"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

BERITA PKBM

Menemui Azzahra: “Mencari Golok Kepahiang”

Kepahiang, 18/8/2018. Tepat pukul 08.00 wib kami di kejutkan dengan kedatangan Bapak Lismanto Kasubag Program dan Anggaran (mantan Kasi Kelembagaan Subdit Kelembagaan dan Kemitraan) Ditjen PAUD dan Dikmas Kemdikbud dan ibu Sa’adah Kepala BP PAUD dan Dikmas Bengkulu. Kedatangan yang tiba tiba dan tak di sangka ini di sambut oleh siswa siswi paket A yang memang ada jadwal tatap muka pada hari ini. Saya memperkenalkan salah satu siswa yang bernama Linda. Umurnya 10 tahun dan belum pernah merasakan sekolah di sekolah formal.

 

“Mengapa linda senang sekolah di az Zahra?” tanya pak Lis dengan rasa ingin tahu. Linda hanya diam dan enggan di ajak bicara. Dia sudah 2 tahun sekolah di az Zahra, penyebab utama tak sekolah karena dia adalah “anak ibu”  (anak yang lahir tanpa perkawinan secara sah menurut undang undang pernikahan). Linda tidak punya akte kelahiran sehingga tidak di daftarkan ke sekolah formal. Pelajaran yang paling di sukainya adalah berhitung (matematika). Beberapa saat kemudian ananda rina, rini dan marvel hadir ke sekolah. Pak Lismanto menyempatkan diri berbincang bincang dengan ketiga anak yang berusia belia ini. Ketiganya pun belum pernah sekolah di sekolah formal dengan alasan ekonomi dan permasalahan sosial yang sama dengan linda.

 

“saya tidak percaya ada anak yang sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan formal, jika tidak melihat sendiri di sini. Az Zahra memang luar biasa..” ujar bu sa’adah merasa kagum sambil tersenyum. Dan kekaguman beliaupun semakin bertambah ketika seorang nenek masuk dan mengutarakan keinginannya untuk sekolah lagi di az Zahra. Nenek ini adalah lansia yang telah lulus sekolah paket A dan ingin lanjut sekolah di paket B. Sang nenek sangat berkesan setelah tamat paket A, karena dia mahir berhitung sehingga dapat berjualan ikan keliling dan tak salah hitung uang hasil jualannya.

Selesai berbincang bincang dengan siswa paket A, kami berdikusi sejenak mengenai ide ide membangun pendidikan yang bermartabat terutama melalui pendidikan kesetaraan. Mulai dari akreditasi PKBM, dapodikmas, e-proposal hingga rencana membuat buku.

 

“Mba Yesi ini ….sudah memulai menerbitkan buku bersama tim 7kata publishing. Mereka mampu merangkum pembicaraan sederhana di group whatshaps hingga terbitlah buku berjudul Membangun Indonesia Lewat Keberagaman. Nah…Balai bisa memanfaatkan keterampilan mba Yesi dkk untuk membuat modul atau model layanan pendidikan nonformal yang di kemas sehingga menjadi buku yang bisa di baca dan di nikmati oleh semua kalangan”, pesan pak Lismanto kepada kepala BP PAUD dan dikmas Bengkulu.

Hal ini di lontarkan karena BP PAUD dan Dikmas masih kekurangan sumber daya manusia yang kompeten dan belum mampu menulis modul/model dengan bahasan dan kreatifitas sebagai penulis. Sehingga modul/model yang dihasilkan masih kaku dan terkesan copy paste modul/model sebelumnya. “Ide menulis buku, membuat modul atau model layanan pendidikan nonformal ini menjadi tantangan, dan kami siap membantu BP PAUD dan Dikmas dalam hal tersebut”, sambutku dengan antusias.

Di akhir diskusi, pak Lismanto menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya ke az Zahra, “Tujuan utama saya ke sini sebenarnya mau cari golok…apa di Kepahiang ada yang jual?” tanyanya.

“wah…kebetulan…di sini banyak sentra pengrajin alat alat pertanian tersebut. Tempatnya di kawasan mandi Angin Kelurahan Pasar kepahiang. Di sana tempat pembuatan parang, golok, pisau, dan arit. Perkakas tersebut bukan hanya untuk alat pertanian saja, tapi juga di jadikan oleh oleh atau cendramata yang laris manis”, jawabku menjelaskan sambil promosi.

 

Kamipun melanjutkan diskusi di tengah perjalanan, mampir sejenak ke SPNF Kepahiang dan langsung menuju kawasan pengrajin alat pertanian untuk mencari golok yang beliau inginkan. Rupanya pak Lismanto ini pecinta dan kolektor senjata tajam. Beliau memiliki banyak koleksi mulai dari keris, pedang, pisau, golok dll yang berasal dari berbagai daerah.

