru berpedoman pada acuan yang saklek pada point 2 tersebut. Sementara orang tua siswa bersikukuh bahwa domisili mereka sudah bertahun tahun di zonasi yang di tetapkan. Hal ini menyebabkan perdebatan yang panjang dan menimbulkan keributan di sekolah.
Cara pendaftaran PPDB dapat dilakukan dengan 2 cara yakni PPDB online (daring) dan PPDB offline (luring). Orangtua dapat melakukan pendaftaran PPDB online dengan mengunjungi laman resmi yang disiapkan pemerintah daerah masing-masing. Sedangkan sistem offline dapat dilakukan dengan mengunjungi langsung sekolah-sekolah yang menjadi tujuan. Di Kabupaten Kepahiang cara pendaftaran lebih mengutamakan sistem online (daring). Hal ini sangat memberatkan orangtua yang gagap teknologi. Terutama bagi siswa dari keluarga miskin dan daerah pedesaan. Mereka tidak dapat mendaftarkan siswa ke sekolah yang di inginkan dengan cara online. Dan berharap ada bantuan dari pihak sekolah untuk menolong mendaftar online tersebut. Namun petugas di sekolah sangat sibuk melayani siswa yang telah mendaftar online dan memverifikasi berkas pendaftaran. Maka beberapa orangtua pulang dengan rasa sedih karena tidak berhasil mendaftarkan anaknya sekolah.
Permasalahan lain muncul ketika siswa yang telah mendaftar online di luar zonasi hanya memilih 1 sekolah saja. Padahal ada ketentuan untuk memilih 3 sekolah yang berbeda dan 1 diantaranya adalah sekolah swasta. Namun imej tentang ingin di terima di sekolah favorit belum hilang dari ingatan orang tua dan siswa sehingga mereka ngotot tetap memilih sekolah tersebut tanpa memperhitungkan kuota yang ada. Selain imej, pemilihan satu sekolah saja karena belum optimalnya sosialisasi PPDB online dengan baik kepada orangtua dan siswa. Dampaknya ketika kuota sekolah sudah terpenuhi, maka siswa tidak diterima di sekolah tersebut dan tidak terdaftar di sekolah manapun.
Kisruh PPDB online ini tidak hanya terjadi di Kepahiang saja, namun juga menimpa siswa baru di daerah lainnya, se-Indonesia. Hal ini menjadi perhatian dan keprihatinan kita bersama. Sebab dampak domisili berdasarkan tanggal terbit KK yang belum 6 bulan, daftar secara online dan jumlah pilihan sekolah hanya 1 membuat banyak siswa tidak terdaftar ke sekolah formal yang di inginkan. Sementara himbauan menteri pendidikan bahwa tidak ada penerimaan siswa baru lagi di luar jalur PPDB. Artinya akan banyak anak yang tidak bersekolah.
Fenomena anak tidak di terima bersekolah jalur PPDB ini berdampak pada peserta didik yang mendaftar ke pendidikan nonformal melalui program Paket C. Hal ini terbukti dengan banyaknya siswa yang datang ke PKBM az Zahra Kepahiang untuk mendaftarkan diri. Sampai dengan hari ini masih ada beberapa siswa tamatan SMP/MTS tahun pelajaran 2017/2018 yang mendaftar sebagai kelas X. Padahal kami sudah menutup pendaftaran kelas reguler sejak 30 Mei 2018 dengan jumlah siswa baru mencapai 60 orang. Hal ini di karenakan kelas reguler wajib mengikuti tatap muka di az Zahra, dan kapasitas ruang belajar kami tidak mampu menampung peserta didik lebih banyak lagi. Antusiasme masyarakat yang mau mendaftar ke layanan pendidikan nonformal ini membuat saya sedih sekaligus bangga. Sedih karena banyak siswa yang semangat bersekolah namun tidak bisa diterima karena aturan PPDB yang di artikan sangat saklek oleh petugas penerimaan siswa baru. Namun saya bangga, bahwa masyarakat sudah bisa menerima layanan nonformal sebagai penganti, penambah dan pelengkap pendidikan formal. Nah…kawan kawan pengelola PKBM, ayo..jadikan kisruh PPDB 2018 ini sebagai peluang dalam pelaksanaan pendidikan nonformal, terutama Pendidikan Kesetaraan Paket B dan Paket C.

