"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

Az Zahra Kepahiang

Dampingi Lansia Agar Tak Sendiri di Rumah (Home care)

Kepahiang, 21/8/2018. Dalam rangka memberikan pelayanan pendampingan dan perawatan lanjut usia di rumah (homecare), maka mulai tanggal 16 Juli sd 20 Agustus 2018, pengurus LKS Az zahra Kepahiang dan pendamping melakukan kunjungan ke rumah rumah lansia untuk identifikasi dan memvalidasi lansia yang akan mendapatkan layanan tersebut. Dari hasil kunjungan di dapat 50 lanjut usia yang perlu mendapatkan pendampingan dan perawatan lanjut usia di rumah (homecare), masing masing lansia akan di dampingi oleh seorang pendamping. Setiap pendamping akan melakukan pelayanan kepada 5 orang lanjut usia. Berikut adalah nama nama pendamping dan wilayah kerja dampingannya:

No Nama L/P Wilayah Pendampingan Jumlah Layanan
Desa/Kelurahan Kecamatan
1 Tandai Tadurna L Cinta Mandi, Cinta Mandi Baru Bermani Ilir 5
2 Yuni Suryani, S.Th.I P Limbur Lama, Sosokan Cinta Mandi Bermani Ilir 5
3 Merti Dwi Ariesti, S.Hut P Taba Saling, Imigrasi Permu Tebat Karai 5
4 Riska Apriliana P Permu, Nanti Agung, Suka Merindu Tebat Karai 5
5 Sri Wanti P Sidorejo, Tugurejo, Tangsi Duren Kabawetan 5
6 Ekarna Olensi, S.Pd P Sejantung, Kutorejo Kepahiang 5
7 Foni Susanti, A.Md P Padang Lekat, Pasar Ujung Kepahiang 5
8 Ida Arianti P Tebat Monok Kepahiang 5
9 Evitaria P Weskust, Pasar Kepahiang Kepahiang 5
10 Kms. Fahrudin, S.Pd L Taba Tebelet, Karang Anyar, Pelangkian, kelobak Kepahiang 5
Jumlah Total Layanan 50

 

Selain jumlah lanjut usia yang perlu penanganan khusus, kami juga menemukan beberapa permasalahan yang menimpa lanjut usia di rumah antara lain:

  1. Rumah tak ramah lansia, beberapa lansia tinggal di dapur rumah karena bentuk bangunan yang tidak ramah lansia. Bentuk rumah tinggi, memakai tangga dan ruangan yang terpisah membatasi ruang gerak lansia di rumah. Mereka hanya tinggal di kamar yang sempit, penggap dan gelap.
  2. Sakit sakitan. Sesuai dengan umur yakni 60 tahun ke atas, hampir semua lansia yang kami kunjungi menderita sakit. Penyakit yang dominan adalah rhematik, asam urat, kepala sakit, darah tinggi, kesulitan tidur, tidak bernafsu makan, kolesterol, kencing manis dll
  3. Alas tidur karpet tanpa sprei. Bagi lanjut usia yang tidak bisa bergerak (badridden) lagi, di tempat tidurnya di beri perlak agar kencing dan bab tidak mengenai kasur. Hal ini menyebabkan iritasi dan gatal gatal pada kulit lansia tersebut.
  4. Lansia di tinggal sendiri pada siang hari. Dengan alasan bekerja mencari nafkah, ada beberapa lansia yang terkurung di rumah pada siang hari oleh keluarganya. Pintu di gembok dari luar. Dan lansia hanya di temani pada malam hari saja.
  5. Lansia yang hidup sebatangkara, Hal ini di sebabkan karena tidak memiliki keturunan. Dia hidup sendirian di rumah tua yang sudah tak layak huni. Hidup nya tergantung dari kemurahan hati para tetangga.
  6. Bertahan tinggal di rumahnya. Meskipun memiliki banyak anak, namun lansia tidak mau menetap dengan anak anaknya yang sudah berkeluarga. Dia tetap bertahan tinggal di rumah tuanya. Dan anak anaknya yang tinggal berjauhan hanya datang sesekali menjenguk dan memberi biaya hidup yang tak seberapa, bahkan terkadang mereka lupa berkirim kabar dan biaya.
  7. Hidup berpindah pindah. Bagi lansia yang tidak memiliki rumah tinggal sendiri, maka mereka ikut anak anaknya. Namun, kondisi anak yang miskin, sibuk bekerja membuat lansia tidak betah tinggal. Sehingga sering pindah pindah ke satu anak dengan anak lainnya. Lansia seperti ini selalu merasa gelisah karena merasa kurang mendapat perhatian dari anak dan keluarga.
  8. Tidak memiliki identitas legal. Banyak lansia yang tinggal sendirian tidak memiliki identitas seperti KTP dan Kartu keluarga. Hal ini menyulitkan pendamping untuk memintakan bantuan sosial, karena syarat penerima bantuan adalah memiliki NIK. Di satu sisi, ada bebarapa lansia yang mengeluh karena KTP/KK nya hilang di karenakan banyaknya orang datang yang meminta legalitas tersebut sebagai dasar penerima bantuan, namun bantuan yang di janjikan tidak pernah mereka terima.

