"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

Museum Mini Meminimalisir Fenomena ‘Generasi Menunduk’

Museum Mini Meminimalisir Fenomena ‘Generasi Menunduk’

Hari ini, Umi Yesi, Ketua Yayasan Az zahra Kepahiang menghadiri kegiatan Sarasehan Budaya Sekujang dan Pameran Budaya. Kegiatan ini lahir dari visi dan inisiasi yang patut diacungi jempol dari Pak Muzanip Alperi, seorang putra daerah yang peduli. Visi ini kemudian diwujudkan melalui dukungan nyata dan bantuan dana dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Provinsi Bengkulu.

Suasana sarasehan menjadi lebih emosional dan bermakna ketika giliran Bapak Robi, selaku Kepala Desa Tapak Gedung, memberikan kata sambutan. Di tengah kegembiraan perayaan, pesan beliau terdengar seperti sebuah panggilan kuat untuk menyadarkan kita semua.

Pak Kades Tapak Gedung memulai dengan menekankan bahwa sarasehan ini bukanlah sekadar acara budaya biasa, melainkan langkah krusial untuk meminimalisir fenomena ‘Generasi Menunduk’. Istilah ini beliau gunakan untuk menggambarkan anak muda di desa yang semakin tertular oleh dampak teknologi tanpa adanya saringan. Kecanduan gawai, menurut beliau, telah mengikis jati diri dan interaksi sosial mereka.

Beliau menuturkan dengan nada haru yang begitu terasa: “Generasi menunduk harus diminimalisir. Teknologi tanpa saringan tak boleh menulari anak muda desa. Bangga zaman dulu adalah kebanggaan fisik: naik tertinggi, terjun, berenang, berlari. Sekarang, patriotisme berkurang. Dulu ada kesedihan mendalam, tangis sesenggukan, jika nilai di sekolah menurun. Sekarang anak tidak peduli karena proses yang dipermudah. Mari kita tularkan rasa bangga melestarikan budaya lokal Desa Tapak Gedung!”

Pernyataan ini terasa begitu mengena, mengingat lokasi sarasehan adalah Mini Museum Budaya, tempat di mana bukti-bukti kebanggaan masa lalu dipamerkan. Beliau tidak menentang teknologi, melainkan menyerukan agar kita menggunakannya dengan bijak dan tidak melupakan akar budaya yang telah diwariskan oleh para sesepuh desa, yang juga hadir dalam acara tersebut. Melalui sarasehan ini, beliau berharap semangat bangga akan identitas budaya lokal dapat kembali tertular kepada generasi penerus, agar mereka tidak hanya hebat dalam teknologi, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan mencintai tanah kelahirannya.

Pesan Pak Kades menjadi penegas bahwa Mini Museum Budaya Desa Tapak Gedung bukan hanya tempat menyimpan benda-benda antik, melainkan sebuah simbol perlawanan terhadap hilangnya jati diri, serta wadah untuk membina kembali rasa cinta tanah air dan warisan leluhur.

Umi Yesi memberikan apresiasi dan rasa bangganya kepada Pak Muzanip yang telah mengagas acara yang luar biasa ini. Beliau juga mendukung penuh visi Kepala Desa yang menjadikan museum mini sebagai wadah anak muda berkumpul dan meminimalisir fenomena generasi menunduk.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seventeen − 6 =

Kegiatan PKW Batik Diwo Kepahiang