Cerita Lima Belas Menit
Bengkulu. 2 Juli 2018 pukul 07.30 wib. Layanan kantor bank BCA belum di buka, namun petugas jaga mempersilahkan saya masuk ke ruangan dan menunggu pukul 08.00 wib untuk memulai layanan. Saya masuk dan memilih menunggu di bangku yang sudah di siapkan. Lima belas menit kemudian petugas bank mempersilahkan untuk menunggu di depan petugas yang melayani setoran, sebab khawatir di dahului orang lain yang mulai berdatangan. Dan benar di sana sudah duduk seorang pria paruh baya berpakaian jaket coklat yang sudah memudar warnanya. Dia tersenyum dan sedikit menganggukkan kepalanya. Sayapun membalas senyuman dan membuka dialog. Jujur saja, saya merasa kurang nyaman dan agak khawatir melihat penampilannya. Seolah saya tidak yakin bahwa dia adalah nasabah dan punya keperluan yang sama yaitu menyetor uang di BCA.
“Mau nabung pak?” tanya saya basa basi.
“Mau kirim uang ke anak bu.” Jawabnya pelan sembari memegang tas pinggang warna hitam yang kondisinyapun sudah lusuh dan sobek di sisi kanan kiri.
“ohh…untuk sekolah? tanyaku lagi
“Iya…untuk biaya kuliah bu, anak saya sekolah di Yogyakarta.” Ada binar kebanggaan di matanya saat berbicara tersebut. Dan perasaan kurang nyaman sayapun mulai berkurang. Serta insting jurnalis sayapun mulai bermain.
“Wah…hebat dong pak, bisa sekolah di Yogya. Ambil Jurusan apa di sana?. Dan setiap bulannya berapa biaya yang harus bapak kirim ? cecarku dengan semangat seorang pengiat pendidikan nonformal yang selalu bahagia jika melihat dukungan orang tua terhadap anak yang akan bersekolah tinggi. Sebab dari penampilan bapak ini, sama sekali tidak mencerminkan bahwa dia berpendidikan tinggi (prasangka ini hanya ada di dalam hati..astaqfirurullah al adzim).
“Dia ambil jurusan teknik bu…saya tidak tau detailnya. Saya hanya rutin mengirim uang sebanyak 14 juta setiap bulannya.” Lagi lagi dia tersenyum memandangku yang sedikit terperangah saat nominal empat belas juta tersebut keluar dari mulutnya.
“Yang benar pak, 14 juta? Kok banyak sekali ya!” aku mulai membayangkan nominal yang sama yang harus di keluarkan ketika anak mau masuk kuliah. Anak tertuaku sedang menunggu pengumuman SBMPTN yang akan di umumkan besok tanggal 3 Juli 2018 dan pilihan kuliahnya adalah UGM di Yogyakarta.
“Bener bu…biaya kostnya aja 1.5 juta perbulan, belum biaya makan, biaya transport dan beli alat alat praktek gambar untuk kuliahnya. Makanya hasil panen saya habis hanya untuk biaya kuliah anak saja bu. Saya biarlah….makan seadanya di sini. Sebentar lagi dia selesai dan balik ke sini untuk kerja. Kurang lebih setahun lagi la..perkiraan dia di wisuda.” Dia tersenyum lagi…bahagia nampaknya. Saya mulai khawatir membayangkan mahalnya biaya kuliah tersebut.
Dan dia mulai bercerita tentang sekelumit hidupnya serta harapan besar kepada putranya yang sedang kuliah di Yogyakarta.
“ Saya ingin menebus masa muda dan membayar hutang kepada almarhumah isteri saya bu. Dulu waktu masih muda saya ini nakal dan malas sekolah. Saya hanya tamat SMP. Padahal ibu saya bekerja di angkatan darat dan bapak saya kepala Dinas di Bengkulu ini. Saya 13 bersaudara dan anak nomor 10. Semua kakak dan adik saya sudah jadi orang hebat. Mereka mempunyai jabatan bahkan ada yang tinggal di luar negeri. Saya sudah kebal dengan nasehat dari orang tua, tetap tidak mau nurut bahkan pernah di hukum penjara selama seminggu dan yang lapor adalah ibu saya sendiri. Saking nakalnya saya harus terus pindah sekolah agar bisa naik kelas. Dan puncaknya saya minggat, kabur dari rumah merantau ke Jakarta tanpa membawa bekal yang cukup.
Tiga tahun saya menjadi pengemis dan peminta minta di Jakarta. Karena tidak tahan akhirnya pulang ke Bengkulu lagi. Ayah ibu saya tidak marah lagi, mereka tidak perduli. Saya bebas berbuat semaunya. Tidak ada yang berani nasehati dan menegur. Lalu saat saya berumur sekitar 22 tahun, saya mengalami kecelakaan bermotor dan menabrak seorang gadis yang sedang melintas di jalanan. Gadis tersebut patah kaki dan cacat gara gara ulah saya yang ngebut bermotor. Atas inisiatif orang tua, saya di minta menikah dengan gadis tersebut. Saya bersedia menikah namun hidup tetap liar ke sana ke mari. Saya suka menjadi pengangguran dan tinggal di rumah orang tua yang mewah, semua fasilitas ada.”
