Aksara Ulu
BULETIN PERDANA: Komsas Yayasan Az zahra Kepahiang
BULETIN PERDANA
Senang banget bisa berbagi kabar baik. Yayasan Az Zahra Kepahiang baru saja mengikuti kegiatan Evaluasi Fasilitasi Komunitas Sastra di Jakarta bareng 35 komunitas keren lainnya dari seluruh Indonesia! 🤩
Perjalanan ini nggak instan, lho. Sebelumnya kita sudah seru-seruan bareng lewat: ✅ Workshop Rampai Sastra Rejang (September 2025) ✅ Lomba Menulis Surat Puitis Aksara Ulu (Oktober 2025) ✅ Penerbitan buku karya komunitas 📚)
Siapa nih yang kemarin ikutan lomba nulis surat puitisnya? ☝️ Yuk, terus lestarikan Bahasa Rejang dan Aksara Ulu biar nggak punah!
#AzZahraKepahiang #SastraLokal #BahasaDaerah #Rejang #Bengkulu #InfoKepahiang
Pemenang 10 Naskah Terbaik Lomba Menulis Surat Puitis Berbahasa Rejang dengan Aksara Ulu
Kepahiang, 13/10/2025. Pemenang 10 Naskah Terbaik Lomba Menulis Surat Puitis Berbahasa Rejang dengan Aksara Ulu
Komsas Yayasan Az zahra Kepahiang telah mengumumkan pemenang lomba menulis surat puitis berbahasa Rejang dengan aksara ulu pada hari Minggu, 12 Oktober 2025 di Aula Yayasan Az zahra Kepahiang.
Acara yang digagas untuk melestarikan salah satu kekayaan intelektual Suku Rejang ini berhasil menarik antusiasme puluhan peserta dari berbagai kalangan, terutama pelajar dan mahasiswa. Mereka ditantang bukan hanya untuk merangkai kata-kata puitis dalam bahasa Rejang, tetapi juga menuangkannya dalam goresan indah Aksara Ulu, sebuah sistem penulisan kuno yang sarat akan nilai filosofis.
“Tujuan kami bukan sekadar kompetisi, melainkan sebuah gerakan kebudayaan,” ujar Helmiyesi, Ketua Komsas Yayasan Az-Zahra dalam sambutannya. “Kami ingin menunjukkan bahwa Aksara Ulu dan Bahasa Rejang bukanlah sekadar artefak masa lalu yang dipajang di museum, melainkan media yang hidup, relevan, dan indah untuk berekspresi di zaman sekarang.”
Selain mengumumkan tiga pemenang utama, panitia juga memberikan apresiasi khusus dengan memilih 10 naskah terbaik. Karya-karya terpilih ini rencananya akan dibukukan dalam sebuah antologi digital dan cetak sebagai monumen dan sumber inspirasi bagi para pegiat literasi dan budaya di masa mendatang. Nama-nama pemenang 10 naskah terbaik antara lain:
| NO | NAMA | UNSUR | DOMISILI |
| 1 | SINTA KOMALA, S.Pd.Gr. | Pendidik Dan Tenaga Kependidikan | Rejang Lebong |
| 2 | RAHMA SYIFANI | Lembaga Adat / Komunitas | Kota Bengkulu |
| 3 | DERLI AGUSTINA | Pelajar/ Mahasiswa | Kepahiang |
| 4 | YULIA KHRISTINA | Pendidik Dan Tenaga Kependidikan | Kepahiang |
| 5 | CARLES | Pendidik Dan Tenaga Kependidikan | Kepahiang |
| 6 | ULFAH HERBA PANGESTU | Pelajar/ Mahasiswa | Rejang Lebong |
| 7 | RIKA NALINDA APRIYANI | Pendidik Dan Tenaga Kependidikan | Kepahiang |
| 8 | ELSINTA RAMDANI | Pelajar/ Mahasiswa | Kepahiang |
| 9 | MUHAMMAD BAHTIAR | Lembaga Adat / Komunitas | Kepahiang |
| 10 | YANI MULYA | Lembaga Adat / Komunitas | Kepahiang |
Acara ditutup dengan penyerahan hadiah dan sesi pembacaan surat puitis oleh sang juara, yang berhasil menghanyutkan seluruh hadirin dalam keindahan sastra Rejang. Keberhasilan acara ini menjadi oase di tengah kekhawatiran akan lunturnya budaya lokal, sekaligus menumbuhkan harapan baru bahwa Aksara Ulu akan terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Contoh Surat Puitis Berbahasa Rejang dengan Aksara Ulu
Kepahiang, 5/10/2025. Contoh Surat Puitis Berbahasa Rejang dengan Aksara Ulu
Dalam rangka Lomba Menulis Surat Puitis Berbahasa Rejang dengan Aksara Ulu yang diselenggarakan oleh Komunitas Sastra Yayasan Az zahra Kepahiang. Pendaftaran terakhir hari Rabu, 8 Oktober 2025. Berikut kami berikan contoh surat puitis yang dimaksud.
