CHARAKTER BUILDING
RUMAH TANGGA YANG MENYENANGKAN
RUMAH TANGGA YANG MENYENANGKAN
——————————————————————————–
Hari Minggu (8/3/2020) kemarin, kita digegerkan oleh berita penikaman suami terhadap isterinya di Dusun Baru Desa Kelobak Kecamatan Kepahiang. Penyebabnya diperkirakan karena terjadinya percecokan diantara keduanya, suami menuduh isterinya selingkuh dengan pria lain.
Sebelumnya kita juga dihebohkan oleh berita pembunuhan sadis di Desa Sekayun Kecamatan Bang Haji Kabupaten Bengkulu Tengah pada Minggu (26/1/2020). Adalah Revi Puspitasari (20), yang diduga menjadi korban pembunuhan dengan terduga pelaku adalah Eliya Pranata (22), suami korban. Permasalahannya sangat sepele yaitu korban terpancing emosi karena dimarahi isteri yang menyebutnya sebagai suami pemalas. Suami tega mengorok leher isterinya yang baru dinikahi 5 bulan, masih pengantin baru.
Berita-berita seperti ini nyaris setiap hari mewarnai media kita, baik online maupun offline. Apa penyebab rumah tangga yang rentan kekerasan? Bukankah tujuan menikah adalah untuk merasa tentram dan bahagia? Untuk itu ada baiknya kita belajar dari Ustad Aa Gym yang memaparkan tentang Rumah Tangga Yang Menyenangkan berikut ini:
Banyak orang yang menyangka bahwa pernikahan itu indah. Padahal sebetulnya? Indah …sekali. Tak sedikit yang menyesal, kenapa tak dari dulu menikah. Sahabat, itu adalah secuplik ungkapan yang lazim terdengar tentang pernikahan. Namun jelas, tak segampang yang dibayangkan untuk membina sebuah keluarga. Membangun sebuah keluarga sakinah adalah suatu proses. Keluarga sakinah bukan berarti keluarga yang diam tanpa masalah. Namun lebih kepada adanya keterampilan untuk manajemen konflik.
Ada tiga jenis manajemen konflik dalam rumah tangga, yaitu pencegahan terjadinya konflik, menghadapi tatkala konflik terlanjur berlangsung, dan apa yang harus dilakukan setelah konflik reda. Pada kesempatan pertama, insya Allah kita akan mengurai tentang bagaimana meminimalkan terjadinya konflik di dalam rumah tangga kita.
Siap dengan hal yang tidak kita duga
Pada dasarnya kita selalu siap untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Mudah bagi kita bila yang terjadi cocok dengan harapan kita. Namun, bagaimanapun, setiap orang itu berbeda-beda. Tidak semuanya harus sama “gelombangnya” dengan kita. Maka yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan diri agar potensi konflik akibat perbedaan ini tidak merusak.
Dalam rumah tangga, bisa jadi pasangan kita teryata tidak seideal yang kita impikan. Maka kita harus siap melihat ternyata dia tidak rapi, tidak secantik yang dibayangkan atau tidak segesit yang kita harapkan., misalnya. Kita harus berlapang dada sekali andai ternyata apa yang kita idamkan, tidak ada pada dirinya. Juga sebaliknya, apabila yang luar biasa kita benci. Ternyata isteri atau suami kita memiliki sikap tersebut.
Memperbanyak pesan Aku
Tindak lanjut dan kesiapan kita menghadapi perbedaan yang ada, adalah memperbanyak pesan aku. Sebab, umumnya makin orang lain menegetahui kita, makin siap dia menghadapi kita. Misalnya sebagai isteri kita terbiasa katakanlah mengorok ketika tidur. Maka agar suami dapat siap menghadapi hal ini, kita bisa mengatakan “Mas, orang bilang, kalau tidur saya itu suka ngorok,…. jadi Mas siap-siap saja. Sebab, sebetulnya, saya sendiri enggak niat ngorok.”