“Wah..kisah hidup bapak banyak di alami oleh anak anak didik saya di PKBM Az Zahra, mereka putus sekolah karena nakal dan malas itu pak. Lalu kapan akhirnya bapak insyaf ? tanyaku tertarik lebih dalam dengan kisah bapak ini.
“Saya insyaf ketika putra saya lahir bu, saat itu saya pandang wajah anak saya tersebut dan saya menangis. Saya bilang ke orang tua dan kakak kalo saya butuh pekerjaan. Saya ingin berubah. Semua kakak dan adik saya berkumpul rapat keluarga dan mereka saling iuran uang sehingga terkumpul sebesar 50 juta. Uang tersebut mereka berikan ke saya untuk modal. Karena saya tidak sekolah dan tidak punya keterampilan, maka uang tersebut saya belikan tanah di dua tempat masing masing sekitar 15 hektar. Lalu tanah yang pertama saya tanami sawit dan tanah satunya saya tanami lada.
Saya boyong anak dan isteri saya ke kebun. Dan saya tidak pulang ke rumah orang tua selama 5 tahun untuk membuktikan bahwa saya benar benar ingin berubah. Alhamdulillah usaha saya berhasil bu..saya bisa membeli rumah dan menyekolahkan anak sampai sekarang ini.” Senyumnya kembali merekah di antara binar mata tua nya. Saya pun merasakan kebahagian yang sama ketika mengetahui peserta didik yang dahulunya nakal namun akhirnya dapat membuktikan diri berhasil membuat prestasi setelah mereka insyaf dan kembali ke jati dirinya.
“Oh ya…selamat ya pak. Pasti anak dan isteri bapak sangat bangga dengan pencapaian bapak saat ini.” Ujarku sambil ikut tersenyum..bangga.
“Isteri saya sudah meninggal 8 tahun yang lalu, saat putera saya masih SMP. Dia kena kangker tulang.” Ujarnya lirih dan senyum merekahnyapun hilang. Saya ikut merasakan gejolak hati yang sedang berusaha dia redam.
“ Maafkan saya pak…saya tidak bermaksud membuat bapak sedih”. Ujar saya buru buru dengan mengatupkan kedua tangan sebagai bentuk permohonan maaf karena sudah mengingatkan kisah sedihnya kehilangan isteri.
“Tidak apa apa bu…saya hanya sedih karena isteri saya belum merasakan hasil usaha kami selama berkebun ini. Dia cacat gara gara saya tabrak dulu. Dan dia ikut kerja membantu saya saat saya susah dahulu. Dia sudah banyak berkorban untuk saya. Namun kami tidak tahu jika dia mengidap penyakit kangker tulang tersebut. Sempat saya bawa berobat ke Jakarta dan di rujuk ke rumah sakit di Singapura. Namun tuhan berkehendak lain. Dia sudah kembali.” Sekilas saya lihat bapak tua ini berusaha menahan air matanya yang hampir tumpah. Buru buru dia hapus sudut matanya dengan tangan keriputnya yang hitam dan kasar, ciri khas tangan seorang petani.
“Selamat pagi bapak ibu…ada yang bisa saya bantu?” Suara petugas Bank yang renyah tersebut membubarkan kebisuan diantara kami yang sesaat tadi. Karena larut dalam alur cerita sedih sang bapak yang di tinggal pergi isterinya.
Sebelum berdiri menuju kasir saya tatap mata bapak tersebut dengan senyum memberi kekuatan. “Pak…jangan sedih, isteri bapak pasti sangat bangga dengan bapak saat ini. Karena bapak sudah membuktikan bahwa bapak berhasil mengasuh dan mendidik putera bapak sampai sarjana. Dan saya juga berterima kasih karena bapak tidak menyerah dan tetap berusaha membiayai pendidikan putera bapak yang cukup besar tersebut. Insyaallah putera bapak dapat segera menyelesaikan sekolahnya ya pak.” Ujarku tersenyum.
“Iya bu..terima kasih. Oh ya apa nama sekolah dan alamat sekolah ibu yang mengurus anak putus sekolah itu ? tanyanya.
“PKBM az Zahra Kepahiang, kami berada di Kelurahan Padang Lekat-Kecamatan Kepahiang, Pak.” Jawabku sambil berdiri menuju petugas bank yang menunggu untuk melayani setoran.
“Baik bu…insyaallah jika ada waktu dan rejeki lebih saya akan mampir dan membantu anak anak yang sekolah di az Zahra.” Senyumnya sudah kembali. Dan dia pun berdiri menuju kasir sebelah untuk mentransfer uang 14 juta ke rekening puteranya di Yogyakarta. Saat itu pukul 08.00 wib. Lima belas menit yang penuh cerita dan menginspirasi kita semua.