 

Berdasarkan permasalahan tersebut, ada beberapa hal yang bisa di berikan pendamping dan masyarakat yang peduli dengan lansia di rumah, antara lain:

  1. Obat obatan
  2. Kursi Roda
  3. Tongkat kaki 1 dan tongkat kaki 4
  4. Kasur, perlak dan sprai kasur
  5. Kelambu anti nyamuk
  6. Pampers lansia
  7. Pakaian yang menyerab keringat (berbahan dasar kain)
  8. Makanan pokok dan makanan ringan

 

Untuk membantu rumah yang ramah lansia dan surat surat penting (KTP/KK) maka di harapkan Pemerintah Daerah ikut serta dalam menanggulangi permasalahan ini. Data, lokasi dan kondisi lanjut usia dapat di konfirmasi kepada para pendamping, atau kunjungi sekretariat  LKS/Yayasan Az Zahra Kepahiang di Jl. Pengabdian RT.2 RW.1 Kelurahan Padang Lekat. Kecamatan Kepahiang. Kabupaten Kepahiang. Provinsi Bengkulu.

Donasi peduli lansia di rumah (home care) dapat di transfer melalui:

Nama Bank: BRI Kepahiang II

No Rekening: 5622-01-006276-53-9

Atas Nama : Yayasan Az-zahra Kepahiang

Ayo kita dampingi lanjut usia agar tidak merasa sendiri di rumah….! 

Praktek Manasik Haji 1.200 Anak Usia Dini, Kita tanamkan Nilai Agama dan Moral Sejak Dini

Kepahiang, 20/8/2018 – Ribuan siswa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kabupaten Kepahiang mengikuti kegiatan peragaan Manasik Haji di lapangan depan kantor Kejaksaan Tinggi Negeri Kepahiang pada hari senin, 20 Agustus 2018. Kegiatan ini dihadiri Bupati Kepahiang sekaligus membuka secara resmi kegiatan peragaan Manasik Haji PAUD Se Kabupaten Kepahiang. Hadir pula Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepahiang, Kepala Kemenag Kepahiang, OPD dan pembacaan khutbah wukuf oleh H. Rabiul Jayan, S.Ag.

 

Dalam sambutannya, Hidayatullah Sjahid menyampaikan di hadapan seluruh dewan guru dan orang tua siswa bahwa sejak dini anak harus sudah mulai mendapatkan pengalaman cara beribadah agar tertanan kesan mendalam dan akan selalu diingat oleh semua anak. “Anak-anak mendapatkan pengalaman agama sejak dini. Pelaksanaan manasik haji pada anak TK, PAUD, atau RA adalah salah satu cara memberikan pengalaman melaksanakan ibadah lengkap yang bentuknya sangat berkesan mendalam pada jiwanya yang masih polos,” ucap Bupati Kepahiang tersebut. Kegiatan rutin tahunan yang diselenggarakan Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI) Kepahiang ini bertujuan mengenalkan rukun-rukun haji kepada anak sejak dini, termasuk bagi orangtua anak.