Contoh Surat Puitis 3 Paragraf dengan Bahasa Rejang:
Stabik ngen sedayo ku kmirim kundai luang bekabut hakweng ngen kepas angin Tebo Melea. Kundai pajar metew nak pucuk dawen-dawen kawo, uku meding asei hindew ngen Taneah Hejang. Uku tehinget dalen talang do leceah mai saweah ngen pai-pai do menguning. Sahei boloah betembung nak pulea kawo belageu awei sa er-sa er han. Ngen tiep kepas angin ne min deu penginget maso bliho.
Uku hindew sahei pungguk medea kelmen, mapeah atei belek mai umeak tuwi. Penan bliho klitang tenaboah mihing tarei kejei, serto senyum anak sangeui do becayo nak beah lapu obor. Petueah tun tuwi-tuwi nadeah nak berno umeah duwi tiket awei gi tetengoa do majeh hetei idup penoah ma’ano. Au, nak Taneah Hejang, waktew bepanea begoyo utuk ku meding lagew-lagew idup yo. Gine kah kehete yo maseah ku dapet nak biloi-biloi yo ngen memen?
Uku hindew bepanea nak pinggir Biyoa Musei, munjeu kekea tehnem nak biyoa do jehneah. Kenai hum kawo becerito panes ne umeah duwi tiket tuwi. Nak taneah Hejang aban asei pahak lut. Tiep kembus angin ade cerito ninik-puyang do newaris sapei uyo. Kinai-kinai sewaktew-waktew be, lakeah yo mino melat taneah penan lahir, mehgep alam ngen budayo do meloi jiwo.
Contoh Surat Puisi 3 Paragraf versi Bahasa Indonesia:
Stabik magea sedayo kukirim dari lembah berkabut pagi dan desir angin Bukit Hitam. Sejak fajar menyingkap di pucuk daun-daun kopi, kurasakan rindu pada Tanah Rejang. Aku teringat jalan talang yang basah menuju sawah dengan padi-padi menguning. Suara bambu beradu di kebun kopi mengalun seperti syair-syair lama. Dan, setiap desir anginnya membawa banyak kenangan masa lalu.
Aku merindukan suara pungguk memanggil malam, menuntun hati kembali ke rumah tua. Tempat dulu kelintang dipukul mengiringi tari kejei, bersama senyum anok sangei yang bersinar di bawah lampu pelita. Petuah tetua diucapkan di beranda rumah panggung seperti masih terdengar, yang mengajarkan arti hidup penuh makna. Ya, di tanah Rejang, waktu berjalan pelan untuk aku merasakan lagu-lagu kehidupan. Apakah semua masih kudapatkan di hari-hari ini dan besok?
Aku rindu berjalan di tepian Sungai Musi, membiarkan kaki terendam di airnya yang jernih. Juga wangi kopi bercerita hangatnya rumah panggung tua. Di tanah Rejang awan terasa begitu dekat. Setiap hembusan angin ada cerita leluhur yang diwariskan dengan setia. Semoga suatu hari nanti, langkah ini kembali menjejak tanah kelahiran, memeluk alam dan budaya yang membesarkan jiwa.



