Az Zahra Kepahiang
Narasumber Ibu Reka Meliana Bagikan Filosofi dan Sejarah Batik Diwo dalam Lokakarya Ke-2 di Kepahiang
Narasumber Ibu Reka Meliana Bagikan Filosofi dan Sejarah Batik Diwo dalam Lokakarya Ke-2 di Kepahiang
Kepahiang, 18 Mei 2026 – Yayasan Az-Zahra Kepahiang menggelar “Lokakarya Ke-2: Melukis Kain Diwo Motif Baru Berbasis Budaya Rejang”. Kegiatan ini dalam rangka pelestarian budaya lokal dapat terlaksana berkat kerja sama antara Yayasan Az-Zahra Kepahiang dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiana, dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Dalam lokakarya tersebut, hadir sebagai narasumber utama Ibu Reka Meliana, seorang instruktur berpengalaman dari IKM Umeak Kain Diwo. Di hadapan para peserta, Ibu Reka mengupas tuntas materi inti yang memadukan kedalaman filosofi, nilai sejarah lokal, hingga aspek teknis pembuatan wastra kebanggaan Kabupaten Kepahiang ini.
Filosofi dan Etimologi Batik
Mengawali materinya, Ibu Reka menjelaskan esensi membatik dari sudut pandang kebahasaan. Secara etimologi, kata batik berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa Jawa, yaitu “Mbat” yang berarti melempar secara berkali-kali, dan “Tik” yang berarti titik.
Filosofi ini mencerminkan sebuah proses kerja yang menuntut ketekunan, konsistensi, dan kesabaran tinggi. Secara teknis, membatik didefinisikan sebagai seni menggambar di atas kain putih polos (bisa berupa kain katun maupun sutra) dengan memanfaatkan lilin atau malam panas sebagai perintang warna, di mana canting bertindak sebagai pena utamanya.
Sejarah Lahirnya Kain Diwo Kepahiang
Salah satu poin penting yang disoroti oleh Ibu Reka adalah sejarah historis di balik keberadaan Kain Diwo. Kehadiran wastra khas ini tidak lepas dari gagasan visioner Bupati Kepahiang terdahulu, Bapak Bando Amin C. Kader, pada tahun 2015. Ide besar untuk memunculkan identitas visual daerah tersebut kemudian diwujudkan melalui sentuhan kreativitas Ibu Marianty Wijaya, yang saat itu aktif sebagai Pengurus Dekranasda Kabupaten Kepahiang. Ibu Marianty menjadi sosok penting yang mengembangkan desain pertama sekaligus menjadi cikal bakal lahirnya Kain Diwo Kepahiang yang kita kenal hari ini.
Teknik, Bahan, dan Peralatan Membatik
Lebih lanjut, Ibu Reka memaparkan klasifikasi teknik pembuatan batik yang umum digunakan, yaitu:
- Batik Tulis: Teknik manual menggunakan canting, yang memiliki nilai seni dan eksklusivitas paling tinggi.
- Batik Cap: Teknik menggunakan stempel tembaga untuk efisiensi waktu dan presisi pola.
- Batik Kombinasi: Perpaduan antara teknik tulis dan cap demi menyeimbangkan detail visual dan kuantitas produksi.
Beliau juga mengategorikan batik berdasarkan perkembangannya dari masa ke masa, yang terbagi menjadi tiga kelompok besar: Batik Klasik (motif pakem sarat makna), Batik Tradisional (warisan turun-temurun komunitas lokal), dan Batik Kontemporer (eksplorasi motif bebas yang adaptif terhadap tren zaman).
Untuk aspek produksi, para peserta dibekali pengenalan bahan baku utama seperti media kain, lilin malam (campuran gondorukem, lemak minyak kelapa, dan paraffin), serta pewarna tekstil. Tak kalah penting, Ibu Reka merinci fungsi peralatan inti mulai dari canting untuk menorehkan cairan malam, wajan dan kompor/anglo untuk menjaga stabilitas suhu pencairan lilin, hingga penggunaan larutan water glass (Natrium Silikat) yang berfungsi krusial sebagai pengunci warna agar kain tidak luntur.
Apresiasi Proses Kreatif
Menutup sesi materinya, Ibu Reka Meliana menekankan bahwa mencanting atau melukis Kain Diwo pada dasarnya adalah memindahkan getaran rasa dan ketenangan jiwa ke atas hamparan kain. Beliau memberikan motivasi besar kepada seluruh peserta untuk tidak takut mengeksplorasi sketsa-sketsa baru berbasis budaya Rejang.