  

“Pendidikan yang tidak hanya dalam bentuk ajaran atau teori tapi juga harus dipraktekkan. Manasik haji anak adalah praktek sekolah agama yang mendukung ajaran agama di sekolah. Dengan peragaan Manasik Haji kita tanamkan nilai Agama dan moral sejak dini,” imbuhnya. Dampak positif dari manasik haji yang diikuti oleh anak-anak diantaranya  anak bisa mengetahui makna dari setiap rukun haji yang diharapkan akan dapat mewarnai dalam kesehariannya. Tata cara beribadah harus mulai diajarkan sejak usia dini dalam kehidupan sehari-hari, agar sewaktu-waktu tidak kaget karena sedikitnya sudah punya gambaran.

 

Kegiatan manasik ini di ikuti oleh 1.200 anak usia dini yang berasal dari 71 lembaga PAUD se Kabupaten Kepahiang. Ketua Panitia Elis Hamidah, S.Pd; sekretaris Raden Ayu Ernawati, S.Pd.AUD dan bendahara Erni Erawati, S.Pd mengucapkan syukur yang mendalam dan berterima kasih kepada seluruh panitia dan pihak pihak yang telah membantu menyukseskan kegiatan manasik haji ini. “Alhamdulillah…manasik haji PAUD se Kabupaten Kepahiang berjalan dengan lancar, tanpa kendala yang berarti”..ujar bu elis dengan bangga.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menemui Azzahra: “Mencari Golok Kepahiang”

Kepahiang, 18/8/2018. Tepat pukul 08.00 wib kami di kejutkan dengan kedatangan Bapak Lismanto Kasubag Program dan Anggaran (mantan Kasi Kelembagaan Subdit Kelembagaan dan Kemitraan) Ditjen PAUD dan Dikmas Kemdikbud dan ibu Sa’adah Kepala BP PAUD dan Dikmas Bengkulu. Kedatangan yang tiba tiba dan tak di sangka ini di sambut oleh siswa siswi paket A yang memang ada jadwal tatap muka pada hari ini. Saya memperkenalkan salah satu siswa yang bernama Linda. Umurnya 10 tahun dan belum pernah merasakan sekolah di sekolah formal.

 

“Mengapa linda senang sekolah di az Zahra?” tanya pak Lis dengan rasa ingin tahu. Linda hanya diam dan enggan di ajak bicara. Dia sudah 2 tahun sekolah di az Zahra, penyebab utama tak sekolah karena dia adalah “anak ibu”  (anak yang lahir tanpa perkawinan secara sah menurut undang undang pernikahan). Linda tidak punya akte kelahiran sehingga tidak di daftarkan ke sekolah formal. Pelajaran yang paling di sukainya adalah berhitung (matematika). Beberapa saat kemudian ananda rina, rini dan marvel hadir ke sekolah. Pak Lismanto menyempatkan diri berbincang bincang dengan ketiga anak yang berusia belia ini. Ketiganya pun belum pernah sekolah di sekolah formal dengan alasan ekonomi dan permasalahan sosial yang sama dengan linda.

 

“saya tidak percaya ada anak yang sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan formal, jika tidak melihat sendiri di sini. Az Zahra memang luar biasa..” ujar bu sa’adah merasa kagum sambil tersenyum. Dan kekaguman beliaupun semakin bertambah ketika seorang nenek masuk dan mengutarakan keinginannya untuk sekolah lagi di az Zahra. Nenek ini adalah lansia yang telah lulus sekolah paket A dan ingin lanjut sekolah di paket B. Sang nenek sangat berkesan setelah tamat paket A, karena dia mahir berhitung sehingga dapat berjualan ikan keliling dan tak salah hitung uang hasil jualannya.

Selesai berbincang bincang dengan siswa paket A, kami berdikusi sejenak mengenai ide ide membangun pendidikan yang bermartabat terutama melalui pendidikan kesetaraan. Mulai dari akreditasi PKBM, dapodikmas, e-proposal hingga rencana membuat buku.