Lalu sebagai suami, misalnya kita menyatakan keinginan kita: “Saya kalau jam tiga suka bangun. Tolonglah bangunkan saya. Saya suka menyesal kalau tidak Tahajjud. Dan kalau sedang Tahajjud, saya tidak ingin ada suara yang mengganggu.”
Dengan demikian, diharapkan tidak terjadi riak-riak masalah akibat satu sama lain tidak memahami nilai-nilai yang dipakai oleh pasangan hidupnya. Sebab sangat mungkin orang membuat kesalahan akibat dia tidak tahu tata nilai kita. Yang dampaknya akan banyak muncul ketersinggungan-ketersinggungan. Maka di sinilah perlunya kita belajar memberitahukan. Memberitahukan apa yang kita inginkan. Inilah esensi dari pesan aku.
Dengan demikian, ini akan membuat peluang konflik tidak membesar. Karena kita telah mengkondisikan agar orang memahami kita. Sungguh tidak usah malu menyatakan harapan ataupun keberatan-keberatan kita. Sebab justru dengan keterbukaan seperti ini pasangan hidup kita dapat lebih mudah dalam menerima diri kita. Termasuk dalam hal keberadaan orang lain.
Misalnya orang tua kita akan datang. Maka adalah suatu tindakan bijaksana apabila kita mengatakan kepada suami tentang mereka. Sebagai contoh, orang tua kita mempunyai sikap cukup cerewet, senang mengomentari ini itu. Maka katakan saja: “Pak… saya tidak bermaksud meremehkan. Namun begitulah adanya. Orang tua saya banyak bicara. Jangan terlalu dipikirkan, itu memang sudah kebiasaan mereka. Juga dalam hal makanan, yang ikhlas saja ya Pak…kalau nanti mereka makannya pada lumayan banyak…”
Sungguh sahabat, makin kita jujur maka akan semakin menentramkan perasaan masing-masing di antara kita.
Alkisah, ada sebuah keluarga. Sering sekali terjadi pertengkaran. Akhirnya, suatu ketika si isteri bicara “Pak, maaf ya, keluarga kami memang bertabiat keras. Sehingga bagi kami kemarahan itu menjadi hal yang amat biasa.”
Lalu suaminya membalas “Sedangkan Papa lahir dari keluarga pendiam, dan jarang sekali ada pertempuran…”
Jelas itu akan membuat keadaan berangsur lebih baik dibanding terus menerus bergelut dalam pertengkaran-pertengkaran yang semestinya tak terjadi.
Jadi kita pun harus berani untuk mengumpulkan input-input tentang pasangan kita. Misalnya ternyata dia punya BB atau bau badan. Maka kita bisa menyarankan untuk meminum jamu, sekaligus memberitahukan bahwa kadar ketahanan kita terhadap bau-bauan rendah sekali. Sehingga ketika kita tiba-tiba memalingkan muka dari dia, isteri kita itu tidak tersinggung. Karena tata nilainya sudah disamakan.
Tentunya, dengan saling keterbukaan seperti itu masalah akan menjadi lebih mudah dijernihkan dibanding masing-masing saling menutup diri. Ketertutupan, pada akhirnya akan membuat potensi masalah menjadi besar. Kita menjadi mengarang kesana kemari, membayangkan hal yang tidak tidak berkenaan dengan pasanagan hidup kita. Dongkol, marah, benci dan seterusnya. Padahal kalau saja didiskusikan, bisa jadi masalahnya menjadi sangat mudah diselesaikan. Dan potensi konflik pun menjadi minimal.
