"PKBM AZ- ZAHRA""MEMBANGUN PERADABAN YANG BERMARTABAT" "MARI KITA TUNTASKAN WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN""TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BELAJAR"

MENEMUKAN KEMBALI RUH PENDIDIKAN NUSANTARA

MENEMUKAN KEMBALI RUH PENDIDIKAN NUSANTARA

(Refleksi Hari Santri Nasional 22 Oktober 2025)

Oleh : Slamet Imam Wakhyudin

Segala puji bagi Allah yang meninggikan derajat manusia dengan ilmu, dan menjadikan pendidikan sebagai jalan menuju kemuliaan.

Pendidikan yang Kehilangan Arah.

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, yang dahulu lahir dengan semangat besar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, kini menunjukkan tanda-tanda kehilangan arah.

Tujuannya luhur, bahasanya indah, namun hakikatnya masih jauh dari cita yang diamanahkan oleh Pembukaan UUD 1945.

Sistem yang seharusnya menumbuhkan manusia beriman, berilmu, dan berakhlak justru sering terjebak dalam rutinitas administratif. Ilmu diajarkan tanpa ruh, nilai ditanam tanpa teladan.

Pendidikan menjadi gedung megah tanpa jiwa, dan siswa menjadi angka dalam daftar, bukan insan dalam proses.

Dalam balâghah, ada kaidah yang mengatakan:

“Al-kalâm idzâ kharaja min al-qalb, waq’a fil-qalb”

“Ucapan yang keluar dari hati akan sampai ke hati.”

Demikian pula pendidikan: bila ia keluar dari hati, ia akan menumbuhkan jiwa; tetapi bila hanya lahir dari sistem tanpa nurani, ia hanya mencetak hafalan, bukan kesadaran.

Pesantren: Cermin Pendidikan Sejati

Maka tibalah saatnya kita menggali kembali akar pendidikan Nusantara, yaitu pondok pesantren lembaga yang telah ratusan tahun menanam nilai dan membentuk manusia seutuhnya.

Pesantren bukan sekadar tempat belajar kitab, tetapi tempat belajar hidup. Di dalamnya, ilmu bersanding dengan adab, akal bertemu dengan hati, dan pengetahuan berpadu dengan pengabdian.

Negara pun menyadari hal ini, dan lahirlah Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, sebuah bentuk penghormatan dan pengakuan terhadap peran pesantren sebagai pilar pendidikan bangsa. Namun, pengakuan hukum hanyalah awal. Tugas besar berikutnya adalah merumuskan sistem pendidikan pesantren yang sejati yang tidak hanya legal di mata negara, tetapi juga hidup di hati masyarakat.

Apakah sistem itu akan meniru bentuk modern dengan jubah tradisi, atau justru memperkuat jati diri: menegakkan keikhlasan, ketawadu’an, keteladanan, dan keberkahan ilmu?

Inilah persoalan besar yang menanti kebijaksanaan kita bersama.

Momentum Hari Santri 2025: Mengawal Indonesia Merdeka

Tahun ini, Hari Santri Nasional 2025 mengusung tema: “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia.”

Tema ini bukan sekadar semboyan, melainkan panggilan sejarah.

Santri adalah penjaga ruh bangsa, benteng moral di tengah derasnya arus modernisasi.

Dari pesantren, lahir semangat kebangsaan; dari santri, lahir tekad untuk menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian, bukan kebanggaan.

Momentum Hari Santri harus menjadi ajang refleksi dan rekonstruksi, bahwa kemerdekaan sejati bukan hanya terbebas dari penjajahan fisik, tetapi juga dari penjajahan pemikiran.

Dan pesantren, dengan segala kesederhanaannya, telah membuktikan diri sebagai ruang merdeka yang membebaskan manusia dari kebodohan, kemunafikan, dan ketergantungan spiritual.

Menulis Kembali Arah Pendidikan Bangsa

Kini, di tengah guncangan nilai dan krisis moral, kita membutuhkan pendidikan yang menanamkan makna, bukan sekadar materi; yang melahirkan kesadaran, bukan sekadar kelulusan.

Mari kita kembali menulis arah pendidikan bangsa dengan tinta keimanan, menyusun kurikulum dengan pena kebijaksanaan, dan menegakkan pembelajaran di atas fondasi budaya yang berjiwa tauhid.

Karena sejatinya, pendidikan bukan hanya soal “apa yang diajarkan”, tetapi “apa yang ditumbuhkan dalam jiwa manusia.”

Ilmu tanpa adab ibarat cahaya tanpa arah; pengetahuan tanpa keikhlasan hanyalah kebanggaan tanpa makna.

Penutup: Ucapan Hari Santri Nasional 2025

Selamat Hari Santri Nasional 22 Oktober 2025 !

Semoga para santri di seluruh penjuru Nusantara terus menjadi pelita ilmu dan akhlak, mengawal Indonesia merdeka dengan iman dan ilmu, serta membawa cahaya pesantren ke pentas peradaban dunia.

“Barang siapa bekerja karena Allah, maka amalnya akan kekal dan bersambung; dan barang siapa bekerja bukan karena-Nya, maka amalnya akan terputus dan lenyap.”

Semoga Allah meneguhkan langkah kita dalam menanamkan pendidikan yang beradab, dan semoga ruh pesantren terus hidup di setiap denyut nadi bangsa ini.

 

Penulis adalah : Ketua MUI Bidang Pendidikan, Da’wah dan Seni Budaya /Staf Pengajar Pondok Pesantren Tahfidz Nurul Qur’an Bengkulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

four + eight =

Kegiatan PKW Batik Diwo Kepahiang