 

“Mba Yesi ini ….sudah memulai menerbitkan buku bersama tim 7kata publishing. Mereka mampu merangkum pembicaraan sederhana di group whatshaps hingga terbitlah buku berjudul Membangun Indonesia Lewat Keberagaman. Nah…Balai bisa memanfaatkan keterampilan mba Yesi dkk untuk membuat modul atau model layanan pendidikan nonformal yang di kemas sehingga menjadi buku yang bisa di baca dan di nikmati oleh semua kalangan”, pesan pak Lismanto kepada kepala BP PAUD dan dikmas Bengkulu.

Hal ini di lontarkan karena BP PAUD dan Dikmas masih kekurangan sumber daya manusia yang kompeten dan belum mampu menulis modul/model dengan bahasan dan kreatifitas sebagai penulis. Sehingga modul/model yang dihasilkan masih kaku dan terkesan copy paste modul/model sebelumnya. “Ide menulis buku, membuat modul atau model layanan pendidikan nonformal ini menjadi tantangan, dan kami siap membantu BP PAUD dan Dikmas dalam hal tersebut”, sambutku dengan antusias.

Di akhir diskusi, pak Lismanto menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya ke az Zahra, “Tujuan utama saya ke sini sebenarnya mau cari golok…apa di Kepahiang ada yang jual?” tanyanya.

“wah…kebetulan…di sini banyak sentra pengrajin alat alat pertanian tersebut. Tempatnya di kawasan mandi Angin Kelurahan Pasar kepahiang. Di sana tempat pembuatan parang, golok, pisau, dan arit. Perkakas tersebut bukan hanya untuk alat pertanian saja, tapi juga di jadikan oleh oleh atau cendramata yang laris manis”, jawabku menjelaskan sambil promosi.

 

Kamipun melanjutkan diskusi di tengah perjalanan, mampir sejenak ke SPNF Kepahiang dan langsung menuju kawasan pengrajin alat pertanian untuk mencari golok yang beliau inginkan. Rupanya pak Lismanto ini pecinta dan kolektor senjata tajam. Beliau memiliki banyak koleksi mulai dari keris, pedang, pisau, golok dll yang berasal dari berbagai daerah.

Sambil menemani pak lis memilih golok, saya berbincang dengan salah satu pandai besi di sana yang menjual alat alat pertanian dengan harga Rp.15.000,- sd Rp.150.000,- dengan omset mencapai Rp 6 juta perbulan. Seperti diungkapkan pemilik usaha pandai besi, Arlian, penghasilannya mencapai sebesar Rp 5 juta hingga Rp 6 juta perbulan. Usaha tersebut telah digelutinya selama 22 tahun. “Allhamdulillah …. untuk penghasilan bisa menghidupi keluarga,” ujarnya. Arlian mengakui, sudah menjalani profesi pandai besi secara turun menurun dari orang tuanya. Sebab bisnis tersebut memberikan keuntungan bagi keluarga. “Biasanya saat musim panen kopi, ramai orang beli parang,” katanya.

 

Apapun pekerjaan bila dicintai dan dijalani sepenuh hati akan memberikan hasil yang memuaskan. Seperti profesi pandai besi yang beroperasi di sepanjang jalan Mandi angin menuju Desa Tebat Monok ini.

“Ternyata masing masing daerah mempunyai ciri golok berbeda beda, sehingga filosofinyapun berbeda pula. Begitupun dengan PKBM yang memiliki keunikan sendiri sendiri. Untuk itu teruslah berkarya dan memberi manfaat untuk anak anak di negeri ini. Membangun Indonesia Lewat Keberagaman jilid 2….saya tunggu bukunya terbit ya mba yesi..”, pesan terakhir pak Lismanto sebelum pamit pulang ke Jakarta sore ini.

“Insyaallah….pak”, jawabku sambil menyalami bu Sa’adah yang mulai cemas karena khawatir  pak lis ketinggalan pesawat.

 

Kegiatan PKW Batik Diwo Kepahiang