Tentang aturan
Kita harus memiliki aturan-aturan yang disepakati bersama. Karena kalau tak tahu aturan, bagaimana orang bisa nurut? Bagaimana kita bisa selaras? Jadi kita harus membuat aturan sekaligus…sosialisasikan! Misalnya isteri kita jarang mematikan kran setelah menggunakan. Bisa jadi kita dongkol. Disisi lain, boleh jadi isteri malah tak merasa bersalah sama sekali. Sebab dia berasal dari desa. Dan di desa.. pancuran toh tak pernah ditutup. Begitu pula pada anak-anak. Kita harus mensosialisasikan peraturan ini. Tidak usah kaku. Buat saja apa yang bisa dilaksanakan oleh semua. Makin orang tahu peraturan, maka peluang berbuat salah makin minimal.
Nah, semoga pesan yang disampaikan ustad Aa Gym melalui artikel Manajemen Qalbu ini dapat meminimalisir permasalahan dalam keluarga. Ingat Menikah itu ingin mendapatkan Kebahagiaan. Menikah untuk merasa nyaman satu dengan lainnya. Mari bangun rumah tangga yang menyenangkan.
Kabar Gembira, Di Kecamatan Muara Kemumu ada Kelompok Belajar Paket A/B/C
Program Perluasan Akses Pendidikan Kesetaraan
Dalam rangka perluasan akses layanan kepada masyarakat yang belum menyelesaikan pendidikan formal di desa dan daerah terpencil maka PKBM Az Zahra Kepahiang bersama Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) melaksanakan Sosialisasi Pemberdayaan Perempuan dan Anak melalui Pendidikan Nonformal. Lokasi sosialisasi di Desa Batu Bandung Kecamatan Muara Kemumu Kabupaten Kepahiang pada hari Kamis, 27/2/2020.
Reti Maryani, SP.M.Pd Ketua Bidang Pendidikan di FPPI sekaligus ibu Kepala Desa di Batu Bandung menyampaikan bahwa sebelumnya mereka kesulitan mencari masyarakat yang memiliki ijazah SMA untuk dijadikan perangkat desa. Banyak anak putus sekolah, angka putus sekolah tertinggi disebabkan pernikahan usia muda.

Umi Yesi, Ketua PKBM Az Zahra Kepahiang sekaligus Ketua DPC FPPI Kepahiang menyambut baik aksi positif yang digagas ibu Reti dkk untuk membantu masyarakatnya meminimalisir kekerasan terhadap perempuan dan anak sekaligus membuka layanan pendidikan kesetaraan agar sumber daya manusia (SDM) di desanya meningkat.
Beliau menyampaikan bahwa permasalahan utama yang dihadapi perempuan dan anak di Kabupaten Kepahiang saat ini adalah Pergaulan Bebas. Sudah bukan rahasia lagi jika ada anak usia sekolah sudah melakukan hubungan sek tanpa sepengetahuan orangtua mereka. Dominan terjadi pada anak usia SD dan SMP. Penyebabnya antara lain anak yang kost tanpa dampingan orangtua atau anak yang sering ditinggal orangtuanya ke kebun. Ditambah dengan kecanggihan teknologi yang dapat mengakses video porno tanpa batas, dimanapun dan kapanpun. Pergaulan bebas menjadi momok yang menakutkan bagi orangtua di Kepahiang saat ini. Akibatnya anak putus sekolah usia sekolah meningkat tiap tahunnya. Tahun 2019/2020 anak usia sekolah yang mengikuti program paket B di PKBM Az Zahra kepahiang berjumlah 103 orang yang berusia 14-18 tahun.

Pergaulan bebas juga menyebabkan pernikahan usia dini meningkat. Jika sudah menikah, dapat dipastikan mereka putus sekolah. Lalu menjadi petani atau buruh di desanya. Kemiskinan dan kebodohan sering memicu perselisihan dalam rumah tangga keluarga yang menikah usia muda. Maka tak heran jika korban kekerasan dalam rumah tangga dan tingkat perceraianpun kian bertambah.
