"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

CHARAKTER BUILDING

Berdamai Dengan Diri Sendiri

Berdamai Dengan Diri Sendiri

Seorang ibu muda menghubungiku melalui whatsApp, ingin bertemu bakda Isya. Awalnya aku menolak karena hari sudah malam dan khawatir dia pulang kemalaman. Jarak rumahnya lumayan jauh dengan kediamanku. Namun dia memaksa, dia berani dan tidak akan apa-apa, katanya. Dia ingin sekali bertemu karena masalah yang dia rasakan semakin menyiksa. Dia sudah lelah katanya.

Aku mengiyakan permintaannya dengan syarat bawa kawan, jangan sendirian. Untuk konsultasi permasalahan psikis biasanya butuh waktu berjam-jam untuk curhat dan terapi. Dia bilang tidak ada kawan yang bisa nemani. Dan dia meyakinkanku bahwa dia benar berani sendiri dan butuh bertemu segera. Dia minta alamat, aku kirim google map supaya dia tidak tersesat karena banyak gang yang dilewati menuju rumahku.

Tak lama kemudian pintu pagar rumahku di ketok dan suara perempuan mengucapkan salam dan memanggil namaku. Aku membukakan pintu, wajah perempuan ini tak asing bagiku.  “Apakah kita pernah bertemu?” tanyaku ragu.

“Umi lupa ya sama aku? Umi nasabah ditempatku bekerja dulu” dia menyebut nama salah satu bank swasta.

“Oh ya..ya.ya…kamu yang resign itu? Pantasan dicari nggak ketemu”

“Iya Umi…saya resign sejak Januari lalu”

“Lho …kenapa?”

“Mau fokus ke anak-anak aja Mii”

“Oh oke” jawabku menganguk-angkuk. Aku menyiapkan air minum hangat yang dicampur tiga helai bunga saffron. Minuman ini bisa membuat rileks. Lalu mengajaknya ke ruang khusus tempat biasa aku menerima klien yang hendak konsultasi pribadi.

————————————————————

“Silahkan duduk. Apa yang bisa Umi bantu?”

“Langsung aja ya Mii…banyak yang mau saya ceritakan. Tapi mulainya darimana ya Mii?”

“Mulai dari yang kau rasakan saat ini”

“Saya capek Mii…saya lelah selelahnya dengan kondisi ini. Dia tidak berubah. Meski mungkin salah saya juga ada. Tapi ini terulang dan berulang terus. Saya sudah nggak kuat Mii” nada suaranya tidak senormal tadi. Aku mengambil tissue di meja dan memberikan padanya. Dia mengelap air mata yang mulai membasahi pipi.

“Ini tentang suami?” tanyaku hati-hati. Dia mengangguk.

“Jujur ya Mii…kami menikah dulu karena kecelakaan. Dia saat itu punya pacar selain saya. Tapi sebelum menikah, dia sudah minta izin pacarnya. Mereka putus dengan baik-baik. Rumah tangga kami berjalan seperti rumah tangga lainnya. Saya melahirkan dan mengulangi pernikahan supaya rumah tangga kami berkah dan terlepas dari zina. Suami masih bekerja serabutan. Akupun mulai bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. Hingga tahun 2014 suami kedapatan mentransfer sejumlah uang ke rekening mantan pacarnya dahulu. Sejak saat itu pertengkaran demi pertengkaran menghiasi rumah tangga kami. Tidak ada ketenangan, tidak ada kenyamanan. Meski begitu karier suami meningkat, dia dipercaya sebagai manajer setahun ini. Dan aku disarankan untuk resign supaya focus mengurus anak-anak, kebetulan aku kembali melahirkan anak kedua.”

Dia diam sejenak…masih terisak. Sesekali menyeka air matanya lalu memainkan tissue ditangannya dengan meremasnya. Aku menunduk, khusuk mendengarkan keluh kesahnya. Aku tidak ingin menyela dia bicara. Supaya hatinya lega. Mendengar adalah terapi terbaik bagi jiwa yang sedang resah.

“Seminggu ini perbuatannya semakin membuatku sakit Mii. Masa dia transfer uang seperti orang minum obat, tiga kali dalam sehari. Pagi dia transfer 750 ribu, siang  300 ribu dan malam 2 juta. Untuk apa coba? Sedangkan dengan aku dia cuma transfer seadanya, jika di minta. Gajinya tidak pernah utuh aku pegang Mii” tanggisnya semakin menjadi.

Aku mendekat, mengelus punggungnya sebelah kanan. Bagian ini akan terasa berat dan sakit bagi orang yang sedang mengalami sakit jiwanya. Air matanya terus bercucuran. “Aku capek Mii…lelah diperlakukan seperti ini terus, aku salah apa Mii?”

