Az Zahra Kepahiang
Dilantik sebagai Pengurus DPP FTPN Karena Aktif di Medsos
Zahra publishing. Dilantik menjadi pengurus DPP FTPKN berkat aktif di medsos.
Awalnya kami tak saling mengenal.
Kami hanya saling sapa dan akrab di grup WhatsApp PKBM (kreatif). Grup yang berisi orang orang hebat dibidang pendidikan masyarakat.
Grup tersebut sangat aktif terutama jika ada isu isu ttng pendidikan nonformal yang terbaru. Kami berdiskusi, saling support dan saling mengisi. Membesarkan pendidikan kesetaraan hingga level nasional. Dan hasil diskusi di grup tersebut kami bukukan dengan judul MEMBANGUN INDONESIA LEWAT KEBERAGAMAN.
Tak berhenti sampai disana, kami membentuk kelompok kecil sebanyak 7 orang yang berasal dari provinsi yang berbeda beda. Lahirlah 7kata publishing. Aksi kerennya adalah NGANDROID ALA PKBM.
Ketika Ketua 7kata publishing meninggal dunia, kelompok ini bertumbuh menjadi 12 orang dengan nama Tim Ngopi PNF. Aksi utamanya adalah pelatihan dan seminar online, terutama di masa pandemi melanda Indonesia.
Aku tak mengenal mereka. Kami tak pernah berjumpa sebelumnya. Namun kami seperti keluarga dengan visi dan misi yang sama yakni menjadikan Pendidikan Kesetaraan berkualitas dan bermartabat.
Dan bukti ikatan keluarga itu, malam tadi pukul 21.00 wib kami semua dilantik dan dikukuhkan dalam keluarga besar bernama Dewan Pengurus Pusat Forum Tutor Kesetaraan Nasional (DPP FTPKN).
Meski dilantik secara online tidak mengurangi rasa khusuk dan khidmat kami. Dengan suport Dr.Samto direktur PMPK Kemdikbud Ristek kami siap berjuang lebih kuat lagi. Apalagi semua organisasi mitra, pemerintah daerah dan CSR ikut berpartisipasi dalam forum ini. Rasanya haru dan bangga sekali.
Awalnya tak kenal
Media sosial menyatukan kita
Meski tak bertatap muka tapi kita adalah saudara.
Selamat bekerja pengurus DPP FTPKN Periode 2021-2026. Saya bangga bisa bergabung dan berjuang bersama kalian.
Tutor bangkit memperkokoh Indonesia.


MUSDA Salimah: Peran Perempuan Dalam Membangun Generasi Yang Berkarakter Islami.
Zahra Publishing. MUSDA Salimah Kepahiang, Peran Perempuan Dalam Membangun Generasi Yang Berkarakter Islami.

Sabusabu VII, Literasi Pemaafan di Bulan Ramadhan
Zahra Publishing. Literasi Pemaafan di Bulan Ramadhan
“Memendam Kebencian ibarat meminum racun namun berharap orang lain yang mati”
Kalimat motivasi ini disampaikan Umi Yesi di kelas menulis sabusabu angkatan VII. Tema kelas menulis yang digagas oleh TBM Cahaya PKBM Az Zahra Kepahiang ini adalah Literasi Pemaafan di Bulan Ramadhan, dilaksanakan pada hari Rabu, 28 April 2021 pukul 10.30 – 13.00 wib.
Kms Fahrudin, S.Pd Ketua TBM Cahaya menyampaikan bahwa tema pemaafan ini sengaja dipilih karena menyambut bulan suci Ramadhan 1442 H dan sekaligus memperingati Hari Buku Sedunia. Diharapkan dengan adanya kelas ini kita dapat menjalankan ibadah puasa dengan maksimal setelah mampu memaafkan diri sendiri dan memaafkan orang lain yang menyebabkan kebencian selama ini. Outputnya adalah menghasilkan karya berupa buku yang menceritakan tentang rasa.
Peserta larut dalam uraian materi yang disampaikan Umi Yesi mulai dari emosi negatif yang dapat menyebabkan penyakit fisik, cara mencegah kebencian hingga menuliskan semua rasa yang ada dalam kalimat dan diucapkan menjadi obat atau terapi hati. Mereka berjumlah 10 orang yaitu Resi, Fitri, Diah, Kinan, Elvi, Maulida, Zahra, Nabila, Selvi, Arian, dan Eni.
Tips cara mencegah kebencian antara lain mengakui adanya perasaan negatif yang ada, memilih untuk tetap membenci lalu mati karena racun emosi atau memilih untuk memaafkan, terima semua emosi yang muncul karena adanya kebencian tersebut, jangan berpura pura dan menahan rasa, tuliskan rasa yang ada lalu ceritakan kepada orang lain yang dapat membantu kita meminimalisir kebencian tersebut.
Kelas menulis bertambah meriah dengan penampilan cerita dari Kak Dyah bersama nenek Sheshe, boneka tangan yang diperankannya. Kak Dyah bercerita tentang rasa marah akibat dibenci seseorang. Dan untuk meredakan marah tersebut dengan cara masa bodoh dengan omongan orang lain dan lebih memilih berdamai pada diri dibandingkan sibuk membenci. Intinya enjoy aja jika ada orang yang tidak suka dengan kita. Teruslah berkarya, jangan pelihara marah karena perasaan itu akan membakar diri sendiri.
Terakhir Umi mengajarkan terapi emosi dengan cara menuliskan rasa yang dominan saat ini. Tak disangka semua peserta memiliki emosi negatif yang menghinggapi mereka seperti sedang gelisah, marah, takut, hampa, benci dll.
Dan satu persatu peserta mengungkapkan rasa tersebut sambil menahan tangis. Namun mereka merasa lega sudah bisa mengungkapkan emosi negatif yang ada selama ini.
PR peserta kelas sabusabu seperti biasa adalah menulis sambil bercerita. Kita tunggu karya mereka ya.