Sambil menemani pak lis memilih golok, saya berbincang dengan salah satu pandai besi di sana yang menjual alat alat pertanian dengan harga Rp.15.000,- sd Rp.150.000,- dengan omset mencapai Rp 6 juta perbulan. Seperti diungkapkan pemilik usaha pandai besi, Arlian, penghasilannya mencapai sebesar Rp 5 juta hingga Rp 6 juta perbulan. Usaha tersebut telah digelutinya selama 22 tahun. “Allhamdulillah …. untuk penghasilan bisa menghidupi keluarga,” ujarnya. Arlian mengakui, sudah menjalani profesi pandai besi secara turun menurun dari orang tuanya. Sebab bisnis tersebut memberikan keuntungan bagi keluarga. “Biasanya saat musim panen kopi, ramai orang beli parang,” katanya.

 

Apapun pekerjaan bila dicintai dan dijalani sepenuh hati akan memberikan hasil yang memuaskan. Seperti profesi pandai besi yang beroperasi di sepanjang jalan Mandi angin menuju Desa Tebat Monok ini.

“Ternyata masing masing daerah mempunyai ciri golok berbeda beda, sehingga filosofinyapun berbeda pula. Begitupun dengan PKBM yang memiliki keunikan sendiri sendiri. Untuk itu teruslah berkarya dan memberi manfaat untuk anak anak di negeri ini. Membangun Indonesia Lewat Keberagaman jilid 2….saya tunggu bukunya terbit ya mba yesi..”, pesan terakhir pak Lismanto sebelum pamit pulang ke Jakarta sore ini.

“Insyaallah….pak”, jawabku sambil menyalami bu Sa’adah yang mulai cemas karena khawatir  pak lis ketinggalan pesawat.

 

SENYUM PENERIMA PIP PAKET C

Kepahiang, 13 Juli 2018.

Hari ini, beberapa peserta didik Pendidikan Kesetaraan Paket C az Zahra mulai mencairkan dana bantuan PIP tahun 2018. Penerima PIP tahap 4 ini sesuai dengan SK Direktur SMA nomor 5390/D4/KU/2018 tanggal 15 Mei 2018.

Program Indonesia Pintar (PIP) adalah tindak lanjut dari Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2014 dengan tujuan untuk meningkatkan akses bagi anak usia 6 sampai dengan 21 tahun untuk mendapatkan layanan pendidikan sampai tamat satuan pendidikan menengah, dan mencegah peserta didik dari kemungkinan putus sekolah (drop out).

  

Sasaran PIP adalah Peserta Didik berusia 6 sampai dengan 21 Tahun yang merupakan:

  1. Peserta didik pemilik KIP;
  2. Peserta didik dari keluarga miskin/rentan miskin dan/atau dengan pertimbangan khusus seperti:
  3. Peserta didik dari keluarga peserta Program Keluarga Harapan (PKH)
  4. Peserta didik dari keluarga pemegang Kartu Keluarga Sejahtera (KKS)
  5. Peserta didik yang berstatus yatim piatu/yatim/piatu dari sekolah/panti sosial/panti asuhan
  6. Peserta didik yang terkena dampak bencana alam
  7. Kelainan fisik (peserta didik inklusi), korban musibah, dari orang tua PHK, di daerah konflik, dari keluarga terpidana, berada di LAPAS, memiliki lebih dari 3 saudara yang tinggal serumah

 

Persyaratan Penerima

  1. Terdaftar sebagai peserta didik di PKBM
  2. Terdaftar dalam Dapodikmas PKBM

 

Nama nama peserta didik yang mendapatkan bantuan PIP tahun 2018 sebagai berikut:

NO NAMA NISN NO KIP NAMA IBU NO REKENING
1 ANGGA PERNANDES 9995069789 A506K6 NON ANILA 586684822
2 AYU PUTRI SUSANTI 0007779011 A5LRWE TITI PUTRIANA 586684888
3 DELLA IDIA 0002616870 A5K1Z9 YENI ROSITA 586684902
4 ERLAN DENI KANEDI 9996470047 A56PP3 BENTI KUSUMA 586685065
5 HADI SUPRAYITNO 9995005676 A5DZTO MEGAWATI 586685189
6 HENDRA SAPUTRA 9998885180 A5EY5B ILA SAPIATI 586685236
7 JENI HERLIYAN 0017845964 A52JJB ARSA 586685292
8 LENSI PERMATASARI 9985685732 A5T9YK ABA 586685383
9 MARYATI YUNINGSIH 9994161228 A520N6 ABA 586685474
10 MEKI SANDRA 9986428920 A5WPEK ARMAWATI 586685521
11 MELAN TRIYANI 9989093934 A5P3JC RIAN SUMARTI 586685554
12 MUHAEMIN ADI ENSA 0015700183 A5H1ZU ENSI SESTI 586685611
13 RIKA RUKMAYA 9999606340 A53ZSU PATMAWATI 586685791
14 RIO ALFARIDZI 9990983796 A574B2 SRI MARDALENA 586685859
15 SAINUDIN KAMIRUDIN 9987242868 A5I3XI MIRAWATI 586685917
16 SUPRIATIN 9997370488 A5JL3L YANTI 586685962
17 SURYAWATI 9998207437 A501FG PONIRAH 586685995
18 SUSILAWATI 0006058075 A5PZ0G SERANIT 586686024
19 YOFI ANGGELLA AGUSTINA 9999119345 A5NVHB SUKMAWATI 586686080