Berlahan aku ketuk titik meridian diatas kepalanya. Tanggisnya semakin keras sambil berucap capek di sela sedu sedannya. Aku tapping wajahnya dalam diam. Aku tahu dia dalam kondisi tune in (merasa sedih teramat dalam) maka tapping ini akan mengurangi sesak dihatinya. Dalam hati aku berbisik, ya rabb…bantu aku menemani hambamu yang sedang resah ini.

Sembilan titik selesai ditapping, air matanya masih mengalir. Ku ulangi ketukan awal dari kepala. Menunggu tanggisnya reda. Lalu menambah ketukan pada titik lengan kiri. Saat napasnya sudah mulai teratur, aku lakukan teknik gamut dengan memejamkan mata, berhitung hingga bergumam. Dan diakhiri dengan tarikan napas dalam sambil mengucapkan Alhamdulillah.

Dia membuka mata memandang ke arahku, masih ada kecemasan di sana. Aku memberinya air minum rendaman bunga saffron, dan ikut minum bersamanya. Sepertinya dia benar-benar haus, minuman itu habis dengan sekali tegukan olehnya.

“Bagaimana rasanya? Agak berkurang?” tanyaku tersenyum

“Berkurang, dibanding tadi” jawabnya tanpa membalas senyumku

“Mii…sudah dua hari ini nomorku diblokir olehnya. Dia tidak menghubungi dan akupun tidak bisa menghubungi dia. Apa dia benar-benar marah dan kembali menjalin hubungan dengan mantannya itu Mii?” dia kembali mengambil tissue, mengelap sisa air mata yang belumlah mengering dan sepertinya akan basah kembali.

“Sudah…cukup, berdamailah dengan dirimu. Ini bukan masalah suami atau mantan pacarnya. Ini masalah hatimu yang sakit dan kau izinkan rasa itu mengerogoti dirimu.” Dia memandangku agak heran, tidak mengerti apa yang kusampaikan barusan.

“Saat ini masalah itu ada padamu, kamu merasa tidak nyaman, merasa lelah, merasa dikhianati dan merasa kalah. Iya kan?”

Dia memandangku tak berkedip lalu luruh sambil menutup wajahnya, “Iya Mii. Aku benar-benar lelah menghadapi rasa ini. Lalu aku harus bagaimana Mii?”

“Berdamailah…..berdamai dengan dirimu sendiri terlebih dahulu”

“Bagaimana Mii? Bagaimana caranya berdamai dengan diri sendiri? Mungkinlah aku salah, terlalu keras padanya, tapi…apakah yang dia perbuat bisa dibenarkan?”

Setiap masalah yang Allah hadirkan pada kita sejatinya karena perbuatan kita sendiri. Nanti dulu menyalahkan orang lain, intropeksi diri dahulu. Bukankah di awal tadi kamu sudah mengakui bahwa pernikahan ini karena kecelakaan? Ini dulu yang harus kita perbaiki. Kesalahan kita kepada Allah, kepada orang tua bahkan mungkin kepada mantan pacarnya itu” Dia diam berusaha mencerna apa yang aku ucapkan.

“Umi akan ajari cara berdamai dengan diri sendiri”

“Iya…bagaimana caranya?” jawabnya seolah putus asa.

Curhat ke Allah…walaupun kondisimu sedang tidak nyaman, merasa lelah, merasa tak dihargai sebagai isteri dan merasa kalah merebut hatinya. Ungkapkan semua perasaan itu kepadaNya. Lalu bilang kepada Allah….ya rabb aku terima. Terima perasaan yang sedang mengusikmu itu. Aku pasrahkan normalnya rasa ini padaMU. Minta pada sang pemilik hati untuk mengembalikan perasaan agar normal kembali, tidak lagi merasa sakit hati, tidak lagi merasa tidak berdaya dan frustasi. Minta kepada Allah normalnya rasa itu di hatimu. Lalu bisikan dalam diri aku ikhlas….aku pasrah. Ucapkan kalimat ini minimal tiga kali. Ulangi dan ulangi sampai hatimu terasa hangat karena hormon endorphin keluar dan memberi efek rileks dan tenang pada jiwamu.”

 

“Ya Allah Mii…ajari aku…ajari aku” jawabnya memohon.

“Baik…Umi bantu terapi. Pejamkan matamu dan ikuti perkataan Umi” Aku melakukan set up, tune in dan tapping dengan titik sempurna. Di akhiri dengan napas syukur dan ucapan terimakasih ya Allah. Dia membuka matanya.