Hal ini tentu akan menjadi ancaman bagi Pemerintah Desa khususnya dan Pemerintah Daerah pada umumnya. Karena anak-anak tersebut berpotensi untuk memicu munculnya permasalahan permasalahan sosial seperti kejahatan, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, perdagangan orang (traffikcing), maraknya demo yang anarkis, dan lemahnya daya saing secara ekonomi
Oleh karena itu perlu langkah antisipasi dan wadah yang akan membantu meminimalisir permasalahan di desa. Salah satu program yang dapat diberikan adalah Pendidikan Kesetaraan bagi anak putus sekolah. Program ini ditujukan bagi warga masyarakat yang karena keterbatasan sosial, ekonomi, waktu, kesempatan dan geografi tidak dapat mengikuti pendidikan di sekolah formal karena berbagai masalah yang melingkupinya.
Antusiasme masyarakat sangat tinggi, terbukti dengan adanya kesepakatan membentuk kelas jauh. Seusai sosialisasi sudah terdaftar 20 peserta didik yang siap mengikuti proses pembelajaran. Mereka menamakan diri kelompok belajar PKBM Iqro’ Az Zahra, dan proses belajar mengajar atau tatap muka akan dilaksanakan mulai hari Rabu, 18 Maret 2020. Sekretariat dan tempat pertemuan sementara di rumah Kepala Desa Batu Bandung Kecamatan Muara Kemumu.
Masyarakat bisa mendaftar dan mengisi formulir dengan persyaratan membawa fotokopi ijazah terakhir yang dilegalisir, fotokopi kartu keluarga, fotokopi raport bagi yang pindahan sekolah formal dan pasfoto warna ukuran 3 x 4 sebanyak 10 lembar. Info selengkapnya dapat menghubungi Ibu Reti Maryani, SP.M.Pd (0821-7970-6024) atau dengan Ibu Linda Hartati, S.Pd.I (0813-1112-4978)

Yuk kita sekolah….lagi.
Ikuti Kelas Terapi, FPPI Bantu Meminimalisir Kasus Perempuan dan Anak di Kepahiang
Baru-baru ini saya menangani klien seorang ibu dengan anak dibawah umur yang menjadi korban bujuk rayu ayah tiri sehingga terjadilah persetubuhan. Hal ini sudah berlangsung lebih dari sekali. Ketika sang ibu mengetahui perbuatan tersebut, dia syok dan meluapkan emosinya dengan memukul anaknya hingga tubuh anak memar dan biru-biru.
Seperti pengetahuan yang saya pelajari di kelas PPA For Healing, dr. Rama selalu menekankan bahwa jika ada permasalahan menimpa sang anak, maka yang diterapi terlebih dahulu adalah orangtuanya. Maka saya mendekati sang ibu yang tak bisa berhenti menangis sambil mengendong putranya yang berumur 1 tahun. Anak tersebut seolah mengerti kegelisahan sang ibu sehingga diapun rewel tidak mau lepas dari gendongan ibunya.
“Ibu, mohon izin membantu, saya Yesi, terapis. Jika ibu berkenan saya bantu meringankan beban yang ibu rasakan saat ini. Rasa apa yang paling menganggu ibu saat ini?” tanyaku sembari mengelus pundaknya. Ibu ini dalam posisi duduk dan tertunduk.
“Marah. Saya sangat marah sama anak tersebut, ngapo dio idak bercerito dari awal kalo laki aku ganggu dio. Kalo aku tahu dari awal, idak bakal lamo aku bertahan hingga punya anak lagi dari dio ni” dia menunjuk anak laki-laki dalam gendongannya.
Saya paham, mencoba memberi empati dengan musibah yang dihadapinya. Dia kehilangan kepercayaan dengan dua orang yang sangat dekat dan disayang yaitu anak perempuan dan suaminya. Dia merasa dikhianati. Merasa di duakan. Dia marah dengan anak perempuannya yang tak berdaya menghadapi ayah tirinya sejak awal. Dan dia marah dengan suami yang berbuat diluar perkiraan.