Melalui ruang literasi budaya yang difasilitasi oleh Yayasan Az-Zahra Kepahiang ini, diharapkan lahir para pembatik baru yang mampu membawa Kain Diwo bertransformasi menjadi produk budaya unggulan yang bernilai filosofis sekaligus berdaya saing ekonomi tinggi di masa depan.
23 Tahun Mengabdi, Yayasan Az Zahra Kepahiang Luncurkan Program “Pro-Rakyat”, Beasiswa Penuh, hingga Bagikan Voucher Umroh
23 Tahun Mengabdi, Yayasan Az Zahra Kepahiang Luncurkan Program “Pro-Rakyat”, Beasiswa Penuh, hingga Bagikan Voucher Umroh
KEPAHIANG, azzahrakepahiang.or.id – Momen Pentas Seni “Jemput Bintang” 2026 tidak hanya menjadi panggung hiburan, tetapi juga menjadi tonggak sejarah penting bagi Yayasan Az Zahra Kepahiang. Dalam sambutannya yang penuh haru dan semangat, Ketua Yayasan Az Zahra Kepahiang, Helmiyesi, M.Si., atau yang akrab disapa Umi Yesi, menyoroti perjalanan panjang yayasan yang kini telah memasuki usia pengabdian ke-23 tahun.
Sebagai bentuk rasa syukur atas usia ke-23 tahun ini, Umi Yesi mengumumkan sederet program yayasan yang secara nyata berpihak pada masyarakat, khususnya bagi kalangan ekonomi menengah ke bawah.
Makna Mendalam di Balik Penghargaan “Bintang Az Zahra”
Dalam sambutannya, Umi Yesi merincikan kriteria unik dan inspiratif di balik penghargaan Bintang Az Zahra tahun ini. Penghargaan ini bukan sekadar piala, melainkan bentuk apresiasi atas perubahan kebiasaan baik di lingkungan keluarga dan sekolah:
- Bintang Dedikasi: Diberikan kepada Kepala Sekolah dan Guru PAUD di bawah naungan Yayasan Az Zahra Kepahiang yang telah mengabdi dengan tulus dan tanpa lelah.
- Bintang Inspirasi (Orang Tua/Wali): Diberikan dengan kriteria khusus yang sangat mengedepankan pola asuh sehat, yakni kepada para Ibu yang telah berkomitmen penuh untuk tidak lagi membekali anak dengan mi instan ke sekolah, serta kepada para Ayah yang dengan penuh kasih sayang rutin mengantar dan menjemput buah hatinya ke PAUD.
- Bintang Harapan: Dianugerahkan kepada anak-anak didik yang menunjukkan kemandirian serta tumbuh kembang yang optimal dan sesuai dengan usianya.
Selain itu, Umi Yesi juga menegaskan bahwa Yayasan Az Zahra kini memfasilitasi pembuatan Akte Kelahiran bagi anak-anak yang bersekolah di PAUD binaan Az Zahra, guna memastikan setiap anak memiliki identitas hukum yang sah.
Pendidikan untuk Semua: Program “Paket Gembira” & “Desa Setara”
Merespons tantangan sosial di masyarakat, Yayasan Az Zahra membuktikan kepeduliannya terhadap pendidikan inklusif. Umi Yesi mengumumkan program khusus bagi anak-anak yang putus sekolah, korban pernikahan usia dini, hingga anak-anak yang terkendala pendidikan akibat sakit atau kecelakaan.
Melalui program Paket Gembira dan Desa Setara, anak-anak tersebut difasilitasi untuk dapat kembali melanjutkan sekolah. Tidak tanggung-tanggung, Yayasan Az Zahra memberikan beasiswa penuh (gratis biaya pendidikan) hingga mereka berusia 23 tahun—sebuah angka yang diselaraskan dengan usia pengabdian yayasan saat ini.
Kejutan Puncak: Pembagian Voucher Umroh
Menutup sambutannya, Umi Yesi memberikan kejutan luar biasa yang disambut isak tangis bahagia oleh para penerima. Sebagai puncak apresiasi, Yayasan Az Zahra Kepahiang membagikan hadiah berupa Voucher Umroh kepada enam orang penerima terpilih.
Berikut adalah daftar nama penerima Voucher Umroh dari Yayasan Az Zahra Kepahiang:
- Windi Yarsih (Voucher senilai Rp 1.000.000)
- Susi Yani (Voucher senilai Rp 1.000.000)
- Sari Wijiarti (Voucher senilai Rp 1.000.000)
- Titin Sumarni (Voucher senilai Rp 500.000)
- Yesti Depika (Voucher senilai Rp 500.000)
- Sischa Feliyanti (Voucher senilai Rp 500.000)
“Di usia yang ke-23 ini, Az Zahra ingin terus hadir membawa manfaat nyata bagi masyarakat Kepahiang. Pendidikan yang baik, gizi yang sehat, dan kesempatan kedua untuk bersekolah adalah hak setiap anak,” tutup Umi Yesi dalam sambutannya yang disambut tepuk tangan gemuruh dari seluruh tamu undangan.