“Ya allah Mii…plong rasanya. Aku tidak perduli lagi, aku ingin damai seperti ini. Seandainya aku datang lebih awal…”

“Hush…jangan berandai-berandai, itu bisikan setan. Pertahankan suasana hatimu seperti ini. Jika engkau sudah berhasil menata hati dan berdamai dengan dirimu maka yakinlah masalahmu akan selesai dengan sendirinya. Jangan cari solusi karena Allah yang akan membolak balikkan hati. Cukup minta kepadaNya dengan perasaan tenang lalu ikhlas dan pasrah apapun yang Allah takdirkan menimpa kita.”

“Iya Mii…terimakasih banyak”

“Malam ini..tidurlah dengan nyenyak. Jangan biarkan emosi negative kembali menghampirimu. Sayangi dirimu…engkau masih muda dan cantik. Masa depanmu masih panjang” pesanku lagi. Hari semakin larut.

“Umi…boleh aku peluk?” pintanya.

“Kemarilah…” aku berdiri dan memeluknya terlebih dahulu. Dan kamipun berpelukan dengan erat. Aku alirkan energy positif dan doa tulus untuk kesembuhannya. Diapun berpamitan dengan wajah yang sudah tersenyum.

 

 

Perempuan Kepahiang Bersatu Atasi Pandemi Melalui Baksos GOW Ketok Pintu

Kepahiang, 16/5/2020. Perempuan Kepahiang Bersatu dalam Baksos GOW Ketok Pintu

 

Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kepahiang yang dipimpin ibu Wakil Bupati Kepahiang, Netti Herawati, S.Sos memberikan sembako secara simbolis kepada masyarakat dan perwakilan organisasi wanita Se-Kabupaten Kepahiang pada hari Jumat, 15 Mei 2020.

Simbolis ini menandai dimulainya kegiatan GOW KETOK PINTU, agenda rutin yang selalu dilaksanakan setiap tahun pada bulan Ramadhan. Ini adalah tahun ke-9 kegiatan GOW Ketok Pintu yang kita laksanakan untuk membantu masyarakat miskin, lansia dan kaum dhuafa lainnya, kata Ibu Hera Aryani Asisten III yang juga sebagai wakil ketua GOW Kepahiang.

Kegiatan yang dikoordinir Ketua Bidang Sosial Ibu Jernilan dkk ini adalah hasil dana sumbangan dari organisasi-organisasi perempuan yang ada di Kepahiang dan beberapa dermawan yang tidak mau disebut namanya, hingga terkumpul dana sebesar Rp.24.600.000,-. Dana tersebut mereka kemas dalam bentuk paket sembako hingga terkumpul sebanyak 237 paket.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana paket sembako ini diantar dari rumah ke rumah yang membutuhkan. Tahun ini dikarenakan adanya kebijakan social distancing kondisi darurat pandemi covid-19 maka Ketua GOW mendeligasikan bantuan kepada organisasi-organisasi perempuan yang hadir untuk memberikan bantuan tersebut kepada yang berhak menerimanya. Sebagian sembako diberikan kepada tukang becak yang sudah antri sejak pagi di kediaman rumah dinas beliau tersebut.

Adanya kebersamaan dan kegotongroyongan perempuan kepahiang ini mendapat apresiasi yang tinggi dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kepahiang. Ibu Wakil Bupati sekaligus Ketua GOW Kepahiang sangat bangga dan mengucapkan terimakasih kepada semua organisasi perempuan yang telah menyumbangkan dana, waktu dan tenaganya untuk kegiatan GOW Ketok Pintu tahun 2020 ini. Dalam menjalankan tugas di lapangan tetap harus jaga jarak, cuci tangan dan wajib pakai masker, pesan beliau kepada ibu-ibu yang siap melaksanakan tugasnya membagikan paket sembako tersebut.

 

Umi Yesi, Ketua DPC FPPI Kabupaten Kepahiang menerima 14 paket sembako yang akan dibagikan. Beliau didampingi sekretaris Eka Nopita langsung ke lokasi untuk memberikan amanah tersebut. Maka 14 paket sembako telah mereka sampaikan kepada masyarakat dan lansia tidak mampu di Desa Karang Endah, Kelurahan Padang Lekat, Desa Kandang dan Desa Taba Padang.

Sementara itu setiap organisasi juga memberikan bantuan tersebut kepada yang berhak dan membutuhkan. Ada sekitar 20 organisasi yang melakukan bakti sosial ini. Hari ini yang melanjutkan pembagian sembako adalah Ibu Mulyanti ketua Aisyiyah Kepahiang, mereka membagikan sembako ke daerah Kelurahan Pensiunan, Pasar Kepahiang, gang as sholihin, mandi angin dan Desa Tebat Monok.

Nampak senyum ceria dan rasa syukur masyarakat yang tidak menyangka akan menerima bantuan paket sembako dari kegiatan ini. Dan mereka juga bertitip salam kepada seluruh pengurus dan anggota GOW yang telah membantu. Terimakasih ibu-ibu GOW Kepahiang. Semoga senantiasa diberikan kesehatan, umur panjang dan rejeki berlimpah, doa mereka. Aamiin.