 

Peserta didik yang mencairkan dana hari ini baru 11 orang, sisanya belum bisa mencairkan dana PIP tersebut di karena persyaratan administrasi yang di minta pihak bank belum bisa dilengkapi oleh mereka. Persyaratan tersebut meliputi Akte lahir, Kartu Keluarga, Ijazah terakhir dan KTP, semua harus asli dan di bawa saat pencairan. Persyaratan ini cukup memberatkan peserta didik yang notabene nya berasal dari keluarga kurang mampu dan tidak memiliki legalitas seperti yang di minta. Terutama peserta didik yang di titipkan tinggal di Panti Asuhan dan anak yang lahir tanpa perkawinan sebagaimana undang undang yang berlaku. Harapan kami proses pencairan dana dapat di permudah sehingga manfaat dana tersebut benar benar di rasakan oleh mereka.

Lihatlah senyum bahagia mereka setelah menerima dana PIP.

TAK DAPAT IZIN CUTI, NEKAT UNBK PAKET B

Namanya Syafriadi, lahir di Jawa Tengah, 7 Juli 1982 (36 tahun). Dia merantau dari pulau Jawa ke pulau Sumatera dan bekerja di Pasma Air Keruh, Sumatera Selatan, sebagai petugas teknisi PLN Tebing Tinggi. Setahun yang lalu dia datang ke Az Zahra untuk mendaftar sebagai peserta didik paket B setara SMP. Apa motivasinya ikut program pendidikan paket B?.

 “Dulu, saya nggak kepikiran mau bersekolah tinggi, karena orang tua tidak ada biaya. Saya hanya tamat SD dan pernah sekolah SMP namun berhenti dan memutuskan untuk bekerja. Beberapa tahun ini, saya sering ikut bantu bantu masang listrik di rumah warga. Karena sering membantu, maka saya terdaftar sebagai tenaga kontrak di PLN. Gajinya lumayan untuk memenuhi kebutuhan saya sekeluarga. Namun tahun ini ada peraturan baru di perusahaan, yakni karyawan minimal memiliki ijazah SMA/sederajat. Awalnya saya pasrah, dan mau mengundurkan diri saja. Namun atasan saya masih mau mempertahankan, alasannya karena saya sudah terlatih dan mandiri dalam hal pekerjaan pemasangan listrik. Tenaga kontrak yang baru masih muda muda dan masih perlu banyak belajar. Jadi…saya di sarankan ikut sekolah paket, saya memilih sekolah di az Zahra karena banyak yang bilang sekolahnya bagus dan gurunya pintar pintar. Saya mau ketularan pintarnya..”  seloroh pak syafriadi sambil tersenyum.

Hari ini, pak Syafriadi mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) paket B di SMAN 1 Kepahiang. UNBK sudah dilaksanakan mulai hari Jum’at sampai Minggu, 4 s/d 6 Mei 2018. Hari pertama bidang study Bahasa Indonesia dan Pendidikan Kewarganegaraan; hari kedua bidang study Matematika dan Ilmu Pengetahuan Sosial; Hari ketiga bidang study Bahasa Inggris dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jumlah peserta yang mengikuti UNBK tahun pelajaran 2017/2018 sebanyak 22 orang, rata rata adalah peserta reguler yaitu anak usia sekolah yang kembali bersekolah, dampak dari penelusuran ATS yang di lakukan oleh tim pendataan ATS tahun 2017.

Bapak 3 orang ini mengaku senang bisa sekolah di az Zahra. Meski ada sedikit halangan saat mengikuti UNBK beberapa hari ini. Halangan nya adalah saat dia tidak mendapat izin cuti untuk mengikuti UNBK tersebut.

“Untuk mengikuti ujian nasional ini saya tidak mendapat cuti dari kantor. Hanya saya di izinkan mengambil shif jaga di malam hari. Jadi saya harus bolak balik dari Pasma ke Kepahiang untuk ikut ujian. Saya berangkat subuh dengan mencarter mobil travel di pagi hari supaya tidak terlambat. Ongkosnya 300 ribu. Lalu pulangnya baru saya naik mobil umum. Jadi saya harus berkejaran dengan waktu. Sambil jaga malam, saya sempatkan belajar untuk menghadapi ujian esok harinya. Saya belajar dari kisi kisi soal yang diberikan tutor di az Zahra”. Ujar nya dengan mata yang berbinar binar penuh semangat.

“Saya senang dan merasa bersemangat ikut ujian ini. Alhamdulillah ini hari terakhir, saya berharap dapat lulus dengan nilai yang memuaskan. Ini harapan bapak Syafriadi di hari terakhir UNBK paket B hari ini.

Kami salut dan bangga dengan perjuangan beliau yang benar benar serius menuntut ilmu, pantang menyerah dengan keadaan yang sedang menimpanya. Semoga akan lahir pak syafriadi yang lainnya nanti, agar tak ada lagi anak putus sekolah. Dan tak ada lagi halangan dalam pekerjaan ketika ijazah sudah ada di gengaman. Tetap optimis dan semangat ya pak…!

Kegiatan PKW Batik Diwo Kepahiang