Menggemaskan dan Penuh Bakat! Intip Keseruan Penampilan Siswa-siswi PAUD di Pentas Seni “Jemput Bintang” Az Zahra 2026
Menggemaskan dan Penuh Bakat! Intip Keseruan Penampilan Siswa-siswi PAUD di Pentas Seni “Jemput Bintang” Az Zahra 2026
KEPAHIANG, azzahrakepahiang.or.id – Pentas Seni “Jemput Bintang” Yayasan Az Zahra Kepahiang yang digelar pada Sabtu (16/05/2026) kemarin tidak hanya diwarnai dengan momen haru dan penganugerahan penghargaan, tetapi juga dipenuhi dengan gelak tawa dan decak kagum. Bintang utama pada acara ini tentu saja adalah anak-anak usia dini dari berbagai lembaga di bawah naungan Yayasan Az Zahra yang tampil dengan penuh percaya diri di atas panggung Aula Masjid Baitul Hikmah Kepahiang.
Keberanian anak-anak usia dini ini tampil di hadapan ratusan pasang mata, termasuk Ibu Bupati sekaligus Bunda PAUD Kabupaten Kepahiang, Ibu Emi Nurhayati, patut diacungi jempol. Setiap lembaga PAUD dan TK menyuguhkan kreasi seni yang unik, beragam, dan tentunya menggemaskan.
Berikut adalah deretan penampilan memukau yang sukses menghibur seluruh tamu undangan:
- PAUD Cahaya Mentari membuka kemeriahan panggung dengan Tabuhan Rebana dan Rentak Tari Adat Kreasi Nusantara. Perpaduan irama rebana yang rancak dengan gerakan tari tradisional sukses membawa nuansa megah dan kebanggaan akan budaya Indonesia.
- TPA Almeera Day Care menyuguhkan aksi teatrikal lewat Drama Musikal. Tingkah lugu dan keberanian anak-anak berakting sambil bernyanyi membuat para penonton tak henti-hentinya tersenyum gemas.
- PAUD Mutiara Kasih berhasil mencairkan suasana dengan Tari Geal Geol. Gerakan lincah dan lucu dari anak-anak sukses mengundang gelak tawa dan sorak sorai penonton.
- TK Pandan Wangi tampil penuh energi dengan Dance Tarzan Khoi Choi. Kostum yang unik dan gerakan tari yang energik membuat panggung terasa begitu hidup dan ceria.
- TK IT Bougenville Indah memborong panggung dengan dua tarian Nusantara yang memukau, yaitu Tari Piring dan Tari Perahu Layar. Kelincahan mereka membawa properti tari patut mendapat apresiasi tinggi.
- PAUD Al Fattah membawakan Tari Kreasi Cindai dengan gerakan yang anggun namun tetap ceria khas anak-anak, membawa nuansa melayu yang kental ke atas panggung.
- TK At Thoriq menyajikan keindahan visual lewat Tari Kupu-kupu. Dengan sayap warna-warni yang mengepak seiring irama musik, anak-anak tampil sangat manis.
- PAUD Miftahunnajah menghadirkan momen syahdu lewat persembahan Lagu “Jasa Guru”. Nyanyian tulus dari anak-anak ini menjadi kado terindah bagi para pendidik yang telah sabar membimbing mereka.
- TK Asyifa menutup ragam budaya dengan Tari Bungo Jeumpa khas Aceh. Kekompakan gerakan tangan dan formasi yang dibawakan menunjukkan hasil latihan yang luar biasa.
Ketua Yayasan Az Zahra Kepahiang menyampaikan bahwa seluruh penampilan ini bukan sekadar ajang hiburan, melainkan bagian dari proses edukasi untuk melatih motorik, menumbuhkan rasa percaya diri, dan mengembangkan kreativitas anak sejak usia dini. Dokumentasi keseruan tampilan anak dapat di akses melalui G-drive https://drive.google.com/drive/folders/1fxtslXtJX3H4B9hWTYcqJpgssODVrQWG?usp=sharing
Terima kasih kepada seluruh guru dan orang tua yang telah dengan sabar melatih dan mendukung anak-anak hebat ini. Sampai jumpa di panggung kreativitas Az Zahra selanjutnya!