Seperti biasa, saya mulai sesi terapi dengan berdoa terlebih dahulu. Memohon kepada Allah yang maha membolak balikkan hati agar si ibu dapat menghilangkan rasa marahnya. Saya minum air putih yang telah disiapkan sebelumnya. Sang ibu sambil mendekap putranya yang sedang tertidur, saya bimbing membaca surat Alfatehah, Al-Ikhlas, Al-falaq dan surat An-nas lalu meminum air putih dengan doa agar allah meringankan beban perasaan yang dideritanya.
Seft up sudah usai, lalu Tune In yaitu merasakan emosinya, sambil membayangkan, merecall kembali audio kata-kata atau merasakan peristiwanya. Saya minta dia membayangkan anak perempuannya saat dia pukul dan dimaki dengan kata-kata kasar. Dia menurut, lalu saya minta dia membayangkan ketika hamil dan melahirkan putrinya tersebut. Dia mengelengkan kepala…katanya dia tidak bisa membayangkan, dia tidak ingat.
Saya tanya, apa yang dia ingat? Suami. Yang dia ingat adalah suaminya seolah sedang berdiri di depan pintu, memandangnya dengan wajah penyesalan. Saya tanya, apakah masih marah sama putrinya? Jawabnya tidak lagi…tidak ada rasa marah lagi. Dia tahu anaknya adalah korban. Seharusnya dia peluk dan beri perlindungan. Dia menangis lagi. Putranya terbangun, memecah konsentrasi. Aku minta dia pindah duduk di kursi sambil menyusui agar putranya tertidur kembali.
“Apakah ibu sangat mencintai suami?” Dia menjawab Iya, dan mengkhawatirkan nasib anak-anak karena dia tidak bekerja. Suamilah tulang punggung utama. Sekarang suaminya telah dipenjara karena laporan masyarakat yang mendengar curhat sang anak sebelumnya. Dia merasa tak berdaya, antara benci dan cinta. Benci karena perbuatan suami telah merusak masa depan putrinya. Namun masih tersisa rasa cinta karena selama ini suaminya tidak memperlihatkan gelagat aneh dan selalu berbuat baik padanya. Memenuhi semua kebutuhannya. Bimbang, antara percaya dan tidak dengan kenyataan yang dihadapi saat ini.
Selesai curhat saya lanjutkan Tapping, adalah mengetuk-ngetuk ringan titik meridian sambil berdoa. Kali ini saya minta dia mendoakan suaminya agar menyadari kesalahannya. Saya tidak meminta dia melupakan bayangan suami, justru saya minta dia untuk mengingat masa-masa bahagianya bersama suami. Hal ini penting untuk mengurangi bebannya. Meringankan beban bukan dengan cara melupakan. Sebab semakin kuat keinginan untuk melupakan, maka semakin kuat ingatan terhadapnya. Yang saya ajarkan adalah penerimaan, mau membuka mata dan hati bahwa suami yang disayang tersebut telah melanggar aturan, melakukan dosa besar dan menghancurkan masa depan anak gadisnya.
Saya juga menyampaikan bahwa rejeki itu bukan semata dari suami. Jangan bergantung padanya. Sebab yang memberi rejeki adalah Allah SWT. Yakinlah…allah akan mencukupi kebutuhan mereka meski suami di penjara. Dia mengangguk…matanya tertutup menikmati setiap ketukan yang ku lakukan di titik meridian.
Aku lanjutkan tapping disertai doa agar Allah memberinya ketenangan. Semua adalah ketentuan Allah, jangan berkeluh kesah mengapa musibah seberat ini menimpa kita. Bisa jadi ada dosa yang selama ini tidak kita sadari sehingga ini menjadi teguran agar kita kembali kepadaNya. Atau ini adalah cara Allah menghapus dan mengurangi dosa-dosa kita di dunia, syaratnya kita ikhlas dan pasrah menerima musibah besar ini. Dia mengangguk. Tanggisnya sudah reda.
