Literasi Kopi Semang Desa Batu Ampar
LITERASI KOPI SEMANG DESA BATU AMPAR
KEPAHIANG (18/6/2016) – Kopi bukan sekadar tentang rasa yang tercecap di lidah, melainkan tentang kisah di balik setiap bijinya. Di Desa Batu Ampar, sebuah desa penyangga Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kaba, Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, lahir sebuah produk kopi premium yang sarat akan nilai kearifan lokal dan spiritualitas: Kopi Semang
Dikembangkan oleh kelompok Perempuan Alam Lestari (PAL), Kopi Semang bukan komoditas bisnis biasa. Ia adalah simbol gerakan lingkungan sekaligus perayaan martabat para perempuan lansia di usia senja melalui tradisi luhur yang disebut Nyemang.
Filosofi *Nyemang*: Kemandirian dan Martabat di Usia Senja
Secara harfiah, *Nyemang* adalah aktivitas memungut biji kopi yang berjatuhan di lantai kebun. Biji-biji ini jatuh setelah kulit luarnya yang manis habis dimakan oleh satwa liar penghuni hutan, seperti tupai, monyet, atau kelelawar.
Bagi perempuan lansia di Desa Batu Ampar, tradisi ini adalah ruang pembuktian bahwa usia senja bukanlah alasan untuk berhenti berdaya. Melalui filosofi selama kaki masih bisa melangkah dan tangan masih bisa memungut, hidup harus terus berdaulat, mereka mempertahankan harga diri dengan menghasilkan pendapatan mandiri.
Hasil dari memungut biji demi biji kopi ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan dapur hingga membelikan jajanan bagi cucu tercinta, tanpa harus menjadi beban bagi anak-anak mereka.
Hebatnya, tradisi ini dirajut oleh hukum adat yang sangat indah. Pemilik kebun di Desa Batu Ampar tidak boleh melarang atau memarahi siapa pun, terutama para lansia, yang masuk ke lahan mereka untuk *Nyemang*.
Ini adalah potret nyata solidaritas sosial—sebuah filosofi berbagi tanpa merasa kehilangan, di mana modal sosial berupa rasa saling percaya tumbuh subur di atas segalanya.
Pilihan Satwa, Diproses dengan Kasih Sayang
Sekilas, konsep Kopi Semang mirip dengan kopi luwak. Namun, keunikannya terletak pada kebebasan satwa liar yang hanya memakan kulit ceri kopi yang benar-benar matang di pohon, lalu menyisakan bijinya begitu saja.
Biji pilihan alam inilah yang kemudian dikumpulkan secara telaten oleh tangan-tangan sabar para lansia. Proses yang lambat, kontemplatif, dan penuh rasa syukur ini dilanjutkan dengan penyortiran manual menggunakan tampah, dibersihkan, hingga diproses secara higienis. Ketelatenan ini menghasilkan cita rasa kopi premium yang khas, yang konon memberikan sensasi ketenangan dan “bahagia” bagi siapa saja yang meminumnya.
Misi Gerakan Tangguh Iklim dan Harmoni Alam
Di balik nikmatnya secangkir Kopi Semang, ada pesan kuat tentang konservasi dan adaptasi perubahan iklim. Perempuan petani di Desa Batu Ampar menanam kopi dengan sistem agroforestri—tumpang sari bersama pohon buah seperti durian, alpukat, dan jengkol.
Pohon-pohon pelindung inilah yang menjadi benteng hijau pelestarian lingkungan sekaligus habitat alami bagi satwa liar. Melalui Kopi Semang, para lansia dan perempuan petani setempat mengajarkan filosofi koeksistensi (hidup berdampingan secara damai). Manusia tidak perlu memusuhi atau memburu satwa yang memakan buah kopi mereka. Satwa mengambil haknya berupa kulit buah, dan manusia memungut berkah dari biji yang ditinggalkan.
Kopi Semang adalah bukti nyata bagaimana sebuah produk lokal dari sudut Kepahiang mampu menyatukan untaian doa, pelestarian bumi, dan penegakan martabat perempuan dalam satu cangkir yang menghangatkan jiwa.

Tinggalkan Balasan