SANG BIDADARI DI BULAN NAN SUCI

SANG BIDADARI DI BULAN NAN SUCI

 

Wanita adalah “bidadari” yang dikirim Allah ke bumi untuk mendampingi pria dalam beribadah kepada Allah SWT. . Tidak ada perbedaan antara keduanya dalam keumumam syari’at, hak dan kewajiban.Di hadapan Allah, yang membedakan manusia satu dengan yang lain adalah ketaqwaannya. Wanita yang sholehah adalah anugerah terindah yang diberikan kepada pria yang sholeh juga.

Wanita yang akan menjelma menjadi bidadari di bulan puasa adalah wanita yang sholehah, yakni wanita-wanita mulia yang mampu menjaga dirinya dari berkurangnya amalan-amalan di bulan puasa dan wanita-wanita yang mampu menarik simpati Allah dengan amalan-amalan sunnah yang di lakukannya selama bulan ramadan ini. Siapakah  wanita-wanita yang menjelma menjadi bidadari di bulan puasa nan suci itu?

Pertama.Wanita yang tetap melakukan ibadah puasa ramadan meskipun ada ruksah (keringanan untuk tidak berpuasa). Mereka adalah ibu hamil dan menyusui. Meskipun ada keringanan bagi mereka untuk tidak berpuasa dan menganti puasanya di luar bulan ramadan. Namun wanita hamil yang akan menjadi bidadari di bulan suci ini adalah wanita sholehah yang berkeyakinan teguh dan percaya bahwa janinnya cukup kuat untuk diajak berpuasa asalkan mengikuti pola makan yang benar dan bergizi tinggi. Maka berpuasa menjadikan sarana melatih ruh sang anak untuk menjadi mujahid-mujahid muda setelah lahir nanti. Begitupun dengan wanita yang menyusui, akan menjadi bidadari di bulan ini apabila dia tetap berpuasa dan yakin bayinya tidak akan kekurangan gizi. Sekali lagi, Yakin bahwa puasa tidak akan berpengaruh buruk bagi perkembangan janin yang di kandung dan anak yang di susui. Terbukti dengan begitu banyak penelitian ilmiah yang telah mengkaji bidang tersebut.

Kedua. Wanita yang menjaga amalan ibadah wajib (shalat dan puasa) dan menambahnya dengan amalan ibadah sunnah. Bulan ini adalah bulan kemuliaan dan “kelezatan” iman, dimana pahala ibadah-ibadah wajib di lipatgandakan dan apabila kita melakukan amalan sunnah maka pahalanya sama dengan pahala ibadah wajib. Maka wanita sholehah akan memanfaatkan momen ini untuk khatam alqur’an minimal satu kali dalam satu bulan ramadan. Untuk mensiasati datangnya haidh, maka bacalah alqur’an minimal satu setengah juz perharinya. Amalan sunnah yang lain adalah bersedekah kepada orang lain. Salah satu riwayat berikut menjelaskan tentang bersedekah keutamaan memberi makan orang yang berpuasa adalah: “Wahai manusia! Barangsiapa diantaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan ia di beri ampunan atas dosa-dosanya yang lalu. Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, tidaklah kami semua mampu berbuat demikian”, Rasulullah meneruskan, “jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.”

Ketiga. Wanita yang akan menjadi bidadari itu adalah wanita yang mampu menjaga lisannya untuk tidak membicarakan aib orang lain, karena akan mengurangi amalan ibadah puasanya. “Barangsiapa tidak dapat meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta (waktu berpuasa) maka Allah tidak membutuhkan lapar dan hausnya” (HR. Al Bukhari). Untuk itu sebaiknya hindarilah topik pembicaraan yang mengarah kepada qhibah atau mengunjing orang lain.

Keempat. Khusus bagi wanita yang telah bersuami, maka tetap melayani suami di malam hari adalah ibadah lain yang akan meningkatkan derajatnya menjadi isteri sholehah di dunia dan di akherat. Sehingga ada suatu riwayat yang mengatakan bahwa para bidadari di surga cemburu kepada isteri-isteri yang melayani suaminya didunia dengan sebaik-baiknya pelayanan.

Nah, keutamaan lain dapat tetap didapatkan oleh wanita yang sedang haidh yaitu memasakkan makanan untuk berbuka puasa dan sahur bagi orang-orang yang berpuasa di rumahnya.

Oke, ……..tunggu apalagi ? jadilah bidadari di bulan suci penuh cinta ini. Kamukah wanita beruntung itu ?

Kegiatan PKW Batik Diwo Kepahiang