Prof. Sarwit: Menggali Kembali Kejayaan Intelektual Rejang, Ancaman Kemunduran 300 Tahun
Prof. Sarwit: Menggali Kembali Kejayaan Intelektual Rejang, Ancaman Kemunduran 300 Tahun
KEPAHIANG, 26/9/2025 – Sebuah lokakarya sastra yang mengupas kekayaan Sastra Rejang dan Aksara Ulu mengungkap fakta mengejutkan tentang tingkat peradaban masyarakat Rejang di masa lampau.
Diselenggarakan oleh Komsas Yayasan Az Zahra Kepahiang bekerja sama dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, acara yang berlangsung di Hotel Umro pada hari ini, 26 September 2025, menghadirkan narasumber Prof. Dr. Sarwit Sarwono, M.Hum. yang menyoroti pencapaian literasi dan spiritualitas leluhur Rejang yang luar biasa.
Profesor Sarwit Sarwono memaparkan bukti historis yang kuat bahwa sekitar 300 tahun yang lalu, 1.700 orang Rejang di Lais tidak hanya telah melek huruf, khususnya Aksara Ulu, tetapi juga telah mendalami ilmu tasawuf. Hal ini dibuktikan dengan penemuan empat naskah kuno sejenis yang membahas tentang ajaran Hamzah Fansuri, seorang ulama sufi agung yang pemikirannya menandakan tingginya level intelektualitas dan spiritualitas suatu komunitas pada masa itu.
Temuan ini menjadi indikator bahwa masyarakat Rejang pada era tersebut telah mencapai tingkat keilmuan yang sangat maju.
Dalam konteks kekinian, Profesor Sarwono menyampaikan sebuah peringatan yang tajam dan menggugah. Ia menyatakan bahwa jika generasi muda Rejang saat ini tidak lagi memahami dan menggunakan bahasa ibu mereka, maka secara peradaban mereka akan mengalami kemunduran sejauh 300 tahun.
Kehilangan bahasa berarti kehilangan akses terhadap warisan pengetahuan, filosofi, dan kearifan yang terkandung dalam naskah-naskah kuno dan tradisi lisan yang diwariskan oleh para leluhur mereka yang berilmu tinggi.
Oleh karena itu, lokakarya ini menjadi momentum krusial untuk merevitalisasi kecintaan dan pemahaman terhadap Sastra Rejang dan Aksara Ulu. Upaya pelestarian ini bukan sekadar tentang menjaga tradisi, melainkan sebuah jembatan untuk menghubungkan kembali generasi sekarang dengan kejayaan intelektual dan spiritual masa lalu.
Dengan memahami bahasa dan aksara leluhur, generasi muda Rejang diharapkan dapat mewarisi dan melanjutkan estafet peradaban yang telah dirintis dengan gemilang tiga abad silam.

Tinggalkan Balasan