***************************************
Setelah melihat kondisi sang ibu yang sudah tenang dan rileks, aku datang menghampiri putrinya di ruang yang berbeda. Dia baru selesai shalat ashar di belakang rumah, tepatnya di rumah Ketua P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak), ada mushala kecil di sana. Dan dia ditemani seorang pemerhati anak yang ikut membantu dalam proses ini.
Anak ini masih sangat belia, berusia sekitar 12 tahun, masih sekolah di tingkat Sekolah Dasar. Dia menunduk sambil sesekali mengusap air mata yang jatuh membasahi mukenanya. Aku mendekat, memegang tangan kanannya dan memperkenalkan diri.
“Assallamu alaikum, sehat nak?” Dia menatapku, mengangguk sekilas dan menunduk kembali.
“Saya Yesi, Umi Yesi…, jangan khawatir, jangan cemas, umi datang untuk membantumu. Apa yang kau rasakan saat ini?”
“Takut” jawabnya singkat.
“Takut dengan siapa?”
“Mamak”
“Kenapa?”
“Dia mukul” dia memperlihatkan bahu sebelah kanan yang masih biru dan memar bekas pukulan. Aku mengangguk, tersenyum padanya. Memberinya rasa empati.
Setelah berbincang sejenak, aku memulai sesi terapi sesuai petunjuk yang ku dapat dari kelas PPA For Healing beberapa bulan lalu. Metode terapi ini terbukti ampuh membantu klien yang mengalami permasalahan fisik dan psikis.
Sesi pertama adalah menghilangkan rasa takut dengan ibunya, Alhamdulillah baru kalimat set up saja rasa takutnya sudah hilang. Dari skala 10 menjadi nol. Dia tidak takut lagi.
Namun dia masih cemas, khawatir jika ketahuan teman-teman di sekolah nanti. Aku melanjutkan sesi Tune in dan tapping. Baru satu putaran dia mengaku sudah tidak cemas lagi. Wajahnya sudah mulai memerah yang sebelumnya terlihat layu dan pucat. Aku mengucap syukur, Alhamdulillah dipermudah. Temanku, sang pemerhati anak tadi takjub. Dia sampai tak bisa menahan air mata karena haru. Kami memeluk anak tersebut, sama-sama menangis. Anak sekecil ini sudah diberi cobaan berat, semoga dewasanya nanti bisa jadi perempuan kuat dan hebat, doaku dalam hati.
Menjelang magrib, kami mempertemukan ibu dan anak ini dalam satu ruangan. Awalnya masih kaku. Mereka saling berdiam diri. Aku memberi isyarat pada sang anak agar memeluk ibunya dan meminta maaf. Dia memandangku agak ragu, aku raih tangannya menuntun dia menyentuh ibunya. Pecahlah tanggis keduanya. Sang anak terisak memohon ampun dan maaf dari ibunya. Ibu membalas pelukan putrinya lebih erat. Kami yang menyaksikan terlarut dalam keadaan. Ikut menangis dan berucap syukur. Hatiku merasa hangat.
Nah..kawan-kawan kota kecil kita ini sedang marak dengan kasus-kasus seperti ini. Maka dibutuhkan tim yang solid dan kuat untuk membantu meminimalisir masalah perempuan dan anak. Saya, ketua DPC FPPI Kabupaten Kepahiang mengajak kawan-kawan yang berminat mengikuti kelas terapi seperti yang saya praktekkan kepada dua klien di atas. Insyaallah akan dilaksanakan Sabtu-Ahad, 14-15 Maret 2020 di Hotel Santika Bengkulu.
Info lengkap silahkan daftar dan hubungi Pak Dedi 0819-4380-800 atau Ibu Mudriyanti 0812-7198-8873. Semoga bermanfaat…
